Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Penjelasan Kaizer

Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

Elzavia menyandarkan kepalanya ke jendela taksi sambil memandangi lampu-lampu kota yang berlalu di luar.

Entah kenapa sosok Kaizer terus muncul di pikirannya.

Pria itu terlalu percaya diri.

Terlalu misterius.

Dan terlalu tampan untuk ukuran manusia normal.

"Aish... kenapa aku malah memikirkan dia?"

Elzavia mengacak rambutnya kesal.

Ia tidak ingin terlibat dengan pria seperti itu.

Orang kaya selalu hidup di dunia yang berbeda.

Sedangkan dirinya?

Ia hanya wanita biasa yang sedang berjuang bertahan hidup.

Sesampainya di apartemen, Elzavia segera membersihkan diri dan mencoba tidur.

Namun baru saja ia memejamkan mata, suara ponselnya berbunyi.

Satu pesan masuk.

Nomor tak dikenal.

Awalnya ia berniat mengabaikannya.

Namun rasa penasaran membuatnya membuka pesan itu.

"Sudah sampai rumah?"

Elzavia langsung duduk tegak.

"Apa?!"

Matanya membulat.

Tak mungkin.

Jangan bilang...

Dengan cepat ia membalas.

"Siapa ini?"

Tak sampai lima detik.

Balasan datang.

"Kaizer."

Elzavia hampir menjatuhkan ponselnya.

"Astaga!"

Bagaimana pria itu bisa mendapatkan nomornya?

Ia segera mengetik.

"Dari mana Anda mendapatkan nomor saya?"

"Aku punya banyak cara."

Elzavia memejamkan mata.

Kesabarannya mulai menipis.

"Jangan hubungi saya lagi."

Kali ini balasan sedikit lebih lama.

Lalu muncul.

"Baik."

Elzavia tersenyum puas.

"Nah begitu dong."

Lima detik kemudian.

Pesan lain masuk."Kalau begitu aku akan datang langsung."

"KAIZER!"

Elzavia menjerit frustrasi sendirian.

---

Keesokan paginya.

Pukul delapan.

Elzavia sedang sibuk menyelesaikan desain interior untuk klien ketika teleponnya berbunyi.

Nama klien muncul di layar.

Ia segera mengangkatnya.

"Halo, Pak Rudi."

"Elzavia..."

Nada suara pria paruh baya itu terdengar aneh.

Membuat jantung Elzavia berdebar.

"Ada apa, Pak?"

"Saya minta maaf."

"Maksudnya?"

"Proyek hotel yang kemarin... dibatalkan."

Wajah Elzavia langsung pucat.

"Dibatalkan?"

"Iya."

"Tapi saya sudah mengerjakan hampir semuanya."

"Saya tahu."

"Pak, saya sangat membutuhkan proyek itu."

"Maaf. Keputusan bukan dari saya."

Telepon terputus.

Elzavia terdiam.

Proyek itu adalah sumber penghasilan terbesarnya bulan ini.

Jika proyek itu hilang...

Ia tidak tahu bagaimana cara membayar tagihan rumah sakit ibunya.

Tangannya mulai gemetar.

Belum sempat ia menenangkan diri, telepon lain masuk.

Kali ini dari rumah sakit.

Jantungnya semakin tidak tenang.

"Halo?"

"Nona Elzavia?"

"Ya."

"Kami ingin mengingatkan mengenai pembayaran yang tertunda."

Elzavia menutup mata.

"Saya sedang mengusahakannya."

"Maaf, tapi kami membutuhkan konfirmasi secepatnya."

"Saya mengerti."

Setelah panggilan berakhir, apartemen kecil itu terasa begitu sunyi.

Elzavia duduk di sofa.

Menatap lantai kosong.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa benar-benar kehabisan jalan.

Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.

Namun ia segera mengusapnya.

Tidak.

Ia tidak boleh menyerah.

Ibunya masih membutuhkan dirinya.

Saat itulah bel pintu berbunyi.

Ting.

Ting.

Ting.

Elzavia mengerutkan kening.

Siapa lagi sekarang?

Dengan langkah lesu ia membuka pintu.

Lalu membeku.

Di depan apartemennya berdiri seorang pria berjas hitam.

Pria yang sama seperti malam sebelumnya.

Di belakang pria itu terdapat beberapa orang lain yang membawa kotak-kotak besar.

"Ada apa?"

Pria itu membungkuk sopan.

"Kiriman untuk Nona Elzavia."

"Saya tidak memesan apa pun."

"Ini dari Tuan Kaizer Valtieri."

Nama itu langsung membuat pelipisnya berdenyut.

"Tidak."

Pria itu tampak bingung.

"Maaf?"

"Saya tidak menerima apa pun darinya."

"Tapi—"

"Tolong bawa kembali."

Pria itu terlihat serba salah.

"Ini bernilai sangat mahal, Nona."

"Saya tidak peduli."

"Tuan Kaizer akan marah."

Elzavia menyilangkan tangan.

"Kalau begitu biarkan dia marah."

Kemudian...

Sebuah suara berat dan familiar terdengar dari belakang para pengawal.

"Aku tidak marah."

Jantung Elzavia nyaris berhenti.

Perlahan ia mengangkat kepala.

Dan benar saja.

Kaizer Valtieri berdiri beberapa meter darinya.

Mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku.

Rambut hitam lurusnya sedikit berantakan diterpa angin.

Tampan.

Menyebalkan.

Dan sangat tidak diundang.

Elzavia langsung memelototinya.

"Kenapa Anda ada di sini?!"

Kaizer berjalan mendekat dengan santai.

"Aku bilang akan datang langsung."

"Kupikir Anda bercanda."

"Aku jarang bercanda."

Elzavia menghela napas kasar.

"Apa yang Anda inginkan sebenarnya?"

Kaizer berhenti tepat di hadapannya.

Tatapan abu-abunya menatap wajah Elzavia cukup lama.

Seolah memastikan sesuatu.

Lalu perlahan ia berkata,

"Aku ingin membantumu."

"Aku tidak butuh bantuan Anda."

"Kau sedang kesulitan."

"Itu bukan urusan Anda."

"Mulai sekarang itu urusanku."

Elzavia langsung mendelik.

"Siapa yang memberi Anda hak untuk mengatakan itu?"

Untuk pertama kalinya, senyum Kaizer menghilang dan entah kenapa membuat Elzavia gugup.

"Aku akan menjelaskan semuanya."

"Menjelaskan apa?"

Kaizer menarik napas perlahan kemudian mengucapkan kalimat yang membuat dunia Elzavia seakan berhenti berputar.

"Karena ayahmu pernah menyelamatkan nyawaku."

Elzavia membeku.

"Apa...?"

Matanya membesar.

Ayahnya?

Ayah yang sudah meninggal tujuh tahun lalu?

Bagaimana mungkin Kaizer mengenalnya?

Dan kenapa selama ini tidak pernah ada yang menceritakan hal itu?

Elzavia menatap Kaizer seolah pria itu baru saja mengucapkan sesuatu yang paling tidak masuk akal di dunia.

Angin pagi berembus pelan di koridor apartemen.

Namun suasana di antara mereka terasa tegang.

Sangat tegang.

"Ayahku?" ulang Elzavia pelan.

Kaizer mengangguk.

"Benar."

"Kau mengenal ayahku?"

"Ya."

"Tidak mungkin."

Jawaban itu keluar begitu cepat.

Kaizer sedikit mengernyit.

"Aku tidak berbohong."

"Tapi aku tidak pernah mendengar namamu."

"Itu karena—"

"Ayahku juga tidak pernah bercerita tentangmu."

Kaizer terdiam sesaat.

Elzavia menggeleng kuat.

Tidak.

Ini terlalu aneh.

Terlalu mendadak.

Dan terlalu sulit dipercaya.

Pria yang bahkan tidak pernah muncul dalam hidup mereka tiba-tiba datang mengaku memiliki hubungan dengan ayahnya.

Bagaimana mungkin?

"Aku tidak tahu apa tujuanmu sebenarnya."

"Tujuanku jelas."

"Membantuku?"

"Ya."

Elzavia tertawa kecil.

Tawa yang terdengar pahit.

"Orang seperti Anda tidak melakukan sesuatu tanpa alasan."

Tatapan Kaizer sedikit berubah.

"Kau menganggapku seperti itu?"

"Aku bahkan tidak mengenalmu."

"Karena itulah aku mencoba menjelaskannya."

"Aku tidak ingin mendengarnya."

Suara Elzavia terdengar lebih keras kali ini.

Para pengawal yang berdiri di belakang langsung saling pandang.

Sementara Kaizer tetap tenang.

Terlalu tenang.

Dan itu justru membuat Elzavia semakin kesal.

"Aku tidak meminta bantuanmu."

"Aku tahu."

"Aku tidak meminta kiriman mahal ini."

"Aku tahu."

"Aku juga tidak meminta kau datang ke sini."

Kaizer menghela napas pelan.

"Aku tahu."

"Kalau begitu berhentilah."

Untuk pertama kalinya ada emosi samar yang melintas di wajah pria itu.

"Hentikan apa?"

"Mengganggu hidupku."

Hening.

Elzavia menggenggam tali tasnya erat.

"Aku sedang berusaha menyelesaikan masalahku sendiri."

"Kau tidak harus melakukannya sendirian."

"Aku sudah terbiasa."

"Dan itu tidak sehat."

"Aku tidak peduli."

Kaizer menatapnya cukup lama.

Tatapan itu membuat Elzavia merasa seperti sedang dibaca habis-habisan.

Namun ia menolak untuk mengalah.

Pria ini terlalu masuk ke dalam hidupnya.

Terlalu cepat.

Terlalu dalam.

Padahal mereka bahkan bukan siapa-siapa.

"Aku menghargai apa pun niatmu."

Suara Elzavia sedikit melembut.

"Tapi aku tidak membutuhkan bantuanmu."

"Elzavia—"

"Tolong."

Kaizer menghentikan ucapannya.

"Aku mohon."

Ada kelelahan dalam suara wanita itu.

Keletihan yang selama ini selalu ia sembunyikan.

"Aku sedang berusaha bertahan."

Mata Kaizer menatapnya tanpa berkedip.

"Dan aku tidak ingin seseorang datang lalu membuat semuanya semakin rumit."

Hening kembali menyelimuti mereka.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Elzavia melangkah mundur.

"Sampaikan pada orang-orangmu untuk membawa semua barang itu pergi."

"Elzavia."

"Dan jangan datang lagi ke apartemenku."

Kaizer mengepalkan rahangnya.

Namun tidak memaksa.

Tidak kali ini.

Elzavia berbalik.

Lalu berjalan meninggalkan lorong apartemen.

Semakin jauh.

Semakin cepat.

Tanpa menoleh lagi.

---

Dua puluh menit kemudian.

Elzavia tiba di taman kota.

Tempat yang selalu ia kunjungi saat pikirannya kacau.

Taman itu cukup luas.

Dipenuhi pepohonan rindang.

Rumput hijau yang terawat.

Dan sebuah danau kecil di tengahnya.

Udara pagi terasa lebih sejuk dibanding pusat kota.

Elzavia berjalan perlahan di sepanjang jalur batu.

Berusaha menenangkan pikirannya.

Namun percakapan dengan Kaizer terus terngiang.

"Karena ayahmu pernah menyelamatkan nyawaku."

Ia mendesah panjang.

"Omong kosong."

Ayahnya hanyalah seorang guru.

Pria sederhana yang menghabiskan hidupnya membantu orang lain.

Mustahil seorang miliarder seperti Kaizer mengenalnya.

Benar-benar mustahil.

Elzavia akhirnya duduk di sebuah bangku taman yang menghadap danau.

Beberapa anak kecil sedang memberi makan ikan.

Pasangan lansia berjalan santai sambil bergandengan tangan.

Pemandangan yang biasanya membuat hatinya tenang.

Namun tidak hari ini.

Hari ini pikirannya terasa berisik.

Sangat berisik.

"Kenapa sih dia tidak mau menyerah?"

gumamnya.

"Padahal sudah jelas aku menolak."

Ia menyandarkan tubuh ke bangku.

Menatap langit biru.

Lalu memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ia ingin melupakan semua masalahnya walau hanya beberapa menit.

Namun tiba-tiba—

"Maaf..."

Suara seorang anak kecil terdengar dari samping.

Elzavia membuka mata.

Seorang bocah perempuan berusia sekitar tujuh tahun berdiri di depannya di tangannya terdapat sebuah mawar putih.

"Kakak cantik."

Elzavia tersenyum tipis.

"Ya?"

"Ini untuk Kakak."

Elzavia berkedip.

"Untukku?"

Anak itu mengangguk semangat.

"Om ganteng itu yang menyuruh."

Senyum Elzavia langsung lenyap.

"Om ganteng?"

Anak itu menunjuk ke arah seberang taman.

Elzavia menoleh dan tepat di bawah pohon besar di kejauhan...

berdiri Kaizer Valtieri , masih mengenakan kemeja hitam yang sama.

Masih dengan tatapan tenang yang membuatnya kesal dan yang paling menyebalkan...

pria itu tampak sedang menikmati reaksinya.

Elzavia langsung berdiri.

"KAIZER VALTIERI!"

Sementara di kejauhan, sudut bibir pria itu justru terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel