Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Awal Dunia Kerja

Jakarta pagi itu penuh hiruk pikuk. Deru kendaraan membanjiri jalan-jalan, klakson bersahutan, dan manusia berlomba mengejar waktu. Di tengah kesibukan kota yang tak pernah tidur, dua anak muda memulai babak baru dalam hidup mereka.

Bisma kini bekerja sebagai staf marketing di sebuah perusahaan properti besar di Jakarta Selatan. Pekerjaannya menuntutnya untuk aktif bergerak, bertemu klien, mengikuti rapat, bahkan lembur demi mengejar target penjualan.

Sementara itu, Ayu memulai karier sebagai sekretaris di kantor hukum ternama di Jakarta Barat. Tugasnya menuntut ketelitian, kesabaran, dan jam kerja yang terkadang tak menentu. Dari menyusun agenda rapat hingga menyiapkan dokumen penting bagi para partner firma hukum.

Pagi hari, keduanya sibuk di dunia masing-masing, namun tak pernah lupa menyapa satu sama lain.

Bisma :”Selamat pagi, Ayuku yang cantik. Semangat kerja ya!

Jangan lupa sarapan. Aku sayang kamu.”

Ayu :”Pagi juga, Mas Marketing.

Makasih ya, kamu juga semangat. Jangan lupa minum air putih.

Aku juga sayang kamu.

Hari-hari mereka kini dipenuhi rutinitas yang padat. Bisma lebih sering pulang malam karena harus meeting dengan calon pembeli atau menghadiri pameran properti. Ayu pun kerap membawa pulang pekerjaan karena ada dokumen yang harus direvisi atau disiapkan untuk keesokan hari.

Meski begitu, keduanya berusaha menjaga komunikasi, walaupun hanya lewat chat atau telepon di malam hari sebelum tidur.

Suatu malam, setelah hari yang melelahkan, mereka berbicara lewat panggilan video.

Ayu menyender di tempat tidur, wajahnya terlihat lelah.

“Hari ini aku sampai salah kirim jadwal ke klien. Untung bosku baik, nggak langsung marah.”

Bisma tersenyum sambil duduk di ruang kerjanya yang masih terang.

“Namanya juga awal-awal kerja. Masih harus terus belajar, pasti ada salah. Jangan terlalu keras sama diri sendiri, ya.”

Ayu membalas,

“Kamu juga jangan terlalu keras kerja terus. Aku tahu kamu ngejar target, tapi kamu juga butuh istirahat.”

Bisma menimpali,

“Kalau aku ingat kamu, capekku hilang, kok.”

Ayu tertawa pelan. “Gombal kamu makin canggih ya sejak jadi anak marketing.”

“Itu udah skill wajib, Bu. Tapi serius, aku kangen kamu,” tutur Bisma.

Ayu menjawab,

“Aku juga, nih.”

Keduanya mulai terbiasa dengan jarak yang memisahkan mereka di kota yang sama namun terasa begitu luas karena padatnya jadwal. Mereka jarang bertemu, tapi saat bisa bertemu, keduanya benar-benar menghargai waktu bersama.

Suatu Sabtu sore, akhirnya mereka punya kesempatan untuk malam mingguan bersama.

Bisma menjemput Ayu di depan kost tempat Ayu tinggal. Dia mengenakan kemeja biru muda dan celana jeans, terlihat santai namun rapi. Ayu tampil anggun dengan dress simpel warna pastel dan rambut dikuncir separuh.

Bisma membukakan pintu mobil kantor yang dipinjamnya untuk jalan bareng Ayu.

“Silakan, Nona Sekretaris.”

Ayu tersenyum manis.

“Makasih, Tuan Marketing.”

Keduanya pun tertawa, bahagia bisa kembali bersama.

Tujuan mereka malam itu adalah sebuah kafe rooftop di daerah Kemang. Tempat itu memiliki pemandangan kota yang menakjubkan dengan lampu-lampu kota yang berkilauan.

Saat makanan datang, suasana menjadi lebih tenang dan santai.

“Gimana kerjaan kamu minggu ini?” tanya Ayu.

Bisma menjawab,

“Lumayan hectic. Tapi minggu ini aku closing satu proyek besar. Dapat bonus, lumayan buat traktir kamu malam ini.”

“Wah, selamat ya! Aku bangga banget sama kamu,” tukas Ayu ikut senang.

“Kalau kamu gimana? Masih direcoki sama Pak Partner yang galak itu?” tanya sang kekasih.

Ayu mendecakkan lidahnya.

“Masih. Tapi sekarang aku udah bisa lebih tenang. Aku belajar banyak dari dia, walau galaknya kebangetan.”

Bisma menjawab,

“Kita memang lagi masuk ke fase dunia nyata, ya. Dulu bisa ketemu tiap hari di kampus, sekarang susah banget atur waktu.”

“Iya. Kadang aku merasa kita mulai jauh,” tukas Ayu.

Bisma menggenggam tangan Ayu.

“Tapi aku nggak pernah jauh dari kamu. Raga kita mungkin sibuk, tapi hati kita tetap saling nyambung.”

Ayu tersenyum haru.

“Kamu yakin kita bisa terus begini?”

“Kalau kita sama-sama berjuang, pasti bisa. Kita udah janji waktu wisuda, kan?” tukas Bisma mengingatkan.

“Iya, janji untuk tetap bersama,” sahut Ayu.

Malam itu mereka duduk berlama-lama, membicarakan rencana masa depan. Meski waktu terbatas, keduanya sepakat untuk menjaga hubungan dengan kepercayaan dan komunikasi.

Minggu berikutnya, saat Bisma terjebak lembur, Ayu mengirimkan foto makan malamnya.

“Hari ini aku masak sop ayam. Enak banget. Kamu harus coba.

Kasian kamu lembur terus, jangan sakit ya.”

Bisma membalas,

Wah … jadi kangen masakan kamu.

Makasih ya, Sayang. Doain lemburanku cepat kelar.

Hubungan keduanya diuji oleh waktu dan jarak, tapi cinta yang mereka tanam sejak kampus tidak mudah goyah. Mereka tidak lagi bisa bertemu setiap hari, tetapi tiap pertemuan terasa lebih bermakna.

Suatu malam, di tengah jadwal yang padat, Ayu mengirim pesan singkat.

“Aku tahu kita sama-sama sibuk, tapi aku bersyukur masih punya kamu yang selalu sempatkan waktu buat aku. Makasih ya, Bisma.”

Bisma membaca pesan itu setelah rapat panjang. Dia tersenyum, lalu membalas,

“Aku yang lebih beruntung punya kamu. Jangan pernah lelah mencintaiku, ya.”

Di tengah riuh Jakarta yang sibuk dan tak kenal ampun, dua hati tetap saling menjaga. Walau waktu tak lagi berpihak seperti dulu, Ayu dan Bisma tahu, cinta mereka layak diperjuangkan. Dan selama keduanya saling percaya dan saling menguatkan, serta yakin, cinta mereka akan terus bertahan.

Nyeri di perut Ayu.

Hari itu, matahari bersinar terik di atas langit Jakarta. Jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak lambat, seakan menyatu dengan ritme kota yang tak pernah benar-benar berhenti. Di sela-sela kesibukan kerjanya, Bisma menerima pesan dari Ayu.

“Bisma, aku lagi gak enak badan, Hari ini aku izin nggak masuk kerja. Lagi gak kuat banget, sakit perut.”

Bisma membalas,

“Ya ampun, kamu kenapa, Sayang? Sakitnya parah?

“Menstruasi lagi … kayak biasa. Tapi kali ini lebih sakit dari biasanya. Aku istirahat di kos aja,” balas Ayu.

“Aku ke sana sekarang,” tutur Bisma

Ayu membalas lagi, “Nggak usah, kamu kan kerja. Nanti sore aja kalau sempat.”

Bisma malah ngotot,

“Kamu lebih penting. Aku minta izin keluar sebentar. Tunggu aku ya.”

Tanpa pikir panjang, Bisma segera meminta izin kepada atasannya. Dia tahu betul bahwa ini bukan kali pertama Ayu mengeluhkan nyeri saat haid. Namun dari nada pesannya kali ini, terdengar bahwa rasa sakit itu jauh lebih buruk dari biasanya.

Setengah jam kemudian, Bisma tiba di kosan Ayu. Dia membawa kantong plastik berisi air mineral hangat, botol minyak kayu putih, dan sebungkus bubur ayam hangat. Bisms mengetuk pintu pelan.

Tok tok tok.

“Ayu … Ini aku, Bisma.”

Dari dalam terdengar suara pelan, agak serak.

“Masuk aja, pintunya gak dikunci.”

Bisma membuka pintu perlahan. Di dalam kamar yang kecil dan rapi itu, Ayu tengah berbaring meringkuk di atas tempat tidur, dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya tampak pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Bisma meletakkan plastik di meja kecil.

“Aduh Sayang, kamu pucat banget. Sakit banget, ya?”

Ayu tersenyum lemah.

“Iya … kayak ditusuk-tusuk gitu rasanya. Tapi biasanya nanti reda sendiri.”

Bisma duduk di pinggir ranjang, memegang tangan Ayu.

“Kenapa nggak bilang dari kemarin? Harusnya kamu cerita kalau udah mulai sakit kayak gini.”

“Aku gak enak ganggu kamu terus. Kamu juga lagi banyak kerjaan, kan?”

Bisma mengelus lembut rambut Ayu.

“Jangan bilang gitu. Kamu itu prioritasku. Kalau kamu sakit, aku harus ada.”

Ayu diam. Matanya berkaca-kaca. Dia tahu Bisma selalu perhatian, tapi ada bagian dari dirinya yang sering merasa tidak ingin merepotkan siapapun, bahkan orang yang paling mencintainya.

Bisma bertanya lagi,

“Kamu udah minum obat?”

Ayu menjawab,

“Udah tadi pagi, tapi kayaknya gak terlalu ngaruh. Aku cuma pakai botol hangat tadi, terus coba tidur, tapi belum reda juga.”

Bisma berdiri dan mengambil botol air hangat dari plastik yang dia bawa.

“Nih, aku bawain air hangat baru. Aku juga bawa minyak kayu putih, mau aku bantu olesin?”

Ayu hanya mengangguk pelan. Bisma duduk kembali dan perlahan mengusap perut Ayu dengan minyak, lalu meletakkan botol hangat di atasnya. Dia melakukan semua dengan pelan dan hati-hati.

Ayu berkata,

“Bisma,”

“Ya, Sayang?”

“Kamu gak jijik, ya? Aku lagi kotor begini,” ucap Ayu merendah.

Bisma tersenyum lembut.

“Kotor apanya? Kamu perempuan, itu hal alami. Justru di saat kayak gini kamu butuh orang yang sayang sama kamu.”

Ayu tersenyum, walaupun lemah.

Setelah beberapa saat hening, Bisma memecah keheningan dengan suara serius.

“Ayu, kamu udah pernah periksa ke dokter belum, soal ini?”

“Belum. Kenapa emangnya?”

“Aku perhatiin tiap kamu datang bulan, kamu selalu sakit. Bahkan sampai gak bisa kerja, meringkuk kayak gini. Normal gak sih?” tanya Bisma.

Ayu menarik napas.

“Kata Ibu, dulu dia juga sering kayak gini. Jadi aku pikir ya mungkin ini turunan.”

Bisma membalas,

“Tapi tetep aja, aku gak tenang. Aku khawatir ada yang gak beres. Kenapa kita gak coba ke dokter kandungan?”

Ayu terdiam sejenak.

“Ke dokter kandungan?”

“Iya. Supaya kita tahu, ini sekadar nyeri biasa atau ada masalah lain. Siapa tahu ada solusi medis. Aku temenin kok, aku temenin kapan pun kamu siap,” ucap sang kekasih.

Ayu tampak ragu.

“Aku malu, Bisma.”

“Malu kenapa? Kamu punya hak buat jaga kesehatan kamu. Dan gak ada yang salah dengan konsultasi ke dokter. Ini badan kamu, kamu harus tahu apa yang terjadi.”

Ayu menggigit bibir bawahnya. Hatinya berkecamuk. Selama ini dia selalu mengabaikan rasa sakit itu, menganggapnya bagian dari takdir perempuan. Tapi hari ini berbeda. Sakitnya sungguh membuatnya lemas, bahkan nyaris tak sanggup berdiri.

Ayu kemudian berkata,

“Nanti ya … aku belum siap sekarang. Tapi mungkin iya, aku harus periksa.”

Bisma menjawab,

“Gak apa-apa. Aku tunggu kapanpun kamu siap. Tapi jangan terus abaikan ya. Aku gak mau kamu terus sakit kayak gini tiap bulan.”

Ayu mengangguk pelan.

Beberapa menit kemudian, Ayu mulai merasa sedikit lebih baik karena kehangatan dari botol dan olesan minyak. Bisma membuka bubur ayam yang dia bawa, dan menyuapi Ayu perlahan.

Ayu tersenyum malu.

“Udah kayak anak kecil ya aku.”

“Anak kecil paling manis yang pernah aku sayang,” celetuk Bisma.

“Makanya, jangan bosan ya jagain aku,” sahutnya.

“Justru aku bersyukur bisa jagain kamu. Itu caraku mencintaimmu.”

Hari mulai sore. Ayu tertidur di bawah selimut hangat, napasnya mulai teratur. Bisma duduk di kursi kecil di samping ranjang, tetap berjaga. Sambil menatap wajah kekasihnya yang tertidur, dia memantapkan diri bahwa apapun yang terjadi, Bisma akan tetap di sisi Ayu. Menemani, menjaga, dan mencintainya, bahkan di saat-saat yang paling menyakitkan.

Karena cinta sejati bukan hanya hadir saat tawa terdengar, tapi juga ketika air mata jatuh tanpa suara.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel