Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

####Bab 6 – Bayang-Bayang Rahasia

Senin pagi tiba dengan dentingan alarm yang lebih keras dari biasanya. Dion terbangun di ruang kerjanya—ia memang sering tidur di kantor. Tubuhnya pegal, tetapi pikirannya berputar pada satu hal: kontrak pernikahan. Ia menarik jasnya, menatap pernikahan yang dilakukannya setengah hati. Ada rasa sesal yang muncul begitu cepat, tetapi ia menekan ke dasar hati. Karena rasa sesal justru bisa membuatnya kehilangan kendali.

Di sudut lobi kantor, sekelebat bayangan muncul: seorang pria bertopeng jaket hitam, mata tak luput mengawasi Dion dari balik kacamata hitam. Dia berdiri di samping mesin kopi, tanpa minum, hanya menatap pintu menuju ruang kerja Dion.

Pria itu disebut Rafi—teman lama Dion yang dulu sempat terlibat dalam skandal bisnis kecil. Mereka pernah satu tim, lalu terpecah ketika Dion mengejar karier sendirian. Rafi kini menjadi “bayang-bayang” masa lalu yang bikin Dion masih gelisah: rumor manipulasi saham dan pembocoran data internal yang hampir menghancurkan reputasi Dion.

Ketika Dion melangkah keluar ruang kerjanya, Rafi mendekat, menyalami singkat, lalu berbisik:

> “Ada kabar baru tentang keuangan keluargamu. Sepertinya kau akan tertimpa badai lagi.”

Dion menelan ludah, menatap Rafi sedikit lebih lama dari biasanya. “Apa maksudmu?” tanyanya tegas.

Rafi hanya mengerling samar, seperti menyimpan rahasia yang lebih besar. “Kita bicarakan nanti. Jika aku benar, ‘pernikahan tanpa hati’ ini bisa jadi bom waktu yang siap meledak.”

Dion merasa hawa dingin menyusup tulang belakang. Bayangan rahasia masa lalu dan kehancuran finansial menghantui, sebuah ancaman yang bisa menghancurkan semua yang sudah ia bangun—termasuk pernikahannya dengan Iris.

---

Setelah Rafi pergi, Dion berjalan ke ruang rapat. Ia memeriksa kotak masuk email: ada pesan tanpa subjek, hanya berisi tautan ke dokumen PDF. Jantungnya berdegup kencang, rasa was-was bertambah. Ia membuka tautan itu dengan hati-hati. Dokumen menampilkan laporan keuangan yang sudah ia tutupi rapat-rapat—transaksi mencurigakan, aliran dana hitam, dan perjanjian rahasia dengan pihak luar.

“Apa ini?” gumamnya gelisah.

Ia membaca lebih dalam: laporan itu berhubungan dengan pendanaan perusahaan yang dipimpin ayahnya, serta kontrak-kontrak yang dibuat setahun lalu. Ada keterangan: “Jangan pernah sampai dokumen ini bocor ke publik. […]” Pernyataan itu seakan menekan Dion untuk berbuat lebih diam. Namun di sudut dokumen, ada catatan kecil: “Kerahasiaan di terbitkan 6 bulan lalu. Diproduksi oleh Rafi Productions.”

Dion menutup laptop dengan kasar. Ia tahu, Rafi sengaja mengirim agar ia panik. Hatinya terpacu: apakah Iris akan terlibat secara tidak langsung? Jika rahasia ini terbuka, bukan saja ia terancam di bisnis, tapi juga reputasi pernikahan mereka bisa hancur.

Ia menyembunyikan laptop di laci. Napasnya tertahan. Ia melangkah keluar ruang rapat tanpa menoleh lagi. Bayang-bayang rahasia paket itu mengintai di setiap langkahnya. Dan ia tahu, malam nanti ia harus menemui Rafi—meski rasa takut sakit itu menyesak di dada.

---

Sore itu, Dion menghubungi Rafi. Mereka bertemu di kafe kecil di pinggir kota, jauh dari hiruk-pikuk kantor. Kafe itu remang-remang, musik jazz pelan, suasana tenang tapi mencekam. Rafi sudah duduk dengan ekspresi tak berubah, menyeruput secangkir kopi hitam.

Dion duduk di seberangnya, menatap mata Rafi. “Kenapa kau kirim dokumen itu?” tanyanya pelan.

Rafi menatap Dion, lalu meletakkan gelas di meja. “Aku tahu kamu bukan tipe yang suka main kotor, tapi dokumen itu bicara lain. Kau—atau ayahmu—mungkin tak tahu aliran uang itu. Atau kau sengaja menutup mata?”

Dion menelan ludah. Ia mengingat negosiasi yang ia lakukan enam bulan lalu—negosiasi yang disetujui ayahnya dengan pihak asing untuk merombak struktur perusahaan. Tapi ia yakin tidak ada yang menabrak batas hukum.

“Apa tujuanmu?” Dion menekan.

Rafi menatap dalam. “Aku ingin kau sadar. Perusahaanmu sekarang seperti kapal tanpa nahkoda. Siapa yang mengendalikan? Mereka bisa menghancurkanmu—dan perceraianmu bisa menjadi berita utama.”

Hening sejenak. Suasana di kafe terasa sunyi walau alunan musik tetap terdengar. Dion memejamkan mata, merasakan kesadaran yang mengerikan: rahasia ini bukan hanya mengancam bisnis, tapi juga kehidupan pribadinya.

Ia menatap Rafi lagi. “Apa yang kau inginkan?”

Rafi mengangkat satu alis. “Kau hentikan pernikahan palsu itu. Jika Iris tahu kebenaran, reputasi kalian akan hancur, dan aku bisa menjadi pemenangnya.”

Dion meremas tangan di meja, menahan amarah. “Jangan main-main.”

Rafi hanya tersenyum tipis, lalu berdiri. “Kita belum selesai.” Ia meninggalkan kafe, meninggalkan Dion dalam dingin yang semakin pekat.

---

Malam turun dengan gerimis tipis, mengaburkan lampu jalanan. Di dalam rumah, Iris duduk di ruang kerjanya, menulis di buku harian. Ia percaya menulis bisa melepaskan beban hatinya—walau malam itu, ia merasakan kegelisahan yang tak biasa.

Tamat menulis, ia menutup buku, lalu menatap jendela besar. Hujan mulai turun lebih deras, tetesan di kaca seperti air mata yang menetes tanpa henti. Ibunya pernah bilang: “Hujan membawa kabar, bisa baik bisa buruk.”

Iris memejamkan mata. Sejak pagi tadi, ia merasakan terasa ada yang tidak beres. Dion yang biasanya rapat di kantor, tiba-tiba pulang lebih cepat. Wajahnya tampak kusut, lebih kusam dari biasanya.

Tiba-tiba, pintu depan gudang terbuka; pelayan masuk membisik: “Ibu Dion, Pak Dion pulang.”

Iris menelan ludah, lalu berdiri. Ia berjalan perlahan menuju hall, meneguk nafas sejenak. Ketika ia melihat Dion berdiri di ujung tangga, wajahnya lelah dan muram. Tidak ada sapaan hangat—hanya tatapan kosong yang menancap ke dirinya.

Sebelum Iris sempat mengucap apa pun, Dion berbalik dan masuk ke ruang kerja di lantai atas. Pintu tertutup rapat. Iris menatap pintu itu sekian detik, lalu melangkah pergi tanpa suara. Malam ini, mereka seperti dua bayangan yang kehilangan peta; kedekatan mereka hanya kebohongan yang menunggu retakan.

---

Hari berikutnya, Dion kembali ke kantor lebih awal daripada biasanya. Ia menyambangi ruang Rafi, namun sosok sahabat lamanya itu sudah menghilang. Ia menyusuri koridor, mengecek semua ruangan rapat, mencari-cari siapa pun yang tahu keberadaan Rafi. Tapi Rafi tak bisa ditemukan—seolah menguap begitu saja.

Dion kembali ke ruanganya, menatap laporan yang baru ia terima: aliran dana hitam itu rupanya bukan sebuah kesalahan, melainkan bagian dari strategi untuk menerobos pasar Asia Tenggara. Ia tahu, kini beban moral dan legal menekan. Jika skandal ini bocor ke publik, perusahaannya bisa hancur seketika.

Ia tarik napas panjang, lalu menghubungi pengacara keluarga. “Saya perlu pertemuan darurat. Ada hal genting terkait dokumen 6 bulan lalu.”

Dion mengakhiri panggilan, lalu memandang setiap sudut ruang kerja yang mewah—irsinya kini berubah jadi penjara. Ia menyentuh foto pernikahan di atas meja, mereguk pahit: “Semua ini tidak pernah mudah.”

Sementara itu, Iris yang duduk di balkon memandangi hujan dini hari semalam masih terngiang. Ia menulis di buku harian:

> “Dion tampak menyembunyikan sesuatu. Matanya yang kusut menyiratkan rahasia yang ia pendam. Aku takut akan kabar buruk yang datang—bukan untukku, tapi untuk kita.”

Hujan turun semakin deras, menebaskan deras air mata yang sudah lama Iris tahan. Malam ini, ia memahami satu hal: rahasia bisa menjelma menjadi jurang menganga yang siap memisahkan dua hati.

---

Senja mulai merunduk ketika Dion menutup pintu ruang kerjanya. Iris mengetuk pelan, memasuki ruangan dengan setelan hangat. Dion menatapnya tanpa senyum.

> “Kamu pikir aku tak mendengar bisikan di rumah tadi?” Dion memulai, suaranya berat.

Iris mengelimbar pelan. “Aku dengar kamu pulang lebih awal. Ada apa?”

Dion menarik napas, menahan letupan emosi. “Ada dokumen bisnis yang bocor. Nama keluarga terancam. Aku butuh waktu untuk urus ini—tanpa gangguan.”

Iris menunduk. “Apa aku… aku bisa membantu?”

Dion menatap dalam. “Ini urusan bisnis yang melibatkan rahasia keluarga. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya.”

Iris merasa remuk. Rasa ingin tahu beradu dengan ketakutan: ia tahu, jika rahasia itu terbuka, reputasi mereka sebagai suami istri bisa buyar. “Aku mengerti,” ucapnya pelan. “Tapi ingatkan aku kalau kamu butuh cemilan atau istirahat. Aku akan ada di sampingmu.”

Dion memejamkan mata sejenak, kemudian menatap kembali. Ada kilatan terima kasih yang terpendam di sana, namun ia menghapusnya cepat. “Baik. Sekarang… pulang ke kamar. Istirahatlah.”

Iris menelan ludah. Ia tahu setiap kata “istirahat” itu bukan ajakan hangat, melainkan perintah—sebuah batas yang ia harus hormati demi menjaga keheningan. Ia mengangguk, lalu meninggalkan ruang itu.

---

Larut malam, Dion berdiri di ruang kerja, lampu hanya menyala satu neon di atas kepala. Ia memegangi gelas kopi hitam, menatap rak buku penuh dokumen. Pikirannya kacau. Ia menutup laptop, lalu meraih ponsel.

Di layar, tampak nama terdaftar: “Rafi.” Dion menggigit bibir, lalu menelepon.

> “Dion...” suara Rafi di seberang terdengar berat.

“Ketemu. Sekarang.”

Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka pelan. Rafi masuk, hanya dengan kemeja hitam dan wajah pucat. Kedua pria itu saling menatap dalam; ada kenangan kelam yang tersimpan di mata mereka.

“Apa kabar dokumennya?” tanya Dion pelan.

Rafi menunduk. “Sudah kubersihkan sebagian. Tapi kau perlu tahu: ada pihak ketiga yang lebih berbahaya dari kita. Mereka tengah membidik perusahaanmu.”

Dion meremas gelas kopi, menyeruput sedikit. “Siapa?”

Rafi mengangkat bahu. “Aku belum tahu pasti. Tapi jejak dana itu mengarah pada nama-nama yang kabarnya berafiliasi dengan kartel luar negeri.”

Dion merasakan dingin melingkupi perutnya. Ia menatap Rafi tegas: “Kau bisa selamatkan keluargaku?”

Rafi menggigit bibir. “Aku butuh akses penuh ke semua dokumen. Dan… kau harus hentikan permainan kontrak ini dulu. Iris tak boleh tahu.”

Dion menutup mata, menahan dilema: menyelamatkan bisnis atau merusak pernikahannya. “Baik. Aku akan bicara dengan istri—kalau memang perlu.”

Rafi mengangguk pelan, lalu meninggalkan ruang kerja. Kegelapan melingkupi Dion. Ia berdiri beberapa saat, menatap pintu yang tertutup rapat—bayang-bayang rahasia kembali menari di pikirannya.

---

Larut malam, rumah Dion nyaris senyap. Iris masih terjaga di kamar, duduk di meja rias dengan sapu tangan basah di dada. Ia menatap cermin, menyeka air mata yang menggantung. Suara langkah Dion di tangga membuat hatinya bergetar.

Dion memasuki kamar, menutup pintu rapat. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap Iris dengan sosok yang tampak muram.

> “Aku harus pergi ke luar kota. Ada masalah bisnis yang harus kupastikan selesai,” ucap Dion dingin.

Iris menelan ludah, menahan rasa khawatir. “Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyanya lembut.

Dion menghempaskan napas. “Aku sedang menghadapi… sekelompok orang yang berbahaya. Aku tak mau membebanimu.”

Iris menarik selimut ke tubuhnya, memeluk diri. “Tapi aku istrimu. Kau harus memberitahuku.”

Dion menarik cemas garis bibir. Ia menatap Iris, lalu berkata pelan: “Tolong, percayalah padaku. Tidak semua hal perlu kau ketahui sekarang.”

Kedua mata Iris menjadi sayu. “Kalau aku tak bisa percaya, apa aku masih punya tempat di hatimu?”

Dion terdiam, menatap langit-langit. Ia tahu, satu kata ‘percaya’ itu jadi kunci yang bisa meruntuhkan benteng yang ia bangun selama ini.

Akhirnya ia menunduk, menatap Iris. “Aku… masih memerlukanku. Tapi aku tak bisa lagi merangkulmu saat ini.”

Iris merasakan sakit menusuk. Ia menutup mata, menahan agar tak meledak air mata. “Baik. Aku akan menunggumu.”

Dion mengangguk singkat, lalu berbalik. Tanpa mengucap selamat malam, ia keluar kamar dan menutup pintu.

Dalam keheningan malam, Iris menatap bayangan dirinya di cermin sekali lagi. Hatinya retak, namun ia tahu satu hal: ia akan tetap bertahan. Meski rahasia apa pun yang mengancam, cintanya pada diri sendiri tak boleh pudar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel