Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11

ISABELLE TERJATUH, LAGI.

Sebenarnya mau berapa kali sih Tuhan ingin aku jatuh? Apakah Tuhan suka melihat aku sengsara? Terlebih lagi di depan orang asing. Batinnya dengan sangat malu.

Dirinya sekarang terkulai lemas dari balik pagar tersebut.

"Hello, clumsy. We meet again." Tiba-tiba terdengar suara dari pria tersebut, orang yg ingin Isabelle intip. Isabelle mengangkat kepalanya dan kedua mata mereka pun bertemu. Cahaya yg membelakangi pria tersebut membuat Isabelle menyipitkan matanya. Kemudian perlahan-lahan sinarnya hilang dan tampaklah sebuah wajah yg tidak diduga Isabelle.

"O-oh?? Kamu Baron yg semalam bukan??" Tanya Isabelle antusias sambil menunjuk dirinya. Meskipun Isabelle masih diserbu ratusan pertanyaan, kali ini ia ingin memastikannya.

Pria tersebut pun menyunggingkan senyumnya. "Iya, betul."

"K-kenapa kamu ada disini?"

Baron itu terlihat sedang memikirkan jawaban yg akan dilontarkannya. "Ingin melihat pemandangan lautan rumput ini?” Ledek Isabelle. Baron itu kemudian tertawa kecil, yg membuat kupu-kupu di perut Isabelle menjadi semakin lasak.

"Sebuah kebetulan kita bertemu lagi disini, ya." Basa-basi Isabelle. Tidak tau lagi ingin mengatakan apa.

"Iya, suatu kebetulan." Jawabnya.

"Apakah lukamu sudah sembuh?" Lanjut Baron bertanya. Isabelle memegang pelipisnya. Kemudian ia meringis sedikit.

Kemudian Baron mengentikan Isabelle dengan menepis lembut tangannya untuk memegang luka tersebut. "Jangan dipegang."

Isabelle kemudian menggigit bibir bawahnya karena merasa malu dipegang. "I-iya, sepertinya belum sembuh." Baron tersebut kemudian kembali tersenyum.

“Oh iya, aku tiba-tiba ingat. Sapu tangan yg kemarin kamu meminjamiku buat menahan lukaku, aku baru saja mengeringkannya. Tunggu disini ya!” Ucapnya kemudian langsung segera berlari ke arah rumahnya.

“E-eh? Oke, oke. Jangan lari-lari!” Teriak Baron tersebut sedikit pelan.

“Marrie, dimana sapu tangan yg semalam aku minta dicucikan? Yg ada tulisan emasnya.” Tanya Isabelle terpengal-pengal karena kehabisan nafas saat berlari. Jarak bukit tersebut ke rumahnya lumayan jauh, makanya dirinya sekarang sedikit capek berlari.

“Sapu tangan?” Tanya Marrie sekali lagi.

“Iya! Dimana, Marrie?”

“Sepertinya saya menaruhnya di keranjang, tapi dimana ya. Tunggu sebentar, tuan putri.”

“Okay, okay.” Balasnya kemudian menunggu Marrie yg akan membawakannya sapu tangan Baron tersebut. Tidak lucu bukan kalau tidak mengembalikan barang milik orang lain?

“Isabelle, inikah yg kamu maksud?” Tukas Marrie sambil memegang sapu tangan tersebut.

“Iya! Betul. Thank you, Marrie.” Balasnya lalu Isabelle berlari lari secepat kilat. Takut kalau Baron tersebut akan kabur lagi seperti kemarin.

“Kira-kira tuan putri mau ngapain ya? Lari-lari seperti itu.” Tanya salah satu pelayan muda di rumah ini.

“Tidak tau. Mungkin bertemu dengan pacarnya?” Balas rekan kerjanya sambil sedikit memekik kegirangan.

“Sudah, sudah. Chop chop! Kembali bekerja semua.” Ujar Marrie.

Isabelle melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menaikkan gaunnya agar tidak kotor mengenai tanah. Dirinya takut bahwa Baron tersebut akan menghilang. Namun keraguan tersebut hilang ketika Baron tadi masih menunggunya di balik pagar tersebut.

“Here you go. Thanks for helping me.” Ucap Isabelle kemudian menyodorkan sapu tangan tersebut.

“Kamu tidak harus mengembalikannya, sih. But, okay then.” Balasnya kemudian memasukkan sapu tangan tersebut kembali ke kantongnya.

Isabelle lalu memperhatikan wajahnya dengan seksama. Kali ini juga tidak kalah dekat. Rambutnya yg berwarna cokelat mengkilap, hidungnya yg sangat mancung, bulu matanya yg lentik dan panjang, bibirnya yg tipis dan berwarna pink, membuatnya terlihat seperti pangeran kerajaan.

Baron tersebut tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke Isabelle. Isabelle yg kaget pun mendadak memalingkan wajahnya dan sedikit berdehem. Takutnya Baron tersebut menangkap basah Isabelle sedang melamuni dirinya.

“Jadi, apakah sapu tangan tadi itu merupakan barang pemberian? Atau gimana?” Tanya Isabelle basa basi.

“Oh, ini? Betul. Sapu tangan ini adalah barang pemberian dari nenekku. Katanya bawalah kemana-mana, ini sudah seperti jimat keberuntungan. Nenekku sudah meninggal 2 tahun yg lalu. Makanya kubawa kemana-mana agar diriku bisa mengenangnya.” Jelas Baron panjang-lebar.

“A-apa? Kenapa kamu tidak bilang?”

“Ini aku sudah bilang. Haha.” Balasnya sambil tertawa kecil.

“Bilang bahwa sapu tangan tersebut sangat berarti bagimu. Bagaimana kalau pelayanku menghilangkannya tadi?” Ucapnya menghela nafas.

“Tidak apa-apa. Selama sapu tangan itu bisa membantu orang lain.”

"Okay, okay. Now, reveal yourself. Who are you?" Tanya Isabelle serius menatap kedua mata cokelat itu.

"Haha, I've told you. I'm Baron, I came from east country." Jawabnya santai sambil tertawa kecil, seperti tidak ada masalah yg serius atau gugup sedikitpun.

"No, i mean your name." Modus Isabelle ingin tau namanya.

"Ahh, about that.." Jawabnya kemudian menjeda kalimatnya beberapa saat.

“Kenapa?” Tanya Isabelle. Berikanlah namamu, berikanlah namamu. Batinnya.

"My name is Carlisle."

"W-what? Karlislei??"

"Haha, no. It's spelled kar-lail, not karlislei, clumsy." Ejeknya karena Isabelle salah mengejanya. Isabelle memanyunkan mulutnya karena merasa disindir. Di sisi lain, ia merasa senang karena telah mengetahui namanya. "Oh iya, sapu tanganmu semalam aku hampir lupa mencucinya, by the way. Karena pas pulang, diriku langsung tepar.”

"Really? You don't have to do that. Buatmu saja deh, karena udah menjaga sapu tangannya.” Jawabnya.

“What? No! That handkerchief is really important to you. Jangan asal memberikannya kepada orang asing.” Tegur Isabelle. Lagipula, buat apa dirinya memerlukan sapu tangan orang lain? Toh di rumahnya ada banyak.

“Hahaha, okay, okay.” Balas Baron.

"Tapi, bagaimana kamu bisa ada disini? Bukankah ini tanah milik keluargaku?" Tanyanya kembali. Setaunya, orang asing tidak boleh asal menerobos sebelum sang pemilik rumah mengizinkannya.

Carlisle kemudian menyapu pandangannya di seluruh sisi dan menunjuk ke arah tadi Isabelle berlari kemari. Tepatnya disebelah timur depan taman tersebut. "There is a shortcut over there." Jawabnya.

"Jalan pintas? Bagaimana kamu tau hal itu?"

“Emm, tentang itu..” Jawabnya kemudian menjeda. Apa yg ingin dikatakan sang Baron? Isabelle penasaran. Banyak teka-teki mengenai pria tersebut.

Belum sempat menjawabnya, terdengar teriakan dari arah selatan, tepatnya di belakang Isabelle. "ISABELLE.. WHERE ARE YOU..? WE HAVE TO GO IN 15 MINUTES." Rupanya itu adalah suara Marrie, pelayannya. "Iya! Sebentar!" Balasnya sambil berteriak agar suaranya terdengar.

"Yah, saatnya kita berpisah lagi. Bagaimana kalau lain kal.." Isabelle menghentikan perkataannya ketika ia tidak menemukan Carlisle dimanapun. "Dimana dia? Perasaan dia tadi dibelakang.."

"Gotcha." Tiba-tiba ada suara dari belakangnya lagi. Isabelle melompat kecil ketika tiba-tiba suara itu muncul dan mengagetkan dirinya.

"Aduh, bikin terkejut aja!" Teriaknya sambil memukul dada bidang pria tersebut. Isabelle kemudian menarik tangannya kembali karena malu. Carlisle kembali tertawa yg menampilkan deretan gigi rapinya yg putih.

"Your maid is calling, i gotta go. See you later." Pamit Carlisle tiba-tiba kemudian berlari ke arah shortcut (jalan pintas) tersebut. Rupanya ada di sehelah labirin yg dimana ada seperti sebuah pintu kecil, namun tertutup oleh dedaunan. Tentu saja Isabelle tidak menyadarinya karena pintu tersebut berkamuflase dengan baik.

Pria tersebut kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Isabelle yg sedari tadi memperhatikannya. Kemudian ia melambai padanya.

Isabelle terkejut harus membalasnya apa, jadi ia hanya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan melambai ke kiri dan ke kanan seperti layaknya sahabat yg akan berpisah dengan sahabatnya. Dari kejauhan Carlisle tersenyum, sampai batang hidungnya tidak nampak lagi.

"Kenapa teriakan orang terus merusak moment, sih?" Desahnya pelan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel