Pustaka
Bahasa Indonesia

Pesona Tante Mira

8.0K · Ongoing
Samiya_Tilana
7
Bab
0
View
9.0
Rating

Ringkasan

Kiara dan Revan adalah sepasang kekasih yang menjalani pekerjaan sebagai scam love. Kadang Kiara yang bertugas menjebak pria tua Bangka, untuk diporoti hartanya atau Revan yang menjebak Tante Tante kaya untuk diporoti hartanya. Pasangan Kiara dan Revan hidup berpoya poya dengan uang hasil scamnya itu hingga suatu ketika.... Revan bertemu dengan Tante Miranda, seorang janda cantik yang membuat Revan jatuh cinta beneran! Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya?

RomansaDewasaThrillermiliterpetarungTravelPulau TerpencilGentlemanDinginBalas Dendam

bab 1

"Cepetan buka bajunya dong, Oom..." rayu Kiara dengan tatapan nakal menggoda. Wajahnya yang cantik, bermata sayu itu kini hanya berjarak dua jengkal saja dari wajah Om Burhan.

"Wah... Ternyata kamu sudah tidak sabar ya, cantik? Hehhe... Baiklah kalau itu mau kamu," Oom Burhan terkekeh genit. Matanya tak lepas menyapu wajah dan tubuh Kiara seolah hendak melumatnya saja.

Lelaki berpenampilan parlente dengan perut buncit dan kepala botak itu pun dengan gerakan cepat membuka satu persatu kancing kemeja  mahalnya, seolah tak sabar... Ingin dipuaskan Kiara.

Keduanya sekarang sedang berada di sebuah kamar apartemen mewah  yang sengaja Kiara sewa secara jam jaman.

Keadaan oom Burhan kini sudah tak berbaju, menyisakan celana bokser hitam yang hanya menutupi bagian pribadinya yang Kiara yakin berukuran kecil.

Oom Burhan mendekati Kiara. Tangan kasarnya mendarat di bahu Kiara yang putih mulus, karena Kiara kebetulan mengenalkan gaun tanpa lengan, memamerkan leher jenjang, kulit putih dan bahunya yang indah.

"Kamu cantik sekali, Sayang... " bisik Oom Burhan sambil menghidu aroma parfum Kiara di lehernya, tangan pria itu bergerak hendak melepaskan gaun Kiara.

Kiara berusaha tersenyum. Tapi perasaannya mulai gelisah. apalagi saat tangan tangan kasar om Burhan mulai menjamah payudaranya. mata Kiara terus tertuju ke arah pintu.

"Kamu kenapa, Sayang? sepertinya gelisah sekali? hmm" Oom Burhan menyambar bibir Kiara tanpa permisi.

Kiara merasa jijik, saat aroma tembakau dan aroma joging bercampur menerpa indra penciumannya. Hingga akhirnya...

BRAKKK!!

Pintu apartemen di dobrak dari luar dengan sangat keras, membuat Kiara dan Oom Burhan seketika kaget.

"Kiara!! Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku!??" sentak seorang pemuda tampan bertubuh atletis yang tak lain adalah Revan– kekasih Kiara.

Belum sempat oom Burhan dan Kiara bereaksi. Revan langsung menarik tubuh tambun oom Burhan yang dalam keadaan tak berbaju kemudian menghempaskannya ke lantai.

BUKKKK!!

Satu pukulan telak mendarat di wajah pria berusia paruh baya itu!

"Berani sekali kamu menyentuh pacarku! Dasar tua Bangka tidak tahu malu! Awas saja kamu ya! Saya akan memviralkan kamu! Karena kamu menjadi selingkuhan pacar saya!"

Revan dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari saku lau mulai merekam.

"Lihatlah kelakuan si tua Bangka ini! Dia seorang pejabat daerah! Tapi kelakuannya sangat tak pantas! Dia sudah berselingkuh dengan pacar saya!" ucap Revan sambil terus merekam keadaan oom Burhan yang masih setengah telenji.

"Heh! Hentikan! Jangan asal rekam rekam kamu ya!? Kamu mau saya laporkan ke polisi atas kasus pencemaran nama baik!?" berang Oom Burhan mencoba mengancam.

"Silahkan saja, Tua Bangka! Kamu lapor polisi, artinya kamu siap di periksa, aibmu di blow up ke media sosial dan kamu viral dan  bakal kehilangan semuanya. Karier, jabatan, nama baik dan keluarga! Apa kamu mau itu terjadi!' ledek Revan sambil terus mengarahkan kamera ponselnya ke arah Oom Burhan.

Lelaki itu terdiam. Wajahnya terlihat cemas. Sebagai salah satu anggota DPR dan pejabat daerah, Tentu Burhan harus menjaga martabat, nama baik dan reputasinya.

"Tolong... Jangan sebarkan video saya! Saya janji! Saya akan berikan beberapa pun yang kamu mau! Tapi tolong... Jangan perpanjang kasus ini... Saya sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur!" pinta om Burhan dengan raut wajah memohon.

Senyum kecil terbit di bibir Revan. Samar. Tapi dia senang, Usahanya berhasil. Oom Burhan dengan mudah masuk ke dalam perangkapnya.

"Oke kalau itu, mau kamu. Saya enggak akan perpanjang kasus ini kalau kamu mau memenuhi permintaan saya..."

"Sebutkan!" tukas oom Burhan seolah sudah tahu motif lelaki itu merekam dirinya.

"Saya minta di transfer uang seratus juta. Sekarang juga. Karena kalau tidak... Saya akan upload video penggerebekan ini ke media sosial. Dan karier Oom sebagai anggota DPR... hancur sudah...." desis Revan dengan ancaman yang tak main main.

Sesaat Oom Burhan terdiam. Dia merasa jika ini adalah satu jebakan. Lelaki paruh baya itu menatap ke arah Kiara yang terduduk di pinggir ranjang sambil menutup wajahnya dengan bantal.

Gadis itu sedang berpura pura menangis.

"Oke! Saya akan transfer sekarang juga. Tapi saya mau... Rekaman video tadi kamu hapus dari folder ponsel kamu. Di depan saya!"

"Okey! Enggak masalah. Yang terpenting Oom transfer uang itu ke rekening saya! Sekarang juga" Revan kemudian menyebutkan nomor rekening.

Oom Burhan yang tak mau memperpanjang masalah karena ini menyangkut masa depan, nama baik dan karir politiknya, akhirnya saat itu juga mengambil ponsel, mentransfer uang seratus juta rupiah ke rekening pemuda itu dengan geram.

"Sudah! Kamu cek mobile banking kamu!" ucap lelaki tua itu dengan raut muka masam.

Revan menurut. Dia mengecek notifikasi M-banking dan disana tertera pemberitahuan transfer seratus juta telah masuk ke akun banknya.

"Sekarang giliran kamu. Menghapus video itu!" perintah Oom Burhan.

Revan menyodorkan ponsel.

Oom Burhan menyaksikan jari Revan menari di atas layar ponsel. Video yang merekam aibnya dalam keadaan hampir telanjang itu pun lenyap dari folder ‘Recently Deleted’. Pria itu mengangguk cepat, tak ingin berlama-lama lagi di tempat yang membuatnya merasa seperti sampah.

“Ini pelajarannya untuk kamu, Oom. Jangan pernah main-main dengan gadis muda yang sudah punya pacar. Fokus  Jaga istri dan keluargamu,” ucap Revan dengan nada sok suci, sambil menepuk-nepuk pundak Oom Burhan yang berkeringat.

Oom Burhan hanya mendengus nafas kesal.

Dengan cepat lelaki botak itu meraih kemejanya yang tercecer di lantai dan bergegas meninggalkan apartemen tanpa satu patah kata pun.

Begitu pintu tertutup, meninggalkan keheningan yang sejenak menyergap, suasana berubah drastis.

“YES!” teriak Kiara, melompat dari tempat tidur. Air mata palsunya sudah mengering, digantikan sorot kemenangan di matanya yang indah. Dia menerjang Revan dan memeluknya erat erat. “Kita berhasil, Sayang! Seratus juta! Wow! Kita berhasil memeras si tua itu dengan mudahnya!” seru gadis itu sambil melompat lompat memeluk tubuh Revan yang tinggi.

Revan menanggapi pelukan itu dengan tawa lepas, memutar-mutar tubuh Kiara yang ringan. “Gampang banget, yank! Dia kayak ikan yang lapar. Umpan kamu yang manis ini langsung disambar! Hahha...”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, berputar-putar di tengah kemewahan apartemen sewaan jam jaman itu.

Uang seratus juta yang baru saja masuk ke rekening mereka terasa seperti kemenangan mutlak. Bagi Kiara dan Revan, ini adalah puncak dari pertunjukan yang mereka sutradarai dengan sempurna.

“Aku yang pura-pura nangis di kasur sambil megang bantal tadi, acting-ku oke kan?” canda Kiara sambil melepaskan pelukan, matanya berbinar.

“Oke banget! Aku aja hampir percaya, akting kamu... sempurna, Sayang...” sahut Revan, mencubit pipi Kiara yang merah merona. “Dan dia, si Oom Botak itu, wajahnya pas aku dobrak pintu... priceless! Langsung putih kayak kena sapu ijuk.”

Mereka tertawa lagi, berbagi kegembiraan layaknya balita yang mendapat mainan baru.

Revan kemudian mengambil sebotol sampanye yang sudah mereka siapkan sebelumnya dari lemari pendingin. Dengan bunyi letusan yang memecah kesunyian, busa sampanye menyembur.

BRUSHHH!

“Untuk keberhasilan kita, Sayang!” seru Revan, menuangkan sampanye ke dua gelas kristal. “Untuk partnership terbaik! Untuk pasangan scammer terkece di Jakarta!”

“Untuk kemenangan kita!” sambut Kiara, menyambut gelas yang diberikan. Mereka bersulang, meneguk minuman mahal itu dengan puas. Cairan dingin dan menggigit itu seolah membasuh segala ketegangan yang baru saja mereka lalui.

Setelah tegukan pertama, Kiara meletakkan gelasnya. “Coba lihat, transferannya beneran masuk kan?” pinta Kiara, masih tidak percaya.

Revan mengangguk, membuka aplikasi mobile banking di ponselnya. Dia menyeringai lebar sebelum menunjukkan layarnya pada Kiara. “Lihat. Saldo bertambah. Satu- nol- nol- diikuti enam angka nol yang cantik. Semuanya clear.”

“WOW! AMAZING!” desis Kiara, matanya berbinar melihat deretan angka itu. “Ini lebih dari cukup untuk biaya hidup kita sebulan ke depan, plus beli tas baru yang udah aku incar itu.”

“Dan upgrade jam tanganku,” tambah Revan sambil mengangkat pergelangan tangannya yang masih kosong. “Sudah waktunya pakai yang lebih premium, biar makin meyakinkan jadi ‘pengusaha muda’.”

Mereka kemudian duduk di sofa mewah, menghitung rencana. Uang seratus juta itu dengan cepat mereka bagi untuk berbagai keperluan: sewa apartemen mereka yang nyata, cicilan mobil sport Revan, belanja pakaian merek ternama, dan tentu saja, modal untuk operasi scam berikutnya. Hidup mereka adalah siklus yang berputar di sekitar uang hasil tipu daya. Dan mereka menikmatinya.

“Target berikutnya, kita udah punya belum?” tanya Kiara, menyandarkan kepalanya di bahu Revan.

“Masih dalam proses, Sayang. Ada beberapa kandidat. Tapi kayaknya kita perlu jeda sebentar untuk menikmati hasil ini dulu,” jawab Revan sambil menelusuri rambut Kiara.

“Setuju. Malam ini kita rayakan. Dinner di restoran bintang lima? Aku mau makan wagyu,” pinta Kiara dengan manja.

“Oke, terserah kamu. Tapi sebelum itu...” Revan berhenti membelai, matanya menatap Kiara dengan intens yang berbeda. Sorot kemenangan tadi berubah menjadi api hasrat. Suasana riang mereka berubah menjadi lebih intim, lebih hangat.

Kiara memahami tatapan itu. Senyum kecil mengembang di bibirnya. “Kamu lagi-lagi ‘tersulut’ setelah beraksi, ya?”

“Hmm... Selalu. Melihat kamu beraksi jadi perempuan penggoda, itu... bikin aku gemes

gregetan,” gumam Revan, suaranya rendah dan serak.

Dia menarik tubuh Kiara ke dalam pelukannya. Nafas mereka berbaur. Bau parfum mahal Kiara dan keringat Revan setelah beraksi menciptakan aroma yang khas, aroma kesuksesan dan panasnya cinta mereka.

Tanpa banyak kata, Revan menurunkan tubuh Kiara ke permadani mewah di lantai. Sinar matahari senja menerobos jendela, menyinari tubuh mereka yang mulai terlihat raba. Ciuman pertama mereka hari ini terasa berbeda, jauh lebih liar, lebih dalam, penuh dengan pelepasan adrenalin yang tertahan.

“Kamu tadi... berani banget tarik dia sampai jatuh,” bisik Kiara di sela-sela ciuman, tangannya membuka kancing baju Revan, menampilkan tonjolan otot dada Revan yang kencang sempurna hasil dari latihan gymnya.

“Dia berani sentuh kamu. Aku jadi emosi beneran, sedikit,” jawab Revan, dari nadanya terdengar ada kecemburuan yang nyata. Kiara  diam saja saat tangan Revan menyingkirkan gaun tanpa lengan milknya, memperlihatkan bahu putih mulusnya yang baru saja dipegang Oom Burhan.

“Beneran?” tanya Kiara, mendongak.

Revan menghela nafas, menatap mata Kiara dalam dalam. Mata tajam dengan sorot mata teduh itu membuat jantung Kiara berpacu cepat.

“Hu'um... meski Sedikit. Tahu kan, meski ini cuma acting, tapi lihat dia hampir... ya, itu... tetep aja sebel.”

Pengakuan jujur itu membuat hati Kiara berdesir. Di balik semua sandiwara dan tipu muslihat, ada benang merah kecemburuan dan posesif yang nyata antara mereka. Itu yang membuat partnership ini tidak hanya tentang uang, tetapi juga tentang ikatan emosional yang kuat, meski sedikit dysfungsional.

Mereka pun tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Di atas permadani mewah, di antara puing-puing pesta kemenangan mereka, dua sejoli itu bersatu. Tubuh mereka saling meraba, menggenggam, seolah ingin meyakinkan satu sama lain bahwa di tengah kehidupan penuh kepalsuan ini, cinta mereka—dengan segala kompleksitasnya—adalah satu-satunya hal yang nyata.

Dengan bibirnya, Revan menyusuri lekuk lekuk indah tubuh sang kekasih. Merasakan setiap inchi keindahan Kiara lalu terhenti pada satu titik yang paling vital.

Kiara menjerit. Apalagi saat Revan mengeksplorasi bagian inti itu dengan sangat lembut dan penuh penghayatan.

Lidah Revan menari nari di sana, membuat percikan listrik yang membuat Kiara terkaing kaing seperti anjing minta kawin.

Dan aktivitas inti pun berlanjut.

Jerit kecil kepuasan Kiara dan desahan dalam Revan memenuhi ruangan, menjadi soundtrack bagi hubungan sepasang sejoli yang liar dan luar bisa , lahir dari sebuah aksi penipuan yang sukses.

Setelah badai gairah mereda, mereka berbaring berdampingan, masih di atas permadani. Napas mereka berdua terengah-engah. Revan memandang langit-langit apartemen, sementara jari-jarinya terhubung dengan jari Kiara.

“Kita memang tim yang sempurna, Ki,” gumam Revan. “Dari dulu, dari kita memutuskan melakukan ini, belum pernah gagal.”

“Karena kita saling melengkapi,” balas Kiara, memiringkan badannya untuk menatap Revan. “Kamu yang otak dan keberaniannya, aku yang bagian merayu dan acting-ku. Kombinasi mematikan.”

“Iya. Kombinasi mematikan,” ulang Revan sambil tersenyum.

Dia teringat bagaimana mereka memulai semua ini. Dulu, mereka hanya dua orang biasa yang putus kuliah karena tidak ada biaya, bekerja serabutan dan terlilit hutang. Hingga suatu hari, mereka menyadari pesona fisik mereka adalah aset. Mereka mulai dari hal kecil, memanfaatkan orang-orang yang mudah tergoda, dan skema mereka semakin berani seiring waktu. Cinta mereka, yang awalnya murni, kini terjalin erat dengan nafsu akan kekayaan dan kehidupan mewah.

“Kadang... aku berpikir, sampai kapan kita akan seperti ini?” tanya Kiara tiba-tiba, suaranya pelan.

Revan menoleh, menatapnya. “Kenapa? Kamu capek?”

“Bukan capek. Tapi... apa kita akan selamanya hidup di dalam kebohongan? Menipu orang, lalu pura-pura marah dan cemburu seperti tadi? Apa nggak ada saatnya kita pensiun, nikmati uang yang sudah kita kumpulkan dan hidup normal?”

Revan terdiam sejenak. Pertanyaan itu sering terlintas, tapi selalu dia tepis. “Kita akan pensiun, Ki. Percaya sama aku. Tapi bukan sekarang. Kita masih muda, masih tampan dan cantik. Ini masa kita mengumpulkan modal. Nanti, ketika sudah cukup dan kita bosan, kita akan berhenti. Buka usaha, nikah, punya anak, hidup tenang.”

Janji itu seperti mantra yang selalu diucapkan Revan. Kiara ingin mempercayainya. Tapi di sudut hatinya, ada keraguan kecil. Apakah mereka benar-benar bisa keluar dari dunia ini? Atau justru dunia ini yang akan menelan mereka suatu saat nanti?

Dia mendekatkan kepalanya ke dada Revan, mendengar detak jantungnya yang masih kencang. “Aku percaya kamu, Van. Selalu.”

Mereka kemudian mandi bersama, membasuh sisa-sisa percintaan dan rencana jahat mereka selanjutnya.

Setelah mengenakan pakaian yang elegan—Revan dengan kemeja linen putih dan celana chino, Kiara dengan dress hitam little—mereka bersiap untuk merayakan kemenangan.

Saat Revan merapikan penampilannya di cermin, matanya tertuju pada pantulan Kiara di belakangnya. Cantik, cerdas, dan tangguh. Dia tersenyum. Dia bersyukur memiliki perempuan seperti Kiara di sisinya.

“Ayo, Sayang. Wagyu-mu menanti,” ucap Revan, menawarkan tangannya.

Kiara menyambutnya, senyum manis kembali menghias bibirnya, melupakan sejenak keraguan tadi. Malam ini adalah malam untuk bersenang-senang.

Saat mereka berjalan meninggalkan apartemen sewaan, hand in hand, mereka adalah pasangan muda yang tampan dan cantik, terlihat sempurna dari luar. Tak seorang pun yang menyangka bahwa di balik senyuman dan tawa mereka, tersembunyi rahasia gelap tentang bagaimana mereka membiayai kehidupan mewah yang mereka pamerkan.

(BERSAMBUNG)