Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

"Gue butuh kepastian, Stev," kata Revan tiba-tiba, suaranya tegas. "Lo yakin banget dia yang ngemborin papa lo? Bukan orang lain? Bisa aja dia cuma kambing hitam."

"Yakin banget!" Stevy mendesak. "Papa  sendiri yang bilang sebelum divonis. Semua dokumen rahasia cuma dia dan si Miranda ini yang pegang. Siapa lagi yang bisa kasih tau ke KPK? Pasti dia cepunya! Dia cari muka biar dapet promosi jadi kepala sekolah! Dan itu berhasil, kan? Sekarang dia jadi kepala sekolah!"

Logika itu terdengar masuk akal, meski dibungkus kebencian.

Revan menarik napas dalam dalam. Pikirannya berpacu. Uang dua ratus juta. Kemandirian finansial untuk Tiyas. Tapi di sisi lain, bayangan kepala sekolah yang tegas dan adil, yang membela adiknya tanpa pandang bulu, tak bisa diusir.

"Oke. Gue ambil," ucap Revan akhirnya. Suaranya lirih, tapi penuh keputusan.

"Revan!" sentak Kiara, matanya membelalak. "Are you serious?"

"Gue serius," jawab Revan, menatap Kiara. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri sebanyak meyakinkan kekasihnya. "Kita ada di bisnis ini, Ki. Terkadang kita harus melakukan hal-hal yang... tidak menyenangkan. Tapi ingat, ini untuk masa depan kita. Untuk adik aku. Dan Stevy benar, orang ini sudah menghancurkan sebuah keluarga. Ini pembalasan yang setimpal."

"Tapi—"

"Tidak ada 'tapi', Kiara, please..." potong Revan, suaranya lebih keras. "Ini keputusanku. Aku yang akan menjalankan misi ini."

Stevy mengeluarkan senyum kemenangan yang lebar. "Nah, gitu dong! Bener kata Revan. Ini bisnis dan balas dendam. Win-win solution." Dia mengulurkan tangannya. "Deal?"

Revan memandangi tangan itu sejenak, seolah itu adalah ular yang siap menggigit. Lalu, dengan gerakan mantap, dia menjabatnya. "Deal."

"Oke! Gue transfer DP seratus juta besok ke rekening lo. Sisanya, seratus juta, setelah video siap jadi dan gue terima. Deal?" tanya Stevy sekali lagi untuk memastikan.

"Deal," ulang Revan, melepaskan jabat tangan.

"Perfect!" Stevy berdiri, mengambil tas mahalnya. "Gue tunggu kabar baik dari kalian. Jangan sampai mengecewakan gue ya."

Stevy pamit sambil melambaikan tangan lalu pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Kiara dan Revan dalam keheningan yang berat.

Begitu Stevy hilang dari pandangan, Kiara langsung menghadapkan seluruh tubuhnya ke Revan. Wajahnya memerah.

"Apa yang ada di pikiranmu, Revan?!" desisnya, berusaha menahan amarah. "Kamu tahu ini salah! Ini berbeda dari yang kita lakukan selama ini!? Resikonya terlalu besar!"

"Salah? Apa definisi salah kita, Ki?" balas Revan dengan dingin. "Menipu Oom Burhan kemarin itu benar?  Memeras Tante Mia, si istri pejabat, juga memeras Oom Agus si petinggi partai Itu juga salah. Kita sudah menjebak, mengancam, lalu kita peras. Apa bedanya?"

"Beda! Oom Burhan itu memang bermaksud jahat padaku! Dia mau selingkuh! Dia salah! Kalau Miranda ini... kita bahkan tidak tahu pasti kesalahannya. Hanya berdasarkan kata-kata Stevy yang penuh kebencian!"

"Stevy sahabatmu, Ki. Kau harus percaya padanya."

"Sahabat atau bukan, kita harus punya prinsip! Kita penipu, ya. Tapi kita bukan monster yang merusak hidup orang tanpa alasan yang jelas!"

"Alasannya jelas! Balas dendam!" Revan mengepalkan meja, membuat gelas mereka bergetar. "Dan dua ratus juta, Kiara! Coba pikir! Dengan uang itu, kita bisa berhenti sebentar. Kita bisa cari kerjaan yang halal. Atau setidaknya, kita bisa memastikan Tiyas tidak kekurangan apapun sampai dia lulus SMA dan masuk kuliah. Kamu mau lihat Tiyas nggak bisa kuliah karena kita terlalu 'berprinsip'?"

Kiara terdiam. Dia tahu betapa Tiyas adalah titik lemah Revan. Dia menarik napas dalam dalam, mencoba menenangkan diri. "Aku paham, Van. Aku benar-benar paham. Tapi ada sesuatu yang mengganjalmu. Aku lihat itu di matamu. Sejak Stevy menyebut nama 'Miranda' dan 'kepala sekolah SMP 94 Persada', kamu berubah. Kenapa?"

Revan menghela napas panjang, menyerah. Dia tidak bisa menyembunyikannya dari Kiara. "Karena... Aku rasa itu kepala sekolahnya Tiyas."

Mata Kiara membelalak. "WHAT? Kamu yakin?"

"Deskripsinya cocok. Tiyas bilang nama kepala sekolahnya adalah Miranda. Dia tegas, adil, dan tidak pilih kasih. Bahkan dia menghukum putrinya sendiri karena membully Tiyas. Dan namanya Miranda."

"Astaga..." Kiara membenamkan wajahnya di tangannya. "Jadi... kita akan menghancurkan perempuan yang melindungi adikmu? Perempuan yang menjadi satu-satunya orang yang membela Tiyas di sekolahnya?"

"Kita tidak tahu pasti itu orang yang sama," bantah Revan, tapi suaranya lemah.

"Dan kalau iya? Apa kamu akan tetap melakukannya? Mempermalukan perempuan yang menjadi pelindung bagi Tiyas? Bayangkan jika Tiyas tahu? Dia akan hancur, Revan! Dia sangat mengidolakan kakaknya! Dia percaya kamu adalah pahlawannya!"

"JANGAN BAWA-BAWA TIYAS!" geram Revan tiba-tiba, membuat beberapa orang menoleh. Revan kembali menurunkan suaranya, berbisik dengan getir. "Ini bukan tentang Tiyas. Ini tentang kita. Tentang masa depan kita. Dan... dan kita sudah menyetujui perjanjian. DP seratus juta akan ditransfer besok. Kita tidak bisa mundur sekarang."

"Kita bisa! Katakan saja pada Stevy kita tidak bisa melakukannya!"

"Dan lalu apa? Stevy akan marah besar. Dia tahu terlalu banyak tentang kita, Ki! Dia bisa mengancam kita, melaporkan kita ke polisi untuk penipuan-penipuan kita sebelumnya. Apa kita siap menghadapi itu?"

Kiara terdiam, ketakutan. Revan benar. Stevy adalah satu-satunya orang di luar mereka yang tahu detail pekerjaan mereka sebagai scam love. Itu adalah pedang bermata dua.

"Jadi... kita terperangkap?" bisik Kiara, suaranya lirih.

Revan mengangguk, wajahnya pucat. "Kita harus menjalankan ini. Apapun yang terjadi." Dia berdiri, melempar selembar uang lima puluh ribu ke meja untuk kopi mereka. "Ayo pulang."

Perjalanan pulang ke apartemen mereka diliputi kebisuan yang memekakkan.

Malam itu, saat Kiara sudah tertidur, Revan duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ponselnya ada di tangannya. Dengan jari yang gemetar, dia mengetik di mesin pencari: "Kepala Sekolah SMPN 94 Persada".

Hasilnya muncul hampir seketika. Sebuah foto resmi terpampang di layar. Perempuan itu mengenakan tunik biru tua, berkacamata, dengan senyum lembut namun penuh wibawa. Matanya terlihat bijaksana. Di bawah fotonya, tertulis dengan jelas: Miranda, S.Pd., M.M. - Kepala Sekolah SMPN 94 Persada.

Tidak ada keraguan lagi. Ini adalah perempuan yang sama. Perempuan yang menghukum putrinya sendiri untuk membela Tiyas. Perempuan yang kata Tiyas, "sangat adil".

Revan menatap foto itu lama. Dia mencoba mencari keburukan di balik senyum itu, kecongkakan di balik kacamata itu, seperti yang digambarkan Stevy. Tapi yang dia lihat hanyalah seorang perempuan kuat, seorang pemimpin, dan seorang ibu yang berusaha melakukan yang terbaik.

Konflik batinnya mencapai puncak. Di satu sisi, uang dua ratus juta dan ancaman dari Stevy. Di sisi lain, rasa bersalah yang mendalam pada adiknya dan sebuah rasa hormat yang tak disengaja pada targetnya.

Dia memejamkan mata, mencoba mengingat kembali kata-kata Tiyas. "Kepala sekolah yang sangat adil dan tak pilih kasih."

Lalu dia mengingat kata-kata Stevy. "Dia penghianat! Dia hancurkan hidup keluarga gue!"

Siapa yang benar? Siapa yang salah?

Sesaat  Revan menghela napas panjang, mematikan ponselnya.

Di dalam kegelapan, dia membuat keputusannya. Dia harus melanjutkan rencana ini. Tidak ada jalan mundur. Tapi sebuah tekad baru lahir dalam hatinya. Dia akan mendekati Miranda. Dia akan mempelajarinya. Dan jika dia menemukan bahwa Miranda memang perempuan baik seperti yang dilihat Tiyas... mungkin, hanya mungkin, dia akan mencari cara lain.

Tapi untuk sekarang, dia harus memainkan perannya. Peran sebagai penipu ulung yang akan menjatuhkan seorang perempuan bernama Tante Miranda.....

(Bersambung)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel