Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Diagnosis Mengejutkan

Hujan gerimis turun membasahi jalanan Jakarta pada pagi itu. Awan kelabu menggantung rendah, seakan menjadi pertanda dari sesuatu yang berat. Bisma mengemudikan mobil kantor yang dipinjamnya dengan pelan, sesekali melirik ke arah Ayu yang duduk diam di kursi penumpang, mengenakan jaket abu-abu dan menatap keluar jendela dengan mata kosong.

Sudah dua minggu sejak kejadian Ayu meringis kesakitan di kost. Bisma, yang semakin khawatir, akhirnya berhasil membujuk Ayu untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan di salah satu rumah sakit swasta ternama di Jakarta Selatan.

Mereka tidak banyak berbicara di perjalanan. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung menuju lantai tiga, tempat Klinik Spesialis Obstetri dan Ginekologi.

Ruang tunggu dipenuhi perempuan-perempuan dengan berbagai usia. Beberapa sedang hamil, beberapa didampingi pasangan, dan beberapa duduk sendiri sambil memegang map hasil pemeriksaan.

Bisma menggenggam tangan Ayu.

“Kamu siap, Sayang?”

Ayu mengangguk pelan.

“Deg-degan, tapi … lebih baik tahu sekarang daripada menunda-nunda.”

Tak lama kemudian, nama Ayu dipanggil. Mereka masuk ke ruang praktik dokter. Di balik meja duduk seorang dokter perempuan berusia sekitar lima puluhan, berwajah lembut dan bersuara tenang. Namanya dr. Nita Widjaya, SpOG, salah satu dokter kandungan terbaik di rumah sakit itu.

Dokter Nita berkata,

“Selamat pagi, Mbak Ayu. Silakan duduk. Ini suaminya?”

Ayu tersenyum gugup.

“Belum, dok. Ini Bisma … pacar saya.”

Dokter Nita tersenyum.

“Baik. Silakan duduk berdua. Saya sudah baca keluhan awalnya. Mbak Ayu sering nyeri hebat saat haid, ya?”

Ayu menjawab,

“Iya, Dok. Hampir setiap bulan. Tapi dua bulan terakhir terasa lebih parah, sampai saya gak bisa bangun dari tempat tidur.”

“Kita sudah lakukan USG dan tes hormonal yang tadi Mbak ambil. Hasilnya sudah keluar. Saya akan jelaskan sedikit, ya,” seru sang dokter.

Ayu dan Bisma menatap dokter dengan waspada. Jantung mereka berpacu lebih cepat.

“Dari hasil yang kami dapat, ada ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron di tubuh Mbak Ayu. Kondisi ini mempengaruhi kerja rahim, dan kemungkinan besar menyebabkan nyeri hebat saat menstruasi. Selain itu, kami juga mendeteksi adanya tanda-tanda awal dari endometriosis.”

Ayu pun bingung.

“Endometriosis? Itu … apa, dok?”

“Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang seharusnya tumbuh di dalam rahim, justru tumbuh di luar rahim. Ini bisa menyebabkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi, dan dalam beberapa kasus bisa berdampak pada kesuburan,” tutur dokter Nita.

Ayu terdiam. Bisma langsung meremas tangannya pelan, memberi dukungan.

“Apa ini berbahaya, Dok?” tanya Bisma.

“Tidak langsung mengancam nyawa, tapi harus ditangani dengan serius. Jika dibiarkan, nyeri bisa semakin parah, dan peluang untuk hamil secara alami bisa berkurang seiring waktu,” terang dokter Nita lagi.

Ayu bertanya, suara pelan.

“Jadi … saya gak bisa punya anak, dok?”

Dokter Nita menjawab,

“Bukan berarti tidak bisa. Tapi peluangnya bisa menurun. Kami sarankan agar Mbak Ayu mulai mempertimbangkan langkah-langkah untuk menstabilkan hormon. Salah satu cara yang disarankan adalah melalui terapi hormonal atau menikah.”

Ayu dan Bisma sontak terdiam.

Bisma bertanya

“Menikah? Itu ... bisa membantu?”

“Dalam banyak kasus, kehidupan pernikahan yang sehat, terutama secara hormonal dan seksual, bisa membantu menstabilkan siklus haid dan mengurangi endometriosis ringan. Tentu saja, ini bukan solusi instan. Tapi secara medis, pernikahan bisa jadi salah satu pendekatan jika memang pasangan sudah mantap untuk berumah tangga,” ucap sang dokter.

Ayu menatap Bisma, wajahnya pucat. Suasana dalam ruangan seketika menjadi sunyi.

Ayu berkata pelan.

“Kami belum siap untuk menikah dalam waktu dekat.”

Dokter Nita mengangguk bijak,

“Itu pilihan pribadi. Saya hanya menyarankan dari sisi medis. Selain itu, terapi hormon dan pola hidup sehat juga bisa membantu, meski prosesnya lebih panjang.”

Bisma membalas,

“Kalau kami memilih terapi dulu, apakah bisa menghambat perkembangan penyakitnya?”

“Bisa, tapi harus disiplin. Pola makan sehat, istirahat cukup, olahraga, dan kontrol rutin. Tapi kembali lagi, setiap tubuh berbeda-beda,” tutur dokter Nita.

Setelah sesi konsultasi selesai, dokter memberikan rujukan resep, jadwal terapi hormon, dan jadwal kontrol lanjutan. Mereka keluar dari ruangan dalam diam, berjalan perlahan menuju parkiran basement.

Di dalam mobil, hujan masih turun. Hanya suara wiper dan tetesan air hujan yang menemani.

Ayu menatap lurus ke depan.

“Aku takut, Bisma.”

Bisma menoleh lembut.

“Takut kenapa?”

“Aku takut kamu kecewa. Takut kamu ninggalin aku karena aku gak sempurna,” ucap Ayu.

Bisma menghela napas, lalu menggenggam kedua tangan kekasihnya.

“Ayu denger ya. Aku jatuh cinta sama kamu bukan cuma karena tubuh kamu. Tapi karena kamu kuat, cerdas, dan punya hati yang baik.”

Ayu berkata,

“Tapi kalau nanti aku gak bisa punya anak .…”

Bisma membalas,

“Kalau itu yang ditakdirkan, kita hadapi bareng. Kita bisa adopsi. Bisa cari cara lain. Yang penting kita jalani hidup ini bersama. Aku gak akan ninggalin kamu, Ayu. Gak pernah.”

Air mata Ayu menetes. Dia memejamkan mata, membiarkan dirinya bersandar di bahu Bisma.

“Jangan menyerah. Jangan berhenti berjuang. Kita lawan ini bareng-bareng,” ujar kekasihnya.

“Kamu terapi aja dulu. Jangan pikirkan pernikahan karena kita juga masih sama-sama baru terjun di dunia pekerjaan,” seru Bisma.

Hari itu menjadi hari yang mengubah hidup Ayu dan Bisma. Diagnosis itu bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan panjang yang penuh tantangan. Cinta mereka kini diuji bukan oleh jarak, tapi oleh kenyataan yang tak terduga.

Namun satu hal yang pasti, cinta sejati akan tetap bertahan, bahkan di tengah diagnosis yang mengejutkan. Karena cinta bukan hanya tentang memiliki, tapi juga tentang bertahan dan berjuang bersama.

Beberapa hari kemudian.

Langit sore Jakarta mulai meredup, mengisyaratkan datangnya malam. Di dalam kamar kost yang sempit namun rapi, Ayu duduk bersila di atas tempat tidurnya. Di depannya, Bisma duduk di kursi kecil, wajahnya terlihat letih setelah seharian bekerja.

Sejak kunjungan ke dokter kandungan dua minggu lalu, Ayu menjalani terapi hormon secara rutin. Namun, kecemasan dalam dirinya tak kunjung reda. Diagnosis endometriosis dan ketidakseimbangan hormon membuat pikirannya kalut setiap malam.

Ayu takut. Takut waktu akan mencuri kesempatannya untuk sembuh. Takut tubuhnya tak akan mampu memberi kehidupan baru suatu hari nanti. Dan yang paling dalam yaitu dia takut menjalani semua ini sendirian.

Hari itu, setelah selesai minum obat dan makan malam bersama, Ayu menghela napas panjang, menatap Bisma dengan mata yang serius.

“Bisma,”

Bisma mengangkat wajah.

“Ya? Kenapa, Sayang?”

“Aku mau ngomong sesuatu. Tapi tolong jangan marah atau merasa tertekan,” ucap Ayu hati-hati.

Bisma mengangguk pelan, menatap Ayu dengan penuh perhatian.

“Aku mau kita menikah, secepatnya.”

Suasana mendadak hening. Hanya suara kipas angin kecil di sudut kamar yang terdengar.

Bisma kaget namun berusaha tenang.

“Kamu serius?”

“Aku serius, Bisma. Aku nggak sanggup hadapi semua ini sendirian. Setiap malam aku kepikiran, gimana kalau kondisiku semakin buruk. Gimana kalau aku nggak bisa hamil. Gimana kalau suatu hari nanti aku kehilangan fungsi rahimku. Aku butuh kamu di sampingku, bukan cuma sebagai pacar,” ujarnya panjang lebar.

Bisma menunduk, matanya mulai gelisah. Dia memahami ketakutan Ayu, tapi permintaan itu terlalu mendadak.

Bisma pun membalas,

“Ayu, aku ngerti perasaan kamu. Aku tahu kamu takut, dan aku juga. Tapi menikah itu bukan hal kecil. Kita baru saja mulai kerja, belum punya tabungan, belum siap secara finansial.”

Ayu membalas,

“Aku nggak butuh pesta mewah, Bisms. Aku cuma butuh kepastian. Butuh kamu jadi pendamping sahku. Dokter bilang menikah bisa membantu penyembuhanku. Aku ingin berjuang dengan status yang pasti.”

Bisma menarik napas panjang.

“Aku bukan nggak mau nikah sama kamu. Bahkan dari dulu, kamu adalah perempuan yang aku mau nikahi. Tapi sekarang, aku belum siap secara materiil. Kamu tahu gaji bulananku pas-pasan. Tabungan aku bahkan belum cukup buat bayar sewa kost, apalagi biaya resepsi atau tempat tinggal kita nanti.”

Ayu menatap Bisma dengan mata berkaca-kaca.

“Aku nggak minta resepsi. Kita bisa nikah sederhana. Tinggal di kontrakan kecil. Aku cuma butuh kamu. Tolong, Bisma.”

Bisma terdiam. Hatinya seperti diiris. Dia ingin memenuhi permintaan Ayu, memeluknya, dan berkata “ya, kita menikah besok.” Tapi logikanya menahan. Dia tahu pernikahan bukan hanya soal cinta dan keinginan, tapi juga soal kesiapan hidup berdua, tanggung jawab, dan kestabilan.

“Aku tahu kamu kuat, Sayang. Tapi jangan buat keputusan karena panik. Kita baru dua minggu terapi, kita belum tahu hasil jangka panjangnya. Aku cuma ingin kita berpikir jernih. Kasih aku waktu, Ayu. Kita fokus ke terapi dulu, sambil pelan-pelan persiapkan semuanya,” seru Bisma masih ragu.

Ayu menimpali,

“Waktu? Bisma, penyakit ini gak nunggu kita siap. Setiap bulan aku bertaruh dengan rasa sakit. Setiap bulan aku berdoa semoga tubuhku masih bisa berfungsi dengan baik. Aku takut. Aku bener-bener takut!”

Tangis Ayu pecah. Dia menunduk, menutup wajahnya dengan tangan. Bisma langsung berdiri dan memeluk Ayu erat dari depan, membiarkannya menangis di dadanya.

Bisma pun berkata,

“Maaf … maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud menolakmu. Aku cuma takut mengecewakan kamu nanti. Aku takut kita nikah dalam keadaan belum siap, lalu malah saling menyalahkan.”

Ayu masih menangis pelan.

“Aku nggak akan pernah nyalahin kamu, Bisma. Aku cuma mau kamu ada secara utuh untuk aku. Bukan sekadar pacar yang bisa pergi kapan saja.”

“Aku nggak akan pergi. Kamu tahu itu. Tapi, bisakah kamu percaya sama aku satu kali lagi? Aku janji akan kumpulkan uang secepatnya. Kita bisa mulai rencanakan pernikahan, bahkan tanpa resepsi. Tapi beri aku waktu. Paling tidak dua atau tiga tahun,” tuturnya.

Ayu terdiam, menatap Bisma yang masih memeluknya.

“Itu terlalu lama Bisma. Aku beri kamu waktu,

dua bulan.”

Bisma kaget dengan perkataan Ayu. Namun dia terpaksa mengangguk.

“Baiklah, Sayang. Aku akan kerja lebih keras, ambil proyek tambahan, kurangi jajan, dan semua uangku, akan aku tabung buat kita. Aku juga ingin hidup sama kamu, dalam keadaan sakit atau sehat.”

Ayu mengangguk pelan. Meski hatinya masih gelisah, dia tahu Bisma bukan laki-laki yang lari dari tanggung jawab. Ayu hanya terlalu jujur untuk memaksakan sesuatu yang belum siap.

“Oke. Tapi kamu harus janji.”

“Janji apa, Ayu?”

“Jangan mundur lagi. Atau cari alasan untuk tunda lagi. Kita harus menikah,” ujar Ayu tegas.

Bisma tersenyum, lalu mencium kening Ayu dengan lembut.

“Aku janji. Kita akan nikah, Ayu. Dalam segala keterbatasan, aku tetap ingin kamu jadi istriku.”

Malam itu, mereka berpelukan lama. Di luar, hujan telah berhenti. Langit mulai bersih dari awan. Di dalam kamar kecil itu, dua hati telah menyatukan tekad, bukan hanya untuk menikah, tapi untuk bertahan dalam cinta yang diuji oleh kenyataan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel