Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

"Hari ini Bu Endah, guru bahasa Inggris enggak masuk woyy! Kita bebass!" teriak salah seorang siswa bernama Angga, disambut seruan seruan bahagia siswa siswi lainnya.

Kekacauan pun terjadi. Ada yang langsung live tiktok sambil joget joged. Ada yang mencoba tren make up terbaru. Ada yang pura pura konser di atas meja dengan mic gagang sapu. Ada pula yang kumpul sambil ngegosipin Idol Kpop mereka yang baru pulang Wamil alias wajib militer.

Tapi...  Di tengah kegaduhan kelas 9A SMPN 94 PERSADA, ada juga siswi yang membully siswi lain.

Seorang  siswi berusia lima belas tahun, dengan ekspresi ketakutan duduk sendirian di bangku paling belakang, mencoba menyembunyikan dirinya di balik tumpukan buku. Matanya, yang biasanya berbinar ceria, hari ini sembab dan merah. Dia berusaha keras menahan tangis yang sejak tadi mengganjal di kerongkongannya.

"Heh, anak haram! Enggak usah kecentilan deh elo!? Lu pikir kak Eza mau sama cewek sampah kayak Lo!?" suara nyaring dan penuh ejekan memecah konsentrasinya.

Tiyas tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa pemilik suara itu. Chika dan Livia, dua gadis paling populer—dan paling jahat—di kelas itu, sudah berdiri di depan mejanya sambil melipat kedua tangan. Wajah mereka yang cantik seperti malaikat, tapi hati mereka seperti iblis.

Tiyas menggigit bibirnya.

"Dia lagi latihan buat jadi pelacur kayak mamanya kali, Chik," sahut Livia, sambil menyeringai. Beberapa siswa lain yang mendengar cekikikan, ada yang merasa tidak enak tapi memilih diam.

"Tolong... Aku enggak mau cari gara gara sama kalian. Aku gak cari cari perhatian siapapun kok! Termasuk kak Eza," bisik Tiyas, suaranya hampir tak terdengar.

"Halah banyak BACOD loh!? Buktinya elu hari ini sengaja kan pake kalung dan bandana model terbaru!? Mau cari cari perhatian Lo!? Atau mau belajar ngerusak rumah tangga orang kayak mak lo yang pelakor itu?" hardik Chika, suaranya dikeraskan sehingga seluruh kelas mendengar.

Keriuhan seketika terhenti.

Rasa malu yang membara menyergap Tiyas. Istilah "anak haram", "preman", dan "pelakor" adalah luka lama yang setiap hari diumbar oleh kedua gadis ini. Ayahnya memang meninggal dalam insiden pencurian yang berujung pengeroyokan massa dan ibunya... ibunya pergi meninggalkan mereka demi seorang pria yang sudah berkeluarga. Fakta itu adalah aib terbesarnya.

"Jangan... jangan ngomong gitu," protes Tiyas lemah, air matanya akhirnya menetes.

"Cuih, jangan pura pura lemah Lo!? Dasar cengeng," Livia mendekat dan tiba-tiba menarik bandana polkadot di kepala Tiyas lalu mematahkan menjadi dua sebelum menginjak nya. "Bandana jelek begini sih pantas di injek dan dibuang!"

"Biarin, Liv. Gini aja, kita kasih dia model baru," ujar Chika dengan mata berbinar jahat. Dari tasnya, dia mengeluarkan gunting kecil berwarna pink.

Seketika panik melanda Tiyas. "Jangan! Apa pun, tapi jangan gunting!"

Tapi protesnya sia-sia. Livia mencengkeram lengannya dengan kuat, sementara Chika, dengan senyum kemenangan, mulai menggunting poni dan beberapa helai rambut hitam Tiyas yang biasanya terurai rapi. Gunting itu berderik, dan setiap helai rambut yang jatuh ke lantai terasa seperti potongan harga dirinya.

"Gitu aja udah cantik. Cocok buat keturunan preman dan pelacur," ejek Chika sambil melemparkan guntingan rambut ke wajah Tiyas.

Tiyas hanya bisa menunduk, tubuhnya gemetar, tangisnya tak lagi terbendung. Dia merasa begitu kecil, begitu hina. Di sudut kelas, seorang pemuda bernama Reza mengepalkan tangannya. Wajahnya cemberut melihat ketidakadilan ini. Dia adalah ketua kelas yang pendiam, tetapi hati nuraninya tidak tahan melihat Tiyas diperlakukan seperti sampah.

"Sudah cukup, Chika, Livia!" seru Reza akhirnya, berdiri dari tempat duduknya.

"Sok pahlawan lo, Reza? Mau nolong si anak haram ini?" sindir Livia.

"Gue nggak peduli dia siapa. Yang kalian lakukan ini salah. Dan gue akan laporin ke kepala sekolah!" ancam Reza sebelum berbalik dan melesat keluar kelas, menuju ruang kepala sekolah.

Wajah Chika sempat berkerut khawatir, tapi kemudian dia menyombong. "Silahkan aja lapor! Dia lupa kali ya, siapa kepala sekolah kita? Itu mamaku! Dia pasti belain gue."

Tapi keyakinannya ternyata salah.

Beberapa menit kemudian, Bu Miranda, kepala sekolah mereka, muncul di pintu kelas. Perempuan berusia 37 tahun itu memiliki aura yang memancarkan wibawa dan kecerdasan. Dia mengenakan kacamata bingkai emas yang menempel di hidungnya yang mancung, dan gaun tunik warna lavender yang sederhana namun elegan. Wajahnya masih terlihat cantik dan segar, dengan garis-garis halus di sudut matanya yang justru menambah kesan bijaksana.

Tubuhnya masih indah dengan pinggang ramping dan bagian dada  yang membuat kaum Adam akan berdecak kagum melihat karisma dan kemolekannya.

"Chika, Livia, Tiyas! Ikut Ibu ke ruang Ibu, sekarang," ucap Bu Miranda dengan suara tegas dan penuh otoritas. Tak ada tawar-menawar dalam kalimat itu.

Suasana di ruang kepala sekolah terasa sangat berbeda dari kelas.

Dingin, hening, dan beraroma pewangi ruangan yang harum menenangkan.

Tiga gadis itu berdiri di depan meja kerja Bu Miranda yang besar. Tiyas masih terisak, sementara Chika dan Livia berusaha tampak percaya diri, meski hati mereka berdebar.

"Ada yang mau cerita?" tanya Bu Miranda, matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya, akhirnya tertuju pada putrinya sendiri.

Chika langsung membela diri. "Itu salah dia, Bu! Tiyas yang mulai, dia... dia nyontek pekerjaan rumahku!"

"Bohong!" tukas Tiyas dengan berani, didorong oleh kehadiran Bu Miranda. "Mereka... mereka ganggu aku, sebut-sebut orang tuaku, dan... dan gunting rambut aku!" Dia menunjuk rambutnya yang tak rata dengan tangan gemetar.

Bu Miranda bangkit dari kursinya. Dia mendekati Tiyas, matanya penuh perhatian memeriksa kondisi rambut gadis malang itu. Lalu dia menoleh kepada Chika, dan untuk pertama kalinya, Chika melihat amarah yang tersembunyi di balik tatapan tenang sang bunda.

"Benar, Chika?" tanya Bu Miranda, suaranya rendah namun tajam.

"Bu, dia cari alasan aja..." bantah Livia.

"Diam, Livia! Ibu tanya Chika," potong Bu Miranda tanpa menoleh. Sorot matanya masih menancap ke mata putrinya. "Jawab Ibu."

Chika merasa terkekang. Di bawah tatapan ibunya yang seperti bisa membaca pikirannya, semua kebohongan seakan menguap. "Iya... iya, kami yang ganggu dia. Tapi karena dia memang—"

"Cukup!" suara Bu Miranda memotong seperti cambuk. "Tidak ada alasan yang membenarkan perundungan. Apalagi menyakiti fisik dan menghina latar belakang keluarga seseorang."

Bu Miranda berjalan kembali ke belakang mejanya. "Chika, Livia. Kalian berdua akan ibu hukum dengan membersihkan semua toilet di sekolah ini, dari yang di lantai satu sampai lantai tiga, selama satu minggu penuh. Setiap hari setelah pulang sekolah."

Wajah Chika memerah. "Ibu! Enggak mau! Ibu sengaja mau bikin Chika malu!?" tukas Chika, menolak mentah mentah.

"Memalukan? Memperlakukan harga diri teman seperti hewan, apa tidak memalukan?" balas Bu Miranda dengan dingin. "Pilihan lainnya, kalian diskors selama satu minggu. Dan Ibu akan panggil orang tua kalian untuk membahas tindakan lebih lanjut. Pilih mana?"

Chika terdiam. Dia terhukum oleh ibu kandung nya sendiri. Rasa malu dan kemarahan membara di dadanya. Dia ingin membantah, tapi ketegasan di wajah Bu Miranda tak terbantahkan. Ibunya benar-benar tidak sedang bermain-main.

bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel