Bab 12
"SUDAH SIAP, ISABELLE?”
Tanya Marrie yg kini sedang berdiri di depan pintu kamar Isabelle. Setelah bertemu dengan Baron tadi, entah kenapa perasaan Isabelle kini lebih ringan ditambah senang. Dirinya sedang berada di depan kaca besar di kamarnya sambil menyisir rambut pirang halusnya ini.
“Sebentar lagi, Marrie.” Ucap Isabelle sambil bergegas untuk bersiap-siap pergi ke sekolah barunya.
“Kamu tampak cantik, Isabelle.” Puji Marrie saat Isabelle beranjak keluar dari kamarnya.
“Thank you, Marrie.” Balas Isabelle.
Setelah itu, Isabelle dan beberapa pelayannya termasuk Marrie memasuki kereta pribadi keluarga Margaritta ini dan kendaraan pun siap meluncur.
“Jangan gugup, jangan gugup.”
Batin Isabelle kepada dirinya sendiri. Sekarang ia sedang menuju ke sekolah St. Abelous Patrick untuk mengurusi masalah pendaftarannya. Sudah 10 menit sejak keberangkatannya dari rumah. "Apakah kita sudah mau sampai, Marrie?" Tanya Isabelle memecahkan keheningan.
“Belum, Isabelle. Sebentar lagi kita akan sampai.” Balas Marrie.
“Kira-kira, orang disana bakal menyukaiku tidak ya?” Tanya Isabelle penasaran.
“They’ll gonna love you, Isabelle.”
“I hope so.”
Detik demi detik berjalan, tak terasa Isabelle tertidur selama beberapa menit karena goyangan kendaraan ini membuatnya sedikit mengantuk.
“Marrie, kita sudah sampai belum?” Tanya Isabelle sekali lagi.
"Baru saja ditanya. Kita sudah sampai, Isabelle."
Isabelle kemudian mengintip sedikit dari balik jendela. Cahaya menembus masuk melalui jendela dan menampakkan gedung sekolah yg menakjubkan. Nampak dari luar, sekolah ini memiliki 4 lantai. Gedung ini berdominasi warna violet dengan bercampur sedikit warna putih. Isabelle penasaran apakah ia akan bertemu dengan teman barunya, Kent.
"Ikuti saya ke kantor." Pinta Marrie sambil menuntun Isabelle ke kantor setelah berbincang kecil dengan satpam sekolahnya, karena mereka sama sekali tidak tau dimana kantor kepala sekolah berada.
Marrie dan pelayan lainnya berjalan berdampingan, sedangkan Isabelle membuntuti mereka. Setelah sampai di depan kantor sekolah ini, Marrie mengetuk pintunya untuk permisi agar bisa masuk. Pintu terbuka dan ketiganya bertemu dengan kepala sekolahnya.
"Welcome to St. Abelous Patrick. So you're the transferred student?" Tanya seorang pria yg terlihat berumur sekitar 40 akhir yg memiliki kumis panjang tipis dan memakai hanya sebelah dari kacamata bulatnya, entah apa namanya, yg penting kacamata tersebut sering dipakai pada zaman dahulu.
"Iya, betul pak." Jawabnya semangat sambil tersenyum.
"Baiklah, nona.. Isabelle." Jawabnya kembali sambil membaca namanya saat membuka laman berkasnya.
“Pertama-tama, selamat datang di sekolah barumu. Saya sudah mendengar tentang anda, dan tentang amnesia anda. Tenang saja, kami akan membantu anda untuk beradaptasi di lingkungan baru. Sekolah ini telah berdiri selama lebih dari 20 tahun. Para alumnus di sini telah menjadi orang yg sukses dan berkarir, di antara lainnya sebagai pejabat negara, politikus, filsuf, professor, pengrajin, pelukis, desainer, dan lain-lain. Ilmu yg akan kamu dapatkan disini akan begitu banyak dan berarti.” Jelas pria tersebut.
“Di sekolah ini, kami sangat melarang para murid untuk berprilaku tidak wajar ataupun membuat garis batas kedudukan sosial yg artinyan disini kami tidak mengampuni tindakan penindasan, dan kami sangat menghargai apabila semuanya berteman tanpa memandang status sosial. Maka dari itu, Isabelle, jika anda melihat atau mungkin mendapatkan perilaku tidak mengenakkan, maka anda bisa langsung melapor kepada saya.” Sambungnya.
Isabelle terkagum medengar penjelasannya. Disini, semuanya sama, tidak ada yg memandang status sosial dan semuanya berhak diperlakukan secara sama. Seandainya hal ini juga diterapkan di masa depan.
“Mengerti, Isabelle?”
“Iya, saya mengerti, pak.” Jawab Isabelle dengan tegas.
"Kalau begitu, saya akan lanjut menjelaskan mengenai kurikulum beserta bagaimana sekolah ini bekerja. Anda akan bersekolah dari jam 8 pagi sampai 1 siang pada hari senin sampai kamis, dan tidak ada jam istirahat." Jelas kepala sekolah tersebut kemudian berhenti sebentar. Isabelle terlihat meneguk air liurnya. Tidak ada istirahat? Isabelle mana tahan.
“Ke-kenapa tidak ada jam istirahat, pak?”
“Karena jam sekolahnya sangat sebentar saja waktunya, maka tidak ada istirahat. Namun bukan berarti tidak ada sama sekali, hanya saja kita menyebutnya bukan istirahat disini, namun jam menenangkan pikiran yg berlangsung selama 15 menit saja.” Isabelle mengangguk mengerti.
Kayaknya sama aja deh jam menenangkan pikiran sama istirahat, apa bedanya coba? Batin Isabelle bingung.
"Ujian akan diadakan setiap 3 bulan sekali sampai anda menyelesaikan sekolah anda selama 1 tahun ini, karena ini adalah tahun terakhir anda di sekolah menengah atas, bukan?" Kemudian Isabelle mengangguk mengiyakan tanda mengerti.
"Untuk mata pelajaran, anda harus memilih 5 mata pelajaran dari 8 pilihan, dan 3 mata pelajaran lainnya adalah wajib, jadi totalnya adalah 11 pelajaran, kalau mata pelajaran pilihan dengan mata pelajaran wajib totalnya hanya 8 saja. Kami akan memberikan jadwalnya beserta jadwal masuk sekolah setelah registrasi. Mengerti?" Jelas kembali pria tersebut.
"Umm, 8 mata pelajaran pilihan dan mata pelajaran wajib apa saya ya, pak?" Tanya Isabelle berhati-hati.
"Mata pelajaran pilihan ada sejarah, geografi, bahasa jerman, bahasa perancis, bahasa skotlandia, perpajakan, dan biologi. Mata pelajaran wajib adalah matematika, bahasa inggris dan tata cara etika." Jelasnya lengkap tanpa kekurangan. Isabelle ber-O-ria tanda informasi tersebut telah sepenuhnya masuk di otaknya. Bukan masuk kiri keluar kiri.
"Bagaimana? Ada yg ingin ditanyakan lagi, Isabelle?" Tanya Marrie.
“Umm, apakah beberapa murid-murid di sini merupakan kerabat dari raja? Atau mungkin keturunan dari raja..?” Tanya Isabelle dengan hati-hati. Pasti ia menanyakan hal ini karena kemarin pelayan di rumahnya menakutinya tentang sekolah ini mengerikan karena adanya kerabat dari raja yg secara tidak langsung menindas siapapun yg statusnya jauh dari seorang raja.
“Mengenai hal itu, iya betul. Ada beberapa yg memang merupakan kerabat raja, namun Isabelle tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Raja adalah teman lama saya, jadi anda hanya perlu melapor kepada saya bila terjadi sesuatu yg tidak mengenakkan.” Ujarnya sambil tersenyum. Isabelle menjadi sedikit tenang mendengarnya.
“Jadi, apakah ada pertanyaan lagi?”
"Kurasa itu sudah cukup." Jawab Isabelle setelah dirinya merasa semua pertanyaannya sudah terjawab. Marrie pun menganggukkan kepalanya dan mulai mengurusi masalah pendaftarannya.
Setelah itu Isabelle menerima jadwalnya dan jadwal masuk sekolah, yaitu 1 minggu lagi, karena saat ia koma, saat itu bertepatan dengan liburan sekolah selama lebih dari 5 bulan. Dan jika ia tidak bangun lebih dari 5 bulan, maka Isabelle akan telat lulus dari sekolah menengah atas.
Marrie dan pelayan lainnya kemudian berjalan menuju pintu keluar dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan menuju gerbang depan, Isabelle melihat seorang lelaki yg familiar. Seseorang yg sepertinya dikenalinya.
Sepertinya aku kenal. Batinnya.
Ia kemudian melihat lelaki tersebut berjalan menuju ke arahnya dengan matanya yg kini menatap ke arah buku yg dipeganginya sambil dibaca tanpa memperhatikan arah jalannya. Ketika Isabelle sudah tau siapa pria tersebut dan tiba-tiba perasaannya begitu senang, Isabelle kemudian memutuskan untuk memanggilnya.
