Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 14

SIAL.

Apakah ada sesuatu yg nempel di mukaku? Batinnya.

Sesaat setelah Isabelle memasuki gerbang depannya, puluhan mata tertuju padanya. Dari kaum adam sampai kaum hawa. Ada tatapan kagum, terpana, maupun iri, semua bervariasi. Entah apa yg membuat sepasang mata tersebut melihat seorang Isabelle sampai segitunya. Kecantikannya? Mungkin saja.

"Hei, siapa itu? Aku tidak pernah melihatnya."

"Murid kelas 2 kah? Atau murid baru?"

"Wahh.. lihat proporsinya.."

"Siapa itu, dewi turun dari langit kah?"

"She looks stunning."

Begitulah batin orang-orang yg melihatnya. Sebenarnya Isabelle benar-benar tidak tahu bahwasan tampangnya termasuk di atas rata-rata, dia tidak terlalu peka kalau soal penampilan. Isabelle memasuki lorong kelas sambil mencari dimana kelasnya berada dan berusaha mengingat letak kelasnya seperti yg kepala sekolah katakan kepadanya kemarin.

Isabelle kemudian berhenti tepat di depan pintu kelas yg ia yakin merupakan kelasnya, dan masuk perlahan dengan memutar gagang pintu kelas tersebut. Kesan pertama yg didapatkan Isabelle terhadap kelas ini adalah: Ribut. Kerusuhan murid-murid tersebut terdengar seperti suara radio rusak, apalagi ada cewek yg terlihat menggosip sesuatu. Tiba-tiba puluhan mata menatap seseorang yg masuk melalui pintu itu.

"Anda murid barunya?" Tanya seseorang tiba-tiba dari belakang Isabelle yg merupakan wanita paruh baya. Kelihatannya dia adalah gurunya. Kemudian Isabelle memberikan jawaban dengan mengangguk.

"Semuanya, diam." Semua murid mendadak diam, membisu—Hanya dengan 2 kata.

"Kita kedatangan murid baru disini. Perkenalkan dirimu, nak." Ucap gurunya mempersilahkan.

Isabelle menarik nafas dengan pelan dan mengeluarkannya, untuk mengontrol degupan jantungnya. "Namaku Isabelle Rawlinson, aku berasal dari keluarga Margaretta. Nice to meet you." Ucapnya memperkenalkan dan membungkuk sedikit.

"Sepertinya ada bangku kosong di belakang. Silahkan duduk disana." Isabelle mengangguk kemudian berjalan menuju tempat yg diberikan.

Setelah dibimbing sedikit oleh gurunya, Murid yg duduk disamping kiri-kanan dan depannya mendadak memutar badannya ke arah Isabelle. Mereka melotot kepadanya sehingga Isabelle sedikit ketakutan. Kesalahan apa yg dia lakukan?

Mereka kemudian tersenyum hangat. "Kenalin, namaku Claudette." Ucap murid yg berada didepannya.

"Namaku Marion. Salam kenal!" Ucap murid yg berada dikanannya antusias. Kenapa mereka semua cantik-cantik sekali? Itulah yg dipikiran Isabelle sekarang.

"Hai! Namaku Ivana." Ucap murid yg satu lagi disamping kirinya.

Isabelle tidak tau ingin merespons seperti apa. Dia mengira bahwa akan ada banyak murid disini yg tidaks segan atau dingin terhadap murid baru, rupanya tidak. Justru mereka adalah orang yg ramah.

"H-hai, namaku Isabelle."

"Sudah tau kali. Hahaha." Ucap Marion sambil tertawa.

"E-eh, iya juga ya. Hahaha" Balas Isabelle sambil tertawa terhadap kikuknya dirinya.

“Setelah pelajaran selesai, kami ingin pergi ke Cafe di bawah. Kamu ingin ikut, Isabelle? Kalau kamu pergi kesana kamu pasti akan terpana dengan tempatnya.” Ajak Marion meyakinkan.

“O-oh, sebenarnya aku sudah pernah ke sana, sebelum aku masuk ke sekolah ini secara resmi.” Jawab Isabelle.

“Benarkah? Kamu sudah kenal dengan seseorang dari sekolah ini sebelum masuk secara resmi? Itu pencapaian yg luar biasa.” Siapakah itu?” Sanggah Ivana dengan semangat.

“U-um, dia adalah pangeran. Kalian tau Prince Kent?”

“P-Prince Kent!?” Jawab ketiga cewek tersebut tak kalah terkejut. Isabelle yg tiba-tiba mendengar kagetan mereka pun mendadak menjadi gugup. Jangan-jangan mereka juga fans fanatik-nya Kent?

“I-iya. Kenapa ya?” Tanya Isabelle dengan hati-hati.

“Kamu beruntung sekali, Isabelle. Dimana kamu bertemu dengannya?”

“Di sebuah pesta. Kami berkenalan saat hendak mencari partner dance.”

“Wah gila sih, kamu beruntung banget. Dia itu salah satu pangeran yg paling terkenal di St.Abelous Patrick, loh! Dirinya sangat ramah dan terbuka, apalagi parasnya yg sangat ganteng. Aku sendiri tergila-gila dengannya.” Ucap Ivana tak kalah semangat.

“Oh, begitu ya.” Balas Isabelle. Rupanya Kent cukup terkenal disini. Tak heran, dirinya memang seperti Prince Charming sejati.

“Tapi, kamu harus hati-hati. Disini banyak sekali fans-fans yg rusuh dan fanatik. Kent sudah beberapa kali mengatakan bahwa jangan membuat kericuhan apalagi tentang dirinya, namun mereka tetap mengulanginya karena cinta mereka—atau mungkin kamu bisa menyebutnya obsesi— terlalu besar kepada Kent.” Sanggah Claudette. Isabelle sedikit terkejut mendengarnya. Jangan-jangan yg di pesta itu..

“Kericuhan seperti apa, kalau aku boleh tau?”

“You know, sesuatu seperti saat cewek lain berusaha mendekatinya dengan cara modus, seperti mengajaknya kencan terang-terangan, menyatakan perasaan mereka secara langsung, pura-pura terluka dan masih banyak lagi.”

“Siapa pelaku di balik semua ini? Yg merupakan fans yg rusuh?” Tanya Isabelle sekali lagi.”

“Well, nanti aku kasih lihat kalau kita bertemu dengannya.” Isabelle pun mengangguk tanda mengerti.

"Berbicara tentang Prince Kent, kamu tau gak, Duke yg katanya kabur dari rumah?" Tanya Marion membuka suara. Marionlah yg paling semangat diantara 3 teman yg Isabelle kenal.

"Iya, kenapa emang?" Balas Claudette.

"Gimana kalau kita ngintip sebentar rumah dia seperti apa?" Mereka bertiga kemudian membelalak, terkejut dengan tawarannya. Ngintip? Bukankah itu sama saja dengan menyusup dirumah petinggi!?

"You're crazy. I don't think it is a good idea." Bantah Ivana, karena ia tau hal tersebut sangat beresiko.

Marion kemudian menaik turunkan tangannya untuk meredakan aksi demo mereka. "Tenang, tenang. Semalam aku sudah menemukan jalan pintas menuju rumah bagian dalamnya. Disitu tidak ada penjaganya, nanti  kalian akan lihat mengapa." Isabelle, Ivana dan Claudette bertukar pandangan. Merasa ragu dengan ide gila ini, namun disisi lain mereka juga penasaran seperti apa rumah yg ditinggali Duke yg sedang kabur sekarang.

"Mana tau kita bakal bertemu dengan Dukenya, yakan?" Ucap Marion lagi.

"Tidak mungkin, dia kan sedang jadi buronan haha" Balas Ivana. Isabelle mengangguk tanda setuju. "Sudah mau jam pulang, kita tunggu sebentar lagi."

30 menit kemudian, bel berbunyi. Mereka berempat sigap berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dengan cepat. "Apakah kamu tau dimana jalannya?" Tanya Isabelle.

"Gak."

"Hah? Mau ditampol ya? Balas Ivana.

"Hahaha, i'm joking. Of course i know, it's 10 minutes from here. Jalan kaki aja, jangan manja." Mereka bertiga kemudian mengangguk mengiyakan.

Kemudian mereka berjalan meninggalkan sekolah dan mengambil belokan ke kiri, menuju rumah Duke. Di Edinburgh tidaklah panas, karena pohonnya yg rindang. Mereka melewati pasar buah yg tidak jauh disekolah, kemudian melewati patung besar yg terletak di pinggir jalan. "Sudah sampai." Kata Marion sambil mendongakkan kepalanya melihat gerbang yg menjulang tinggi ke atas, disisi timur dan barat terdapat patung Angel yg diukirkan dengan mewah. Apalagi gerbang besar ini dihias dengan dominasi warna emas. Apakah Duke memang sekaya ini?

"Tapi ini bukan jalan masuk kita. Kita harus belok ke belakang." Sekarang Isabelle tau alasannya kenapa jalan pintas yg dimaksud Marion tidak memiliki penjaganya. Karena rumah ini terlalu luas! Apalagi jalan pintasnya seperti gudang yg tidak lagi dipakai, namun ketika mereka melewatinya, terlihat gerbang yg tidak terlalu tinggi menghadang jalan masuknya. Gerbangnya tidak terlalu tinggi seperti gerbang utama tadi yg mereka ketemu.

Mereka kemudian memanjat yg dibantu oleh kursi terbelangkai, dan mendarat dengan selamat. "Kuharap tidak terjadi sesuatu." Batin Isabelle.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel