Pustaka
Bahasa Indonesia

Princess Without Crown

40.0K · Tamat
Neliciously
40
Bab
5.0K
View
7.0
Rating

Ringkasan

Suatu hari, aku ditabrak oleh truk. Yang kuingat adalah tubuhku mencoba meraih cahaya diatas tebing, dan rintikan hujan yang jatuh diatas wajahku. Namun apa daya tubuhku semakin tertarik ke bawah dan.. jatuh.Aku jatuh ditempat yg tidak dikenal. Tunggu, ini bukanlah jurang, seharusnya aku terbangun diatas tanah yg basah, kenapa malah saat ini aku terbangun di.. tempat tidur mewah yg empuk!?

RomansaTuan MudaSweetLove after MarriageCinta Pada Pandangan PertamaOne-night Stand

Bab 1

2 jam sebelum kejadian

"MADDY BOURNES."

Hanya 2 kata. 2 kata yg mampu membangunkan seseorang dari tidur siang bolongnya. Siang yg cukup terik sampai membuat orang jadi malas beraktivitas. Dan kini, Maddy Bournes, cewek berumur 16 tahun, masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, sedang duduk terbengong menatap sekitar, mencari tahu dari mana asal suara itu, dan kini dia tersadar.

Suara tersebut berasal dari guru killer yg ditakuti semua orang karena hukuman yg diberikannya, Ms. Anderson, yg mengajar mata pelajaran Bahasa Perancis. Maddy tidak pernah mendapatkan skor 70 keatas. Guru ini paling susah diajak berkompromi dalam urusan nilai.

"Sudah tau nilai jelek, masih beraninya tidur dimata pelajaran saya, hah!?" Satu pukulan rotan cukup membuat 38 murid dikelas ini mendapatkan serangan jantung. Pasalnya, Ms. Anderson gemar melayangkan rotan tiba-tiba tanpa persiapan. Hal tersebut membuat Maddy tambah bergetar.

Maddy ingin membuka mulutnya, namun apa daya sepasang mata Ms. Anderson membulat melotot kepadanya seakan-akan matanya hampir keluar. Maddy memutuskan untuk menghindari tatapannya. "M.. ma.."

"Tidak ada kata minta maaf! Saya sudah bosan mendengarnya." Potong Ms. Anderson dengan ketus.

"Serahkan kepada saya selembar kertas berisi kata minta maaf dalam Bahasa Perancis sebanyak 100 kata sebelum pulang." Kata Ms. Anderson lagi sambil membereskan bukunya.

"Pelajaran hari ini selesai." Ucapnya kemudian berjalan keluar dari kelas.

Selagi puluhan mata menatap kepergian dari guru mata pelajaran perancis itu, Maddy menoleh kebelakang secepat kilat, bertemu pandang dengan seseorang yg sangat ingin ia jambak

"Jose! Kenapa lo ga bangunin gue??" Protesnya dengan muka kemerahan.

Jose perlahan-lahan mengangkat kepalanya dari bawah dan mengusap ujung bibirnya yang terdapat remahan roti dengan punggung tangannya.

"Hehe, sorry." Ucapnya dengan senyum tak berdosanya.

"Mau berapa kali dibilang? Gara-gara semalam gue belajar Bahasa Jerman buat lomba mendatang, jadi ga sempat tidur. Aku uda tau pasti bakal ketiduran dikelas dan elo.. arghh!" Maddy mengacak-ngacak rambutnya frustrasi.

Sepertinya temannya yg satu ini benar-benar tidak berguna. Sebuah tepukan pelan terasa dipundak Maddy.

"Apa?" Jawabnya ketus.

Tiba-tiba Jose menyodorkan roti isi cokelat kepadanya.

"Mau?" Ingin rasanya Maddy menghempaskan Jose ke jalan Tol. Namun, ia masih punya jiwa kesadaran untuk tidak membunuhnya. Maddy merampas bungkusan roti tersebut dengan kasar.

"As you wish."

Maddy Bournes bersekolah di salah satu sekolah negeri bertaraf Internasional, dimana semua mata pelajarannya diambil dari kurikulum luar negeri dan membuat persaingan antar sekolah semakin ketat.

Maddy hanyalah seorang remaja normal yg biasa dan tidak memiliki penampilan yg menarik maupun memikat, sampai kemudian, suatu bencana besar menimpanya. Atau mungkin bisa dibilang sebuah.. keajaiban?

"Maddy." Sahut seseorang tiba-tiba dari belakang Maddy. Maddy pun menoleh kepada suara yg sedikit familiar tersebut.

Rupanya yg sedang mengajaknya bicara adalah Vien, rival sejati dari Maddy.

Maddy dan Vien dari dulu bersaing ketat dalam bahasa Jerman. Tugas Bahasa Jerman, ujian Bahasa Jerman, pidato Bahasa Jerman, debat Bahasa Jerman, mereka mengikuti semua kegiatan tersebut dan rata-rata semuanya dimenangi atau diungguli oleh seorang Maddy. Pengetahuannya dalam bidang sastra patut diacungi jempol. Oleh karena itu, Vien sering disebut sebagai rivalnya Maddy, dan Vien juga menganggap Maddy adalah seorang rivalnya.

"Kenapa?" Jawab Maddy kemudian menoleh balik ke bukunya.

"Kok lo pemalas banget? Bisa-bisanya tidur di pelajaran Ms. Anderson." Ujarnya sambil tertawa mengejek.

"Oh, atau jangan-jangan lo begadang semalaman buat lomba nantinya dan mati-matian berlatih terus buat ngalahin gue?" Sambung Vien. Maddy tidak tau harus menjawab apa kepada pertanyaan bodohnya ini.

"Vien." Ucapnya kemudian berhenti sebentar.

"Apa?"

"Bulan lalu gue barusan mengalahkan lo dalam kompetisi debat Bahasa Jerman Nasional. Ingat? Atau pura-pura lupa?" Tukasnya tak mau kalah.

Vien lalu terdiam untuk sebentar karena dirinya kalah berdebat dengannya.

"Tunggu aja nanti. Gue pasti bakalan kalahin lo." Balasnya kemudian menjulurkan lidahnya. Setelah itu Vien pergi meninggalkan Maddy.

"What was that?" Tanya Jose yg sedari tadi menyaksikan semuanya.

"Biasa, ada seseorang yg tidak siap kalah untuk lomba nantinya. Pfftt." Ucapnya kemudian tertawa bersama Jose.

"Lo jahat."

————————

Pelajaran olahraga dimulai. Salah satu pelajaran kesukaan Maddy, namun salah satu hal yg membuatnya tidak terlalu menyukai pelajaran ini adalah teriknya matahari.

Bagaimanapun juga secara teknis, panas juga diperlukan untuk membuang semua zat-zat berbahaya dari tubuh melalui keringat. Alasan kenapa dia menyukai pelajaran olahraga ini karena dirinya dapat melihat cowok yg di-idamkannya beberapa bulan yg lalu. Iya, cowok yg merupakan teman sekelasnya.

"Lagi tengok apa?" Sahut Jose mengagetkan lamunan Maddy.

"Eng-engga kok, gapapa." Balasnya kemudian memutar kepalanya ke arah lain.

"Gausah boong, Maddy. Lo lagi lamunin Frederick kan? Iya kan iya kan? Ucapnya setengah mengejek. Dirinya tau betul bahwa sahabatnya yg satu ini ngefans dengan Frederick. Frederick sedang bermain bola kaki dengan teman-temannya sekarang. Wajahnya terlihat cerah dan bersinar di bawah matahari.

Catatan: fans, bukan suka atau cinta atau sayang.

Maddy punya alasan mengapa dirinya menyukai Frederick. Beberapa bulan yg lalu, tepatnya bulan Januari, Frederick ikut berkompetisi dalam konteks Pidato Bahasa Inggris. Maddy juga ikut dalam kompetisi tersebut hanya saja lombanya beda Bahasa. Saat Maddy melihatnya berdiri di panggung dan mulai berbicara di depan banyak khalayak, saat itu juga Maddy terpesona dengan kharisma Frederick. Dari segi pembawaannya, dari segi gestur tubuh, serta ekspresinya saat berbicara.

Tak sedikit orang memiliki perasaan kepada Frederick. Pasalnya, Frederick mempunyai wajah bak pangeran dan setiap harinya dia selalu berpakaian rapi. Kabarnya dia juga sedang tidak mempunyai pacar, untuk sekarang. Maddy ingin sesekali mengajaknya berbicara, seperti modus bertanya soal kompetisi dan sebagainya. Namun hal tersebut ia urungi karena banyak sekali fans-fans Frederick yg memantaunya di sekolah dan para fansnya tidak akan membiarkan orang biasa-biasa saja seperti Maddy untuk mendekati Frederick.

"Okay, you got me." Ucap Maddy menyerah. Dia tidak bisa membohongi sahabatnya satu ini. Bisa dikatakan, Jose sangat sensitif mengenai hal beginian.

“Maddy!” Sebuah suara yg memanggilnya dengan sayup-sayup hampir tidak kedengaran.

"Maddy! Awas!" Tiba-tiba suara tersebut berubah menjadi sebuah teriakan yg terdengar dari arah lapangan. Sebelum Maddy sempat melihat dimana suara tersebut berasal, namun sudah terlambat baginya.

Bletakk.

Bola futsal yg sedang dimainkan oleh anak kelasnya dan anak kelas sebelah tiba-tiba meleset ke arah lain dan mengenai jidat Maddy yg sedang berada di sisi lapangan. Sungguh naas nasibnya.

"Aduh.." Ucap Maddy meringis kesakitan sambil memegangi jidatnya yg berharga ini.

"Maddy! Woi! Lo baik-baik aja?" Teriak Jose dengan kaget ketika bola tersebut melayang tepat di jidat Maddy. Kiper dari permainan futsal tersebut menghampiri Maddy yg kini terduduk di pinggir lapangan sambil menahan rasa sakitnya. Rasanya ingin sekali menangis. Namun ditahannya sekuat tenaga.

"Hei, kamu gapapa?" Tanya kiper tersebut dengan nada pelan dan muka yg terkesan merasa bersalah.

"It's okay, it's okay." Ucapnya menenangkan.

Salah satu dari pemain futsal tersebut kemudian lari menghampiri ke arah Maddy juga.

"Hei, lo gapapa?" Ucap cowok tersebut sampil memegangi bahunya. Maddy mendongak untuk melihat seseorang yg suaranya sangat dikenalinya. Oh Tuhan, Jangan-jangan..

"F-Frederick?" Ucapnya gagap dengan setengah kaget dan setengah tidak percaya. Dirinya hampir pingsan mengetahui bahwa seorang Frederick sedang mengajaknya berbicara sekarang.

"Iya, kamu gapapa? Sini gue bawa ke UKS."