Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Di perjalanan ke rumah sakit, Miranda terus memandangi Revan dengan cemas di sela sela menyetirnya.

"Astagaa... tadi itu situsnya sangat berbahaya, Mas! Mereka bawa senjata tajam. Mas sangat berani... tapi juga sangat nekat."

Revan tersenyum kecil, berpura-pula menahan sakit. "Saya tidak tega melihat Ibu diganggu seperti itu. Kebetulan saya juga sedang lewat." Itu adalah kalimat yang sudah dia latih.

"Kebetulan yang sangat beruntung bagi saya," jawab Miranda, suaranya hangat dan penuh rasa terima kasih. "Nama saya Miranda. Terima kasih banyak Mas sudah menolong saya."

"Saya Revan," balasnya, mencoba menatap mata Miranda sejenak sebelum menunduk lagi, berpura-pula malu. "Sama-sama, Bu Miranda."

---

Rumah sakit swasta terdekat tidak terlalu ramai. Seorang perawat segera menangani luka Revan. Lukanya memang tidak dalam, tetapi cukup untuk membutuhkan beberapa jahitan. Selama proses menjahit, Miranda menunggu di luar, wajahnya masih terlihat khawatir.

Setelah selesai, Revan keluar dengan lengan kirinya dibalut perban putih. Miranda segera menghampirinya.

"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanyanya pada perawat.

"Luka sayat, tidak terlalu dalam. Sudah kami jahit. Harus kontrol seminggu lagi untuk lepas ganti perban. Jangan sampai terkena air," jelas perawat.

Miranda menghela napas lega. "Syukur tidak parah." Dia menoleh ke Revan. "Mas Revan... Saya benar-benar tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu, Mas..."

"Panggil saja saya Revan, Bu. Dan tidak usah dibalas. Saya cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan siapa pun," jawab Revan dengan rendah hati, memainkan peran "pemuda baik" dengan sempurna.

"Di dunia sekarang, tidak banyak orang yang mau mengambil risiko seperti kamu." ujar Miranda sambil mengajaknya duduk di ruang tunggu yang sepi. "Oia, Revan tinggal di sekitar sini?"

"Tidak, Bu. Saya dari daerah lain. Kebetulan hari ini lagi meeting sama klien di sekitar sini," jawab Revan, menyusun kebohongan yang sudah disiapkan. "Saya baru diterima bekerja freelance di perusahaan Desain grafis. Saya sedang cari cari kost kostan di sekitar tempat tadi, tapi belum ketemu yang cocok."

"Oia?" komentar Miranda, tertarik. "Saya kepala sekolah di SMP 94 Persada. Kebetulan sekali, saya punya usaha sampingan rumah kost kostan. Barangkali kamu tertarik. Kamu bisa lihat dulu kost kostan saya? Bagaimana?"

Ini adalah pembukaan yang lebih baik dari yang Revan harapkan. "Serius? Wah, kebetulan sekali. Kalau Begitu saya nanti saya akan mampir ke rumah kost kostan Ibu, kalau ibu Miranda enggak merasa kerepotan," angguk Revan dengan senyum charming-nya.

Miranda menggeleng cepat. "No, saya sama sekali enggak merasa direpotkan, Revan! Justru saya yang harusnya berterima kasih sama kamu, Revan. " Dia memandangi perban di lengan Revan, wajahnya kembali serius. "Andai  saja tadi enggak ada kamu yang menolong saya, mungkin tas dan ponsel saya yang berisi data data penting menyangkut pekerjaan akan hilang. Apalagi ngurus kartu kredit, KTP, ATM... itu pasti sangat merepotkan!"

"Bu Miranda, ini bukan salah Ibu. Ini salah para preman itu. Ibu adalah korban," potong Revan dengan lembut. "Ibu baik-baik saja, kan? Tidak terluka kan?"

Perhatian tulus yang ditunjukkannya—meski palsu—membuat hati Miranda tersentuh. Sudah lama sekali tidak ada pria yang menunjukkan kepedulian seperti itu padanya.

"Saya baik-baik saja, hanya sedikit terkejut," jawabnya. "Revan, izinkan saya setidaknya membayar biaya rumah sakit dan... mungkin traktir makan malam? Sebagai ungkapan terima kasih yang kecil."

Revan berpura-pura ragu. "Waduh, nggak usah repot-repot, Bu..."

"Tolong, jangan menolak. Saya akan merasa sangat bersalah jika tidak melakukan sesuatu," pinta Miranda, matanya memohon. "Lagipula, sudah hampir jam tujuh malam. Pasti kamu belum makan malam, kan?"

Akhirnya, Revan mengalah dengan senyum. "Baiklah, kalau begitu. Tapi saya yang pilih tempatnya, ya? Yang sederhana saja."

Mereka pun pergi ke sebuah kafe cozy yang tidak terlalu jauh, tempat dimana percakapan bisa mengalir. Di dalam kafe yang remang-remang dengan cahaya redup di setiap meja itu, suasana menjadi lebih intim.

"Jadi, seorang desainer grafis freelance. Pasti menyenangkan bisa bekerja dengan kreativitas," ujar Miranda sambil menyeruup jusnya.

"Iya, cukup menantang. Kadang dapat proyek bagus, kadang sepi. Tapi saya menikmati kebebasannya," jawab Revan. Dia kemudian memainkan kartu emosionalnya dengan hati-hati. "Hidup sendiri jadi harus bisa mengatur segala sesuatunya. Apalagi sejak orang tua saya sudah tidak ada, dan saya harus membiayai adik perempuan saya yang masih sekolah."

Miranda terlihat tersentuh. "Oh, begitu? Kalau begitu kapan kamu bisa  datang untuk melihat lihat kostan saya?"

"Hmm... Bagaimana kalau besok saja, Bu?Oia sepertinya Bu Miranda juga orang yang sangat sibuk. Bagaimana kalau kita janjian dulu untuk ketemuan besok? Saya butuh nomor telepon Ibu untuk buat janji," ujar Revan malu malu.

"Oh, sure!" Tanpa ragu Tante Miranda pun memberikan nomor ponselnya.

Pertukaran nomor telepon. Itu adalah kemenangan besar pertama. Revan tersenyum, rasa bersalahnya tenggelam oleh kepuasan bahwa rencananya berjalan dengan sempurna.

"Baik, Bu. Saya akan hubungi Ibu."

Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di kafe itu. Percakapan mengalir dengan mudah, dari pekerjaan, hobi, hingga pendidikan. Revan memainkan perannya sebagai pemuda pekerja keras, penyayang keluarga, dan sedikit pemalu dengan sempurna. Dia mendengarkan Miranda bercerita tentang tantangannya sebagai kepala sekolah dan single parent dengan penuh perhatian, sesekali memberikan kata-kata penghiburan atau pujian yang tepat.

Setelah merasa cukup, Miranda mengantarkan Revan ke tempat dimana motor Revan sebelumnya di titipkan ke sebuah warung kaki lima.

"Terima kasih untuk semuanya, Revan. Untuk nyawa saya hari ini, dan untuk percakapan yang menyenangkan ini."

"Sama-sama, Bu Miranda. Terima kasih untuk traktiran makan malammu," balas Revan dengan senyuman hangat.

Dia menonton mobil Miranda melaju pergi, perasaan di dadanya campur aduk. Rencana itu berhasil. Dia selangkah lebih dekat. Tapi kenangan tentang senyum tulus Miranda, ceritanya tentang Tiyas, dan kekagumannya yang tidak pada tempatnya padanya, membuat sesuatu di dalam hatinya merasa hampa.

Dia mengirim pesan singkat ke Kiara: "Pertemuan pertama sukses. Sudah dapat nomornya. Diajak ke rumahnya."

Balasan Kiara cepat: "Oke. Hati-hati." Pendek dan dingin.

Revan memandangi pesan itu sebelum menghapusnya. Dia menyalakan motornya dan melaju membelah kegelapan malam, membawa serta konflik batin yang semakin dalam. Dia telah memulai permainan yang berbahaya. Dan yang paling menakutkan adalah, dia mulai tidak yakin apakah dia masih bisa mengendalikan permainan ini, atau justru permainan ini yang akan mengendalikannya.

Pesona Tante Miranda mulai menunjukkan kekuatannya, dan itu bukan hanya sebatas acting.

(Bersambung)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel