Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Aku hanya menginginkan dirimu

"Untuk sementara waktu ini, kita berdua harus jaga jarak dulu. Aku tidak ingin Erika curiga dan semua rencana yang sudah aku susun dari awal bakalan gagal. Kamu tahu sendiri jika kedua orang tua kami begitu menginginkan pernikahan ini berlangsung. jika tidak, aku bakal tidak mendapatkan apa-apa. kamu pasti ngerti maksud dan tujuan ku Rea, semua ini demi masa depan dan kebahagiaan Kita berdua." terang Gavin, yang menginginkan sebagian harta keluarga Surya jatuh ke tangannya setelah berhasil menikahi Erika.

"Baiklah kekasihku Gavin, aku akan mengikuti apa maumu. Jangan marah lagi ya...Cup!" balas Rea sebelum pergi meninggalkan kamar yang semula mereka gunakan untuk bercinta. Meskipun dalam hatinya menggerutu, atas persahabatan orang tua Erika dan keluarga Gavin yang terjalin cukup baik dulunya, sehingga mereka menjodohkan anak-anaknya.

Keesokan harinya, Erika melangkah penuh percaya diri menuju kantor tempatnya bekerja. Namun kali ini ada yang berbeda, semua orang tersenyum ceria menyapanya seraya memberikan setangkai bunga mawar merah.

"Selamat pagi Nona Erika, hari ini Anda terlihat begitu cantik."

"Pagi juga, dan terimakasih atas pujiannya." jawab Erika tersenyum ramah.

"Nona, terimalah bunga mawar merah ini." ucap seorang karyawan begitu melihat kedatangan Erika, begitu banyak karyawan lain yang menceritakan bunga sehingga membuat Erika hampir kewalahan membawanya.

Semula Erika terlihat begitu senang, berfikir jika semua bunga mawar indah itu dari bos sekaligus kakaknya Heri, namun senyuman indah yang semula menghiasi bibirnya seketika memudar begitu mengetahui jika semua itu dari tunangannya Gavin.

"Jadi semua ini dari Gavin, aku yakin dia pasti berusaha untuk mengambil hatiku kembali. Baiklah Gavin aku akan ikuti permainanmu, meskipun hati kecilku menolak...aku melakukan semua ini demi kedua orang tua ku, yang begitu menginginkan kamu menjadi menantunya." bathin Erika sedih, bahkan dia rela menutup rapat penghianatan Gavin asalkan ke-dua orang tuanya bahagia, "Yah ... anggap saja ini sebagai bentuk bakas budiku pada mereka." bathin Erika merusak meyakinkan dirinya.

"Erika."

"Hey Cika, semua bunga-bunga ini untukmu saja." ucap Erika pada sahabatnya Cika, yang kaget sekaligus bahagia karena mendapatkan kejutan banyak bunga mawar merah kesukaan nya pagi ini.

"Benaran ini buat aku, terimakasih ya Erika." Cika mencium penuh perasaan buket bunga di tangan nya.

"Tidak perlu berterimakasih, semua itu dari tunangan ku Gavin. jadi aku tidak terlalu senang menerimanya." ucap Erika, dia tidak menyadari disaat bersamaan Heri juga baru datang, pria itu berlagak cuek dan masuk begitu saja kedalam ruangan kerjanya. Mengabaikan sapaan Erika dan juga Cika.

"Erika, kamu merasa ada yang aneh ngak sama sikap yang ditunjukkan pak Heri barusan. Tidak biasanya dia bersikap cuek seperti ini pada kita? lagian biasanya kalian berangkat bareng tapi sekarang tidak?" tanya Cika penasaran.

"Ngak tau juga sih, lagi dapet kali ha...ha .. lagian aku sengaja datang dengan mobilku sendiri. sesekali belajar mandiri gitu." balas Erika.

"Eits mau kemana?" tanya Erika.

"Mau keruangan pak Heri minta tanda tangan laporan kemaren, tapi melihat ekspresi yang ditujukan pak Heri aku jadi takut kena marah." terang Cika sambil mengangkat berkas di tangannya.

"Biar aku saja."

"Benaran, terimakasih Erika. aku yakin pak Heri ngak bakalan marah jika melihat mu. secara kamu kan adik kesayangannya."

Erika melangkah penuh percaya diri menuju ruangan Heri, memperbaiki sedikit penampilannya sebelum mengetuk pintu.

Tok!Tok!Tok!

"Masuk!"

Setelah terdengar jawaban dari dalam, barulah Erika melangkah masuk.

"Pak Heri, ini berkas kerjasama dengan perusahaan The Quin' kemaren, silahkan diperiksa kembali dan ditandatangani pak."

Erika meletakan berkas di atas meja, memperhatikan wajah tampan Heri yang tengah menandatangani berkas tersebut. dalam lubuk hatinya Erika merasa begitu beruntung papanya menikahi wanita kaya raya keturunan keluarga Surya setelah mama kandungnya meninggal dunia.

"Tolong kamu atur pertemuan untuk perusahaan Shimano dari jepang, dan segera beritahu Tim dari perusahaan kita."

"Baik, mas Heri tersayang...ups... keceplosan."

Mendengar jawaban Erika barusan, Heri mengangkat wajahnya balik menatap kearah Erika yang nyengir kuda.

"Erika apa yang kamu inginkan, apa kamu punya maksud tertentu setelah kejadian malam itu?"

"Mas Heri, aku tidak menginginkan dan punya tujuan apapun. Bahkan aku merasa cukup beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Surya. dan terimakasih juga untuk permainan kita semalam." Erika tersenyum membalas tatapan mata elang Heri.

"Aku tidak ingin membahas dan mengingatnya lagi, jika kamu masih menginginkannya kamu bisa melakukannya dengan Gavin toh tidak lama lagi kalian bakalan menikah. Apa dia tidak bisa memuaskan mu." ucap Heri mulai jengkel namun masih sibuk membolak-balik berkas ditangannya.

"Sama sekali tidak, karena aku lebih menginginkan dirimu mas Heri, tanpa imbalan apapun kedepannya." ucap Erika sebelum pergi meninggalkan ruang kerja Geri.

"Erika, cuma kamu wanita yang berani bermain api denganku." gumam Heri menatap punggung Erika yang berlalu pergi meninggalkan ruangan kerjanya yang tidak sembarangan orang boleh memasukinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel