Bab 9
Seketika Revan langsung menyesal menyebut ayah mereka. Tiyas menunduk lebih dalam, bahunya turun. Dia bermain dengan jari-jemarinya, pertanda dia sedang berperang dengan dirinya sendiri. Revan tahu titik lemah adiknya: dia tidak ingin merepotkan, dan dia ingin membuat kakaknya bangga.
"Tapi... aku bakal kangen banget sama kak Revan," bisik Tiyas akhirnya, suaranya lirih, hampir tak terdengar. "Rumah ini bakal sepi sekali."
Revan merasa dadanya sesak. Dia merangkul Tiyas, mencium bagian atas kepalanya. "Kakak juga bakal kangen banget sama kamu. Kita bisa video call tiap hari. Janji. Dan ini cuma sementara. Begitu proyek selesai, kakak langsung pulang, dan kita cari rumah yang lebih bagus. Yang dekat sama sekolah kamu. Deal?"
Tiyas mengangguk pelan, tidak semangat. "Deal."
Tiyas tidak punya pilihan. Keinginan kakaknya, yang sudah berkorban begitu banyak untuknya, adalah segalanya. Pengorbanan Revan yang putus kuliah untuk menghidupi mereka berdua adalah hutang yang terlalu besar untuk dia tolak.
"Oke, sekarang kamu tidur. Besok kita packing barang-barang kamu," ujar Revan, menepuk punggung Tiyas dengan lembut.
"Kapan... kapan aku pindah ke apartemen Kak Kiara?" tanya Tiyas sambil berjalan ke kamarnya.
"Besok sore," jawab Revan, menghindari tatapannya. "Kakak akan anter kamu."
Pintu kamar Tiyas tertutup dengan perlahan. Revan berdiri di ruang tamu yang sunyi, hanya diterangi lampu 5 watt yang membuat segalanya terlihat suram. Dia menarik napas panjang, merasa seperti baru saja menyelesaikan pertarungan yang melelahkan. Tapi pertarungan berikutnya masih menunggu.
B e r s a m b u n g
