Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Kehadiran Clarissa Marquez

Kaizer menatap ayahnya selama beberapa detik.

Tatapan dingin yang membuat suasana ruang keluarga semakin menyesakkan.

Namun kali ini ia tidak ingin melanjutkan perdebatan.

Percuma.

Orang-orang di ruangan itu sudah memutuskan apa yang mereka inginkan bahkan sebelum dirinya datang.

Mereka tidak mencari pendapatnya.

Mereka hanya ingin kepatuhannya.

Dan Kaizer Valtieri tidak pernah suka diperintah.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia mengambil jasnya dari sandaran sofa.

Lalu berbalik.

"Kaizer!"

Suara Leonardo menggema dari belakang.

Pria itu tidak berhenti melangkah.

"Pembicaraan ini belum selesai."

"Tapi kesabaranku sudah habis."

Jawaban dingin itu membuat wajah Leonardo mengeras.

Kaizer tetap berjalan menuju tangga besar yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Suara langkahnya bergema di dalam mansion megah tersebut.

Semua mata mengikuti kepergiannya termasuk Clarissa.

Wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar diabaikan.

Biasanya pria akan berusaha mendekatinya.

Mencari perhatian.

Memujinya.

Namun Kaizer bahkan tidak pernah memandangnya lebih dari beberapa detik.

Dan itu membuat harga dirinya terluka.

Sementara itu Kaizer sudah mencapai lantai dua.

Tangannya mengepal kuat.

Rahangnya mengeras.

Ia berusaha mengendalikan emosinya.

Namun pembicaraan tadi benar-benar menguras kesabarannya.

Brak!

Pintu kamarnya terbuka keras kemudian tertutup kembali.

Kaizer berdiri di tengah kamar yang luas dan mewah.

Dinding bernuansa gelap. Jendela besar menghadap taman belakang.

Perapian modern.

Rak buku dan balkon pribadi.

Tempat ini biasanya menjadi satu-satunya area yang bisa memberinya ketenangan.

Namun malam ini berbeda.

Sangat berbeda.Kaizer melonggarkan dasinya lalu melemparkannya ke atas sofa.

Ia berjalan menuju minibar mengambil segelas air dingin.

Kemudian meminumnya hingga habis.

Meski begitu amarahnya tidak berkurang.

"Ck."

Ia berdecak pelan.

Pikirannya kembali pada ancaman ayahnya.

Ancaman yang selama ini tidak pernah diucapkan secara langsung.

Jika perlu, keluarganya akan menggunakan segala cara demi mempertahankan kepentingan bisnis mereka.

Bahkan menjadikan pernikahan sebagai alat transaksi.

Membosankan.

Dan menjijikkan.

Kaizer berdiri di depan jendela.

Menatap taman yang diterangi lampu-lampu malam.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar melupakan Elzavia.

Wanita keras kepala itu tidak muncul di pikirannya.

Tidak ada mawar putih.

Tidak ada taman kota.

Tidak ada tatapan kesal Elzavia.

Karena saat ini ia memiliki masalah yang jauh lebih besar.

Masalah yang bisa memengaruhi hidup dan masa depannya.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini dari orang kepercayaannya.

Kaizer langsung mengangkatnya.

"Ya."

"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi yang Anda minta."

"Simpan dulu."

Pria di seberang tampak terkejut.

"Maaf?"

"Simpan."

"Apakah berkaitan dengan Nona Elzavia?"

Kaizer menutup mata sesaat.

Biasanya ia akan langsung meminta laporan.

Namun malam ini tidak.

"Tidak sekarang."

"Tuan?"

"Aku sedang menangani urusan lain."

"Baik, Tuan."

Panggilan berakhir.

Kaizer meletakkan ponselnya di atas meja.

Kemudian menyandarkan kedua tangannya pada kusen jendela.

Tatapannya menggelap.

Dingin.

Penuh perhitungan.

Jika keluarganya benar-benar ingin memaksakan perjodohan ini...

Maka ia harus bergerak lebih dulu.

Dan kali ini bukan sebagai anak Leonardo Valtieri.

Melainkan sebagai Kaizer Valtieri.

Pria yang membangun kekuasaannya sendiri.

Pria yang tidak suka kehilangan kendali.

Pria yang selalu menang.

Di luar kamar, langkah kaki seseorang terdengar mendekat.

Pelan.

Berhati-hati.

Kemudian berhenti tepat di depan pintunya.

Tok.

Tok.

Tok.

Kaizer bahkan tidak perlu menebak siapa orang itu.

Karena hanya ada satu orang yang cukup nekat mengganggunya setelah pertengkaran besar seperti tadi.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan, benar saja Clarissa Marquez berdiri di sana.

Dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

Sementara Kaizer hanya menatapnya datar.

Sama sekali tidak senang melihat kedatangannya.

Clarissa menutup pintu perlahan di belakangnya.

Suasana kamar yang semula tenang mendadak terasa lebih dingin.

Kaizer tetap berdiri di depan jendela.

Tatapannya bahkan tidak beralih ke arah wanita itu.

"Aku tidak ingat mengundangmu masuk."

Clarissa tersenyum tipis.

"Kita perlu bicara."

"Aku tidak."

Jawaban dingin itu membuat senyum Clarissa sedikit memudar.

Namun wanita itu tetap melangkah masuk.

Sepatu hak tingginya berbunyi pelan di atas lantai marmer.

"Kaizer, kita sudah saling mengenal bertahun-tahun."

"Hm."

"Aku hanya ingin tahu alasanmu."

Kali ini Kaizer menoleh.

Tatapan abu-abunya menusuk.

"Alasan apa?"

"Kenapa kau begitu menolak perjodohan ini."

Kaizer tertawa pendek.

Tawa tanpa humor.

"Karena aku tidak ingin menikahimu."

Jawaban yang terlalu jujur.

Terlalu langsung.

Dan sangat menyakitkan.

Namun Clarissa tetap bertahan.

"Kau bahkan tidak memberiku kesempatan."

"Kau tidak membutuhkannya."

"Apa maksudmu?"

"Kau cantik."

Clarissa sedikit terkejut.

"Tentu saja aku tahu itu."

"Kau cerdas."

"Ya."

"Kau juga berasal dari keluarga terpandang."

Clarissa mulai bingung.

"Lalu?"

Kaizer berjalan menuju meja kerja.

Mengambil segelas air.

Kemudian menjawab dengan santai.

"Itulah masalahnya."

Kening Clarissa berkerut.

"Aku tidak mengerti."

"Kau tidak mencari suami."

"Apa?"

"Kau mencari kesepakatan."

Wajah Clarissa langsung berubah.

Untuk pertama kalinya senyumnya benar-benar hilang.

Kaizer menatapnya datar.

"Dan aku tidak tertarik menjadi bagian dari transaksi."

Hening.

Sangat hening.

Beberapa detik berlalu sebelum Clarissa kembali berbicara.

"Kau salah."

"Benarkah?"

"Aku memang setuju perjodohan ini karena keluarga."

"Lalu?"

"Tapi bukan berarti aku tidak menyukaimu."

Kaizer tidak menjawab.

Ia hanya meminum airnya.

Clarissa mengepalkan tangan.

"Aku menyukaimu sejak lama."

Kali ini Kaizer berhenti bergerak.

Namun hanya sesaat.

"Aku tidak."

Kalimat itu seperti tamparan.

Telak.

Tanpa belas kasihan.

Clarissa menunduk sebentar.

Berusaha mengendalikan emosinya.

Lalu perlahan mengangkat wajahnya kembali.

"Kalau begitu memang ada wanita lain."

Tatapan Kaizer sedikit berubah.

Sangat tipis.

Namun Clarissa menangkapnya.

Dan itu sudah cukup.

Jantungnya langsung mencelos.

"Ada seseorang."

Kaizer meletakkan gelasnya.

"Ini bukan urusanmu."

"Jadi benar."

"Clarissa."

"Siapa dia?"

Nada suara wanita itu mulai meninggi.

"Siapa wanita yang membuatmu sampai menolak semua ini?"

Tatapan Kaizer mengeras.

Namun Clarissa sudah terlanjur terbawa emosi.

"Aku ingin tahu!"

"Aku tidak berkewajiban menjelaskan apa pun padamu."

"Kau lebih memilih wanita itu daripada aku?"

"Ya."

Jawaban itu keluar tanpa ragu.

Tanpa jeda.

Tanpa penyesalan.

Dan langsung membuat wajah Clarissa pucat.

Kaizer sendiri tampak sedikit terkejut.

Karena baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Ruangan kembali sunyi.

Clarissa menatapnya tidak percaya.

"Siapa dia?"

Kaizer mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Untuk pertama kalinya hari itu. Sebuah wajah muncul dalam pikirannya.

Wanita keras kepala yang terus menolaknya.

Wanita yang selalu menatapnya dengan kesal.

Wanita yang bahkan tidak tertarik pada kekayaannya.

Elzavia Veyra.

Rahang Kaizer mengeras.

Sial.

Ia tidak seharusnya memikirkan wanita itu sekarang.

Masalah keluarga jauh lebih penting.

Namun entah kenapa, di tengah kekacauan ini, sosok Elzavia justru menjadi satu-satunya hal yang terasa nyata.

Sementara itu Clarissa memperhatikan perubahan kecil di wajah Kaizer.

Dan untuk pertama kalinya...

Ia benar-benar cemburu.

Karena meski Kaizer tidak menyebut nama siapa pun...

Tatapan pria itu sudah memberikan jawabannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel