Kembali Menginginkannya
Erika menarik nafas berat, mengayunkan langkah pelan menuju pintu utama rumah besar milik mama tirinya yang mewah. suasana rumah terlihat masih sangat sepi.
"Kenapa mas Heri belum juga pulang ya? padahal Dia sudah duluan pergi meninggalkan kantor sebelum jam pulang karyawan nya." gumam Erika menatap jam di dinding. Erika segera menuju kamarnya segera mandi dan istrahat.
Erika membaringkan tubuhnya di ranjang empuk, bayangan Heri seakan bermain di pelupuk matanya. pria tampan yang biasanya memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat sekaligus kakak, sehingga membuat hubungan mereka tidak terlalu kaku dan penuh kehangatan namun setelah kejadian malam itu Heri. seakan sengaja menjaga jarak darinya.
"Mas Heri aku merindukan mu, meskipun aku sadar jika Kita tidak akan pernah bisa bersatu."
Erika mencium selimut dan memeluk guling sebagai pelampiasan dari rasa rindu yang tak bertepi bercampur gundah gulana yang tak menentu mengingat status nya sekarang.
“Sepertinya diluar sedang terang bulan, sapa tahu ada bintang jatuh. Aku ingin berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja."
Erika merapikan pengait pakaian tidur yang dia gunakan, berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman segar dalam kulkas. Setelah menemukan apa yang Dia inginkan, segera melangkah menuju balkon sambil bersandar pada sebuah tanaman hias.
Sedangkan tidak jauh dari posisi Erika berada, seorang pria tampan asik dengan fantasi liarnya mengintip dari balik celah gorden kamar, penampakan tubuh adik tirinya yang seksi membuat getaran aneh yang menjalar disetiap persediaan, meskipun dia sudah berusaha menepis pikiran yang terus-menerus mengusik ketenangan nya, namun dia kalah dengan hasrat yang semakin menggebu setiap melihat kemolekan tubuh Erika yang cantik.
“Erika selama ini aku menyukaimu, namun takdir berkata lain...mama menentang keras keinginan ku. karena dia ingin menikahi papamu yang telah duda sekaligus cinta pertama nya dulu. bahkan langsung mencarikan jodoh untuk mu... begitu mengetahui perasaan ku yang sesungguhnya...aaaaggh !!!” umpat Heri diantara erangan tertahan nya.
Semula Heri yang baru saja pulang dari sebuah klub tidak bermaksud untuk mengintip adik tirinya Erika, dia hanya membetulkan tirai jendela yang berantakan tertiup angin, namun pandangannya tiba-tiba terhenti begitu melihat Erika berdiri di atas balkon hanya mengunakan pakaian tidur pendek dengan bahan dasar kain satin, tanpa bisa ditahan hasrat menggebu lagi, ditambah mereka pernah melewati malam bersama. gairahnya bergelora sehingga tanpa sadar dia bermain solo seraya membayangkan jika tengah bercumbu kembali dengan Erika.
Begitu juga dengan Erika, senyuman yang semula mengembang menikmati cahaya bulan tiba-tiba memudar, tak kala pandangannya terhenti pada sosok bayangan yang tengah berdiri di depan jendela. Erika menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.
"Mas Heri? Apa yang sedang dia lakukan disana?"
Rasa penasaran membuat Erika melangkah agar bisa lebih dekat lagi untuk melihat Heri.
"Oh my God."
Dengan mata membulat karena kaget bercampur syok bahkan detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dibandingkan bagian biasanya.
Erika menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Bagaimana tidak, mata polos Erika tanpa sengaja telah ternoda kembali begitu melihat benda pusaka kebanggaan sang kakak tiri yang berdiri tegak layaknya tiang dengan ukuran melebihi pria dewasa pada umumnya. Tangan Heri terus memainkannya maju mundur sambil menyebut nama seseorang, meskipun tidak terdengar jelas oleh Erika siapa nama perempuan tersebut.
"Sial, kenapa aku kembali berhasrat melihat milik mas Heri? Sadar ... sadarlah Erika. kendalikan dirimu... cukup satu kali kamu melakukan kesalahan." Menggelengkan kepalanya bahkan sebelah tangannya memukul pelan pipinya agar tersadar, Erika segera berlari menuju kamar tidak lupa dia menutup rapat pintu agar lebih merasa nyaman dan tenang kembali.
"Anggap ini mimpi burukmu saja Erika, sehingga esok harinya kamu akan terlupa dengan kejadian memalukan ini hurff...! meskipun kamu begitu menginginkannya kembali."
Besoknya Erika minta izin pada Heri, dia bersikap seakan tidak terjadi sesuatu semalam pada mereka. hari ini Erika ingin pulang kerumah Mama kandung nya yang sudah diambil alih oleh Tante dan anaknya Rania. Entah bagaimana caranya bisa-bisanya Tante Anggun mengaku jika sekarang rumah itu sudah menjadi hak miliknya bersama anaknya Rania.
Meskipun tidak terima dengan keputusan sepihak, Erika tetap berusaha bersabar dan rela membiarkan mereka tinggal disana. mengingat dia sudah mempunyai keluarga yang baru dan tentunya jauh lebih kaya.
Dulu mamanya sangat baik terhadap adiknya Tante Anggun, bahkan sebelum meninggal Mama menitipkan Erika untuk dijaga Tante Anggun dengan menyuruh pindah ke rumah mereka, namun semua berubah setelah Erika pindah ikut papanya.
Meskipun begitu, Erika bertekad akan mengusir' Anggun dan anaknya Rania jika mereka berdua tidak berubah, fokus Erika saat ini adalah menemukan cara agar berhasil merebut kembali surat-surat berharga peninggalan sang mama yang telah disembunyikan Tante nya yang begitu licik. meskipun sudah memilki segalanya namun Erika tidak sudi jika peninggalan mama tercinta dikuasai begitu saja.
Begitu masuk kedalam rumah, langkah Erika langsung dihadang oleh Tante Anggun dan Rania. Sambil berkacak pinggang Rania langsung mendorong tubuh Erika hingga terjatuh kelantai.
"Erika, Kenapa kamu datang lagi kerumah ini? apa kelurga Surya sudah mengusir mu?" hardik Tante Anggun.
"Dasar perempuan ngak benar kamu." tambah Rania tersenyum sinis. Membuat kemarahan Erika mencapai ubun-ubun, apalagi setelah tahu jika diam-diam Rania berusaha mendekati Heri meskipun mustahil Heri akan menyukai gadis seperti Rania manja dan suka hura-hura.
"Seharusnya kata-kata itu cocok untuk dirimu sendiri Rania, rela menyerahkan diri dan tidur dengan pria sembarangan." sindir Erika.
"Jaga mulutmu Erika, atas dasar apa kamu menunduh anakku seperti itu." Anggun tidak terima.
"Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, dasar menjijikan cish."
"Brengsek kamu Erika."
Rania langsung melayangkan tamparan keras kearah wajah Erika, namun tangannya berhasil ditahan oleh Erika, bahkan dia memelintir tangan gadis itu hingga berteriak kesakitan.
"Aduuuuh sakiiit ma, tolongin Rania."
"Hentikan Erika, kamu bisa membuat tangan anakku Rania patah." teriak Anggun dengan wajah geram.
"Kalian berdua sama saja, sama-sama licik dan rakus. Mengambil apa yang seharusnya bukan milik kalian." teriak Erika penuh keberanian.
"Jaga sikapmu Erika, jika tidak terpaksa aku membuang-buang semua barang-barang peninggalan mamamu dari rumah ini." teriak Anggun yang mulai habis kesabarannya.
"Ini masih rumah ku dan miliki mamaku, kalian tidak berhak menyentuh apalagi membuang semua benda yang ada di rumah ini. Seharusnya kalian sadar diri dan segera pergi dari rumahku." balas Erika penuh kemarahan.
"Ingat Erika, sebelum meninggal mamamu sudah memindahkan semua aset miliknya atas namaku dan Rania karena sebagian ini juga harta peninggalan orang tua ku juga, kakekmu.. apa perlu kami memperlihatkan kembali buktinya."
"Aku tidak percaya, tidak mungkin mamaku berbuat seperti itu. Aku tidak akan menyerah sampai menemukan bukti lalu menyeret kalian ke penjara, terutama kamu nenek lampir berkedok pelakor dan penghancur rumah tangga orang." teriak Erika kearah Anggun.
"Apa katamu, jangan pernah sebut mamaku nenek lampir ataupun pelakor lagi." Rania maju mencoba menarik rambut Erika, namun tenaganya kalah banyak justru Erika yang berhasil menarik rambutnya hingga jatuh kelantai.
"Dasar anak tidak tahu diuntung, cepat lepaskan Rania." Anggun menarik-narik tangan Erika yang masih menggenggam rambut Rania, hingga membuat penampilan gadis itu acak-acakan layaknya suster ngesot kehilangan sisir.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah ikut campur kehidupanku lagi." teriak Erika seraya melangkah menuju kamar mamanya dulu.
"Awas saja kamu Erika, tunggu saja sampai anakku Gilang kembali dari luar negeri. Dia pasti akan membalas semua perbuatanmu padaku dan Rania."
"Terserah, aku tidak takut sama sekali."
Sampai didalam kamarnya Erika langsung menutup pintu lalu mengunci dari dalam, dia ingin tenang tanpa diganggu Rania dan mamanya lagi.
Erika merebahkan tubuhnya yang lelah pisik dan pikiran, tatapan matanya tertuju pada photo keluarga yang terpanjang didinding utama kamarnya.
"Mama...mama ... seandainya mama masih hidup, mungkin aku tidak akan seperti ini hick ..hick... Erika kangen mama." rintih Erika menangis terisak-isak.
Deringan suara ponsel mengagetkan Erika, segera dia mengusap air mata dan kembali berusaha untuk bersikap ceria.
"Hallo mas Heri, tumben menghubungi ku bukankah aku sudah izin pulang kerumah mamaku, kangen ya?"
"Sama sekali tidak, aku hanya mengingatkan jika besok kamu harus menemaniku dalam pertemuan penting bersama klien kita yang dari jepang." terang Heri dari sebrang sana sebisa mungkin dia bersikap ja'im menyembunyikan perasaannya pada Erika.
"Oke siiip mas."
