Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Tawaran dan Ajakan Kerjasama

Clarissa terdiam cukup lama setelah melihat ekspresi Kaizer.

Meski hanya sesaat.

Meski hanya sepersekian detik.

Ia tahu dirinya tidak salah.

Ada seseorang.

Ada wanita lain yang memenuhi pikiran pria itu.

Dan fakta tersebut membuat dadanya panas.

Namun Clarissa bukan wanita yang mudah menyerah.

Jika Kaizer tidak bisa ditaklukkan dengan perasaan...

Maka ia akan menggunakan cara lain.

Cara yang lebih masuk akal bagi seorang pebisnis.

Perlahan Clarissa menarik napas.

Lalu kembali duduk dengan tenang.

Sikap emosionalnya menghilang secepat datangnya.

Perubahan itu membuat Kaizer sedikit menyipitkan mata.

"Ada apa lagi?"

Clarissa tersenyum tipis.

"Kita berdua terlalu dewasa untuk membahas cinta."

Kaizer tidak menjawab.

"Aku datang membawa penawaran."

"Aku tidak tertarik."

"Kau bahkan belum mendengarnya."

Kaizer menyandarkan tubuhnya ke meja kerja.

Tatapannya datar.

"Silakan."

Clarissa merapikan rambut pirangnya.

Lalu berkata pelan,

"Keluarga Marquez memiliki saham dua belas persen di Valtieri International."

Ekspresi Kaizer tetap tenang.

Namun pikirannya langsung bekerja.

Ia tahu angka itu.

Dan ia tahu artinya.

"Kalau?"

"Kalau pernikahan ini terjadi, saham itu akan dialihkan kepadamu."

Kaizer terdiam.

Clarissa melanjutkan.

"Bukan hanya itu."

Wanita itu mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

Lalu meletakkannya di atas meja.

Kaizer membuka dokumen tersebut.

Makin lama ia membaca.

Makin dingin ekspresinya.

Karena isi dokumen itu bukan main-main.

Proyek energi bernilai miliaran dolar.

Hak kerja sama internasional.

Akses ke beberapa jaringan investasi yang selama ini sulit ditembus.

Semua itu bernilai sangat besar.

Bahkan untuk Kaizer.

"Ini serius?"

"Sangat serius."

Kaizer menutup map tersebut.

Lalu menatap Clarissa.

"Ayahmu setuju?"

"Bukan hanya ayahku."

Clarissa tersenyum tipis.

"Keluargaku."

Ruangan kembali sunyi.

Clarissa berdiri perlahan.

Lalu berjalan mendekati jendela.

"Kau tahu masalah yang sedang kau hadapi."

Kaizer tidak menyukai arah pembicaraan ini.

Sama sekali tidak.

Namun ia tetap diam.

"Ayahmu mulai kehilangan kesabaran."

Clarissa menoleh.

"Dan dewan direksi mulai mempertanyakan keputusanmu."

Tatapan Kaizer mengeras.

Karena wanita itu tidak salah.

Beberapa bulan terakhir memang tidak mudah.

Ada banyak tekanan dari berbagai pihak.

Banyak yang ingin mengambil alih kendali perusahaan.

Banyak yang menunggu dirinya melakukan kesalahan.

Clarissa melanjutkan.

"Jika kau menolak pernikahan ini..."

"Katakan langsung intinya."

Wanita itu tersenyum tipis.

"Perang akan dimulai."

Hening.

"Kau akan berhadapan dengan keluargamu sendiri."

"Keluarga Marquez."

"Dewan direksi."

"Dan para investor yang mendukung mereka."

Kaizer mengepalkan rahangnya.

Karena ia tahu ancaman itu nyata.

Sangat nyata.

Clarissa melangkah semakin dekat.

Namun kali ini suaranya melembut.

"Aku tidak memintamu mencintaiku."

Tatapan Kaizer terangkat.

"Aku hanya meminta pernikahan."

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

"Aku tidak akan mengganggu kehidupan pribadimu."

"Aku tidak akan mencampuri keputusan bisnismu."

"Kau tetap bebas melakukan apa pun."

Clarissa tersenyum pahit.

"Bukankah itu yang selama ini kau inginkan?"

Kaizer terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak wanita itu masuk ke kamarnya...

Ia benar-benar mempertimbangkan perkataannya.

Bukan karena tertarik atau perasaan melainkan karena logika.Murni logika.

Dan itu justru berbahaya.

Karena Kaizer selalu membuat keputusan berdasarkan logika.

Clarissa melihat keraguan kecil yang muncul di mata pria itu.

Ia tahu dirinya mulai berhasil.

"Mungkin ada wanita yang kau sukai."

Nada suaranya pelan.

"Tapi apakah wanita itu bisa menyelamatkan perusahaanmu?"

Kaizer tidak menjawab.

"Mampukah dia menghentikan semua yang akan terjadi?"

Hening.

"Mampukah dia memberimu apa yang kuberikan?"

Untuk pertama kalinya malam itu...

Kaizer tidak memiliki jawaban langsung.

Dan Clarissa mengetahui hal itu.

Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, Kaizer merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Karena setiap kali ia mencoba menerima ide pernikahan itu...

Yang muncul di pikirannya justru wajah seorang wanita keras kepala yang selalu menolaknya.

Elzavia Veyra.

Dan entah kenapa ia merasa keputusan yang akan diambilnya malam ini bisa mengubah hidup mereka berdua untuk selamanya

Clarissa memperhatikan Kaizer yang masih berdiri di dekat jendela.

Untuk pertama kalinya malam itu, pria tersebut tidak langsung mematahkan setiap perkataannya.

Dan itu berarti masih ada celah.

Masih ada kesempatan.

"Aku tahu kau tidak menyukaiku."

Suara Clarissa terdengar tenang.

Tidak lagi dipenuhi emosi seperti sebelumnya.

"Aku juga tahu kau bukan pria yang akan menikah hanya karena diperintah."

Kaizer menatap ke luar jendela.

"Kau cukup mengenalku."

"Karena kita berasal dari dunia yang sama."

Clarissa melangkah mendekat.

"Bukankah sejak awal hidup kita selalu seperti ini?"

Kaizer tidak menjawab.

Namun wanita itu tetap melanjutkan.

"Kita lahir bukan sebagai orang bebas."

"Kita lahir sebagai pewaris."

"Sebagai alat untuk menjaga kerajaan bisnis keluarga."

Tatapan Kaizer sedikit menggelap.

Karena meskipun ia membenci kenyataan itu...

Ia tidak bisa menyangkalnya.

Clarissa tersenyum pahit.

"Bedanya, aku sudah menerima kenyataan itu sejak lama."

Hening.

"Kau masih berusaha melawannya."

"Aku tidak akan menerima hidup yang ditentukan orang lain."

"Kau pikir aku menerimanya?"

Kaizer akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Clarissa tertawa kecil.

Namun kali ini terdengar getir.

"Aku juga punya mimpi, Kaizer."

"Aku juga pernah jatuh cinta."

Kalimat itu membuat Kaizer sedikit terkejut.

"Tapi pada akhirnya aku belajar satu hal."

"Apa?"

"Cinta tidak selalu cukup."

Ruangan kembali sunyi.

Clarissa menyilangkan tangan.

"Di dunia kita, cinta bahkan sering menjadi hal yang paling tidak penting."

Kaizer mengepalkan rahangnya.

Ia tidak menyukai kalimat itu.

Sama sekali tidak.

Namun wanita itu terus berbicara.

"Dengar."

"Misalnya kau benar-benar menyukai wanita lain."

Tatapan Kaizer berubah tipis.

Clarissa menangkapnya.

Meski pria itu berusaha menyembunyikannya.

"Apa yang bisa kau berikan padanya kalau perusahaanmu sedang diserang dari berbagai arah?"

Kaizer diam.

"Apa yang akan terjadi jika keluargamu mulai menggunakan segala cara untuk menjatuhkanmu?"

Hening.

"Mereka tidak bisa."

Clarissa menggeleng.

"Mereka bisa."

Nada suaranya sangat serius.

"Dan kau tahu itu."

Kaizer tidak membantah.

Karena ia memang tahu.

Leonardo Valtieri bukan orang yang suka kalah.

Jika ayahnya benar-benar bergerak, situasinya bisa menjadi jauh lebih rumit.

Clarissa melanjutkan.

"Ini bukan lagi soal pernikahan."

"Lalu?"

"Ini soal posisi."

"Pengaruh."

"Kekuasaan."

Dan yang paling penting..."

Wanita itu menatap lurus ke arahnya.

"Perlindungan."

Kaizer menyipitkan mata.

Clarissa menarik napas panjang.

"Kau mungkin mampu menghadapi mereka."

"Tapi bagaimana dengan orang-orang di sekitarmu?"

Rahang Kaizer langsung mengeras.

Karena ia memahami arah pembicaraan itu.

Sangat jelas.

"Apa maksudmu?"

"Aku hanya berbicara realistis."

"Jangan bermain teka-teki."

Clarissa menghela napas.

"Jika keluarga Valtieri memutuskan menyerangmu, mereka tidak selalu menyerangmu secara langsung."

Hening.

"Mereka akan menyerang apa yang kau pedulikan."

Kalimat itu menghantam tepat sasaran.

Tatapan Kaizer berubah dingin.

Sangat dingin.

Dan Clarissa tahu ia berhasil menyentuh titik sensitif.

"Aku tidak mengancammu."

"Aku sedang menunjukkan kenyataan."

Kaizer menatapnya tanpa ekspresi.

Namun dalam pikirannya, berbagai kemungkinan mulai bermunculan.

Ia mengenal keluarganya, terlalu mengenal.

Jika situasi memburuk mereka bisa melakukan banyak hal.

Membekukan proyek, menekan rekan bisnis dan tentunya menyebarkan isu.

paling mudah menghancurkan reputasi atau bahkan memanfaatkan orang-orang yang dianggap penting.

Clarissa kembali berbicara.

"Pernikahan ini akan mengakhiri semuanya."

"Mengakhiri?"

"Ya."

"Aliansi terbentuk."

"Dewan direksi tenang."

"Investor berhenti menekanmu."

"Keluargamu tidak punya alasan untuk menyerang."

Kaizer mengalihkan pandangan. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran dengan ayahnya...

Ia benar-benar mempertimbangkan seluruh konsekuensi yang ada.

Bukan karena ingin menikahi Clarissa.

Tetapi karena logika yang disampaikan wanita itu terlalu masuk akal.

Dan Kaizer membenci kenyataan tersebut.

Sementara Clarissa berdiri diam.

Menunggunya.

Karena ia tahu pria seperti Kaizer tidak akan membuat keputusan berdasarkan rayuan.

Namun fakta

Fakta sering kali jauh lebih sulit ditolak.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel