Bab 10
"AKU PULANG."
"Anda sudah pulang, nona?" Sambut Marrie hangat, pelaya setia di rumah ini. Matanya kemudian melirik dan melihat seksama ke arah gaun yg dipakai Isabelle sekarang. Marrie terkejut dengan gaunnya yg kini terlihat kusam, kotor dan sedikit terkoyak di bagian lengannya. "Ada apa dengan bajumu, Isabelle?" Tanyanya khawatir.
Isabelle kemudian melirik gaunnya. "Oh, this? I fell down from 2nd floor haha.” Ucapnya sambil tertawa kecil, yg dimana hal tersebut sama sekali tidak lucu.
"L-lantai 2?? Kenapa bisa??" Suara Marrie kini meninggi.
"Aku tadi.. mabuk." Jawab Isabelle sangat berhati-hati karena ia tau ia bakal dimarahi.
"But that's ok! Ada banyak yg menolongku tadi. Tamu-tamu disana sangat baik padaku." Jawabnya. Tidak semua sih, ada tamu menyebalkan juga.
Marrie menghela nafasnya dengan berat melihat perlakuan Isabelle.
“Isabelle, kamu lain kali jangan minum-minum lagi. Hal tersebut sangat berbahaya untukmu. Bagaimana kalau tadi tidak ada yg menolongmu?" Ceramah Marrie tak henti-henti. Isabelle bakal tau nantinya akan seperti ini, jadi apa yg bisa dia lakukan sekarang adalah pasrah. Toh ada sisi baiknya dari ceramah ini. Setelah puas menceramahi Isabelle, Marrie menyuruh Isabelle membersihkan dirinya kemudian tidur.
Seusai membersihkan seluruh tubuhnya dengan berendam air hangat dengan sabun cair yg memiliki wangi bunga bercampur parfum yg mewah, Isabelle memasuki kamarnya dan membuka pintu balkonnya. Saat ini tempat favoritnya tentu saja adalah balkon. Selain bisa menangkap dan menghirup sebanyak-banyaknya udara segar, pemandangan nan-indah pun bisa didapatkan dengan mudah dari balik pintu ini.
Isabelle termenung sesaat sambil menatap bintang-bintang di langit yg ditemani oleh bulan penuh yg indah. Tiba-tiba dirinya ingat kejadian di pesta tadi, ketika ia menyalahkan bintang tersebut. "Apa aku sudah gila?" Ucapnya frustrasi kemudian menepuk jidatnya sendiri.
Sambil menikmati chamomile tea yg telah disediakan pelayannya ketika Isabelle sedang berada di dalam kamar mandi, ia kembali tersenyum mengingat kejadian lainnya dipesta. Kejadian dimana ia bertemu dengan sosok yg misterius. Isabelle masih ingat bagaimana ciri-ciri wajahnya. Hidung yg mancung, mata cokelat mengkilapnya, rambut cokelatnya yg sedikit bergelombang, dan postur tubuhnya yg tinggi dan gagap, membuat hatinya kini teracak-acak. Perutnya seperti dipenuhi oleh kupu-kupu.
Isabelle tidak percaya seseorang yg ditemuinya tadi adalah seorang baron, karena seorang baron tidak akan duduk-duduk di rerumputan belakang istana, apalagi alasannya hanya untuk melihat bintang dan bulan.
Isabelle kembali terkekeh kecil disertai rasa malunya tadi. "Andai saja aku dapat bertemu dengannya kembali."
Setelah mengingat sebentar mengenai kejadian tersebut, ada kejadian lain lagi yg cukup membuat harinya menjadi jelek, yaitu dihampiri 2 penyihir.
“Sialan banget itu orang. Apa maksudnya coba merusak suasana pesta pertamaku.” Ucapnya gusar sambil menyeruput teh-nya dengan kasar.
Separuh dari bumi kembali terang ketika disinari oleh matahari, begitu juga dengan sinarnya yg menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela kamar Isabelle. Kini, ia sedang duduk terbengong, memikirkan semua hal yg terjadi sebelum dia tidur. Rupanya, ini semua bukanlah mimpi.
Buktinya dia masih disini, memakai baju tidur berbahan halus seperti katun dan terbaring di tempat tidur mewah ini. Apalagi statusnya bisa dibilang adalah bagian dari keluarga kerajaan.
Tok tok tok..
Suara ketukan terdengar yg berasal dari arah pintu luar kamarnya. "Sudah bangunkah, Isabelle?" Tanya Marrie.
"Sudah. Anda boleh masuk." Jawabnya. Marrie kemudian memasuki kamarnya dan kembali menutup pintunya. "Anda harus segera membersihkan diri dan bersiap-siap. Siang ini, kami akan pergi mengurusi registrasi pindahan sekolah kamu."
“Kami siapa maksudmu, Marrie?” Tanya Isabelle yg setengah mengantuk.
“Anda dan saya, tuan putri.” Jawabnya. Isabelle menganggukkan kepalanya mengerti.
"Emangnya, sekolahku yg dulu bagimana, Marrie?" Lanjut Isabelle penasaran.
"Mengingat kamu berhenti dari sekolah selama beberapa bulan, kamu ketinggalan banyak pelajaran dan harus diulangi. Sayangnya sekolah itu tidak menerima pengulangan kelas, jadi kami memutuskan untuk mengirimmu ke sekolah baru dan mengulangi pelajaranmu yg tertinggal selama hampir 1 tahun." Jelas Marrie panjang kali lebar. Isabelle hanya mengiyakan.
"Apakah ada sekolah yg kamu inginkan? Oh iya, saya lupa. Anda hanya baru beberapa hari meraih memori kamu, jadi belum sempat menjelajahi sekolah-sekolah disini." Bagai kepala yg diterangi sinar lampu bohlam, ia teringat ada satu sekolah yg direkomendasikan temannya yg dipesta kemarin.
"Kemarin aku berteman dengan kawan baru. Ia pernah merekomendasikan kepada ku sekolahnya, umm, apa ya.. agak sedikit lupa namanya.." Jawab Isabelle sambil memijit-mijit pangkal hidungnya.
“Tunggu, biarkan aku berpikir.” Lanjutnya.
"Sepertinya, S..Abe.. abol.. abil.." Jawabnya terbata-bata karena telah melupakan nama sekolahnya. Sungguh pelupa dirinya. Namun, nama sekolahnya juga susah untuk diingat.
"St. Abelous Patrick?"
Isabelle menjentikkan jari jempol dan telunjuknya yg bergabung. "Iya! Itu dia." Jawab Isabelle sambil merekahkan senyumnya.
"Baiklah, kita akan kesana nanti."
Setelah berdiskusi dengan pengurus rumah yg lainnya, akhirnya mereka memutuskan untuk mendaftarkan Isabelle ke sekolah St. Patrick jam 1 siang ini.
“Tapi, saya dengar kalau sekolah ini lumayan ketat persaingannya. Dan katanya sih, disana banyak sekali murid-murid yg lumayan sombong karena beberapa dari mereka punya tali hubungan dengan sang Raja Edinburgh.” Ujar salah satu pelayan muda.
“Apakah kamu akan merasa tertekan, tuan putri? Kalau iya, mari kita cari sekolah lainnya.”
“Tidak, tidak apa-apa kok. Aku rasa aku bisa menghadapinya. Toh, aku tidak lemah.” Para pelayan tersebut pun tersenyum melihat sifat Isabelle yg kini telah menjadi lebih cerah dan memberikan energi positif.
“Kamu! Jangan menakut-nakuti tuan putri. Emangnya tuan putri kita terlihat seperti orang yg lemah?” Sahut Marrie.
“Maaf, maaf. Saya tidak bermaksud.” Jawabnya sambil cengengesan tidak jelas. Isabelle hanya bisa tertawa melihatnya.
Diskusi tersebut pun kini telah selesai. Merasa kelelahan dengan acara diskusinya, Isabelle memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di belakang bukit, yg letaknya tepat di depan kebun rumahnya.
Isabelle baru mengetahui bahwa bukit tersebut sangat indah karena sangat luas. Ia baru menyadari kalau halaman belakangnya ini lebih luas 2x lipat, seperti tanah pribadi. Di depan taman masih ada kolam dengan patung ukiran diatasnya, dan disekelilingnya ada tembok labirin yg terbuat dari dedaunan. Labirin ini tidak terlalu rumit, jadi Isabelle dapat menembusnya dengan mudah dan lanjut menjelajahi apa yg terdapat di depan labirin ini.
Pada sisi timur terdapat kandang kuda. Dan selebihnya terhampar luas warna hijau yg cerah di sekelilingnya, serta terdapat beberapa pohon rindang di beberapa bagian. Terlebih lagi ada sebuah pembatas yg terbuat dari kayu yg sangat, sangat panjang.
Isabelle berjalan menuju pagar itu hingga kemudian terlihat seperti ada seseorang yg sedang duduk di belakang pagarnya.
Pagar tersebut memiliki celah-celah, jadi Isabelle dapat melihat bahwa orang tersebut dapat dipastikan adalah seorang pria.
Dengan rasa penasarannya, Isabelle kemudian memutuskan untuk menghampiri orang tersebut. "Hello.. who's there?" Tanyanya sambil berteriak kemudian berlari pelan ke arah orang tersebut.
Tiba-tiba ada batu kecil yg entah darimana muncul membuat Isabelle tersandung dan jatuh melewati pagar tersebut.
