Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Putus Nyambung

Hubungan Bisma dan Ayu mulai memasuki fase yang tidak stabil. Sejak pertengkaran pertama yang cukup menyakitkan, hubungan keduanya seperti berada di atas perahu kecil di tengah lautan badai. Ayu, dengan karakter dominannya, mudah terpancing emosi dan sering mengeluarkan kata-kata putus saat marah. Sementara Bisma, yang masih sangat mencintainya, selalu kembali, berharap cinta mereka bisa diperbaiki.

Suatu malam di taman kampus yang mulai sepi, lampu taman menyala redup, dan angin berhembus pelan membawa aroma bunga kamboja yang gugur, Bisma dan Ayu kembali terlibat dalam pembicaraan serius.

"Jadi kamu ngambek cuma karena aku lupa balas chat kamu?" tanya Bisma, berusaha meredam suaranya yang mulai naik.

Ayu menyilangkan tangan dan menatap tajam. "Bukan soal chat, Bisma. Kamu nggak pernah bisa menghargai aku. Kamu bahkan kayak nggak peduli aku tuh nunggu kabar kamu!"

"Ayu, aku baru keluar dari rapat. Aku sudah bilang dari siang kalau aku bakal sibuk. Kamu yang terlalu sensitif."

Ayu berdiri dari bangku taman, wajahnya memerah. "Udah deh, aku capek. Kita sudahi saja. Aku mau fokus ke skripsi. Aku nggak bisa kayak gini terus."

"Kamu serius mau putus lagi? Ayu, ini yang keempat kalinya kamu bilang putus cuma karena hal sepele!"

"Karena kamu nggak berubah-ubah! Nggak pernah belajar dari kesalahan!" Ayu membalas dengan nada tinggi.

Bisma menarik napas panjang. "Aku selalu datang lagi, Ayu. Selalu berusaha ngerti kamu. Tapi kalau kamu terus pakai kata 'putus' tiap kita berantem, aku juga bisa lelah."

Suasana hening sejenak. Daun-daun berguguran pelan, seolah ikut menyaksikan pertarungan hati dua insan muda itu.

Beberapa hari setelah kejadian itu, mereka tidak saling menghubungi. Bisma mencoba fokus ke kelas dan kegiatan kampus, namun pikirannya terus melayang pada Ayu. Begitu juga Ayu, yang diam-diam menyesal telah berkata kasar dan terlalu reaktif.

Di sebuah kafe kecil dekat kampus, Ayu duduk sendiri menatap layar laptop. Dia membuka folder berisi foto-fotonya bersama Bisma. Tawanya, candanya, kenangan mereka saat menyelesaikan tugas kelompok pertama bersama.

Tanpa sadar, air mata menggenang di matanya.

"Maafin aku, Bisma," bisiknya pelan.

Tiba-tiba pintu kafe terbuka, dan Bisma masuk. Dia tampak lelah, namun matanya segera menangkap sosok Ayu di pojok ruangan. Mereka saling menatap lama, seolah waktu berhenti sesaat.

Bisma mendekat dan duduk di hadapan Ayu. "Kamu baik-baik saja?"

Ayu menunduk. "Aku nyesel udah bilang putus waktu itu. Aku cuma. .. lagi capek. Banyak tekanan dari rumah dan kampus. Tapi aku tahu, itu bukan alasan buat nyakitin kamu."

Bisma menghela napas. "Aku juga punya kekurangan, Ayu. Aku keras kepala. Tapi aku nggak mau kehilangan kamu."

Ayu menatap mata Bisma, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka bicara tanpa saling menyakiti.

"Kita bisa coba lagi, tapi kali ini jangan lagi pakai kata 'putus' kayak senjata. Kita hadapi masalah sama-sama. Kompromi. Komunikasi," ujar Bisma.

Ayu mengangguk pelan. "Kita mulai lagi, ya? Pelan-pelan."

"Pelan-pelan, dan lebih dewasa," jawab Bisma sambil menggenggam tangan Ayu.

Namun, meskipun mereka kembali bersama, siklus putus-nyambung tidak serta-merta berhenti. Di bulan-bulan berikutnya, pertengkaran demi pertengkaran masih terjadi, meskipun kini lebih jarang disertai keputusan impulsif.

Di mata teman-teman mereka, hubungan Bisma dan Ayu seperti roller coaster. Kadang mesra luar biasa, kadang seperti dua orang asing yang saling melukai.

Suatu hari, Dinda, sahabat Ayu, menyentuh bahunya saat mereka duduk di kantin.

"Yu, serius dehb... kamu yakin ini cinta sehat? Kamu nggak capek?"

Ayu tersenyum pahit. "Aku sadar hubungan kami nggak sempurna. Tapi aku juga tahu, Bisma satu-satunya orang yang bisa bikin aku merasa berarti. Meskipun kadang, caranya menyakitkan."

Dan begitu pula dengan Bisma. Kepada teman dekatnya, Raka, dia

pernah berkata,

"Ayu itu seperti badai. Tapi di tengah badai itu, aku temukan kedamaian yang aneh. Aku tahu kami sering berantem, tapi kalau dia pergi, kayak ada yang hilang dari hidupku."

Putus-nyambung jadi bagian dari dinamika hubungan mereka. Cinta yang keduanya perjuangkan belum menemukan bentuk stabil. Namun mereka percaya, cinta bukan tentang selalu sepakat, tapi tentang memilih untuk tetap bertahan meski berbeda.

Dan keduanya masih memilih satu sama lain.

Untuk saat ini.

Hari wisuda pun tiba.

Hari itu langit begitu cerah seolah turut merayakan keberhasilan para wisudawan. Di tengah lautan toga dan wajah-wajah bahagia, Ayu berdiri di samping Bisma, menggenggam map berisi ijazah mereka masing-masing. Senyum merekah di wajah keduanya. Hari yang selama ini mereka impikan akhirnya tiba.

