Bab 4
SEMUANYA TIDAK MASUK AKAL.
Bagaimanapun juga semuanya tidak masuk akal bagi Maddy. Tempat ini, pria dan wanita tadi, semuanya tidak jelas. Padahal beberapa jam yg lalu, Maddy masih merasakan sensasi dari kecelakaan tadi, sensasi yg menyeramkan. Sekujur tubuhnya sakit. Bagaimana bisa Maddy berakhir disini? Orang yg berbeda, bahasa yg sangat asing, tempat yg sama sekali tidak dikenal, kampung halaman yg berbeda, serta di negara yg berbeda.. dan kemungkinan juga beda.. Oh tidak. Perasaan Maddy mulai tidak enak.
"Umm, kalau boleh tanya, ini tahun keberapa dan jam berapa..?" Tanya Maddy dengan rasa penasaran.
"Ini tahun 1810, tuan putri. Saat ini masih pukul 8 pagi. Pagi yg sangat bagus bagi anda untuk memulai hari-hari anda setelah terbangun dari tidur yg sekian lama.”
Wajah Maddy mendadak berubah. Dari wajah kekhawatiran menjadi wajah panik. Sekarang terjawablah sudah semua pertanyaannya, dari tempat yg aneh ini.. sampai semuanya. Meskipun masih belum terpecahkan teka-tekinya, Maddy berusaha menyimpulkan satu hal. Saat ini, Maddy bisa tidak sengaja melakukan Time Travel ke masa lalu yg tidak tau bagaimana bisa terjadi, yg penting kini ia kembali ke masa lalu. Jadi dirinya sekarang sedang berada di abad ke-19? Di eropa pula?
Maddy tidak yakin ini semua adalah realita, Maddy sangat yakin ia sedang bermimpi. Namun semua hal ini terlihat sangatlah nyata untuk dijadikan sebuah mimpi. Sangat nyata.
Maddy mengucek matanya berulang kali dan menampar pipinya terus menerus. Namun hasilnya nihil. Dirinya tidak terbangun dari tidurnya, ataupun terbangun dari mimpi ini.
"Tuan putri! Apa yg kamu lakukan?" Ucap pelayan tersebut dengan kaget.
"Ini salahmu, dok. Lihat dirinya sekarang. Dia sekarang tidak bisa berperilaku dengan baik, malah berperilaku aneh. Kamu harus tanggung jawab, dok."
"Loh, kok salah saya? Tugas saya kan hanya mengecek tuan putri Isabelle setiap minggunya!" Pelayan dan dokter tersebut lanjut berdebat yg membuat kericuhan kecil dalam kamar ini. Beberapa pelayan muda lainnya pun ikut mengintip di balik pintu kamar Isabelle.
"Tuan putri sudah siuman, loh." Ujar salah satu pelayan tersebut.
"Iya, iya. Sepertinya dia kehilangan ingatan deh, apa itu namanya? Ane.. amne.."
"Amnesia, bodoh."
"Iya, amnesia. Aduh. Kasian sekali tuan putri. Kira-kira seperti apa reaksi Archduke dan Archduchess nantinya ya?" Sambungnya dengan nada khawatir.
"Lebih baik kita tidak usah memberitahukannya." Usul salah satu rekan kerjanya.
"Apakah lo udah gila? Cepat atau lambat mereka bakalan tau juga kalau salah satunya putri mereka kehilangan ingatan. Namun kabar baiknya, tuan putri telah tersadar setelah beberapa bulan koma."
"Iya. Itu berita yg sangat membahagiakan,"
Maddy kemudian melihat kaca berukuran kecil disamping meja dan mengambilnya dengan cepat, kemudian ia perlahan-lahan berkaca.
Sosok yg Maddy lihat di kaca kecil tersebut yg sedang dipeganginya adalah sosok berambut pirang halus bergelombang, kulit putih pucat, mata berwarna hijau, hidung yg mancung, dan bibir tipis berwarna merah glossy. Ini sama sekali bukan Maddy yg berperawakan biasa-biasa aja! Sebenarnya dia sedang memasuki tubuh siapa?
Gila gila gila, semuanya gila. Ini siapa sih?? This is not me! Aku tidak begitu cantik! Ini bukan wajahku!
Batinnya sambil meraba-raba wajahnya. Halus, empuk, kencang. Kemudian Maddy melihat pakaian yg sekarang ia kenakan. Bukan jas kuning yg ia kenakan saat hujan, bukan kaos oblong yg ia pakai tadi, melainkan gaun putih yg memiliki rumbaian di sisi-sisi gaunnya yg terlihat seperti gaun tidur!
Maddy kemudian beranjak dari tempat tidur dan hendak berlari dari kamar. Maddy berharap bahwa ini semua hanyalah simulasi game, atau ia hanya dijadikan kelinci percobaan. Tiba-tiba kaki Maddy tidak bisa menahan kuasa beban tubuhnya dan ambruk. Kakinya terlalu lemah untuk berjalan setelah sekian lama tidak digerakkan.
"Anda mau pergi kemana, tuan putri?" Tanya pelayan tersebut panik. "Anda belum sepenuhnya pulih!" Maddy tidak menghiraukan kata-katanya. Ia kembali berdiri dan berlari tertatih-tatih, dengan bantuan tangannya yg meraba sisi-sisi dinding.
Yg pertama Maddy lihat adalah sebuah lampu gantung mewah, yg digantung dilangit-langit atap dengan perhiasan permata dan lilin. Kemudian ada 2 tangga besar disisi timur dan barat. Tangga tersebut memiliki anak tangga yg besar, dengan hiasan karpet merah yg megah. Maddy terpana untuk sementara, kemudian teringat dengan tugas utamanya. Melarikan diri dan kembali dinegara tercintanya, U.S.A.
Ketika ada sebuah pintu besar dengan setiap sisi pintu ber ornamen klasik, maddy mau tidak mau harus keluar dari pintu itu. Maddy mencoba mendorong pintu tersebut. Terasa sangat berat, namun pintu tersebut terbuka perlahan-lahan, dan menampakkan seluruh isi dari balik pintu itu.
Hal pertama yg Maddy lihat cukup membuat rahangnya jatuh kebawah. Bagaimana tidak? Sebuah taman yg luas bernuansa "Garden Tea Party" daun-daun yg melilit disetiap tiang perabotan dan batang pohon, dan warnanya berdominasi hijau cerah. Ditambah lagi beberapa tapak jalan yg beralas batu-batu kecil yg indah, dan sebuah air mancur dengan patung pahatan manusia. Benar-benar seperti pesta kecil-kecilan yg megah.
Namun, bukan saat yg tepat untuk menikmati keindahan pemandangan tersebut.
"Tuan putri!!" Sebuah teriakan berasal dari arah jam 6. Maddy kemudian mencoba berlari untuk kabur dari kekacauan ini.
Mau tak mau gue harus kabur. Semuanya tidak masuk akal!
Belum berlari beberapa langkah, Maddy menabrak seseseorang, tabrakan yg cukup keras membuatnya terpintal ke belakang dan terjatuh.
"Aww.." Rintih Maddy kesakitan sambil meraba pantatnya. Belum sempat melihat siapa yg ditabraknya saat ini, kedua tangan figur tersebut mengangkat lengan Maddy dan membantunya berdiri.
"Princess! Kamu sudah bangun?" Ucap seseorang yg diketahui merupakan seorang pria.
Setelah Maddy membersihkan pakaiannya karena barusan terjatuh, Maddy menoleh ke sosok pemilik suara tersebut. Seorang pria tampan yg bermata biru, dengan balutan jas hitam panjang dan dalaman baju berwarna putih, ditambah lagi rumbai-rumbai disisi tangan dan di sekeliling lehernya. Benar-benar seperti seorang pangeran. Namun dia bukan tipenya Maddy. Tipenya seperti Frederick yg kini tidak bisa ditemuinya karena saat ini mereka terpisahkan oleh beda waktu.
"Umm, Thankyou." Balas Maddy sedikit gugup.
"Tuan putri! Disini anda rupanya!" Teriak pelayan tadi tergesa-gesa sambil berlari ke arahnya.
"Tunggu, ada apa ini sebenarnya?" Tanya pria tersebut.
Benar juga, mana tau cowok ini mengetahui sesuatu. Mana tau dia juga tawanan sepertiku. Batin Maddy.
"Apakah kamu tau ini tempat apa?" Tanya Maddy.
"Tentu saja. Ini adalah rumah keluarga Margaretta. Masa kamu tidak tau? Kamu kan putri sulung keluarga ini."
Siapa dia? Kenapa dia tau semuanya?
"Tuan putri amnesia, Pangeran. Makanya dia sudah lupa tentang segalanya, termasuk dirinya dan tempat ini." Jawab pelayan tersebut.
"Ya Tuhan, sangat malang nasibmu.” Ucapnya.
“Kalau begitu aku akan mencoba mempulihkan ingatanmu. Biarkan aku memperkenalkan diriku." Jawab pria tersebut setelah membersihkan tenggorokan.
"Namaku adalah Josh Tindell, aku adalah seorang Prince. Aku adalah tunanganmu. Kita sudah bertunangan selama 2 tahun." Jelasnya.
What??
