Bab 9
BRUKK..
Sebuah dentuman terdengar. Seperti sesuatu yg jatuh, namun bukan suara jatuh di permukaan keras seperti lantai.
Isabelle membuka matanya perlahan saat mendapati dirinya kini sedang tersungkur dan ia seketika baru sadar dirinya barusan jatuh dari lantai 2.
Isabelle menggunakan tangannya untuk meraba sesuatu yg mengalir pelan dari pelipisnya. Sesuatu yg berwarna merah, lalu Isabelle menyadari bahwa yg ia sentuh sekarang adalah darah. Namun hal anehnya, kenapa sekarang ia tidak merasakan apapun yg keras? Seharusnya ia terjatuh dari ketinggian dan mendarat di lantai, namun hal sebaliknya, ia merasakan sesuatu yg empuk.
Mata Isabelle kemudian beralih ke arah sesuatu yg sedang memangkunya sekarang. Bukan, lebih tepatnya seseorang yg ia tindih sekarang. Alangkah terkejutnya Isabelle ketika apa yg ia temukan sekarang adalah manusia, orang seutuhnya, yaitu seorang pria. Seorang pria yg memiliki wajah bak pangeran. Isabelle tidak mengenali orang itu dan tidak tau kenapa orang tersebut bisa ada disini, serta mengapa pria ini bisa ditindih Isabelle..?
Isabelle reflek berdiri karena terkejut dan membersihkan gaunnya. Gaunnya sekarang sedikit kotor karena tercampur sedikit tanah serta helaian rumput tipis.
"I-Im so s-sorry!" Ucap Isabelle sambil membungkuk tanda meminta maaf. Kelihatannya ia telah membuat pria tersebut terluka, karena tadi ia terlihat menyentuh kepalanya. Isabelle malu setengah mati dan hampir mau nangis rasanya. Setelah ini, dirinya berjanji tidak akan meminum apapun yg mengandung alkohol lagi, dan hal tersebut berlaku untuk selamanya.
Pria tersebut masih tak bergeming sedikit pun. Ia kemudian berdiri perlahan dan berlangkah menghadapi Isabelle. Pria tersebut memakai pakaian berwarna putih dan berlengan panjang yg dihiasi dasi berumbai, dengan hiasan rumbaian di ujung lengan bajunya. Ia juga memakai celana ketat setinggi lutut berwarna cokelat. Dengan tatapan menghadap kebawah karena Isabelle lebih pendek darinya, ia melontarkan tawaan kecil dan sedikit tersenyum. Mata cokelatnya yg disinari oleh sinar rembulan membuat sosoknya terlihat menjadi lebih sempurna.
"I'm more worried about ruining that beautiful dress of yours." Katanya sambil tersenyum. Senyuman yg cukup membuat hati Isabelle berdetak kencang, cukup membuatnya terbang di langit. Seumur hidupnya ia tidak pernah menerima sanjungan manis seperti itu. Apalagi perkataannya terdengar sedikit serius.
"O-oh? This? Thank you.." Ucapnya terbata-bata. "By the way, k-kamu tidak apa-apa?" Sambungnya sambil menatap dahi pria itu.
"Seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu. Lihat pelipismu, ada darah mengalir. Mungkin terkena duri dari tanaman di atas saat kamu jatuh." Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, yaitu sebuah sapu tangan berwarna putih, dengan corak garis emas dipinggirannya.
Pria tersebut kemudian tanpa ragu menyapu darah yg mengalir dari pelipis Isabelle. "Ber-obatlah setelah pulang. Aku tidak membawa apa-apa untuk membantumu saat ini. Dan tahan darahnya dengan sapu tangan ini." Tawar pria tersebut.
"T-tidak apa-apa! Terima kasih telah menolongku. Tanpamu mungkin aku sudah meninggal haha." Candanya dengan tertawa sedikit tidak ikhlas.
"Jadi, apa yg membuatmu berada disini?" Tanya pria tersebut kembali.
"Ohh, jadi aku diundang ke istana ini karena ada pengumuman dari raja dan ratu." Balas Isabelle.
"Tadi aku barusan bertemu dengan sekelompok gadis menyebalkan. Tampangnya biasa-biasa saja, make-up nya menor, dan mereka seenaknya mengancam orang asing. Apa-apaan itu?" Gerutu Isabelle, karena dirinya sekarang ingin melampiaskan kekesalannya.
"Ancam kamu? Apa maksudnya?"
"Nanti akan kuceritakan saat kita bertemu lagi, nantinya."
"Bagaimana kita bisa bertemu lagi?" Ucapnya sambil sedik tertawa, saat melihat orang asing yg baru saja ditemuinya mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi.
"Kita lihat saja nanti. Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa berada disini? Dan kalau boleh bertanya, siapa kamu..?" Tanya Isabelle. Segala hal yg terjadi sekarang membuatnya begitu penasaran. Tentang dia, segalanya. Pria tersebut kembali tersenyum.
"Tidak apa-apa, cuman bosan saja. Hanya sedang ingin memanjakan mata dengan sinar rembulan serta bintang-bintang yg gemerlap pada malam ini. How about you?"
"Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Isabelle, Isabelle Rawlinson. Aku adalah seorang Lady."
"Hmm. Anak Archduke, ya?" Tanya pria tersebut.
"Yes. Tunggu, bagaimana kamu tau?"
"Hanya kebetulan mengetahuinya." Balasnya.
"Dan kamu belum memberitahukan apa-apa tentang dirimu. Siapa namamu dan berasal dari mana kamu?"
"Umm.. uh, aku adalah seorang Baron." Jawabnya, namun dengan nada sedikit gagap.
"Baron? Kamu tidak terlihat seperti baron?"
"Memangnya seorang Baron terlihat seperti apa? Hahaha" Tawa pria tersebut. Isabelle mengerucutkan bibirnya karena ia merasa dirinya diejek. "Baiklah kalau begitu. Jadi namamu siap.."
"IS ANYONE THERE? WE HEARD LOUD NOISE BACK THERE" Sebuah teriakan terdengar dari bangunan sebelah timur, dan suaranya makin mendekat. Isabelle tidak ingin orang sekitar khawatir dengan apa yg terjadi pada dirinya saat ini. "Gotta go. See you in another time."
"W-wait! You haven't give me your name! Heyy!" Teriak Isabelle sekencang mungkin setelah pria itu pamit dan langsung berlari pergi meninggalkannya. Padahal ia belum tau nama dari pria ganteng tersebut. Dan ia juga heran kenapa pria terlihat langsung berlari setelah mendengar teriakan seseorang.
Tamu yg sedari tadi berada di dalam ruangan tiba-tiba mendengar teriakan seseorang dari lantai 2. Para gentleman langsung berlari ke arah suara tersebut dan melihat seorang wanita tadi yg berbicara dengan raja dan ratu kini terlihat sangat kacau dan berantakkan sekarang. Dan Isabelle masih belum mengalihkan pandangannya dari arah pria tersebut berlari.
"Apa kau tidak apa-apa, miss?" Tanya pria tersebut. Kelihatannya seperti salah satu tamu pesta ini.
"Mari, akan saya antarkan ke dalam. Kami akan mengobatimu. Kau sudah terluka. Ceritakan saja di dalam nanti dengan tamu-tamu lainnya." Isabelle mengangguk kecil. Ia masih terbengong dengan pria tadi, pria misterius yg telah menyelamatkannya.
Sebenarnya siapa dia?
Saat Isabelle memasuki istana ini lagi, terlihat beberapa orang yg menatapnya kemudian sedikit berbisik-bisik. Isabelle ditempatkan di salah satu sofa untuk beristirahat dan menyenderkan badannya yg kini sedikit terkulai sakit.
"Ckck. Seorang putri dari bangsawan terhormat, diketahui sedang sangat mabuk kemudian jatuh dari balkon?" Apa yg akan terjadi jika orang lain dari istana ini mengetahui insiden ini?" Ucap seseorang tiba-tiba yg muncul dari kerumuman. Siapa lagi kalau bukan duo yg menyebalkan tadi? Yg mengancamnya out of nowhere?
"Apalagi kali ini?" Tukas Isabelle tajam. Orang zaman dulu dan orang zaman sekarang rupanya tidak ada bedanya. Tukang gossip dan suka nyinyir melihat orang lain terkena musibah. Sungguh naas nasib Isabelle.
"Tidak, tidak. Kami hanya ingin beri tau, bahwasannya seorang putri harus berlagak seperti seorang putri. Minum, minum sewajarnya. Aku bingung kenapa Josh memilih seorang putri pemabuk seperti ini." Ucap cewek tersebut kemudian tertawa jahil.
"Oh, terima kasih atas perhatiannya. Berkat kalian, aku jadi tersadarkan. Semoga kritik dan sarannya bisa membuat diriku menjadi lebih baik lagi." Balasnya sambil tersenyum licik.
"A-apa? Kami tidak menghawatirkanmu! Jangan ge-er deh." Ucap mereka kemudian pergi meninggalkannya.
"Orang-orang bodoh."