Lapangan universitas dihiasi balon warna-warni dan spanduk besar bertuliskan "Selamat Wisuda Angkatan Terbaik Tahun Ini!" Suasana penuh tawa, peluk haru, dan kilatan kamera dari keluarga yang bangga.

“Bisma, akhirnya kita lulus juga ya,” ujar Ayu sambil menatap Bisma dengan mata berbinar.

Bisma mengangguk dan mengusap pelan puncak kepala Ayu, kebiasaan yang sering ia lakukan.

“Iya, Yu. Perjuangan kita selama ini nggak sia-sia. Semua jerih payah, begadang, dan drama tugas kelompok akhirnya terbayar lunas hari ini.”

Ayu tertawa pelan. “Dan semua pertengkaran kecil kita waktu nyusun skripsi juga.”

“Eh, itu bagian dari perjalanan cinta mahasiswa,” jawab Bisma sambil terkekeh.

Mereka duduk di bangku taman kampus, tak jauh dari aula utama tempat prosesi wisuda berlangsung. Di tangan Ayu, terdapat buket bunga mawar merah muda pemberian Bisma.

“Kamu masih ingat nggak, pertama kali kita ketemu di kelas pengantar komunikasi dulu?” tanya Ayu tiba-tiba.

Bisma mengangguk, menatap Ayu penuh sayang. “Ingat banget. Kamu duduk paling depan, sibuk nulis, dan aku duduk di belakang, berusaha cari perhatian kamu. Tapi kamu cuek banget.”

Ayu tertawa. “Karena aku pikir kamu itu cowok paling berisik di kelas.”

“Dan kamu cewek paling rajin yang bikin aku penasaran terus,” jawab Bisma sambil tersenyum.

Hening sejenak. Keduanya saling menatap, seolah mengingat seluruh perjalanan cinta mereka sejak awal kuliah.

Ayu menggenggam tangan Bisma erat. “Bisma … setelah ini, kita bakal mulai fase baru. Aku mulai kerja, kamu juga. Aku takut …”

Bisma menatap Ayu dalam-dalam. “Takut apa?”

“Takut kesibukan bikin kita renggang.”

Bisma menarik napas pelan. “Aku juga sempat mikir soal itu. Tapi aku percaya sama kamu. Kita sudah melewati banyak hal bareng. Kalau kita bisa lewati masa kuliah yang penuh tekanan, kita juga bisa melewati masa sekarang.”

Ayu tersenyum tipis, namun matanya berkaca-kaca. “Kamu yakin?”

Bisma mengangguk. “Yakin banget. Dengerin aku ya, Ayu …”

Bisma memegang kedua tangan Ayu dan menatapnya lekat-lekat.

“Aku sayang sama kamu. Dan aku janji akan tetap setia walaupun kita harus berpisah tempat kerja. Aku bakal sempetin waktu buat ngobrol sama kamu setiap hari. Kalau kamu kangen, bilang. Aku bakal ke kostmu. Kalau aku kangen, kamu boleh ke kostku. Aku nggak akan biarkan kesibukan jadi alasan buat kita menyerah.”

Ayu terdiam, lalu mengangguk pelan. “Aku juga janji, Bisma. Aku bakal pertahanin hubungan ini. Aku percaya sama kamu. Kita bisa.”

Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang mereka.

“Hei! Ayu! Bisma! Foto dulu dong bareng kita!”

Ternyata itu teman-teman sekelas mereka. Keduanya segera berdiri dan berjalan ke arah teman-teman yang sudah siap dengan kamera. Tawa dan candaan kembali memenuhi udara.

Satu per satu, mereka berfoto, berpelukan, bahkan saling bertukar pesan di buku kenangan. Beberapa dosen lewat dan memberi ucapan selamat. Momen penuh nostalgia dan kebahagiaan itu seakan menjadi penutup sempurna untuk masa perkuliahan mereka.

Setelah semua foto diambil dan perpisahan kecil dilakukan, Ayu dan Bisma kembali duduk berdua.

“Setelah ini, kapan kamu mulai kerja?” tanya Ayu.

“Dua minggu lagi. Aku sempetin libur sebentar ke kampung halamanku? Kalau kamu, Yu?”

“Awal bulan depan. Jadi masih sempat pulang dulu ke Bogor sebelum mulai kerja.”

Bisma tersenyum. “Baguslah. Kita bisa quality time dulu sebelum kamu pergi.”

Ayu memandangi langit yang mulai berubah jingga. “Aneh ya, rasanya. Tiba-tiba semua selesai. Kita bukan mahasiswa lagi. Tapi aku bersyukur … karena aku nggak jalani semua ini sendirian.”

Bisma meraih pundak Ayu, memeluknya erat. “Kita jalani semuanya sama-sama. Dan kita akan terus sama-sama.”

Ayu menyandarkan kepala di bahu Bisma. Hati mereka tenang. Meski masa depan belum sepenuhnya jelas, keduanya yakin kekuatan cinta mereka cukup kuat untuk bertahan. Hari wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari cerita baru yang akan mereka ukir bersama.

Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang mulai meninggalkan kampus, Ayu dan Bisma tetap duduk di bangku taman itu. Mereka memandang matahari tenggelam, sebagai lambang bahwa satu babak kehidupan telah selesai dan babak baru yang menantang telah menanti di depan sana.

Namun keduanya sadar, sejauh apapun langkah membawa, cinta yang tumbuh dari perjuangan tidak akan pernah mudah luntur.

Dan pada hari itu, Ayu dan Bisma mengukir janji jika mereka akan terus bersama, apapun yang terjadi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel