Bab 7
"DID U GOT THE INVITATION, MA'AM?"
Tanya salah satu pengawal bersenjata lengkap di depan pintu gerbang untuk mengecek kelengkapan para tamu. Holyrood Palace benar-benar lebih dari sebuah mimpi. Arsitektur bangunannya yg megah dan sangat memanjakan mata, dan merupakan ikon bangunan dari Edinburgh. Total pengawal yg menjaga gerbang adalah 30, jadi kejadian yg tidak diinginkan sangat minim terjadi, serta pengawasannya yg super ketat selama 24 jam.
"Yes, here it is." Jawab Isabelle sambil menyodorkan surat undangannya.
"Open the gate. Lady Isabella Rawlinson Margaretta has arrived." Tidak menunggu lama, beberapa detik kemudian pintu gerbang terbuka luas untuk menyambut kereta kuda keluarga Margaretta. Isabelle takjub dengan pemandangan purinya ketika keretanya sudah semakin dekat kepada pintu utamanya.
Pemandangan Holyrood Palace pada malam hari terlihat sangat indah dengan lampu yg disorotkan menghadap ke atas, yg memperlihatkan seisi gedungnya. Isabelle semakin gugup ketika beberapa tamu terlihat sudah turun dari kereta dan ada beberapa kereta yg sedang menunggu giliran dibelakang untuk menurunkan para penumpangnya di pintu utama.
Kereta Margaretta berhenti dan kusirnya berjalan berputar ke belakang untuk membuka pintunya. Ketika pintunya dibuka, sebuah tangan ter-ulur kepada Isabelle untuk membantunya turun.
"Enjoy the party, Lady." Ucap kusir itu kemudian naik keatas kudanya lagi dan melaju kembali menuju gerbang keluar.
Isabelle menatap sisi-sisi bangunan tersebut tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Here we go." Ucapnya memberanikan diri dan melangkahkan kakinya untuk masuk.
Sesaat setelah pintu utama terbuka, hal pertama yg Isabelle lihat adalah sebuah ruangan luas yg memanjang sampai ke ujung, beberapa portrait anggota keluarga kerajaan terpampang di setiap sisi dindingnya, kursi dan meja panjang yg disediakan untuk makan, lampu gantung yg besar dan gemerlap, serta ornamen-ornamen disetiap sisi dindingnya. Benar-benar seperti istana idaman.
Isabelle mendengar bisikan-bisikan begitu ia tiba. Ketika mendengarnya, perasaan Isabelle menjadi kurang enak. Apakah kedatangannya kurang sopan? Apakah ia tidak membungkuk kepada tamu-tamu terhormat? Apakah penampilannya berantakkan malam ini? Apakah ada kesalahan yg ia lakukan?
"Are you Archduke William's daughter?" Sebuah suara asing tiba-tiba datang dari belakangnya. Isabelle baru menyadari bahwa ia menghalangi jalur pintu utamanya. Namun ketika ia menoleh kepada siapa yg berbicara dengannya saat ini, ia betul-betul shock. Meskipun dirinya belum mengenal wajah seorang ratu, namun ia yakin yg sedang dihadapinya saat ini adalah seorang ratu!
Ingat apa yg dipesankan Marrie. Ingat apa yg dipesankan Marrie.
"Your Majesty." Isabelle hanya membungkuk sedikit saja atau hanya sekedar mengangguk karena itu merupakan etiketnya ketika bertemu ratu. Serta tidak boleh menawarkan jabat tangan sebelum ratu.
Ratu kemudian mengulurkan tangannya. "Isabelle. Lady Isabelle Rawlinson Margaretta." Ucap Isabelle memperkenalkan dirinya.
"Kamu sudah menjadi gadis cantik yg sudah dewasa. Aku hampir tidak mengenalimu, karena kamu nampak begitu memukau. Right, King Aaron?"
"Haha, yes. Margaretta family sure is full of flowers." Puji kedua raja dan ratu. Perasaan Isabelle dari gugup menjadi lebih ringan mendengar mereka menyambutnya hangat.
Raja dan ratu kemudian kembali menuju ujung hall sambil berjalan melewati berbagai tamu yg sudah meminggir duluan untuk mempersilahkan raja dan ratu lewat, lalu mereka duduk di kursi yg disediakan. Semua orang membungkuk sedikit ketika raja dan ratu berjalan melewati mereka.
Ketika raja dan ratu sudah didepan, raja mengucapkan selamat atas berdirinya Holyrood Palace selama lebih dari 1 abad ini, kemudian membuka pembukaan acara pesta ini dengan pesta dansa.
Pesta dimulai dengan dansa klasik. Dansa ini melibatkan 2 orang yg saling tidak kenal, tujuannya adalah mempererat hubungan atau bertemu dengan orang-orang baru. Isabelle kebingungan mencari partner dancenya karena hampir semua orang sudah mempunyai partner masing-masing. Apalagi, dia tidak kenal dengan satupun orang di istana ini. Sangat canggung.
"Bolehkah saya berdansa dengan anda?" Pinta salah satu tamu saat Isabelle sedang berdiri kaku di tempat. Isabelle menoleh pandangannya ke orang tersebut dan menduganya sebagai salah satu pangeran kerajaan juga. Pangeran tersebut berpakaian rapi layaknya seseorang dari anggota kerajaan, serta memiliki tatanan rambut yg bagus.
"Tentu saja." Isabelle mengiyakan dan memberikan senyum tipis. Elegan adalah kunci dari pesta dansa ini. Begitu setelah lagu Waltz diputar, pangeran tersebut dan Isabelle menarikan simple dance sesuai dengan lagunya. Beberapa orang sempat terkagum melihat mereka berdua berdansa.
"May i know your name?" Tanya pangeran itu.
"My name is Isabelle Rawlinson Margaretta. I'm a Lady. How about you?"
"I'm Kent, Prince Kent Wattson."
"Nice to meet you, Prince Kent."
"Sepertinya kita seumuran, aku berumur 16 tahun. Kamu?" Tanya pangeran Kent.
"Sama, aku juga berumur 16 tahun."
"Then what's the point about formality?" Isabelle dan Kent tertawa menyadari bahwa mereka sama-sama berumur 16 tahun. Isabelle juga melontarkan sedikit candaan kepadanya, begitu juga dengan Kent. Kent adalah teman pertama dari Isabelle semenjak siuman dari koma. Ia juga sudah menganggap Kent sebagai teman baiknya.
"Apakah kamu pergi ke sekolah?" Tanya Kent setelah berbincang cukup lama.
"Sebenarnya aku baru siuman, karena aku sempat koma beberapa bulan setelah kecelakaan." Jelas Isabelle sambil tertawa kecil.
"K-koma?" Tanyanya memperjelas.
"Iya. Dan aku amnesia. Tidak ingat apapun semenjak aku terbangun dari koma." Bohongnya. Karena Isabelle tidak ingin siapapun mengetahui kejadian ini. Bisa saja ia telah mengubah sejarah karena ia adalah salah satu time traveler, dan hal tersebut sangat berbahaya. Maka apa yg akan terjadi di masa depan tidak sesuai dengan apa yg seharusnya terjadi.
"Ohh.. begitu. I'm sorry about that."
"Tidak apa-apa, haha. By the way, which school do you go?"
"Aku bersekolah di St. Abelous Patrick. Disana adalah sekolah campuran. Why don't you go there?" Ajaknya sambil menjelaskan beberapa mata pelajaran yg diajarkan, serta bagaimana sekolahnya yg biasa Kent jalani setiap harinya. Mendengar hal itu, Isabelle menjadi tertarik untuk pergi. Tapi bagaimana dengan sekolah lamanya?
"Sounds good. I'll ask later." Balas Isabelle.
Kemudian terdengar sebuah dentingan kecil perpaduan dari sendok dan gelas. "Perhatian semuanya, ada sesuatu yg ingin saya sampaikan." Ucap raja didepan.
"Seperti yg kita ketahui, saya sudah menjabat selama 20 tahun bersama dengan istri saya. Saya sudah berumur 50 tahun ini. Sudah kakek-kakek mana kuat." Canda raja sedikit sehingga tidak membuat suasana tegang, dan malah mengundang tawa kecil diruang ini.
"Saya tau, banyak dari kalian menginginkan posisi saya, posisi sebagai raja, ataupun menggantikan posisi istri saya sebagai ratu. Kalian sudah tidak sabar kan?" Ucap raja sekali lagi yg mengundang tawa para hadirin.
"Apa maksudnya menginginkan posisi raja? Apakah posisi raja bisa didapatkan siapa saja?" Tanya Isabelle.
"Tidak tau juga. Biasanya seorang raja hanya bisa mewariskan gelar tersebut jika dipilih secara langsung oleh raja sebelumnya." Jelas Kent. Isabelle mengangguk tanda mengerti.
"Maka dari itu, saya tidak akan menyerahkan posisi ini kepada anak-anak saya yg merupakan calon penerus saya.
