Bab 4
"Mama ngapain sih belain Tiyas!? Mama sengaja mau bikin malu Chika di depan semua murid SMP 94 PERSADA!? Mama jahattt!!" pekik Chika dengan suara melengking. Dia ngamuk ngamuk sambil melemparkan tas sekolahnya ke lantai.
Miranda yang juga baru pulang sekolah bersama putrinya hanya bisa menarik nafas dalam dalam.
"Mama tegaskan sekali lagi sama kamu ya, Chika! Mama adalah kepala sekolah! Mama enggak bisa membiarkan bullying dan kekerasan merusak citra sekolah kita! Kamu mau, video kamu membully siswi lain viral? Nama baik sekolah kita tercemar lalu mama juga kena imbas dari perbuatan-perbuatan yang kamu lakukan!? Kamu mau menghancurkan karier dan reputasi mama yang sudah mama bangun susah payah!? Iya!?" omel Miranda panjang lebar dengan nada meninggi, membuat Chika seketika terdiam.
"Chika please..." Miranda menatap lurus ke arah putrinya dengan tatapan memohon. "Semua mama lakukan demi kamu. Mama sudah janji sama mendiang papa kamu, untuk mendidik dan membesarkan kamu supaya kamu tumbuh menjadi manusia yang baik. Mama... Bahkan mama rela enggak mencari pengganti papa kamu, karena mama ingin fokus mendidik kamu!"
Chika diam saja. Wajahnya masih cemberut. Dia masih membayangkan esok hari saat dia dan Livia menjalani hukuman dengan membersihkan toilet... Pasti seluruh siswa siswi SMP 94 PERSADA akan mentertawakan dirinya dan itu akan membuatnya kehilangan muka.
"Pokoknya Chika enggak mau sekolah kalau Chika harus dihukum ngebersihin toilet!" rungut Chika. Dia berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu keras keras.
Miranda hanya bisa menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Dia merasa dilema. Di sisi lain, dia adalah seorang kepala sekolah yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai, disiplin dan aturan di sekolah supaya tak ada kesenjangan. Di sisi lain, dirinya adalah seorang ibu. Single parent yang berjuang membesarkan Chika seorang diri tanpa kehadiran seorang suami.
Suaminya– Irwansyah meninggal akibat kanker hati lima tahun yang lalu.
Sejak itulah Miranda harus berjuang sendiri. Awalnya dia adalah seorang guru, di SMPN 94 PERSADA. Namun karena kepala sekolah yang lama terjerat kasus korupsi pengadaan Laptop untuk para siswa dan posisi kosong, dan kebetulan Miranda adalah kandidat yang paling layak. Diapun di dapuk menjadi kepala sekolah.
Tiga tahun berjalan dibawah kepemimpinannya, SMPN 94 PERSADA semakin hari semakin bertambah maju. Banyak siswa siswi yang berprestasi dan lulus dengan nilai ujian yang terbaik dan bisa masuk ke SMA favorit.
Namun di balik itu semua, kadang Miranda merasakan kesepian. Sebagai seorang wanita normal, Miranda juga kadang mendambakan belaian seorang lelaki.
****
Suasana riang di lounge mall yang sebelumnya dipenuhi canda Kiara dan Revan seketika menghilang, digantikan oleh sebuah ketegangan yang hampir teraba.
Stevy, sahabat kiara yang sudah tahu sepak terjang pasangan Revan dan Kiara sebagai scam love, tiba tiba menelepon dan mengajak bertemu dengan membawa project senilai uang dua ratus juta rupiah!!
"GUE MAU LO HANCURKAN DIA, REVAN!" ulang Stevy, menekankan setiap katanya. "Rekam dia tanpa busana. Sebarkan aibnya. Hancurkan reputasinya."
Revan terdiam, menatap kosong ke arah gelas kopinya yang hampir habis.
Dua ratus juta. Angka itu bergaung di kepalanya, mengisi setiap ruang kosong dan menenggelamkan suara hati kecil yang tiba-tiba berbisik.
Kiara adalah yang pertama memecahkan kebisuan. "Stevy, tapi rencana ini... Sedikit gila." Suaranya bergetar, campur antara kaget dan tidak setuju. "Kita biasa nipu seorang suami atau istri yang emang lagi nyari selingkuhan. Mereka enggak ada pilihan kecuali menuruti permintaan kita. Tapi ini... kita yang nyari-nyari masalah! Itu namanya jahat banget!"
"Jahat?" Stevy menyeringai, wajahnya berubah masam. "Dia yang lebih jahat, Ki! Lo pikir dia itu malaikat? Dia sengaja baik baikin papa gue, tapi ternyata dia cepu! bilang mau bantu urusan pengadaan, eh tau-taunya dia mengumpulkan bukti diam diam lalu nusuk papa dari belakang! Dia penghianat! Karena dia, keluarga gue hancur! Mama gue stres, papa di penjara, reputasi keluarga anjlok! Gue cuma mau dia merasakan sedikit dari penderitaan yang dia timbulkan! Dulu gue memang gak bisa berbuat apa apa karena gue masih SMA. sekarang gue Udha bisa cari duit sendiri. Gue bakal balas semua perbuatan dia, Kiy!"
Tapi Kiara masih tidak yakin. Dia memandang Revan, mencari sekilas keraguan di mata kekasihnya. "Van, bilang sesuatu. Ini keterlaluan."
Revan akhirnya mengangkat kepalanya. Godaan uang itu terlalu besar, tapi ada sesuatu yang mengganjal, sebuah detail yang membuatnya tidak bisa serta merta menyetujui.
"Lo bilang namanya Miranda. Dan dia kepala sekolah SMP 94 Persada?" tanya Revan, suaranya datar, berusaha menyembunyikan gejolak dalam hatinya.
"Iya, bener banget," jawab Stevy dengan cepat. "Kenapa? Lo kenal?"
"Enggak," sangkal Revan, mungkin terlalu cepat. Dia menghindari tatapan Kiara. "Cuma... penasaran aja. Umurnya berapa? Penampilannya gimana? Target harus jelas."
Stevy menghela napas, seolah kesal dengan semua pertanyaan. "Umurnya mungkin awal 35 sampe 37-an. Dia Masih cantik, mau lo akui atau enggak tubuhnya terawat. Sok elegan, pake kacamata, keliatan banget sok intelek dan berwibawa. Tipe perempuan yang merasa paling benar sendiri. Yang paling penting Dia janda kaya!" Stevy mendecak meremehkan. "Pokoknya, lo pasti bisa kok, Van. Lo kan ahli dalam menaklukkan tante-tante kesepian seperti dia!?"
Deskripsi itu seperti pukulan telak bagi Revan. Setiap kata yang diucapkan Stevy semakin mengukuhkan kecurigaannya. Dunia ini tidak mungkin sekecil itu.
Kiara, yang memperhatikan perubahan halus pada raut wajah Revan, mencoba lagi. "Stev, apa nggak ada cara lain? Uang dua ratus juta memang menggiurkan, tapi... video intim? Itu menghancurkan hidup seseorang secara permanen."
"Dan dia sudah menghancurkan hidup keluarga gue secara permanen, Kiara! So I don't motha f*ckin' care with her!" balas Stevy dengan nada tinggi, menarik perhatian beberapa pengunjung lain. Dia menurunkan suaranya, berbisik penuh amarah. "Dia pikir dia bisa hidup tenang setelah ngerusak segalanya? Nggak mungkin! Gue nggak akan biarin dia bahagia. Dia harus jatuh, lebih dalam dari papaku."
Dia menatap Revan memohon, tapi lebih mirip memerintah. "Dua ratus juta, Van. Cash! Bayangin, lo bisa beli apa aja dengan uang segitu. Lo dan Kiara bisa hidup enak berbulan-bulan tanpa perlu kerja. Atau lo bisa bayarin kuliah adik lo itu sampai selesai."
Sekali lagi, nama Tiyas disebut. Kali ini seperti tamparan. Revan mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Gue butuh kepastian, Stev," kata Revan tiba-tiba, suaranya tegas. "Lo yakin banget dia yang ngemborin papa lo? Bukan orang lain? Bisa aja dia cuma kambing hitam."
"Yakin banget!" Stevy mendesak. "Papa sendiri yang bilang sebelum divonis. Semua dokumen rahasia cuma dia dan si Miranda ini yang pegang. Siapa lagi yang bisa kasih tau ke KPK? Pasti dia cepunya! Dia cari muka biar dapet promosi jadi kepala sekolah! Dan itu berhasil, kan? Sekarang dia jadi kepala sekolah!"
b e r s m b u n g
