Pustaka
Bahasa Indonesia

Pesona Berbahaya Sang Miliarder

57.0K · Ongoing
Ayu Andita
48
Bab
56
View
9.0
Rating

Ringkasan

"Jangan pernah jatuh cinta pada pria yang mampu membeli segalanya... termasuk hatimu." Elzavia Veyra tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya karena satu pertemuan dengan Kaizer Valtieri—miliarder muda paling berpengaruh, tampan, dan berbahaya yang menjadi incaran banyak wanita. Di balik pesonanya yang memikat dan senyumnya yang mampu meluluhkan siapa pun, Kaizer menyimpan sisi gelap yang tak diketahui dunia. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, dan kali ini, yang ia inginkan adalah Elzavia. Ketika masalah besar mengancam keluarga Elzavia, Kaizer datang menawarkan bantuan yang tak bisa ia tolak. Namun, semua pertolongan itu memiliki harga yang harus dibayar. Menjadi wanita di sisi Kaizer ternyata jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan. Dunia penuh kemewahan, pesta eksklusif, dan perhatian berlebihan sang miliarder perlahan menyeret Elzavia ke dalam pusaran hasrat yang berbahaya. Semakin dekat mereka, semakin sulit Elzavia membedakan mana cinta dan mana obsesi. Namun saat rahasia masa lalu Kaizer mulai terungkap, Elzavia harus memilih—bertahan dalam dekapan pria yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi sebelum hatinya hancur untuk selamanya. Sebab mencintai Kaizer Valtieri bukan hanya tentang kebahagiaan... Melainkan tentang mempertaruhkan hati, masa depan, dan seluruh hidupnya.

RomansaModernBillionaireTuan MudaLove after MarriageOne-night StandCinta Pada Pandangan PertamaPernikahanTersesat/ObsesifDewasa

bab 1 Undangan

Hujan turun sejak sore, membasahi jalanan kota yang dipenuhi cahaya lampu gedung pencakar langit. Dari balik jendela besar apartemen mungilnya, Elzavia Veyra memandang langit malam yang kelabu dengan tatapan kosong.

Telepon di tangannya masih menampilkan pesan yang membuat dadanya terasa sesak.

Tagihan rumah sakit.

Tagihan pinjaman.

Peringatan terakhir.

Seolah hidup belum cukup sulit, semuanya datang bersamaan.

Elzavia mengembuskan napas panjang. Rambut hitam panjangnya yang tergerai bergelombang jatuh menutupi sebagian wajah cantiknya.

"Aku harus bagaimana lagi..." gumamnya lirih.

Suara notifikasi kembali terdengar.

Kali ini bukan pesan dari bank.

Melainkan dari ibunya.

"Nak, Ibu sudah lebih baik. Jangan terlalu memikirkan biaya rumah sakit. Ibu tidak ingin membebanimu."

Mata Elzavia langsung memanas.

Justru karena itulah ia semakin merasa bersalah.

Sudah dua tahun ia bekerja tanpa henti sebagai desainer interior freelance. Mengambil proyek siang dan malam. Mengorbankan waktu istirahat demi membayar pengobatan ibunya.

Namun penghasilan yang ia dapatkan tak pernah cukup.

Belum lagi mantan tunangannya yang kabur membawa sebagian besar tabungannya beberapa bulan lalu.

Elzavia tertawa pahit.

"Benar-benar hidup yang sempurna."

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu apartemennya diketuk.

Elzavia mengernyit.

Malam-malam begini siapa yang datang?

Saat membuka pintu, ia langsung terdiam.

Seorang pria berjas hitam berdiri tegak di depan unit apartemennya.

Pria itu terlihat seperti pengawal profesional.

Wajahnya dingin tanpa ekspresi.

"Nona Elzavia Veyra?"

"Ya?"

"Saya mendapat tugas mengantarkan undangan untuk Anda."

"Undangan?"

Pria itu menyerahkan sebuah amplop hitam elegan dengan segel emas.

Elzavia menerimanya dengan bingung.

"Siapa yang mengirim ini?"

"Maaf. Saya hanya diperintah untuk menyerahkannya."

Setelah mengatakan itu, pria tersebut pergi begitu saja.

Elzavia berdiri terpaku beberapa saat sebelum akhirnya menutup pintu.

Perlahan ia membuka amplop itu.

Matanya langsung membesar.

Di dalamnya terdapat kartu eksklusif berwarna hitam dengan tulisan emas yang sangat mewah.

KAIZER VALTIERI

Nama itu langsung membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Siapa yang tidak mengenal Kaizer Valtieri?

Miliarder muda yang sering muncul di berbagai majalah bisnis internasional.

Pemilik perusahaan teknologi terbesar di Eropa.

Pria yang konon memiliki kekayaan yang bahkan sulit dihitung.

Pria yang wajahnya sering membuat internet gempar setiap kali fotonya muncul.

Dan sekarang...

Namanya tertulis di kartu yang sedang berada di tangan Elzavia.

Dengan tangan gemetar, ia membaca isi surat itu.

"Saya ingin bertemu dengan Anda."

"Besok malam."

"Hotel Valtieri Grand."

"Pukul 19.00."

"Jangan menolak."

Elzavia berkedip beberapa kali.

Lalu membaca ulang.

Dan membaca lagi.

"Apa-apaan ini?"

Ia bahkan tidak mengenal Kaizer Valtieri.

Kenapa miliarder itu ingin bertemu dengannya?

---

Keesokan malam.

Hotel Valtieri Grand berdiri megah di tengah kota.

Bangunannya menjulang tinggi dengan desain modern yang memancarkan kemewahan dari segala sudut.

Elzavia berdiri di depan pintu masuk sambil menatap kagum.

Satu malam menginap di hotel ini mungkin setara dengan biaya hidupnya selama beberapa bulan.

Ia menelan ludah.

"Ini pasti lelucon."

Namun rasa penasaran membuatnya tetap melangkah masuk.

Begitu tiba di lobi utama, seorang wanita cantik berseragam langsung menyambutnya.

"Nona Elzavia?"

"Ya?"

"Silakan ikut saya. Tuan Valtieri sudah menunggu."

Jantung Elzavia langsung berdegup lebih keras.

Mereka memasuki lift privat.

Naik.

Terus naik.

Hingga akhirnya berhenti di lantai paling atas.

Pintu lift terbuka.

Sebuah restoran eksklusif yang biasanya hanya menerima tamu-tamu penting malam itu terlihat kosong.

Sangat kosong.

Hanya ada satu meja.

Satu pria.

Dan seluruh ruangan seolah berpusat padanya.

Elzavia tanpa sadar menghentikan langkah.

Untuk sesaat ia lupa cara bernapas.

Kaizer Valtieri jauh lebih tampan daripada yang pernah ia lihat di media.

Tubuh tinggi tegap.

Rahang tegas.

Rambut hitam lurus yang tersisir rapi.

Tatapan mata kelabu yang tajam dan sulit ditebak.

Setelan hitam mahal yang membungkus tubuh atletisnya membuat pria itu tampak seperti tokoh utama dalam film yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata.

Kaizer mengangkat pandangan.

Tatapan mereka bertemu.

Dan entah kenapa, Elzavia merasa seperti seekor rusa yang baru saja menjadi target seekor predator.

Pria itu berdiri perlahan.

Lalu berjalan mendekatinya.

Setiap langkahnya tenang.

Penuh kendali.

Penuh kepercayaan diri.

Sampai akhirnya berhenti tepat di hadapan Elzavia.

"Akhirnya kita bertemu."

Suara Kaizer dalam dan menenangkan namun justru membuat bulu kuduk Elzavia meremang.

"Maaf... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Kaizer menatapnya cukup lama sampai Elzavia merasa gugup.

Lalu sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis.

"Tidak."

"Kalau begitu kenapa Anda mengundang saya?"

"Kau benar-benar tidak ingat?"

Elzavia menggeleng.

Kaizer terkekeh pelan.

"Aku sudah mencarimu selama dua tahun, Elzavia."

Kalimat itu membuat napas Elzavia tercekat.

"Apa?"

"Aku berkata... aku sudah mencarimu selama dua tahun."

"Tapi kenapa?"

Tatapan Kaizer berubah dalam.

Terlalu dalam.

Seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan kepada siapa pun kemudian pria itu mendekat sedikit.

"Ceritanya panjang."

"Dan mulai malam ini..."

Suaranya turun menjadi lebih rendah.

"Hidupmu akan berubah selamanya."

Elzavia belum menyadari bahwa pertemuan malam itu bukanlah kebetulan.

Ia juga belum tahu bahwa Kaizer Valtieri tidak pernah percaya pada takdir.Karena sejak awal pria itu memang sengaja datang untuk memilikinya.

Elzavia terdiam beberapa detik setelah mendengar kalimat itu.

Ruangan mewah yang dipenuhi cahaya keemasan mendadak terasa sesak.

Pria di hadapannya berbicara seolah mereka memiliki hubungan yang sangat penting. Seolah hidupnya memang berkaitan dengan Kaizer Valtieri.

Padahal mereka bahkan baru bertemu malam ini.

"Aku sudah mencarimu selama dua tahun."

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Elzavia menarik napas panjang lalu menegakkan bahunya.

"Maaf, Tuan Valtieri."

Kaizer menatapnya tanpa berkedip.

"Ada apa?"

"Aku rasa Anda salah orang."

Alis pria itu sedikit terangkat.

"Salah orang?"

"Ya."

Elzavia memaksakan senyum sopan.

"Saya tidak mengenal Anda. Saya juga tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengan Anda."

"Tapi aku mengenalmu."

"Itu masalah Anda, bukan masalah saya."

Untuk pertama kalinya, ekspresi Kaizer berubah tipis.

Bukan marah.

Namun jelas tidak terbiasa dibantah.

Elzavia melanjutkan.

"Terima kasih sudah mengundang saya ke sini. Tapi saya rasa pertemuan ini sudah selesai."

Kaizer menatapnya dalam.

"Begitu saja?"

"Ya."

"Kau bahkan tidak penasaran kenapa aku mencarimu?"

"Tidak."

Jawaban itu keluar begitu cepat hingga bahkan Elzavia sendiri terkejut.

Namun ia tidak menariknya kembali.

Karena hidupnya sudah cukup rumit tanpa kehadiran seorang miliarder misterius.

Kaizer menyandarkan tubuhnya sedikit.

Tatapannya semakin tajam.

"Kau berbohong."

"Maksud Anda?"

"Kau penasaran."

Elzavia menggenggam tasnya.

"Tidak."

"Kau hanya berusaha menjaga jarak."

"Aku memang ingin menjaga jarak."

Hening sesaat.

Suara alunan piano dari sudut ruangan terdengar samar.

Kaizer menghela napas pelan.

"Baiklah."

Elzavia sedikit lega.

Akhirnya pria itu mengerti.

Namun kalimat berikutnya membuatnya kembali tegang.

"Tapi aku tidak akan menyerah."

Mata Elzavia membulat.

"Apa?"

"Aku tidak pernah menyerah pada sesuatu yang aku inginkan."

"Tuan Kaizer—"

"Kaizer."

"Aku tidak peduli Anda siapa."

Pria itu tersenyum tipis.

Justru itu yang membuatnya semakin menyebalkan.

"Aku tahu."

Elzavia menggeleng frustrasi.

Pria ini benar-benar aneh.

"Aku datang ke sini hanya karena penasaran."

"Lalu?"

"Sekarang rasa penasaranku sudah hilang."

"Kau yakin?"

"Sangat yakin."

Kaizer mengamatinya beberapa saat.

Lalu perlahan berkata,

"Kalau begitu pulanglah."

Elzavia berkedip.

Ia tidak menyangka pria itu akan membiarkannya pergi semudah ini.

"Serius?"

"Ya."

Elzavia segera mengambil langkah mundur.

"Kalau begitu permisi."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik menuju lift.

Namun sebelum pintu lift tertutup, suara Kaizer kembali terdengar.

"Elzavia."

Gadis itu menoleh.

Kaizer masih berdiri di tempatnya.

Tinggi.

Tampan.

Dan terlalu percaya diri.

"Kita akan bertemu lagi."

Elzavia mendengus pelan.

"Tidak."

"Ya."

"Tidak."

"Ya."

Elzavia memutar bola matanya.

"Selamat malam, Tuan Valtieri."

Pintu lift tertutup meninggalkan Kaizer seorang diri.

Di dalam lift, Elzavia mengembuskan napas panjang.

Akhirnya ia merasa seperti baru lolos dari wawancara kerja paling aneh di dunia.

"Aku tidak butuh masalah baru."

Begitu tiba di lobi, ia langsung keluar dari hotel.

Udara malam menyambutnya.

Hujan sudah berhenti.

Lampu-lampu kota berkilauan indah.

Elzavia berjalan menuju halte taksi di pinggir jalan.

Namun perasaannya tetap tidak nyaman.

Ada sesuatu tentang Kaizer Valtieri yang membuatnya sulit tenang.

Tatapan pria itu. dan cara pria itu berbicara.

Dan keyakinan aneh yang dimilikinya.

Seolah dunia selalu berjalan sesuai keinginannya.

"Dasar miliarder gila."

Elzavia menggeleng lalu masuk ke taksi. ia sama sekali tidak menyadari bahwa dari lantai paling atas hotel, seseorang sedang memperhatikannya.

Kaizer berdiri di balik jendela kaca raksasa.

Tangannya masuk ke saku celana.

Tatapan kelabunya mengikuti mobil taksi yang membawa Elzavia pergi.

Tak jauh dari sana, seorang pria berjas menghampiri.

"Asisten Tuan."

Kaizer tidak mengalihkan pandangannya.

"Ya?"

"Nona Elzavia menolak."

"Aku tahu."

"Apakah rencana akan dibatalkan?"

Senyum tipis muncul di sudut bibir Kaizer.

Senyum yang membuat wajah tampannya terlihat jauh lebih berbahaya.

"Tidak."

"Tapi dia jelas tidak tertarik."

"Itulah yang membuatnya berbeda."

Asistennya terdiam.

Kaizer menatap lampu-lampu kota di kejauhan lalu berkata pelan,"Dia boleh menolak hari ini."

Tatapan matanya menggelap.

"Tapi cepat atau lambat..."

"Aku akan membuatnya datang kepadaku atas keinginannya sendiri."

Dan entah kenapa, Kaizer Valtieri terdengar sangat yakin akan hal itu.