Bab 8
Revan pulang ke rumahnya saat suasana sekitar kost kostan di gang sempit itu sudah mulai hening. Dia melajukan motornya perlahan di atas batu-batu paving block yang tidak rata. Udara lembab dan bau anyir sampah yang belum terangkut menyergap indranya, suasana yang begitu kontras setelah dia menghabiskan sore di lingkungan elite bersama Miranda.
Pemuda itu memasukkan seperti motor Kawasakinya ke dalam teras rumah petak yang berjejer jejer dengan rumah kontrakan lainnya.
Pukul 10 malam. Suasana di sekitar sudah sepi, hanya diselingi suara televisi dari rumah tetangga dan derit jangkrik yang bersembunyi di sela-sela tanaman liar.
Revan membuka pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, hanya dikunci dengan sistem sederhana yang mudah dibobol. Namun, siapa yang akan membobol rumah dengan isi perabotan rumah yang terlalu sederhana itu?
Tiyas sudah tertidur pulas di sofa tua berlapis kain bermotif bunga. Sebuah buku matematika tergeletak di dadanya, jari-jarinya masih menjepit pensil. Lampu ruang tamu 5 watt menerangi wajah gadis belia itu yang tampak lelah, Revan memandangi adiknya. Ada perasaan bersalah yang menyusup ke sela sela hatinya.
"Tiyas," panggil Revan lembut, suaranya serak. Dia berlutut di samping sofa, mengusap-usap pundak adiknya. "Bangun, dek. Jangan tidur di sofa. nanti masuk angin."
Tiyas mengerjapkan mata, terbangun dari tidurnya. "Kak Revan kamu pulang kerja?" gumamnya sambil mengusap mata. Lalu, pandangannya jatuh pada perban putih yang melilit lengan kiri Revan. Matanya langsung melebar sempurna, sisa-sisa kantuk langsung hilang seketika. Wajahnya tampak panik.
"KAK! Lengan kak Revan kenapa?!" pekiknya sambil duduk tegak. Tangannya yang kecil langsung menjamah perban itu dengan gemetar.
Revan menangkis dengan lembut. "Santai aja dek. Cuma luka kecil aja kok,"
"Luka Kecil? Tapi.... kenapa sampai dibalut gini? Kamu kenapa, sih? Kecelakaan?" tanya Tiyas, suaranya meninggi penuh kecemasan. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, mencerminkan ketakutan yang dalam.
Revan mengambil napas, mempersiapkan alasan dengan ekspresi yang tepat: memasang wajah sesal, sedikit jantan, dengan sentuhan kelelahan yang meyakinkan.
"Cuma kecelakaan biasa Tiyas. Tadi di proyek, ada besi tua yang nyangkut di scaffolding. Kakak coba dorong, eh malah menggores lengan kakak. Sudah, nggak apa-apa. Cuma butuh beberapa jahitan kecil," ujarnya, berusaha terdengar santai sambil berdiri dan berjalan ke dapur kecil untuk mengambil air minum. Dia membelakangi Tiyas agar tidak melihat wajahnya yang sebenarnya menahan rasa bersalah.
Tiyas mengikutinya, seperti anak kecil yang takut ditinggal. "Sampai di jahit, kak?Berarti lukanya parah dong!? CK, Kakak selalu ceroboh sih, kalau kerja! Aku kan sudah bilang, hati-hati!" Omelnya, suaranya bergetar. Seperti Omelan seorang ibu pada putranya yang bandal.
Tiyas lalu memeluk revan dari belakang. Erat. "Aku... aku nggak mau kehilangan kakak seperti kita kehilangan ayah dan mamak Aku nggak sanggup, Kak."
Kalimat itu seperti pisau yang menusuk ulu hati Revan. Dia menoleh, melihat air mata yang mulai mengalir di pipi Tiyas yang masih sembab. Rasa bersalah yang tadi berhasil dia pendam, kini bergejolak dalam dadanya.
Revan mengingat kembali kematian ayah mereka yang tragis dan mengenaskan di tangan massa. Lalu kepergian ibu mereka yang memilih kabur dengan pria lain daripada membesarkan anak-anaknya.
"Tiyas... Dengerin kakak..." ucap Revan, memegangi pundak Tiyas dan memaksanya menatap matanya. "Kakak akan baik-baik saja. Luka ini tuh enggak seberapa, cuma goresan. Dokter bilang seminggu lagi sembuh. Kakak janji... nggak akan pergi meninggalkan kamu. Percaya sama kakak."
Tiyas mengangguk pelan, mencoba menahan isaknya. "Janji?"
"Janji,"balas Revan, suaranya serak. Dia memeluk adiknya erat, berharap pelukan ini bisa menebus dusta yang baru saja dia ucapkan. Dia mencium bau sampo strawberry yang murah yang selalu dipakai Tiyas—bau yang mengingatkannya pada betapa sederhana dan polosnya kehidupan yang seharusnya mereka jalani.
Setelah Tiyas tenang, Revan mengajaknya duduk kembali di sofa. Saatnya untuk kebohongan kedua, yang lebih besar, yang akan mengubah hidup mereka untuk beberapa bulan ke depan.
"Tiyas, kakak ada sesuatu yang mau dibicarakan," ucap Revan, mencoba mencari kata-kata yang tepat sambil matanya memandang lantai ubin yang sudah retak-retak.
"Apa, Kak? Kak Revan pindah kontrakan?" tanya Tiyas, masih menyeka pipinya dengan punggung tangan.
"Sebenarnya... Kakak dapat tawaran kerja baru. Sebuah proyek besar di luar kota. Lumayan jauh. Dan bayarannya... sangat bagus," ujar Revan, masih menatap lurus ke depan, menghindari mata Tiyas yang polos.
Tiyas terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Luar kota? Di mana? Berapa lama?"
"Di... di Surabaya," ujar Revan, mengarang cepat. "Beberapa minggu. Mungkin tiga, mungkin empat minggu. Tergantung progres proyeknya."
"Owh..." nada suara Tiyas langsung berubah, melankolis. "Jadi kak Revan mau pergi jauh? Kak Revan nggak bisa jemput aku pulang sekolah? Nggak bisa nemenin aku belajar? Aku kan ujian semester depan..."
"Nggak bisa, sayang. Itu sebabnya..." Revan berhenti, menarik napas dalam. Dia menatap wajah Tiyas yang mulai muram. "...kakak mau kamu tinggal sementara di apartemen Kak Kiara."
Seketika itu juga, wajah Tiyas berubah total. "Apa? Nggak mau ah, kak! Aku mau tinggal di sini aja! Aku bisa jaga diri sendiri kok! Aku bisa masak, bisa nyuci, bisa—"
"TIYAS!" potong Revan, suaranya lebih keras dari yang dia rencanakan. "Jangan membantah. Kamu masih di bawah umur. Nggak mungkin kakak tinggalin kamu sendirian di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Itu berbahaya!"
"Tapi... tapi aku nggak betah sama Kak Kiara!" protes Tiyas, matanya kembali berkaca. Kali ini bukan air mata khawatir, tapi air mata penolakan. "Tiyas... Ngerasa nggak nyaman, Kak. Setiap ketemu, dia jarang ngajak aku ngobrol! Cuma lihatin HP terus! Dan... dan tatapan dia kayak nggak suka sama aku. Apalagi kalau Tiyas serumah sama dia!"
Revan tahu itu benar. Kiara memang kurang memiliki chemistry dengan anak-anak, apalagi dengan Tiyas yang dianggapnya 'beban' dalam kehidupan mewah mereka. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Misi dengan Miranda menuntutnya untuk tinggal dekat dengan target, dan dia tidak bisa membawa Tiyas ke dalam lingkungan yang penuh resiko itu.
"Tiyas, dengar kakak," bujuk Revan, mencoba bersikap lebih lembut. "Kak Kiara itu sebenarnya baik kok sama kamu. Dia cuma... bukan tipe yang ekspresif. Dan proyek ini sangat penting. Uangnya bisa buat biaya kuliah kamu nanti, buat kita beli rumah yang lebih baik, buat masa depan kita. Kamu mau kan punya kehidupan yang lebih baik? Nggak seperti sekarang?" Rayuan klasik itu pun akhirnya Revan gunakan, memainkan kartu pengorbanan dan masa depan.
"Tapi kita udah cukup kok, Kak," bantah Tiyas, masih mencoba menolak. Suaranya kecil, seperti sadar dia kalah sebelum bertanding. "Aku nggak perlu kehidupan mewah. Aku senang sama keadaan kita sekarang. Yang penting kita bersama."
"Kita nggak selamanya bisa begini, dek!" kata Revan, sedikit memaksa. Suaranya menjadi lebih tegas, terdengar hampir kasar di telinganya sendiri. "Dunia itu keras, Tiyas! Hidup di Jakarta butuh uang untuk bertahan! Kakak mau kamu punya masa depan yang terjamin. Bisa kuliah di universitas bagus, punya pekerjaan yang baik. Nggak mau kan hidup susah terus? Nggak mau kan seperti papa kita di kucilin dan dihina orang sampai mati?"
b e r smbung
