Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

SEORANG ISABELLE RAWLINSON INI SUDAH PUNYA TUNANGAN?

Unbeliveable. Jadi intinya sekarang aku bertukar jiwa dengan si Isabelle ini? Sang putri dari keluarga bangsawan? Bagaimana dengan diriku yg asli? Maddy Bournes? Apakah diriku yg asli sudah mati? Atau mungkin sebaliknya? Batin Isabelle, dirinya yg sekarang.

"Tuan putri, akan lebih baik jika tuan putri kembali beristirahat. Mungkin anda bisa memulihkan ingatan anda dengan menghirup udara segar di balkon." Ujar pembantu itu.

"Balkon? Kamarku punya balkon?"

"Tentu saja putri. Balkon adalah tempat kesukaan putri untuk bersantai.”

"Ohh, baiklah. Terima kasih.” Balas Isabelle sembari balik ke atas, ke kamarnya. Mungkin saat ini dia tidak berhasil kabur, namun suatu saat dia pasti akan berhasil.

"Oh iya, ada urusan apa anda disini, Prince Josh?" Tanya pembantu itu.

"Ah yes, right. I almost forgot. Apakah Archduke William ada di kediaman?"

"Ayahnya Isabelle? Ada diluar kota dengan istrinya Archduchess Christine. Ada keperluan apa ya?” Jawab pembantu itu.

"Ohh, baiklah. Saya hanya ingin membahas beberapa hal penting dengannya. Saya akan kembali ke rumah. Titip salamku kepada tuan putri beserta Archduke dan Archduchess." Pamitnya kemudian sedikit membungkukkan badannya.

"Baiklah. Hati-hati dalam perjalanan, tuan muda."

Josh berjalan kembali ke kereta kuda yg membawanya kesini. Kusir kereta tersebut mempersilahkan Josh untuk masuk ke keretanya. Setelah Josh masuk, ia menginstruksikan kusirnya untuk jalan.

Di sepanjang jalan, Josh termenung dan terlihat seperti memikirkan sesuatu. Sesuatu yg mungkin berisi rencananya.

Kemudian Josh sedikit menyunggingkan sudut bibirnya.

"Dia banyak sekali berubah. Rencanaku bakal berhasil."

Isabelle berjalan menelusuri tangga yg terhubung ke kamarnya, yg diikuti oleh pembantu di belakangnya. Masih banyak ruangan-ruangan lainnya yg belum ditelusuri, namun saat ini Isabelle masih memerlukan waktu untuk mencerna semuanya.

"Umm, tadi tunanganku mengatakan kalau ayahku adalah seorang Archduke? Itu sebuah panggilan atau apa?" Tanyanya dengan rasa penasaran.

"Tuan putri tidak tau? Ohh iya, tuan putri amnesia. Saya hanyalah pelayan, namun izinkan saya menjelaskan mengenai itu." Isabelle mengangguk setuju.

"Jadi, tuan putri juga termasuk golongan bangsawan. Ayahmu memiliki gelar Archduke, itu adalah sebuah gelar bangsawan. Hanya garis keturunan kerajaan atau orang-orang yg memiliki kekuasaan otonomi saja yg mempunyai gelar itu. Putri memiliki gelar Lady. Namun entah kenapa ibumu, Archduchess Christine, lebih menyukai memanggilmu seorang Princess daripada Lady."

"Kenapa begitu?"

"Katanya tuan putri tidak pantas menyandang gelar Lady. Karena biasanya Lady disandangkan kepada orang yg lebih dewasa." Jawabnya sambil tertawa kecil.

"Seperti apakah diriku yg dulu?" Tanya Isabelle.

"Hmm, tuan putri agak sedikit pendiam, namun juga sangat manja."

"Ohh, pantes." Balasnya sambil mengangguk sedikit.

"Balik ke topik. Gelar bangsawan ada bermacam-macam, dari yg tertinggi sampai terendah. Meskipun terendah, semuanya juga tetap bangsawan. Ini adalah gelar yg tertinggi sampai terendah :

1. King

2. Duke

3. Grand Duke

4. Archduke

5. Prince / Princess

6. Marquess

7. Earl

8. Viscount

9. Baron

Dan ingat satu hal, jika tuan putri bertemu dengan seseorang yg lebih tinggi gelarnya, putri harus menunjukkan rasa hormat. Begitu juga dengan gelar yg kedudukannya dibawah tuan putri. Namun, gelar seperi Duke dan King adalah prioritas utama, karena Duke hampir setara dengan King. Begitulah peraturan di Edinburgh. Sebenarnya gelar Prince / Princess lebih tinggi dari Duke. Namun karena ada kerusuhan kemarin, sampai sekarang Duke lah yg memegang posisi tertinggi dan yg terpenting di Edinburgh."

Isabelle hanya bisa mengangguk-angguk tanda mengerti. Banyak sekali hal yg harus dia ingat dan pelajari sekarang. "Baiklah, terima kasih banyak. Saya akan kembali ke kamar." Ucapnya setelah sampai didepan pintu kamarnya. Pembantu tersebut kemudian tersenyum dan membungkuk.

"Ahh yes, may i know your name?" Tanya Isabelle. Pembantu itu terlihat sedikit terkejut.

Kemudian ia tersenyum. "Tidak perlu tuan putri, putri hanya cukup memanggil saya bibi saja."

"Tidak apa-apa kok, hanya ingin tau saja."

"Baiklah kalau begitu. Nama saya Marrie, tuan putri."

"Thanks. From now on i will call you Marrie. And you can just call me Isabelle. Aku tidak terlalu suka keformalan. Kaku."

"Apakah itu tidak apa-apa, tuan putri?"

"Uh-oh. Call me Isabelle." Tolak Isabelle karena Marrie baru saja menyebutkan panggilan formal.

"Alright, Isabelle. Silahkan beristirahat." Pamit Marrie sekali lagi sambil pergi keruang lainnya. Isabelle menutup pintunya dan merebahkan dirinya di kasur empuk ini. Isabelle kemudian menatap langit-langit kamarnya yg memiliki lampu gantung kecil, namun mewah akan hiasan kecil kristal-kristalnya.

"Benar-benar hari yg panjang."

Dalam kamar Isabelle ini terdapat lemari buku yg cukup panjang, berfondasi kayu mabel. Beberapa dari buku tersebut memiliki bahasa yg belum pernah dipelajari dirinya yg asli. Isabelle menyentuh buku-buku tersebut sambil berjalan menyusuri buku-buku yg bertengger rapi di lemari tersebut. Harum dari bukunya pun jelas berbeda saat Isabelle menyibak beberapa halaman dari buku yg merupakan buku Filosofi ini.

Jadi si Isabelle ini juga rupanya seorang kutu buku juga ya? Batinnya.

Isabelle kemudian teringat dengan ucapan Marrie. Dirinya yg dulu gemar pergi ke balkon. Isabelle kemudian berdiri dan mencari-cari balkonnya, karena kamarnya yg lumayan luas jadi kewalahan. Kemudian ada sebuah pintu besar berwarna cokelat yg tertutup. Dipegangnya kedua pegangan berbentuk bulat pada pintu tersebut dan membukanya. Dan benar saja, ketika pintunya terbuka yg masuk pertama kali adalah sebuah angin semilir yg rindang dan sebuah pemandangan terpampang jelas dihadapannya. Pemandangan yg seperti hanya sekali seumur hidupnya, Pemandangan kota Edinburgh pada abad ke-18 benar-benar captivating. Ditambah lagi dengan langitnya yg cerah dan biru.

Pada bagian timur ada sebuah kandang kuda yg luas dan beberapa kandang hewan lainnya yg dibatasi dengan tembok besar agar tidak menghalangi jalan tengah, kemudian sisi barat ada sebuah kolam yg cukup besar yg memiliki patung malaikat-malaikat kecil. Sebuah kolam yg lucu. Pada setiap ujung tembok pembatas juga terdapat beberapa tanaman bunga mawar dan beberapa tanaman lainnya yg menghias dengan sempurna rumah ini. Kemudian dengan pandangan lurus, Isabelle dapat melihat kota-kota Edinburgh dan disekelilingnya terdapat beberapa toko/kelenteng.

Isabelle sangat mengagumi pemandangan dibalik pintu ini. Tidak heran Isabelle yg dulu menyukai tempat ini. Bahkan siapapun yg melihatnya juga bakal ikut jatuh cinta.

"Seandainya rumahku memiliki balkon yg menunjukkan pemandangan seperti ini, pasti gue bakalan betah disana berhari-hari dan engga mau minggat." Ucapnya kepada dirinya sendiri.

Di sisi balkon juga terdapat beberapa pot yg tertanam beberapa bunga mawar dan bunga jenis lainnya yg tidak pernah dilihatnya.

"Cantik." Bisiknya kemudian menyentuh kelopak-kelopak bunga tersebut.

Saat ini dirinya masih dilanda berbagai pertanyaan dan kebingungan. Apa yg membuatnya tiba-tiba melakukan perjalanan waktu? Isabelle sering melihat hal-hal seperti ini di film, namun ia tidak mempercayainya. Namun untuk sekarang, mau tidak mau dia harus percaya bahwa hal seperti ini adalah nyata.

Sesaat setelah Isabelle termenung akan pemandangan dan bunganya, terdengar sebuah roda dari kereta kuda yg memasuki rumahnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel