Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Tiga hari. Itu waktu yang dihabiskan Revan untuk menyelami kehidupan Miranda seperti seorang Detektif yang mempelajari subjeknya.

Miranda bukan lagi nama samar atau foto di layar ponsel. Dia adalah seorang perempuan dengan rutinitas, kebiasaan, dan kehidupan yang nyata.

Dari balik kaca mobil rental yang disewanya, Revan mengamati aktivitas Miranda meninggalkan rumahnya yang besar, bergaya minimalis dengan halaman luas yang tertata rapi, setiap pagi pukul tujuh tepat.

Tante Miranda adalah sosok wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai.

Meski sudah tak berusia muda, namun wajah cantiknya tetap terawat dengan kulit wajah mulus, pinggang ramping, bagian bemper belakang besar meliuk indah juga bagian dadanya yang cukup membuat Revan menelan ludah.

Tante Miranda bukanlah tipe Tante Tante yang biasa Revan jebak dan perdaya. Tampilan visualnya benar benar membuat kaum Adam pasti akan berfantasi tentang keindahan ragawinya.

Ternyata keindahan tubuh Tante Miranda tidaklah  diperoleh secara cuma cuma dengan hanya rebahan semata. Tapi wanita itu  mendapatkannya dengan cara perawatan dan rutin berolahraga di pusat kebugaran.

Setiap Pukul empat sore, Miranda akan berangkat ke pusat kebugaran "Elite SportFit" dengan mengenakan tas olahraga dari brand ternama. Dan pukul enam kurang sepuluh, dia akan pulang. Sebuah rutinitas teratur yang dilakukan demi menjaga kesehatan dan kebugaran bentuk tubuhnya.

Revan juga menyadari... Setiap pulang bekerja Miranda tidak langsung masuk rumah. Seringkali, perempuan itu memeriksa sebuah bangunan dua lantai persis di sebelah rumahnya. Sebuah papan kecil bertuliskan "Kost BUNDA MIRANDA-" menggantung di pagar.

Revan sempat  iseng bertanya pada penjual bubur ayam yang mangkal di seberang kost kostan, Revan tahu Miranda menjalankan bisnis kost-kostan untuk mahasiswa - mahasiswi sebagai sampingan.

"Ibu Miranda tegas sih, tapi baik. Kostnya juga bersih dan harganya fair," kata salah satu penghuni kost, saat Revan berpura pura menanyakan harga dan lingkungan di kost kostan itu.

***

Hari Sabtu pun tiba. Matahari mulai condong ke barat, menebar cahaya keemasan.

Setelah menjemput  Tiyas di sekolah, Revan standby di posisinya dalam mobil rental yang diparkir di seberang "Elite sportFit", menunggu Miranda keluar dari pusat kebugaran.

Kali ini, wanita itu mengenakan celana legging hitam ketat dan hoodie abu-abu, rambutnya diikat kuda tinggi. Pipinya kemerahan, berkeringat dan ada aura segar yang memancar darinya. Revan merasa dadanya sesak untuk sesaat. Lelaki itu mencoba mengusir perasaan itu.

Dia mengirim pesan singkat. "Target keluar. Siap di posisi." Lalu, dia menyalakan mesin motornya, Kawasaki Ninja hijau yang sengaja dia sewa untuk menambah kesan "pemberani" dan "cool".

Miranda masuk ke mobil Honda CR-V putihnya dan melaju keluar dari parkiran pusat kebugaran.

Revan mengikutinya dari jarak yang aman, jantungnya berdebar tidak karuan. Ini berbeda dari aksi-aksinya yang lain. Kali ini, semuanya terasa lebih personal, lebih... Menantang!

Mobil Tante Miranda memasuki  jalanan sepi, sebuah rute alternatif menuju rumahnya yang biasanya sepi di akhir pekan untuk menghindari kemacetan.

Dua pria berkaus hoodie hitam memakai helm —yang merupakan "preman bayaran" hasil rekrutan Stevy—sudah menunggu di tikungan dengan sebuah motor butut.

Sesuai skenario, saat mobil Miranda melintas pelan, mereka menyusul dan menempatkan motornya di samping mobil Miranda.

Brak!

Salah satu preman memukul kaca samping mobil Miranda dengan gagang pistol mainan yang terlihat sangat nyata. Miranda menjerit kaget, wajahnya langsung pucat. Mobilnya oleng sebentar sebelum dia berhasil mengendalikannya dan terpaksa menghentikan kendaraannya di pinggir jalan yang sepi.

"Keluar! Cepat!" teriak salah satu preman, seraya menodongkan pistol mainan itu ke arah kaca depan.

Dari kejauhan, Revan mengamati adegan itu dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah menyergapnya, melihat ketakutan nyata di wajah Miranda. Tapi dia sudah tidak bisa mundur. Dia menarik napas dalam dan memacu motornya.

Miranda, dengan tangan gemetar, membuka kaca mobilnya sebagian. "Tolong... jangan lukai saya. Ambil saja apa yang kalian mau."

"Serahkan Tas dan hp! Cepat!" geram preman yang menodongkan pistol.

Saat Miranda mengulurkan tasnya, suara mesin motor yang menderu mendekat. Revan mengerem dengan dramatis, mengunci ban belakang motornya hingga menghasilkan suara mencuit yang memecah ketegangan.

"Hei! Apa yang kalian lakukan!?" teriak Revan, melompat dari motornya dengan wajah garang bak super Hero di sinetron ikan terbang.

"Ini bukan urusan loe, Bang! Minggir! Jangan ikut campur urusan kami!" hardik preman sambil menodongkan pistol ke arah Revan.

"Perampok sialan!!" berang Revan, sambil menerjang dengan gerakan cepat.

Perkelahian pun tak terhindari. Itu adalah koreografi yang sudah direncanakan, tapi Revan memastikan untuk membuatnya terlihat nyata. Dia menghindari pukulan, membalas dengan jab-jab yang keras ke perut dan dagu kedua preman itu. Tubuh atletisnya dan sedikit pelatihan bela diri yang pernah dia ikuti membuatnya mampu memainkan peran ini dengan sangat baik.

Tiba-tiba, salah satu preman—yang mungkin terlalu masuk peran atau ingin mendapat bayaran extra—mengeluarkan pisau lipat kecil dan menyabetnya ke arah Revan. Revan berhasil menghindari sabetan yang mematikan itu, tapi pisau itu menggores lengan kirinya, menyayat kulit dan mengeluarkan darah.

CRASHH!

"AAH!" erang Revan, lebih karena kaget daripada kesakitan yang sebenarnya. Darah yang mengucur deras dari lukanya membuat adegan itu menjadi sangat nyata.

Revan pun mengamuk secara dramatis, melancarkan serangan bertubi tubi hingga dia mampu membuat kedua preman itu 'jatuh dan bertekuk lutut'.

Merasa 'tal berdaya' kedua preman itu, sesuai skenario, segera kabur sambil melontarkan ancaman  "Awas lo ya!" teriak salah satu dari mereka, sebelum keduanya berdua melompat ke jok motor dan kabur dengan cepat, meninggalkan pistol mainan yang tergeletak di aspal.

Revan memegangi lukanya, menekannya dengan tangan kanannya. Darah masih mengucur di antara jari-jarinya. Dia berpura-pura terhuyung-huyung.

Miranda, yang tadi menyaksikan 'perkelahian heroik' itu dengan jantung berdebar kencang, segera keluar dari mobilnya. Wajahnya masih pucat, tapi naluri keibuan dan kepemimpinannya mengambil alih.

"Mas! Kamu enggak apa apa? Darah?  Ya Tuhan, kamu terluka!" serunya, berlari menghampiri Revan.

"Saya... saya baik-baik saja kok, Bu..." kata Revan, berpura-pula sesak napas. "Mereka... mereka sudah pergi..."

"Iya, mereka kabur. Tapi Kamu berdarah, Mas... Lukanya cukup dalam!" Miranda melihat darah yang terus menetes dari lengan Revan. Matanya penuh kepanikan dan rasa bersalah. "Ini semua salah saya. Ayo Cepat, kita harus ke rumah sakit!"

"Tidak usah repot-repot, Bu. Luka kecil," bantah Revan, mencoba terlihat gagah.

"Jangan bicara begitu! Itu berdarah banyak! Ini bisa infeksi. Bahkan mas bisa pingsan kalau enggak segera ditangani! Saya tidak akan bisa memaafkan diri sendiri jika tidak menolong Mas!" desis Miranda dengan suara tegas yang tidak bisa ditolak. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sehelai scarf sutra berwarna krem. "Ini, tekan lukanya dengan ini. Saya bawa Mas ke rumah sakit terdekat."

Tanpa banyak protes lagi—karena itulah tujuannya—Revan mengangguk. Dia membiarkan Miranda membantunya masuk ke kursi disamping kemudi mobil CR-V yang mewah dan bersih. Aroma mobil itu harum, seperti vanila dan buku baru, sangat kontras dengan dunianya. Sementara Miranda bicara sebentar dengan pemilik warung kelontong, untuk menitipkan motor pria itu sementara waktu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel