Bab 6
SEBUAH KERETA KUDA MASUK MELALUI PINTU GERBANG RUMAH KEDIAMAN MARGARETTA.
Isabelle dapat melihat seluruh pemandangan dari sana, termasuk kasat-kusut yg sedang terjadi di bawahnya sekarang. Terlihat seorang lelaki bertopi panjang yg mengenakan jas hitam terlihat memberikan sepucuk surat kepada salah satu pembantu. Tunggu. Bukankah dirumah ini hanya memiliki 1 pelayan?
Dengan rasa penasaran, Isabelle pun kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya dan mencari Marrie. "Marrie..? Dimana kamu?" Teriaknya pelan.
Kemudian ada suara pintu terbuka yg jaraknya 'hanya' beberapa kamar dari kamarnya. "Ada apa, Isabelle?" Tanyanya.
"Umm, bukankah pelayan dirumah ini hanya 1 ya?”
"Tidak, Isabelle. Rumah ini mempunyai total 30 pekerja, yaitu 7 penjaga gerbang, 5 tukang sapu, 3 tukang kebun, 15 pelayan. Mereka semua tinggal disini, itulah yg membuat rumah ini memiliki banyak kamar. Belum termasuk ruang dapur dan ruang penyimpanan, Isabelle."
Mendengar hal sedetail itu, Isabelle hampir lupa untuk menutup mulutnya karena saking terkejutnya. Sehebat inikah keluarga Margaretta? Pelayannya bejibun!
"Ms. Marrie, ada sebuah surat undangan pesta dari Holyrood Palace yg diantar oleh pengawal istana." Ujar salah satu pelayan yg dilihat oleh Isabelle dari balkon.
"Baik, terima kasih." Ucap Marrie. Pelayan tersebut kemudian pamit dan kembali menjalankan tugasnya. Isabelle memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat isi surat itu.
"Ini untukmu, Isabelle." Ujar Marrie sambil menyerahkan surat itu kepadanya.
"U.. untukku? Ini pesta dalam rangka apa ya?" Tanyanya gugup, karena seumur hidupnya ia tidak pernah pergi ke pesta, apalagi diundang.
"Disini tertulis bahwa ini adalah pesta Royal Ball untuk merayakan 130 tahun istana Holyrood didirikan. Serta akan ada pengumuman dari raja dan ratu. Kamu diundang langsung oleh keluarga kerajaan Edinburgh."
"Royal family of Edinburgh..? Siapa nama raja dan ratunya?"
"King Aaron and Queen Callista. Mereka adalah salah satu dari anggota kerajaan yg baik hati dan bijaksana. You'll love to meet them soon." Kata Marrie sembari melemparkan senyum kecil.
Mendengar perkataan Marrie, Isabelle menjadi sedikit gugup. Apalagi dia tidak pernah bertemu dengan anggota kerajaan, maupun berhadapan langsung dengan seorang Raja dan Ratu. Bagaimana kalau dia mengatakan sesuatu yg salah? Atau apakah logatnya akan terdengar sedikit aneh? Bagaimana kalau dia salah menyapa? Bisa-bisa lehernya digantung!
Melihat raut wajah Isabelle yg mendadak berubah, Marrie kembali tersenyum. "Jangan khawatir, Isabelle. Saya akan mengajarimu dari awal, bagaimana nantinya kamu akan bersikap disana. Pestanya dimulai jam 6, maka kamu sudah boleh bersiap-siap dari sekarang. Let's move."
Ajak Marrie sambil menjentikkan jarinya. Tidak lama kemudian, terlihat 5 pelayan datang dari arah kiri dan kanan.
"Bantu dia berpakaian." Pinta Marrie. Pelayan tersebut menganggukan kepala mereka.
Beberapa pelayan tersebut pun mengantar Isabelle untuk pergi ke ruang yg terletak di arah timur. Awalnya Isabelle terlihat ragu, berpikir bahwa dia akan mengacaukan semuanya. Namun, dirinya akan menyerahkan semuanya kepada para pelayan karena ia mempercayai mereka.
Di ruangan yg Isabelle masuki merupakan ruangan terindah, menurutnya. Bagaimana tidak? Karpet berbulu halus berwarna putih dilantai, lampu gantung berkristal yg indah, sebuah meja rias yg elegan, dan terlihat beberapa lemari besar yg dimana Isabelle tebak pasti berisi banyak baju-baju mewah, serta sesuatu yg terlihat seperti pintu berlipat yg biasa orang zaman dahulu gunakan untuk berganti pakaian. Benar-benar klasik.
"Kami akan menyocokkan gaunnya dengan anda. Silahkan tunggu sebentar." Pinta pelayan tersebut sambil tersenyum. Isabelle duduk di salah satu sofa sambil menunggu. Beberapa menit kemudian, pelayan tersebut menghadap dan mengeluarkan beberapa gaun pesta yg indah dan gemerlap.
"Silahkan coba 1 per 1, tuan putri."
"Umm, maaf aku tidak bermaksud lancang, bolehkah kalian saja yg memilih gaun mana yg cocok? Aku tidak pandai dalam hal beginian.." Pintanya sambil menyengir kecil. Beebrapa pelayan muda tersebut kebingungan dan saling menatap.
"Baiklah, kami akan memilihkan untukmu putri. Akan ada banyak hal yg harus dilakukan. Namun, putri berhak memilih beberapa aksesoris untuk putri kenakan.” Ujar pelayan tersebut kemudian membuka lemari kecil yg ternyata isinya adalah beberapa perhiasan mewah.
“I—ini semua milikku?” Kaget Isabelle. Dirinya tercengang ketika melihat beberapa aksesoris yg berbasis permata dan emas ini. Semuanya kelihatan mahal, namun elegan.
“Iya, putri. Ini semua milik anda.”
2 Jam Kemudian
"Sudah selesai, putri. Silahkan lihat di cermin." Kata pelayan tersebut dengan ceria, bangga dengan hasil jerih payah mereka.
Isabelle kemudian berjalan menuju cermin rias besar yg menampakkan full body. Isabelle tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat dirinya sekarang, benar-benar terlihat seperti seorang Lady sejati. Ia bahkan tidak percaya bahwa seorang Isabelle ini hanya didandan sedikit saja bisa menjadi terlihat sangat memukau. Apalagi gaun yg dipilih para pelayan.
Sebuah gaun yg tidak terlalu mencolok, gaun panjang berwarna emas terang yg dibalut renda-renda disetiap detail bajunya, yg dihiasi bersama pita-pita kecil berwarna emas, beserta rumbai-rumbai berwarna putih campur emas. Benar-benar elegan. Apalagi ditambahi dengan sentuhan terakhir dari rambutnya yg dikerjakan oleh pelayannya.
Ikalan rambut beserta kepang yg digabung menjadi sebuah sanggulan rambut, menambah nuansa elegan yg diberikan, serta tidak lupa memberikan sebuah perhiasan kepala berwarna putih yg memiliki corak berbentuk bunga kecil yg cantik. Isabelle memilih aksesoris kalung berwarna biru laut yg bertengger manis di lehernya. Isabelle merasa dirinya dapat memberikan seluruh hidupnya pada penampilannya malam ini. Pasalnya, ia tidak bisa berhenti menatap cermin tersebut.
"Cantik sekali, tuan putri. Pasti para tamu disana bakal terpesona." Puji pelayan itu.
"Haha, kamu berlebihan. Ini semua berkat kalian. Terima kasih banyak." Ucap Isabelle.
"Sebuah kehormatan bagi kami. Karena sudah siap, kami akan membawa tuan putri turun untuk pergi ke pesta. Kami akan memanggil kusir kami untuk mengantar anda ke istana."
"Baiklah. Come on."
Isabelle turun kebawah menelusuri tangga dan bertemu dengan Marrie. Marrie tercengang untuk beberapa saat. "Anda terlihat sangat cantik. Semoga beruntung saat sampai disana, Isabelle." Ujarnya kepada Isabelle.
"Terima kasih, Marrie." Ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Ah, saya lupa memberikan beberapa pesan sebelum kesana. Setelah sampai disana, kamu harus.." Marrie memberikan beberapa pesan agar Isabelle dapat berhasil melewati pesta pertamanya.
"Terima kasih sekali lagi, Marrie. Tanpamu aku akan kewalahan."
"Keretanya sudah datang, tuan putri." Sahut salah satu pelayan.
"Aku pamit dulu untuk pergi ke pesta. Selamat tinggal, semuanya. Aku akan segera kembali.l!" Pamit Isabelle sambil naik ke kereta yg disambut oleh kusirnya.
"Have fun, Princess."
Segera setelah kudanya diinstruksikan untuk berjalan, Isabelle berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Sepanjang jalan, Isabelle tidak dapat mengontrol debaran jantungnya, dimana lokasi Holyrood Palace semakin mendekat dan hampir sampai ketujuan.
"Tuan putri kelihatan semakin ceria, bukan? Dulunya dia terlihat murung dan cenderung pendiam. Saya ingin bertanya apakah ada terjadi sesuatu kepadanya, namun saya segan karena saya merasa posisi saya tidak berhak untuk menanyakan hal seperti itu." Ujar salah satu pelayan muda.
"Aku juga merasa begitu. Well, at least she seems happy and enjoy." Balas rekan kerjanya.
