Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

####Bab 5 – Hening dalam Luka

Pagi datang dengan tetesan embun lembut, namun hawa di dalam rumah Dion tetap beku dan sunyi. Iris Bangun di sofa ruang tamu, menatap tirai yang setengah terbuka. Pikirannya membelenggu satu rasa yang tak kunjung pergi: sepi. Ia mematikan alarm ponsel yang tak ambil pusing berapa jam tidur yang ia dapat. Tubuhnya pegal, otot-ototnya seakan menolak bergerak. Setiap inci kamar ini mengingatkannya pada kisah lima hari lalu: perkenalan pahit, hari-hari tanpa sapaan hangat, hingga malam semalam yang menyisakan luka dalam.

Ketika ia melangkah pelan ke dapur, aroma kopi hitam menguar tipis. Pelayan rumah melempar senyum sopan saat meletakkan cangkir di depannya. “Sarapan Ibu sudah siap di meja, Nona.” Iris mengangguk sambil menekan bibirnya. Sarapan itu tampak lezat: roti bakar, telur orak-arik, salad segar. Tapi baginya, rasa lapar lama lenyap karena kecemasan. Ia hanya meneguk segelas air putih dingin sebelum menatap kopi hangat di depannya.

Dion belum muncul. Biasanya ia sudah duduk di sofa ruang tamu, mengetik email, atau menatap laporan keuangan. Sekarang, ia seperti menghilang. Iris meremas garam tangan, menahan perasaan yang menendang; campuran rindu dan takut. Ia tahu satu-satunya cara bertahan adalah: tampil kuat, sabar, dan tak menuntut lebih. Meskipun hatinya berteriak, menuntut cinta yang sampai saat ini tak kunjung datang.

Ketika pintu pelan dibuka, Dion masuk dengan ekspresi datar. Ia mengenakan setelan rapi, membawa segunung dokumen. Matanya menatap sekilas pada Iris, seperti memeriksa: “Kamu di sini, seperti yang kubilang.” Iris menelan ludah, memaksakan senyuman. “Aku akan pergi ke kantor sekarang.”

Dion mengangguk singkat. “Akan kuberi sopir mobil untuk antarimeskipun… kamu tak diizinkan berbicara tentang urusan rumah tangga kepada siapa pun.” Kata-kata itu memukul Iris seolah tulang rusuknya dihunjam. Ia berusaha menahan letupan amarah, menunduk dan mengangguk pelan. Setelah Dion pergi, ia menatap kosong ke pintu yang tertutup tiba-tiba. Sekali lagi, ia tahu: bukan cintanya yang dipedulikan. Tapi citra dan kewajiban semata.

---

Di perjalanan ke kantor, mobil Dion melaju perlahan melewati jalanan pagi. Iris duduk di kursi belakang, memegang tas kecil di pangkuannya. Sekilas, ia melihat siluet gedung-gedung pencakar langit, perkantoran mewah yang menantang sinar matahari. Rasanya serba tidak cocok—di sanalah kehidupan dunia Dion berputar; kehidupan yang tak punya tempat untuk wanita sepertinya.

Saat sopir mengantarnya ke lobi gedung, Iris turun dengan langkah tenang, menahan napas pelan. Lobi kantor Dion terkesan megah, marmer putih berkilau, lukisan abstrak di dinding, dan kursi empuk berwarna krem. Beberapa karyawan mencuri pandang—mata mereka memendam banyak pertanyaan yang susah tertahankan. “Siapa wanita ini?” tanyanya dalam hati. Iris menunduk, memainkan ujung gaunnya, mencoba menjadi bayangan yang tak terlihat. Ia mengingat pesan Dion semalam: “Jangan berdiri terlalu lama di pas dekat pintu masuk. Bergeraklah, seolah hanya mau menemui bos tanpa ingin dekat dengan karyawannya.”

Biasanya wanita di posisi lain akan mendapat kursi tamu khusus. Namun kali ini, sopir Dion mengantarnya ke ruang konferensi kosong di pojok lantai. “Silakan menunggu, Nona,” kata sopir dengan nada sopan tapi tegas. Iris mematung sejenak, lalu duduk di kursi hitam. Ruang itu sepi; hanya meja panjang dan kursi yang tertata rapi. Di satu sudut, ada segelas air mineral yang masih segar. Iris menarik napas dalam, mengangkat kaca mata hitam minus yang ia kenakan, dan menatap layar ponsel. Tidak ada pesan, tidak ada harapan. Hanya hening yang memeluk erat.

Dia tak tahu berapa lama harus menunggu. Beberapa menit berlalu, namun pintu tetap tertutup rapat. Hening di dalam ruang konferensi seolah menelan semua rasa. Iris menekan telapak tangannya di dada, menahan jantungnya agar tidak berdetak terlalu kencang. “Kamu kuat, Iris,” bisiknya lirih. Ia menutup mata, mencoba meneguhkan diri: perkawinan ini bukan tentang cinta; ini tentang menguji kesabaran dan ketegarannya. Dan selama ini, ia percaya ia bisa bertahan—meski setiap detik terasa membunuh.

---

Tepat saat entah berapa lama berlalu, pintu ruang konferensi terbuka perlahan. Dion berdiri di ambang pintu, menyelipkan ponselnya ke dalam saku jas. Ia memandang Iris dengan tatapan dingin sekali lagi. “Sudah cukup menunggu?” tanyanya kaku. Iris mengangguk, mencoba mengangkat dagu. “Iya.” Tanpa jeda, Dion masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan suara rapat. Ia duduk di kursi paling ujung, lalu menatap Iris sambil melipat lengan.

> “Kenapa aku harus tunggu di sini? Apa ini bagian dari rencana agar aku merasa terasing?” Iris bertanya, suaranya terjeda antara kekesalan dan kelelahan.

Dion memicingkan mata, menarik napas berat. “Aku nggak ingin kamu muncul begitu saja di depan karyawan. Biar wibawaku tetap terjaga. Ini bukan tempat untukmu.”

Iris menelan ludah. “Tapi aku istrimu. Apa aku akan dicurigai kalau ikut rapat atau ke kantormu?”

Dion menatap lurus, suaranya pelan: “Ini urusan bisnis. Aku tidak ingin konflik kepentingan. Kamu harus mengerti posisimu.”

Hening lagi. Iris menatap meja kayu di antara mereka, seolah menanti jawaban lain. Namun Dion kembali menatap lurus, wajahnya seperti pertanda bahwa pembicaraan sudah selesai. Iris hanya mampu menggigit bibir, menahan desakan air mata. Dalam hati ia meratap, “Aku ini istri atau tamu asing?”

Tanpa aba-aba, Dion meninggalkan ruangan, meninggalkan Iris sendiri di kursi warna hitam itu. Pintu menutup dengan pelan, membiarkan hening kembali pekat. Iris menunduk, memejamkan mata, lalu meneguk perasaan pahit yang menyesak. Ia tahu: dalam perkawinan ini, ruang dan jarak hanyalah alat untuk menekannya, membuatnya lelah, dan meragukan keberadaannya. Ia menoleh ke kaca di tembok yang memantulkan bayangannya sendiri, dan bertanya pada diri, “Berapa lama aku bisa diperlakukan seperti ini?”

---

Sore hari, ketika matahari turun di balik gedung-gedung tinggi, Dion mengantarkan Iris kembali ke rumah. Mobil mewah berhenti di gerbang besar, dan mereka turun tanpa banyak bicara. Saat memasuki hall utama, suasana rumah terasa sepi—hanya ada seorang pelayan tua yang menunduk sopan.

> “Istri Tuan sudah pulang, Bu?” sapa si pelayan, menyodorkan handuk kecil.

Iris menunduk, mengangguk pelan. “Terima kasih.”

Ia berjalan pelan ke ruang tamu, memeriksa meja yang penuh dengan bunga segar dan buah-buahan eksotis. Semua itu terlihat indah, tapi hatinya makin hampa.

Dion berjalan menjauh, langsung menuju kantornya di ruangan di lantai atas. Ia meninggalkan Iris dengan aroma mewah rumah yang membingkai kesendiriannya.

Beberapa detik kemudian, pintu ruang kerja Dion tertutup rapat, meninggalkan suara ketukan keyboard yang pelan. Iris menatap kosong, lalu menuruni tangga kembali. Ia melintasi the grand foyer; patung-patung marmer, lukisan-lukisan modern, dan lantai marmer mengilap menegaskan keangkuhan keluarga ini—tapi baginya, semua itu hanya simbol kekosongan hati.

Ia sampai di dapur, melihat pelayan sedang menyiapkan teh sore. “Boleh aku minta satu cangkir, Bu?” tanyanya pelan.

Pelayan itu menoleh, memberi senyum lembut. “Tentu, Bu Iris. Tolong duduk di ruang tamu saja, saya antar ke sana.”

Iris mengangguk pelan dan berjalan menuju sofa empuk berwarna krim di ruang tamu. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan suara detak jam kayu menenangkan sedikit kegalauannya. Namun di dalam dada, rasa rindu pada apa yang belum pernah ia miliki—kehangatan suami yang peduli—begitu tajam menusuk. Ia menyadari: ini hanya hari kelima di rumah baru, tapi rasanya sudah bertahun-tahun ia hilang dalam dingin rumah ini.

---

Saat malam tiba, Iris menyalakan lampu meja kerja di kamarnya, duduk di depan laptop yang menampilkan file dokumen ceritanya. Ia menarik napas panjang, menatap kursor yang berkedip. Menulis adalah satu-satunya cara ia memperjuangkan rasa dalam hatinya—mencurahkan semua luka, rasa kecewa, dan harapnya yang tersembunyi.

Ia menulis:

> “Aku masih ingat, walau aku menikah tanpa cinta, aku punya hati yang ingin dicintai. Aku punya mimpi, punya impian untuk mandiri, bukan hanya istri bayangan yang berdiri di samping pria dingin. Jika aku dapat bertahan satu hari lagi, aku ingin membuktikan bahwa aku lebih kuat dari luka ini.”

Tiba-tiba, pesan masuk di layar: notifikasi dari Rangga. “Kamu baik-baik saja, Iri? Aku khawatir mendengar kabar di kantor hari ini.” Iris tersenyum samar, lalu membalas singkat: “Aku baik. Terima kasih sudah peduli.”

Setelah mematikan laptop, ia menunduk, memejamkan mata sejenak. Bayangan Rangga membawa kehangatan kecil, seakan meyakinkannya bahwa di luar sana masih ada orang yang peduli. Ia membuka mata, lalu menatap langit-langit kamar gelap.

“Mungkin, suatu hari nanti, aku akan menemukan kebahagiaan itu. Tapi sekarang… aku hanya perlu bertahan.”

---

Tidak lama kemudian, Iris berdiri di balkon kamar, memandang kota yang berkelip lampu. Hawa malam menyapu wajahnya, membuat bulu roma meremang. Ia meredam getaran di dada, mencoba menenangkan detak jantung yang tak karuan.

Di kejauhan, gedung-gedung tinggi berdiri megah, seolah tak peduli betapa kecil dan rapuh ia di bawahnya. Namun di balik kesedihan, ada satu cahaya kecil dalam hatinya—harapan bahwa masa depan masih terbuka.

Ia meneguk sisa teh hangat dari cangkir porselen, lalu menatap bulan yang mulai muncul malu-malu. Bulan itu seakan berbicara pada dirinya:

> “Jangan menyerah, meski malam terpanjang sekalipun. Pagi akan datang membawa harapan baru.”

Suara lembut membuyar lamunannya saat pintu balkon terbuka perlahan. Rangga muncul, membawa selimut ringan. “Aku pikir kamu butuh ini,” ucapnya pelan.

Iris tersentak, menatap Rangga. “Kamu… tidak seharusnya datang.”

Rangga melangkah ke samping, mengulurkan selimut. “Aku tidak bisa diam saja. Kamu tak perlu menjelaskan, cukup tahu aku selalu di sini.”

Iris menerima selimut itu, mengemas tubuhnya saat angin malam semakin dingin. Tanpa sepatah kata, Rangga berdiri di sampingnya, memberi jarak yang nyaman. Dua hati yang terluka, malam ini berbisik tanpa suara—sekadar ingin dikenang: masih ada kebaikan, meskipun dia terperangkap di pernikahan tanpa hati.

---

Rangga dan Iris berdiri berdampingan, menatap kota. Suasana hening membungkus, hanya suara kendaraan di kejauhan. Iris memalingkan wajah, menatap Rangga penuh terima kasih. “Terima kasih sudah menemani.”

Rangga menatap lembut. “Kamu tidak sendirian, Iri. Suatu hari nanti, aku yakin kamu akan menemukan tempat di mana hatimu berlabuh.”

Iris menarik napas dalam, menahan haru yang mulai menetes. “Tapi aku masih terjebak di sini. Kontrak ini belum selesai. Aku takut terperangkap selamanya.”

Rangga menghela napas. “Aku paham. Tapi selama kita punya waktu dan kesempatan, kita bisa berusaha. Aku akan tetap menjadi sahabatmu—mendengar dan membantu.”

Iris menunduk, suaranya bergetar: “Aku ingin memulai sesuatu yang baru, tapi… bagaimana caranya kalau ketakutanku terlalu besar?”

Rangga meraih tangannya, memegang erat. “Satu langkah kecil sekarang, besok mungkin akan lebih mudah. Mulailah dengan mencintai dirimu sendiri. Kuat sekali pun sendirian.”

Tetesan embun di balkon seperti saksi janji itu. Dua pribadi yang terjatuh dalam luka berbeda, namun ikrar itu menjadi percikan harapan yang tak boleh padam.

---

Malam semakin larut. Iris kembali ke dalam kamar setelah Rangga pamit pergi. Ia berdiri di depan cermin besar, melihat bayangan perempuan yang berubah setiap hari: dari gadis tertutup menjadi wanita kuat yang berusaha bertahan.

Dalam keheningan, ia menyentuh pergelangan tangannya, mengusap bekas luka kecil—tanda pertarungan batin yang tak pernah tampak. Ia menutup mata, lalu mengangguk pelan pada diri sendiri.

> “Aku akan bertahan. Meskipun pernikahan ini tanpa hati, aku punya hati yang ingin diselamatkan.”

Di luar jendela, lampu kota redup bergantian, menyalakan janji pagi yang akan datang. Dalam hatinya, Iris tahu perjalanan ini belum selesai. Namun malam ini, ia menemukan kekuatan baru—dari luka yang tak pernah sembuh, justru tumbuh keberanian untuk terus melangkah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel