Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 3 Ancaman Tuan Leonardo

Elzavia berdiri kaku di tengah taman.

Tangannya masih menggenggam mawar putih yang diberikan anak kecil tadi.

Sementara beberapa meter di depannya, Kaizer Valtieri terlihat santai seperti biasa.

Pria itu bahkan tidak terlihat bersalah karena sudah mengikutinya sampai ke taman.

"Dasar pria aneh..."

gumam Elzavia pelan.

Ia melangkah cepat ke arah Kaizer.

Namun sebelum sempat mendekat, suara dering ponsel terdengar.

Tring.

Tring.

Tring.

Kaizer mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

Tatapan santainya perlahan berubah.

Senyum tipis yang tadi menghiasi wajahnya langsung lenyap.

Elzavia yang memperhatikannya dari jauh sedikit mengernyit.

Ini pertama kalinya ia melihat ekspresi pria itu berubah begitu cepat.

Kaizer melihat nama yang muncul di layar.

Lalu berdecak pelan.

"Ck."

Nada kesal itu terdengar cukup jelas.

Sangat berbeda dari sikap tenangnya selama ini.

Pria itu mengusap rahangnya sebentar sebelum mengangkat panggilan.

"Hm."

Beberapa detik berlalu.

Ekspresinya semakin dingin.

Mata abu-abunya yang biasanya penuh percaya diri kini terlihat tajam.

Seolah sedang menahan amarah.

"Aku sudah bilang jangan bertindak tanpa izinku."

Hening.

Lalu—

"Tunda semuanya."

Hening lagi.

Rahang Kaizer mengeras.

"Tidak."

Nada suaranya rendah.

Namun mengandung tekanan yang membuat siapa pun pasti langsung diam.

"Aku akan menanganinya sendiri."

Panggilan berakhir.

Kaizer menatap layar ponselnya beberapa saat.

Kemudian menghela napas panjang.

Untuk sesaat, pria itu terlihat lelah.

Sangat berbeda dengan sosok dominan dan tak tersentuh yang selama ini ditunjukkannya.

Elzavia tanpa sadar memperhatikannya.

Entah kenapa.

Ada sesuatu dalam ekspresi itu yang membuatnya penasaran.

Namun sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, Kaizer memasukkan kembali ponselnya ke saku.

Tatapannya beralih ke arah Elzavia.

Mereka saling memandang dari kejauhan.

Tak ada senyum.

Tak ada godaan.

Tak ada sikap menyebalkan seperti biasanya.

Hanya tatapan dalam yang sulit ditebak.

Angin taman berembus pelan.

Membuat rambut hitam Kaizer bergerak sedikit.

Lalu...

Tanpa mengatakan apa pun.

Pria itu berbalik.

Dan pergi begitu saja.

Elzavia membeku.

"Hah?"

Ia bahkan belum sempat memarahinya.

Belum sempat menyuruhnya pergi.

Belum sempat mengembalikan mawar yang masih berada di tangannya.

Namun Kaizer sudah berjalan menjauh.

Langkahnya panjang dan cepat.

Seolah ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada mengejarnya hari ini.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya...

Kaizer Valtieri meninggalkannya lebih dulu.

Elzavia menatap punggung pria itu dari kejauhan.

Semakin lama.

Semakin jauh.

Sampai akhirnya sebuah mobil hitam mewah berhenti di tepi jalan.

Pintu belakang terbuka.

Kaizer masuk tanpa menoleh sedikit pun.

Lalu mobil itu melaju pergi.

Meninggalkan taman yang kembali tenang.

Entah kenapa dada Elzavia terasa aneh.

Aneh sekali.

Padahal bukankah ini yang ia inginkan?

Bukankah sejak awal ia ingin Kaizer berhenti mengganggunya?

Lalu kenapa sekarang justru ada rasa ganjil saat pria itu benar-benar pergi?

Elzavia menggeleng keras.

"Tidak penting."

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Sangat keras.

Namun saat matanya tanpa sengaja kembali melihat mawar putih di tangannya...

Ia menyadari satu hal.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka...

Ia justru penasaran.

Sebenarnya siapa Kaizer Valtieri?

Dan masalah apa yang membuat pria setenang itu sampai kehilangan senyumnya dalam sekejap?

Mobil hitam panjang itu melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan stabil.

Di kursi belakang, Kaizer duduk sambil memijat pelipisnya.

Panggilan telepon yang ia terima di taman tadi masih terngiang di kepalanya.

Masalah yang selama ini berusaha ia hindari akhirnya datang juga.

Dan kali ini tidak mungkin diabaikan.

Satu jam kemudian.

Mobil memasuki kawasan elit di pinggiran kota.

Gerbang besi raksasa terbuka perlahan.

Menampilkan sebuah mansion megah bergaya Eropa yang berdiri di atas lahan luas.

Air mancur bertingkat menghiasi halaman depan.

Puluhan lampu kristal menerangi bangunan yang tampak seperti istana modern itu.

Namun alih-alih merasa nyaman, Kaizer justru berdecak pelan.

Rumah ini selalu membuatnya merasa sesak.

Begitu mobil berhenti, seorang pelayan segera membukakan pintu.

"Tuan Muda."

Kaizer keluar tanpa menjawab.

Langkah panjangnya langsung menuju ruang utama.

Bahkan dari lorong depan saja, suara perdebatan sudah terdengar.

Membuat rahangnya mengeras.

"Bagus."

gumamnya.

"Mulai lagi."

Saat pintu ruang keluarga terbuka, suasana di dalam langsung terlihat tegang.

Di sana telah berkumpul hampir seluruh keluarga Valtieri.

Ayahnya.

Ibunya.

Pamannya.

Bibinya.

Beberapa sepupu.

Dan yang paling membuat Kaizer muak...

keluarga Marquez.

Keluarga konglomerat yang selama bertahun-tahun berusaha menjodohkannya dengan putri mereka.

Semua kepala langsung menoleh saat Kaizer masuk.

Ruangan mendadak hening.

Pria itu berjalan santai menuju sofa utama.

Melepas jasnya.

Lalu duduk seolah tidak ada apa-apa.

Ayahnya, Leonardo Valtieri, langsung berbicara.

"Kau terlambat."

Kaizer menyandarkan tubuh.

"Kalau tahu acaranya soal perjodohan lagi, aku bahkan tidak akan datang."

"Kaizer."

Suara ibunya terdengar memperingatkan.

Namun Kaizer tidak peduli.

Di sisi lain ruangan, seorang wanita cantik berambut pirang terlihat menatapnya.

Clarissa Marquez.

Wanita yang selama ini disebut-sebut sebagai calon istrinya.

Cantik.

Pintar.

Kaya.

Dan sama sekali tidak menarik baginya.

Clarissa tersenyum tipis.

"Halo, Kaizer."

"Hm."

Jawaban singkat itu membuat beberapa orang langsung tidak nyaman.

Pamannya berdeham.

"Kaizer, kau tidak bisa terus bersikap seperti ini."

"Seperti apa?"

"Menolak tanggung jawab."

Kaizer tertawa pendek.

Tawa yang sama sekali tidak mengandung humor.

"Tanggung jawab?"

"Perusahaan membutuhkan aliansi."

"Kita sudah memiliki cukup banyak aliansi."

"Aliansi ini berbeda."

Kaizer menatap satu per satu wajah yang ada di ruangan.

Lalu berkata datar,

"Jadi kalian mengundangku kemari untuk menjualku?"

"Jaga ucapanmu!"

Suara ayahnya menggema.

Namun Kaizer tetap tenang.

"Salahkah aku?"

Leonardo berdiri.

Tatapannya tajam.

"Semua ini demi masa depan keluarga."

"Masa depan keluarga atau keuntungan bisnis?"

"Keduanya."

Kaizer terkekeh.

Jawaban yang jujur.

Setidaknya ayahnya tidak berusaha berpura-pura.

Ibunya mencoba menenangkan suasana.

"Kaizer, Nak..."

"Aku tidak akan menikah dengan wanita yang bahkan tidak kucintai."

Clarissa langsung mengencangkan rahangnya.

Meski tetap berusaha mempertahankan senyumnya.

"Dan bagaimana kalau cinta bisa datang setelah menikah?" tanya Clarissa.

Kaizer menoleh padanya.

Tatapan abu-abunya dingin, sangat dingin.

"Tidak denganku."

Senyum Clarissa membeku.beberapa anggota keluarga saling pandang.

Suasana semakin panas.Leonardo kembali bicara.

"Kau tidak punya pilihan."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Kaizer perlahan mengangkat pandangan.Tatapannya bertemu dengan sang ayah.

Tak ada rasa takut sedikit pun.

"Katakan itu sekali lagi."

Leonardo mengepalkan tangan.

"Kau akan menikahi Clarissa."

"Tidak."

"Itu keputusan keluarga."

"Bukan keputusanku."

"Kau pewaris utama Valtieri Group!"

Kaizer berdiri menatap datar semuanya.

Tubuh tingginya membuat suasana semakin menekan.

"Aku membangun setengah dari kerajaan bisnis itu."

"Karena kau bagian keluarga ini!"

"Dan karena itu kalian merasa bisa mengatur hidupku?"

Suara Kaizer tetap tenang.

Namun justru itulah yang membuat semua orang tegang.

Mereka tahu aaat Kaizer berbicara setenang ini artinya ia sedang marah.

Sangat marah.

Leonardo menatap putranya tajam.

"Kalau kau terus menolak, jangan salahkan aku jika mengambil langkah lain."

Kaizer menyipitkan mata.

"Ancaman?"

"Bisa dianggap begitu."

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik berlalu.Lalu Kaizer tersenyum.

Namun senyum itu tidak mencapai matanya malah terlihat berbahaya.

Sangat berbahaya.

"Ayah."

"Apa?"

"Jangan pernah mencoba mengancamku."

Nada suaranya rendah.

Namun membuat seluruh ruangan merinding.

Karena semua orang tahu satu fakta yang tidak pernah diucapkan dengan lantang.

Saat ini...

Kaizer Valtieri bukan lagi anak muda yang bisa diperintah sesuka hati.

Ia adalah miliarder paling berpengaruh dalam keluarga itu.

Dan jika terjadi perang antara dirinya dan keluarganya sendiri...

belum tentu Kaizer yang akan kalah.

Sementara di sudut ruangan, Clarissa diam-diam mengepalkan tangannya.

Tatapannya menggelap.

Karena untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.

Ada alasan lain mengapa Kaizer menolak perjodohan ini. entah kenapa instingnya mengatakan bahwa alasan itu adalah seorang wanita.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel