Bab 15
"RUMAH INI BENAR-BENAR GILA."
Ucap Marion dan lainnya tercengang. Bagaimana tidak? Rumah ini hampir sebesar lapangan bola! Apalagi pilar-pilar besarnya yg memperlihatkan kokohnya bangunan dari rumah ini, serta rumah ini bernuansa bangunan kerajaan yg megah. Banyak sisi dari bangunan memiliki corak yg artistik. Rumah ini memiliki warna keemasan dan sangat mewah untuk rumah seorang Duke.
“Apakah rumah semua bangsawan memang seperti ini?” Tanya Isabelle membuka suara.
“Tentu saja. Semakin tinggi pangkatmu, semakin besar rumahmu. Bahkan rumah seorang Marquess saja udah hampir sebesar ini, namun harus aku akui, rumah ini jauh lebih besar daripada rumah-rumah yg pernah kutemui.” Jelas Marion. Isabelle pun ber-O-ria.
Isabelle dan yang lainnya kembali berjalan mengitari rumah ini. Sepertinya rumah ini tidak ada orang? "Hei, kenapa disini tidak ada orang?" Tanya Isabelle lanjut membuka pembicaraan.
"Oh, itu? Berdasarkan informasi yg aku dapat sih, katanya jam segini orangnya sering keluar buat urusin sesuatu." Isabelle sekali lagi ber-O-ria.
Mereka berjalan kembali mengelilingi rumah megah ini.
“Woah, check this out. Meja makannya mewah banget. Semuanya berlapis emas.” Heboh Marion sambil memegang utensil peralatan makanan yg tergeletak rapi di meja tersebut.
“Heh! Jangan asal pegang. Ingat rencana kalian cuman berkeliling, bukan sembarang menyentuh barang yg bukan milik kalian.” Tegas Ivana setelah menepok tangan Marion.
“Duh, iya deh iya.” Gerutu Marion.
Setelah menjelajahi bagian bawah, mereka dengan nekat dan nyali yg besar menaiki tangga ke lantai dua, dan isinya tak kalah mengejutkan yg membuat rahang mereka terkatup. Sebuah ruang santai dengan rak-rak yg berisi buku, pernak-pernik, dan masih banyak lagi. Isabelle pun menghampiri salah satu rak tersebut yg berisi pernak-pernik serta perhiasan yg kelihatannya cukup mewah.
Rak tersebut tersegel kuat dengan kaca berbahan tebal, untuk meminimkan pencurian barang-barang berharga mungkin.
“Tunggu sebentar, bukankah ini ‘The Greatest Egg’ yg katanya berlapis 55 karat emas dengan permata paling mahal di dunia?” Seru Ivana sambil meletakan kedua telapak tangannya di depan kaca rak tersebut sambil menatap lekat.
“Indah sekali.” Ucap Isabelle terkagum.
“By the way, ini apaan?”
“Konon katanya ‘The Greatest Egg’ ini merupakan warisan turun temurun dari kerajaan Edinburgh. Biasanya hanya dimiliki oleh orang yg akan menjadi calon raja.” Jelas Ivana.
“Berarti beneran dong rumornya? Bahwa seorang Duke muda akan menjadi calon raja?”
“Seperti yg terlihat, yes. Hal ini menjadi bukti yg kuat.” Sesaat mereka semua pun terdiam. Menyesali perbuatan mereka yg menyesatkan ini. Bagaimana jika Duke muda ini merupakan orang yg kejam dan tiada ampun? Bisa-bisa perbuatan mereka yg kurang kerjaan ini membuat leher mereka di pacung.
“I think we should go.” Ajak Ivana yg mulai ketakutan.
“Relax, kita hanya berjalan-jalan. Anggap saja ini tempat wisata.” Ucap Marion dengan santai.
“Tempat wisata otakmu!” Tukas Claudette yg sedari tadi tidak bersuara. Mungkin dari tadi dirinya ingin menyembunyikan ketakutannya.
“Oke, oke. Kita keluar 10 menit lagi. Biarkan mataku ini memandang sesuatu yg indah sampai puas. Oke?” Mau tak mau mereka mengiyakan perkataannya. Toh, hidup hanya sekali.
Setelah itu, ada rak lainnya lagi yg tak kalah menarik. Sebuah rak lebar dengan peta dunia beserta buku-buku yg bertengger rapi di sisi-sisinya. Isabelle menatap lekat untuk melihat buku seperti apa yg dimiliki seorang Duke. Rupanya semua buku tersebut terlihat sama saja isinya, tentang politik, kerajaan, psikologi, filsafat, dan masih banyak lagi.
Namun tiba-tiba, ada satu buku yg menarik perhatian Isabelle. Menurutnya, sangat aneh ketika buku ini diselipkan di antara semua buku-buku keren ini. Buku tersebut tak lain adalah buku novel fiksi.
“Malam pertamaku dengan Pangeran di bawah rembulan.” Bacanya pelan. Pipinya pun mendadak memerah saat mendapati ada buku seperti itu di rak milik Duke.
“Bukankah ini novel dewasa?” Gumam Isabelle.
“Novel apa?” Tanya Claudette tiba-tiba yg mau tak mau Isabelle reflek menutupi bagian rak tersebut dengan badannya.
“E-engga kok. Haha.”
“Aneh kamu.”
Mereka pun melanjuti mengitari rumah ini. Tak lama kemudian karena sudah bosan, mereka memutuskan untuk turun ke bawah lantai satu dan segera minggat.
Isabelle kemudian secara tidak sengaja terpisah dari gerombolan karena ada sesuatu yg menarik perhatiannya. Terlihat lukisan besar berukuran kurang lebih 4 meter yg digantung di dinding, yg Isabelle ketahui adalah foto bersama. Lukisan tersebut memperlihatkan lukisan sebuah keluarga yg beranggotakan ayah, ibu, kakek, nenek, seorang perempuan yg terlihat seperti kakak, dan yg terakhir seorang anak kecil yg sangat lucu. Semua yg ada didalam foto ini berpakaian rapi, apalagi abad ke-18 belum terciptanya kamera, maka mereka mengabadikannya dengan sebuah lukisan.
Anak kecil tersebut sangat tampan dan memiliki mata cokelat yg indah. Pipinya kemerahan dan menunjukkan senyum lebarnya yg khas. Mengingatkan Isabelle kepada seseorang, karena wajahnya mirip-mirip.
Tiba-tiba sebuah tangan yg berlapis sarung tangan hitam membungkam mulut Isabelle. Isabelle meronta-ronta untuk kabur dari tangan ini karena ia tidak tau siapa pemilik tangan ini, apakah kini ia sedang diculik!?
Kemudian orang tersebut menarik Isabelle ke ruangan lain yg tidak terlihat oleh orang lain dan membuka mulutnya. Isabelle mengambil nafas terburu-buru dan sigap melihat siapa pelakunya ini.
"C.. carlisle!?" Kejutnya karena Isabelle tidak menyangka ia akan berada disini. Ia melihat Carlisle yg berpakaian serba hitam, memakai kacamata hitam, dan jas berwarna hitam. Seperti seseorang yg menyamar.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Carlisle.
"Seharusnya aku yg nanya, kok kamu ada disini?" Tanya Isabelle balik.
"U-umm.. aku ada beberapa urusan dengan pemilik rumah ini. Kelihatannya tidak ada orang dirumah ini." Jawabnya sambil menyapu pandangannya.
"Sekarang aku bertanya. Mengapa kamu disini? Sangat bahaya menyusup ke rumah seorang Duke." Katanya memperingatkan. Sekarang Isabelle semakin ketakutan.
"Temanku ingin mengintip seperti apa rumah Duke. Katanya mana tau kita akan bertemu Duke yg kini sedang kabur." Jawab Isabelle dengan lugunya. Carlisle tersenyum tipis. Menandakan sesuatu.
"Isabelle.. dimana kamu?" Teriak temannya pelan untuk mencari keberadaan Isabelle ini.
"I gotta go. Bye." Pamit Carlisle kemudian berlari secepat kilat. Isabelle terheran-heran. Mengapa ia berlari sekencang angin.
"Disini kamu rupanya! Jangan suka lari dong." Ucap Marion.
"Ayo, kita pergi." Sergah Isabelle kemudian menarik tangan Marion untuk segera pergi.
"Yaudah, ga baik juga lama-lama disini." Balas Marion dengan bijaknya. Mereka kemudian mengitari kembali jalan dimana mereka pertama kali masuk. Masalahnya, mereka sudah lupa karena rumah ini terlalu besar! "Sial. Gimana nih?" Ucap Claudette khawatir.
Kemudian ada suara memanggil nama Isabelle dengan pelan. Isabelle mencari arah dimana suara itu berasal, rupanya berasal dari Carlisle. Ia terlihat seperti menunjukkan jalan, tepatnya jalan untuk keluar dari rumah ini. Isabelle kemudian tersenyum lebar dan menunjukkan rasa terima kasihnya serta membungkuk puluhan kali. Teman-teman Isabelle tidak memperhatikannya karena mereka sibuk mencari jalan. Kemudian Carlisle tersenyum sebagai tanda membalasnya.
"Ayo, sini jalannya!" Ajak Isabelle. Akhirnya mereka menemukan jalan yg mereka lalui pertama kalinya dan berhasil keluar dari rumah ini.
"HEI! SIAPA DISANA!?"
Gawat. Kita tertangkap.
