Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Wanitaku sekaligus adik angkatku

Erika membatalkan niatnya semula yang ingin bermalam dirumah peninggalan mamanya, bagaimana pun dia harus profesional ikut menemani Heri dalam pertemuan bisnis.

Kali ini Erika ingin merubah penampilannya agar tidak membosankan dimata Heri, apalagi dia akan menemani pria itu dalam pertemuan penting.

Erika sengaja pergi berbelanja di salah satu butik milik salah seorang desainer ternama. karena di sana produknya jauh lebih berkualitas. Perjalanan dari rumah menuju butik tidak memakan waktu lama, hanya setengah jam dan mobil pun telah sampai di sebuah butik elegan dan tampak mewah dari luar. Diatas pintu dan di kaca jendela depan terpampang tulisan " The Quin Dayana" dengan model font berliuk-liuk. 

Begitu pintu dibuka, tampaklah seorang perempuan yang membuka pintu dan menanyakan keperluan Jasmine datang ke butik mereka.  

"Permisi Nona, ada yang bisa dibantu?" tersenyum ramah menyapa Erika dengan senyum ramah.

"Saya butuh pakaian kerja yang terbaik yang ada di butik ini."

"Nona mau pakaian kerja yang seperti apa?" Tanya pelayan tersebut seraya memperhatikan postur tubuh Erika yang ideal, sehingga sangat cocok dengan model apapun.

"Aku mau yang modelnya sederhana dan tidak terlalu seksi. Kalau rok aku lebih suka yang selutut panjangnya." Jawab Erika.     

"Hmm baiklah, ayo Nona...kita ke lantai dua. agar Nona bisa langsung memilih model pakaian seperti yang Nona inginkan. Apalagi postur tubuh Nona bagus, langsing, dan kulit Nona pun lembut mirip bayi, pasti warna apapun cocok jika Nona kenakan." puji pelayan tersebut.

"Oke, terimakasih atas pujiannya."

Erika mengangguk dan segera mengikuti langkah pelayan yang membawanya menuju deretan troli khusus pakaian formil. 

"Inilah yang aku cari."

Akhirnya Erika menemukan juga model yang pas untuk dia kenakan. Kemeja lengan panjang warna merah maroon dengan kancing terusan dan rok dibawah lutut dengan warna senada, kemeja lengan pendek dan celana bahan, juga beberapa model lainnya yang tidak perlu mengumbar keseksian namun tetap elegan dipakai.   

"Mas Heri, sampai kapan kamu bertahan. apa mas yakin tidak menyukai dan tertarik padaku sama sekali mmmhh...adik tiri mu yang cantik ini ha...ha..." Erika mengulum senyum menatap pantulan wajahnya di cermin.

Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, gadis itu segera mengenakan pakaian kerja yang berusan dibelinya, mengingat satu jam lagi pertemuan penting untuk membahas kerja sama perusahaan akan segera dimulai.

Erika memeriksa wajahnya sekali lagi didepan kaca kecil yang terdapat didalam kotak bedaknya. Hanya butuh 15 menit perjalanan dan mobil mereka pun sampai didepan lobby kantor The King' Group.     

Erika pun masuk melewati sensor otomatis dengan menempelkan kartunya di mesin tempel sebelah kanan. gadis itu lalu menghela napasnya dan mencoba tersenyum dan mengepalkan tangannya kebawah.

"Oh my good, kenapa jantungku selalu berdetak setiap akan bertemu mas Heri. Meskipun kami setiap hari bertemu dikantor ataupun dirumah." gumam Erika meremas-remas tangannya yang mendadak dingin.

Erika lansung menuju lantai dua puluh satu gedung tersebut,tempat diadakannya pertemuan penting.

"Selamat datang Nona Erika, silahkan duduk."

"Terimakasih tuan Shimano." balas Erika seraya membungkukkan sedikit badannya. Dia melirik Heri yang telah datang terlebih dahulu.

Erika memilih duduk bersebelahan dengan Heri, lalu meletakkan beberapa berkas diatas meja.

Dua orang pelayan wanita berpakaian seksi masuk, mereka membawa botol minuman beralkohol dan gelas-gelas kosong. Shimano segera menuangkan minuman tersebut kedalam gelas, memberikan satu untuk Heri dan juga Erika.

"Mari bersulang."

"Maaf, sebenarnya aku tidak terbiasa minuman beralkohol." tolak Erika sedikit ragu menatap gelasnya.

"Minumlah agak sedikit saja Nona, ini tidak akan membuatmu mabuk." bujuk Shimano.

"Kalau tidak terbiasa minum-minum, jangan dipaksakan." ucap Heri, dia tidak ingin kejadian waktu Erika minum anggur diruangan terulang kembali, karena wanita akan lebih berani disaat kondisinya setengah mabuk, namun terlambat Erika telah meneguk minuman ditangannya.

"Ayolah mas Heri, sekarang giliranmu.

"Bisa kita mulai pembahasannya." ucap Heri tanpa basa-basi lagi, karena pria itu mulai kesal pada kliennya yang terus memperhatikan Erika.

"Tentu, bahkan aku bisa menaikan keuntungan bagi perusahaan tuan Heri tujuh puluh lima persen dari yang telah kita sepakati, asalkan dengan satu syarat." ucap Shimano membasahi bibirnya kembali menatap Erika.

"Apa syarat yang kamu inginkan?"

"Aku menginginkan asisten mu ini tuan Heri." bagaimana kamu setuju?"

Erika yang mendengar terlonjak kaget begitu juga dengan Heri, seketika pria itu mengepalkan tangannya geram.

"Ternyata aku salah orang dalam mencari business Partners, kesepakatan kita batal." ucap Heri lansung berdiri menarik sebelah tangan adik angkatnya tersebut.

Shimano langsung tersadar dengan kecerobohannya, berusaha meluruskan dan meminta maaf pada Heri, namun pria itu malah mengabaikan dan pergi begitu saja.

"Aku tidak menyangka jika Nona Erika adalah wanita tuan Heri, sial semuanya jadi kacau begini." umpat Shimano menyesal.

"Dia tidak saja wanita ku, tapi sekaligus adik angkat yang harus ku jaga dan lindungi."

Erika tersenyum senang dalam hatinya, merasa beruntung mendapatkan bos sekaligus kakak tiri sebaik Heri, meskipun terkesan cuek dan selalu cool, namun Heri begitu melindunginya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel