Bab 13
"KENT!"
Teriak Isabelle pelan berusaha untuk menarik perhatiannya dari buku tersebut. Iya. Lelaki tersebut adalah teman pertamanya yg ia punya sejak siuman dari koma, atau bisa dibilang pertama kalinya setelah ke masa lalu. Kent kemudian menyapu pandangannya ke seluruh arah, mencari tau dimana asal suara tersebut, kemudian matanya bertemu dengan matanya Isabelle. Kent kemudian berlari kecil ke arahnya sambil tersenyum.
"Isabelle! You're here!" Sambut Kent. "You really wanna study here?"
"Yup. Tentu saja. Berkat saranmu haha." Balasnya hangat. Kent menatap Marrie dan pelayannya yg satu lagi sambil tersenyum.
"Jadi, apa yg kamu lakukan disini? Bukankah sekolah dimulai beberapa hari lagi?" Tanya Isabelle penasaran.
"Ohh, aku baru saja meminjam buku dari perpustakaan di sekolah ini. Principles of Philosophy by René Descartes. Pernah baca?" Tanya Kent. Isabelle terdiam sebentar dalam kebisuan. Sepertinya teman barunya, Kent, lupa bahwa ia baru saja siuman dari koma kemarin. Padahal baru saja ia bercerita. Dasar pelupa, pikirnya. Isabelle kemudian menatap tajam kepadanya.
"Oops, sorry! My bad. I forget about that haha."
"Haha that's okay." Balasnya sambil tertawa renyah.
“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan dulu sebentar di sekolah ini? Aku tau cafe yg terkenal di sekolah ini.” Ajak Kent.
“C-cafe? Di sekolah ini ada cafe?” Tanyanya sekali lagi memperjelas.
“Yes. Cafenya bernama ‘L’Patty Café’, para murid suka bernongkrong di tempat tersebut. Selain bernuansa mewah, dekorasi serta tempatnya juga memanjakan mata. Apalagi makanannya enak-enak loh.”
Isabelle terlihat berpikir untuk sejenak. Ide yg bagus sih, apalagi dirinya belum pernah ke tempat manapun kecuali di rumahnya saja. Haruskah dia menerima tawaran Kent?
“Ayolah, aku akan mentraktirmu. Anggap saja ini hadiah penyambutan di sekolah baru mu.” Tawar Kent sekali lagi. Pada titik ini tentu saja Isabelle tidak dapat menolaknya.
“Treat? Okay then.” Ucapnya kemudian menyunggingkan sudut bibirnya karena senang. Siapa juga yg tidak senang ditraktir? Apalagi ditraktir pangeran tampan.
“C’mon.”
Cafe tersebut berada tidak jauh dari sekolahnya. Cafe ini diciptakan untuk para murid sekolah St.Abelous Patrick agar bisa bersantai sejenak, ataupun beristirahat agar bisa menyegarkan kembali pikiran dan benak mereka.
Hal pertama yg Isabelle lihat dari depan cafe ini adalah cafe ini berdesain minimalis, seperti ukuran bakery shop. Warna cafenya bernuansa cokelat mabel dengan sedikit keemasan. Ornamen-ornamen terpasang dengan rapi di tiap sisi pondasi cafe tersebut, membuat cafe tersebut terlihat sangat mewah.
“Tuan putri, kami akan menunggu anda di kereta.” Tukas Marrie saat Isabelle hendak menghabiskan waktunya dengan Kent.
“Baik. Kami tidak akan lama, Marrie.” Balas Isabelle. Marrie mengangguk tanda mengerti kemudian berjalan kembali ke keretanya.
Saat memasuki cafe tersebut, aroma pertama yg tercium dari hidung Isabelle adalah wangi kue yg bercampur dengan aroma kopi yg nikmat. Terdapat deretan pot bertingkat yg berisi kue mini dan macaron, serta beberapa jenis kue lainnya. Sungguh menggugah selera.
“Mau yg mana, Isabelle?” Tanya Kent saat Isabelle tidak bisa berhenti menatap kue-kue tersebut.
“Umm, I’ll have this.” Balas Isabelle sambil menunjuk ke satu kue yg berwarna pink.
“Itu saja?” Tanya Kent sekali lagi.
“Kent, aku tidak mau makan banyak. Bagaimana kalau nanti aku gemuk?” Ucapnya blak-blakan. Kent sedikit terkejut mendengarnya berbicara seperti itu dan mau tidak mau, Kent menyemburkan tawanya.
“Kamu sangat lucu, Isabelle. Terserah mau berapa porsi yg kamu inginkan, selama makan bisa membuatmu bahagia, kenapa tidak?” Ucapan Kent barusan tiba-tiba seperti lampu yg menerangi pemikirannya. Betul juga yg dikatakannya.
“You’re right. Baiklah, aku pilih 1 lagi. Setelah itu, kamu tidak dapat lagi memaksaku memilih, Kent. Keputusanku mutlak, apalagi kamu yg traktir. Nanti kamu bangkrut gimana?”
“Hahaha, baik, baik. Tenang saja, hartaku tidak akan habis.” Ucapnya menyombong setelah tertawa terbahak-bahak.
“Sombong.” Balas Isabelle sambil tersenyum. Kent menggeleng-geleng melihat Isabelle. Ternyata dirinya cukup humoris.
Setelah duduk di salah satu tempat yg dekat dengan jendela besar, Isabelle berbincang-bincang dengan Kent sambil memakan kue-nya, begitu juga dengan Kent yg sambil menyeruput kopi yg dicampur gula tersebut. Setelah waktu hampir menyentuh 2 jam, Isabelle teringat dengan Marrie yg sedang menunggunya.
“Wah, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam segini. Kent, aku pulang dulu ya. Thank you so much for today. I can’t wait to see you at school. Sampai jumpa minggu depan, Kent. Hati-hati ya nanti di jalan.”
"Senang bertemu denganmu hari ini, Isabelle. See you later. Be careful." Ucap Kent sambil melontarkan senyumannya. Isabelle kemudian melambai-lambai padanya dan berjalan kembali menuju gerbang depan dimana keretanya sedang menunggunya.
"Temanmu sopan dan kelihatan baik, apakah kamu bertemu dengannya dipesta kemarin, Isabelle?" Marrie kembali bersuara.
"Iya, kita baru saja berteman kemarin. Orangnya lucu." Balas Isabelle sambil tersenyum. "Baiklah, kita akan pulang sekarang."
Isabelle dan pelayannya telah sampai dirumah sejam yg lalu. Sambil melepaskan pakaiannya untuk segera mandi, Isabelle melihat ke arah jendelanya untuk mencari seseorang. Iya. Orang yg dicarinya adalah Carlisle. Carlisle gemar muncul dimanapun, bahkan tanpa disuruhnya kurasa ia bakal selalu bertemu dengan Isabelle, entah bagaimana bisa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Entah apa saja yg dilakukan Isabelle sejak tadi, dari berkeliling dibelakang bukit, mencari segerombolan semut yg sedang mengangkat serpihan makanan, dll. Isabelle merasa sangat bosan dan sudah tidak sabar ingin sekolah serta bertemu dengan orang-orang baru. Isabelle mencoba melupakan semua apa yg terjadi dan menjalani kesempatan ini yg hanya sekali seumur hidup.
Hari ini adalah hari pertama sekolah, hari pertama Isabelle bersekolah semenjak jatuh dari koma. Isabelle memakai gaun berwarna putih keemasan yg berukuran 20 cm dari kaki. Semua hal sudah dipersiapkannya dari pagi, karena takut kelupaan. Sebelum pergi, Isabelle menikmati sarapan seperti roti isi selai, salmon panggang, telur mata sapi dan teh chamomile kesukaannya.
Kereta sudah menunggu didepan rumahnya, tinggal menunggu keberangkatannya. "Marrie, aku pergi dulu yah. Bye!" Pamit Isabelle.
"Bye. Have a nice day."
Kemudian kuda keretanya pun berjalan menuju sekolahnya. Isabelle tidak dapat menahan degupan kencang dari jantungnya. Takut melakukan kesalahan dihari pertama, ataupun kesalahan yg ia bikin dari kecerobohannya. Disepanjang jalan, Isabelle dapat melihat rimbunan pohon yg rindang. Semuanya seperti dunia hijau, apalagi matahari yg berusaha menembus celah-celah daun, yg memperlihatkan setapak jalan yg lurus itu. Isabelle membuka jendelanya untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Andaikan saja ditempatku berasal, dunia masih indah seperti ini.
Tiba-tiba kuda berhenti mendadak, membuat Isabelle hampir terpental didepan. "Maaf, nona. Kelewatan. Kita sudah sampai."
Isabelle kemudian turun dari kereta yg dibantu oleh kusirnya. Terlihat banyak sekali murid-murid yg berjalan menuju sekolah dengan jalan kaki, dan murid yg sedang berjalan sambil bercanda dengan temannya. Ahh, seandainya waktu dapat berputar kembali, mungkin Isabelle ingin mencoba berjalan kaki menuju sekolah.
"Terima kasih." Ucap Isabelle. Kusir tersebut mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan ke keretanya kembali dan meninggalkan sekolahnya.
"Fiuh. Here we go."
