Suasana romantis
Heri sengaja mengantarkan Erika langsung pulang kerumah beruntung kedua orang tua mereka belum kembali dari luar negeri jika tidak semua bakal kacau, jika mereka mendapati kondisi Erika yang kurang stabil efek dari minuman alkohol yang sempat di minumnya meskipun itu hanya beberapa teguk saja.
Heri menyetir sendiri mobilnya jika sedang berduaan dengan Erika, hal ini dilakukannya karena merasa jauh lebih nyaman dan bebas.
"Erika, kita sudah sampai di rumah. ayo bangun!" ucap Heri setelah menepikan mobilnya, mengajak Erika untuk turun.
"Aku mau duduk di sana dulu."
ucap Erika menunjuk kearah taman yang ada air mancurnya
"Baiklah."
Mereka berjalan menuju sebuah taman yang menghadap langsung ke sebuah air mancur yang terhubung ke kolam ikan hias kesayangan Heri. Cahaya bulan seakan mendukung suasana romantis, yang tiba-tiba membuat pasangan ini sudah berpegangan tangan tanpa mereka berdua sadari.
"Ayo kita duduk disini dulu Erika, sebelum masuk kedalam rumah aku juga ingin ngobrol-ngobrol denganmu dulu."
"Oke, apa yang ingin kita bicarakan. mas Heri kakak tiriku tersayang." Erika sengaja menekankan kata tersebut, dia senang melihat tampang kesal Heri setiap dipanggil kakak tersayang, Erika duduk bersebelahan dengan Heri.
"Bagaimana hubunganmu dengan Gavin, apakah pertunangan kalian sudah berakhir atau masih berlanjut?" tanya Heri, sedangkan matanya menatap manik ke-dua bola mata hazelt milik Erika dengan jarak yang begitu dekat, bahkan hembusan nafas aroma mint mengenai wajah gadis itu.
"Mas Heri, ingin aku jawab apa?"
Erika tersenyum menggoda, meskipun terlihat menyimpan luka. Ke-dua tangan Erika terangkat membelai lembut wajah tampan Heri.
"Erika, aku merasa kamu telah memanfaatkan aku."
"Tidak! Kita berdua sama-sama dewasa, aku wanita normal begitu juga dengan mas Heri. Percayalah aku tidak akan menuntut apapun dari mu mas, aku sadar dengan statusku dirumah ini. aku juga tidak ingin mengecewakan papa yang begitu ingin pernikahan ku dan Gavin berlangsung." ucap Erika tertunduk.
Cup!
Kecupan lembut tiba-tiba mendarat di ke-dua pipi Heri, tidak bisa dipungkiri jika benteng pertahanan pria itu sudah goyah. Refleks pria itu menarik pinggang Erika hingga terduduk di atas pangkuannya. Perlahan namun pasti bibir mereka berdua sudah menempel, Heri mencium dengan lembut namun terasa manis, kenyal yang ampuh membuatnya tergila-gila meskipun dia masih berusaha untuk menahan diri. Perlahan Heri menghentikan ciuman nya.
"Kenapa berhenti mas? Aku menyukainya." Erika menatap genit Heri, dia tahu apa yang tengah dipikiran pria itu. Namun Erika berusaha untuk tidak memperdulikannya.
"Erika, kenapa kamu masih mempertahankan pertunanganmu dengan Gavin, bukankah kamu sudah tahu bagaimana perbuatan pria brengsek itu?"
"Aku rasa mas Heri pasti sudah tahu jawabannya, saat berduaan seperti ini aku tidak ingin membahas tentang Gavin. Yang ada hanya aku dan kamu." bisik Erika menunjuk hatinya dan dada kekar Heri.
"Tapi Erika, kamu sudah jauh berubah setelah kejadian malam itu. kamu bukan lagi Erika gadis polos seperti yang aku kenal sewaktu awal masuk kerumah ini."
"Seseorang bisa saja berubah mas Heri, apalagi setelah dikhianati."
Suasana malam yang sepi, seakan mendukung pasangan ini untuk bermesraan kembali. Hingga deringan suara ponsel milik Heri menghentikan mereka.
"Mama menghubungiku." ucap Heri mengangkat jari telunjuknya agar Erika yang masih duduk diatas pangkuannya tidak bersuara.
"Hallo ada ma?"
"Kok tanya ada apasih, mama dan papamu akan pulang dari luar negeri. kami sangat merindukan anak-anak mama, oya mna adikmu Erika." terdengar suara mama Helen dari seberang sana.
"Sudah tidur kali ma."
"Pantasan dihubungi ngak diangkat, Heri kamu mau dibawain oleh-oleh apa?"
"Terserah mama saja, menara tower Eiffel sepertinya menarik juga. tapi harus yang asli ma."
"Eeeitts boleh saja sih, tapi harus ada syaratnya lo Heri."
Helen berkacak pinggang, kesal karena diumur Heri yang seharusnya berumah tangga, namun dia malah belum juga memperkenalkan kekasihnya. Setelah kepergian Jesse keluar negeri demi karier, bahkan menikah dengan pria yang dia pikir jauh lebih kaya dan baik dari Heri, namun dia telah memilih orang yang salah. meninggalkan Heri yang patah hati hingga sulit untuk jatuh cinta kembali.
Bahkan Helen pernah membayar paparazi untuk menyebarkan berita Hosk, mengatakan jika Heri gay, namun hal itu tidak membuat Heri berubah, dia masih cuek dan masih betah sendiri, meskipun banyak wanita cantik yang berusaha mendekatinya, terkecuali Erika yang berhasil mendapatkan keperjakaan nya dalam semalam.
"Baiklah ma, aku mengaku kalah karena tidak bisa memenuhi syarat yang mama inginkan."
"Pokoknya setelah kepulangan mama, kita semua harus berkumpul termasuk adikmu Erika dan tunangannya Gavin, masa kamu sebagai kakak masih betah sendirian." ucap Helen berharap Heri akan merasa malu dan rendah diri sehingga segera mencari pasangan hidup.
