Bab 3
"Kalian diskors selama satu minggu. Dan Ibu akan panggil orang tua kalian untuk membahas tindakan lebih lanjut. Pilih mana?"
Chika terdiam. Dia terhukum oleh ibu kandung nya sendiri. Rasa malu dan kemarahan membara di dadanya. Dia ingin membantah, tapi ketegasan di wajah Bu Miranda tak terbantahkan. Ibunya benar-benar tidak sedang bermain-main.
"Bersihkan toilet," jawab Chika akhirnya, suaranya parau dan lemah. Livia hanya bisa mengangguk lesu, tak kuasa berkata-kata.
"Baik. Mulai besok. Sekarang, kalian keluar. Ibu ingin bicara dengan Tiyas."
Setelah Chika dan Livia pergi dengan wajah muram, Bu Miranda mendekati Tiyas yang masih terisak. Perempuan itu meletakkan tangan hangatnya di pundak Tiyas.
"Tiyas, Ibu minta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang terjadi padamu," ucap Bu Miranda, suaranya lembut. "Tidak seharusnya seorang siswa diperlakukan seperti itu di sekolah ini."
Tiyas mengangkat wajahnya, matanya penuh keheranan. Dia tidak menyangka kepala sekolah—yang juga ibu dari pelakunya—akan bersikap begitu adil dan peduli.
"Mulai sekarang," lanjut Bu Miranda, "kalau ada siapapun yang mengganggumu, termasuk Chika dan Livia, kamu langsung bilang ke Ibu. Jangan diam saja. Kamu berhak merasa aman dan dihargai di sekolah ini."
Rasa hangat yang tak terduga menyebar di dada Tiyas. Sudah lama sekali tidak ada figur otoritas yang membelanya seperti ini. Air matanya mengalir lagi, tetapi kali ini adalah air mata kelegaan. "Terima kasih, Bu Miranda. Terima kasih banyak."
"Kembali ke kelas, Nak. Dan nanti sore, Ibu akan panggil tukang cukur untuk merapikan kembali rambutmu."
Tiyas mengangguk, senyum kecil akhirnya muncul di bibirnya. Dia meninggalkan ruangan dengan perasaan jauh lebih ringan.
Berita tentang hukuman yang dijatuhkan Bu Miranda pada putrinya sendiri cepat menyebar. Semua siswa berdecak kagum pada ketegasan dan keadilan kepala sekolah mereka. Bu Miranda dipuji sebagai pemimpin yang tidak pilih kasih.
---
Bel pulang sekolah berbunyi. Tiyas berjalan keluar gerbang dengan hati campur aduk. Meski dibela Bu Miranda, luka di hatinya masih terasa. Dan dia tahu, ada seseorang yang akan langsung membaca ekspresinya.
"Tiyas!"
Suara itu familiar, penuh perhatian. Tiyas menoleh dan melihat kakaknya, Revan, sudah berdiri di seberang jalan, bersandar pada motor sport second-hand yang selalu dibanggakannya. Wajah tampan Revan yang biasanya selalu tersenyum kini berkerut melihat keadaan adiknya.
"Kak," sapa Tiyas, berusaha tersenyum.
Revan langsung mendekat. Matanya, yang tajam dan jeli, langsung menangkap sesuatu yang salah. "Mata kamu merah. Habis nangis?" tanyanya, suara menjadi lebih lembut. Lalu pandangannya turun ke rambut Tiyas. "Dan rambut ini... kenapa? Siapa yang gunting?"
"Gak apa-apa, Kak. Sudah selesai," jawab Tiyas cepat, menunduk.
"Jangan bilang gak apa-apa!" sentak Revan, memegangi pundak Tiyas. "Ada yang nge-bully kamu lagi? bikang sama kakak. Siapa orangnya ?" Nafasnya sudah memburu, emosi mulai memanas. Di balik image-nya sebagai penipu cool, adiknya adalah titik kelemahan terbesarnya.
"Iya, tapi... tapi kepala sekolah sudah menghukum mereka. Mereka harus bersihkan toilet seminggu penuh."
"Bersihkan toilet? Cuma gitu? Mereka potong rambut kamu lho?!" geram Revan. "Kakak harus bicara dengan kepala sekolah ini. Hukumannya terlalu ringan!"
"Jangan, Kak!" Tiyas menarik lengan Revan. "Kakak janji tidak akan ikut campur. Kepala sekolahnya baik dan adil. Bu Miranda. Dia ibu dari Chika. Meski Chika adalah putrinya dia tetap menghukum Chika karena melakukan bullying. Semua siswa hormat sama dia. Aku... aku juga merasa dibela. Tolong, jangan buat keributan."
Mendengar nama "Bu Miranda" disebut, amarah Revan sedikit mereda. Figur seorang kepala sekolah yang tegas dan adil adalah sesuatu yang jarang. Dia menarik napas dalam dalam, berusaha menenangkan diri. Melihat ketakutan di mata adiknya jauh lebih menyakitkan daripada bullying itu sendiri.
"Oke, oke. Kakak percaya kamu," ucap Revan akhirnya, merangkul pundak Tiyas. "Tapi janji, kalau mereka ganggu kamu lagi, kamu harus bilang sama kakak. Jangan dipendam!" Revan memperingatkan.
"Janji," bisik Tiyas, menempelkan kepalanya di bahu kakaknya. Dia merasa aman.
Dalam perjalanan pulang ke rumah sederhana mereka di sebuah gang sempit, Revan diam seribu bahasa. Pikirannya melayang pada masa kecil mereka yang pahit.
Kematian ayahnya yang memalukan, kepergian ibu mereka yang egois, meninggalkan dia yang masih remaja untuk mengasuh Tiyas yang masih kecil. Dia berhenti kuliah, bekerja serabutan, sampai akhirnya menemukan 'jalan pintas' bersama Kiara. Semua demi Tiyas. Demi memastikan adiknya tidak kekurangan, tidak direndahkan seperti dia dulu.
"Sekarang kita ke mall, yuk" ujar Revan tiba-tiba, memecah kesunyian. Dia sengaja ingin menghibur adiknya yang hatinya pasti sedang sedih akibat insiden bullying di sekolah.
"Serius, Kak? Tapi..."
"Tidak ada tapi. Kakak lagi punya rezeki banyak. Kita beli baju baru buat kamu, dan kita rapikan rambut kamu yang jelek ini," ujar Revan, berusaha bersikap riang.
"Ihh! Kakak jahat deh, bilang aku jelek!" Tiyas cemberut sambil mencubit pinggang kakaknya.
"Rambutnya yang jelek, Nonaa... Kalau wajah kamu tentu saja cantik!" Revan membetulkan sambil terkekeh.
Mereka tidak pulang ke rumah terlebih dahulu. Revan langsung membawa Tiyas ke salah satu mall ternama di kota. Melangkah ke dalam gedung mewah ber-AC itu, Tiyas seperti masuk ke dunia lain. Dunia yang kontras dengan kehidupan sebenarnya di rumah petak mereka. Dunia yang dibiayai oleh uang-uang hasil 'proyek' kakaknya.
Revan tidak pelit. Dia membawa Tiyas ke butik-butik remaja dengan merek mahal. "Yang ini bagus," ujarnya, mengambil sebuah dress kuning pastel. "Coba masuk ke fitting room."
"Tapi Kak, harganya... lima ratus ribu!" bisik Tiyas ragu, melihat label harga dengan mata terbelalak.
"Gak usah lihat harga. Kalau suka, ambil aja. Duit kak Revan banyak kok," sahut Revan santai. "Kakak lagi gajian besar, habis lembur berhari-hari di proyek."
Itu adalah kebohongan yang sudah ia lancarkan berkali-kali. "Lembur di proyek" adalah alasan standarnya untuk uang yang tiba-tiba banyak. Tiyas, yang polos dan sangat mempercayai kakaknya, selalu menerimanya.
Setelah membeli tiga setel baju baru dan sepasang sepatu kets bermerek, Revan membawa Tiyas ke salon mewah di dalam mall untuk merapikan rambutnya yang acak-acakan. Hasilnya, meski pendek, rambut Tiyas terlihat rapi dan modern.
"Duh, kamu makin cantik, dek. Cucok markucok deeh" puji sang hairstylist yang merupakan seorang pria presto setengah matang.
Tiyas tersipu, melihat bayangannya di cermin. Dia merasa seperti putri. Semua kesedihan dan kehinaan tadi pagi seolah terhapus oleh kemewahan sesaat ini.
Malamnya, mereka makan malam di restoran keluarga di mall. Sambil menyantap steak yang lembut—makanan mewah bagi mereka—Tiyas memandangi kakaknya. Revan terlihat ganteng dan percaya diri dengan kemeja bersihnya. Tapi ada sesuatu di matanya, sebuah bayangan yang tidak pernah dipahami Tiyas.
"Kak," tanya Tiyas tiba-tiba, suara lunaknya penuh rasa ingin tahu. "Kerjaan kakak di proyek itu ngapain sih, sebenernya? Kok bisa dapet uang sebanyak ini?"
Revan hampir tersedak air mineralnya. Pertanyaan itu seperti pisau yang mengoyak topengnya. Dia menatap mata adiknya yang jernih, penuh dengan kepercayaan. Dunia gelapnya dengan Kiara, sandiwara keji mereka, rekaman ponsel, ancaman, dan air mata korban mereka... semua itu terasa sangat najis di hadapan kepolosan Tiyas.
Dia menarik napas, menyusun kebohongan yang paling meyakinkan. "Ah, biasa. Ngawasin pekerja, hitung-hitung material, urus administrasi. Lemburnya sih bikin capek, dek. Harus begadang, ketemu sama kontraktor yang kadang nakal. Tapi demi kamu, demi biaya sekolah kamu dan masa depan kita, kakak rela."
Dia mengelus kepala Tiyas. "Yang penting kamu happy dan bisa sekolah tenang. Jangan pedulikan mereka yang bully. Yang penting kita punya uang, kita bisa hidup enak. Uang itu segalanya, Tiyas. Dia yang bakal bikin kita dihormati."
Tiyas mengangguk, meski tidak sepenuhnya paham. "Iya, Kak. Terima kasih ya, untuk semuanya. Aku sayang banget sama kak Revan..."
Kalimat itu menusuk jantung Revan lebih dalam dari apa pun. "Aku juga sayang kamu, dek. Jangan sedih lagi, yaa," jawabnya, dengan suara serak.
Revan buru buru menunduk, menyembunyikan rasa bersalah yang tiba-tiba menyergapnya.
Di balik kemewahan steak dan baju baru, di balik senyum bahagia Tiyas, Revan menyadari satu hal: kehidupan ganda yang dijalaninya tidak hanya berisiko pada dirinya, tetapi juga pada adiknya yang sangat ia cintai. Dan suatu hari nanti, ketika Tiyas mengetahui kebenaran, apakah dia masih akan memandang kakaknya dengan mata penuh percaya seperti sekarang? Atau justru pandangan itu akan berubah menjadi rasa kecewa dan jijik yang paling dalam?
(Bersambung)
