Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

####BAB 3 — “Malam yang Mengguncang”

Pagi harinya, setelah menerima undangan dari Rangga, Nayla duduk di atas ranjang sambil menatap lembar undangan yang terlipat. Angin pagi menerpa tirainya, namun dirinya terasa sesak. Meski Dion tampak acuh ketika mengizinkannya datang, hatinya tetap bergolak. Ia menutup mata sejenak, mengingat pesan Rangga yang ramah:

> “Aku cuma mau bertemu, ngobrol santai, jangan kekeh ya.”

Rasa was-was berbaur dengan perasaan aneh—seolah langkah kecil keluar malam ini akan menjadi titik balik hidupnya. Ia menarik napas dalam, lalu berdiri menuju meja rias. Cermin memantulkan wajah pucat yang tersaput make-up sederhana: lipstik nude, alis yang dirapikan, dan sedikit maskara untuk menegaskan matanya.

Di dalam lemari, ia memilih gaun hitam midi yang simpel namun elegan—untuk menampilkan kesan berkelas tanpa berlebihan. Di kala ini, penampilan menjadi tameng agar rasa malu dan takut tidak mudah terbaca. Ia mengenakan anting kuping kecil, cincin warisan ibunya, dan sepatu hak sedang yang tidak terlalu mencolok.

Saat berbelasah di kamar mandi, pikirannya terus menari di antara keinginan untuk menunjukkan diri kuat dan ketakutan akan tatapan dingin demi dingin yang mungkin ia hadapi di pesta itu. Ia ingat kalimat Dion beberapa waktu lalu:

> “Bawa istrimu yang cantik, biar semua tahu kamu beneran punya istri.”

Rasa ingin marah menggelora, tapi ia menahan. Malam ini bukan waktunya bertengkar. Ia perlu menjaga keseimbangan—di antara keharusan muncul di muka umum dan kerentanan hatinya yang rapuh.

Jam dinding menunjukkan pukul 18.45. Ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak terlambat, tapi juga ingin menghindari sekapan jantung saat tiba-tiba bertemu Dion di tempat ramai. Saat melangkah ke pintu, ponselnya bergetar. Pesan dari Rangga muncul:

“Aku sudah menunggu di lobi hotel. Nongkrong di sana saja. See you soon.”

Nayla menghela napas panjang. “Semoga aku kuat,” gumamnya.

Dengan satu tarikan napas, ia melangkah keluar, menuruni tangga rumah mewah milik Dion, dan menaiki mobil yang siap mengantarnya ke hotel. Matahari senja meredup di ufuk barat, seakan merestui perjalanan emosinya malam ini.

---

Sore yang berangsur malam menyelimuti kota ketika Nayla memasuki lobi hotel bintang lima. Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan kilau cahaya ke lantai marmer yang sempurna. Suasana bising rendah dari odometer kereta di pinggir pintu masuk bertemu dengung suara klakson mobil. Namun di tengah hingar-bingar itu, Nayla menapak pelan, berusaha menahan rasa gugup yang mencekik.

Ia mengenakan gaun hitam seksi tanpa berlebihan, rambut terurai rapi, dan tas kecil berwarna senada. Panas dingin menyambutnya saat ia membuka pintu kaca otomatis. Mata penonton—para pegawai hotel, tamu, dan sesekali mata penasaran sesama tamu—seolah membidik dirinya, menimbang dan menilai: “Siapa wanita cantik itu?”

Di ujung lobi, tepat di dekat bar mini, seseorang berdiri dengan setelan rapi dan senyum ramah—Rangga. Lelaki itu menyambut dengan anggukan lembut, lalu mempersilakan Nayla duduk di kursi tinggi di depan meja bar.

> “Terima kasih sudah mau datang. Kamu tampak luar biasa, Nayla,” seru Rangga pelan sambil mengangkat gelas jus jeruk segar. Hangatnya lampu membuat warna kulitnya tampak menawan.

Nayla duduk, menatap Rangga, lalu tersenyum getir. “Aku ke sini karena… tidak ada pilihan lain, selain… mencari cara untuk keluar dari jerat pernikahan ini.” Suaranya serak, seakan baru dikeluarkan dari dasar hati yang terkoyak.

Rangga menatap empati. “Aku mengerti. Dion memang keras kepala. Tapi kalau aku bisa bantu, tolong bilang.”

Pembicaraan mereka terpotong oleh dentuman musik lembut yang berasal dari sudut lobi. Ada acara piano singkat untuk hiburan tamu. Namun mata Nayla terus tertuju pada Rangga—senyumnya, caranya bicara, ketulusan yang terselip di balik setiap kata. Untuk sesaat, ia merasa diangkut ke dunia lain, di mana ia bukan “istri kontrak” melainkan perempuan yang memiliki hak untuk bicara, didengar, dan… dilindungi.

Beberapa saat kemudian, Rangga berdiri dan menatap jam tangan. “Ada tamu penting yang akan datang. Aku harus cek ruang VIP. Kalau kamu butuh apa-apa, tinggal telepon aku. Aku akan di sini sampai kamu yakin pulang.”

Nayla hanya mengangguk. Ia melihat Rangga meninggalkan lobi, lalu menelan ludah pelan. Malam ini bukan sekadar bertemu sahabat Dion—malam ini adalah langkah kecil menuntut haknya sebagai perempuan yang seharusnya dihargai.

---

Beberapa menit setelah Rangga pergi, lobi hotel menjadi semakin ramai. Para tamu berdatangan—omegan menatap lalu berbisik. Ada kolega Dion yang sesekali melirik ke arahnya, mencoba menyadari siapa wanita cantik berpakaian elegan itu. Karena kecantikan menyeruak saat kedukaan mendalam menyelimutinya, banyak yang penasaran.

Tepat ketika ia beranjak dari kursi bar, sebuah suara dingin memanggil dari sudut:

> “Nayla.”

Ia menoleh dan melihat Dion berjalan pelan ke arahnya. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia menormalkan napas, lalu berkata datar, “Ya?”

Dion berdiri beberapa langkah di depannya, memandang tajam. Matanya menjerat—antara kecewa, marah, dan… cemburu?

“Kenapa kamu di sini?” tanyanya dingin.

Nayla menarik napas dalam. “Aku diundang teman suamiku.”

Dion mengerutkan alis. “Teman siapa? Rangga?”

“Iya.”

Dion memejamkan mata sejenak, menahan emosinya. “Kalau dalam waktu 30 menit ini kamu masih di sini, aku minta kamu pulang.”

Air mata hampir menitik, tapi Nayla menahan. “Kenapa? Takut nanti aku ketemu dia sampai larut malam?” Suaranya sinis.

Dion menatapnya, memicingkan mata. “Ini bukan urusan ketakutan atau tidak takut. Ini… soal kesopanan minimal. Kamu istri kaum elite sekarang. Ada acara keluarga di suite 501. Aku minta kamu datang.”

Nayla menatap Dion dingin. “Apa kepentinganmu?”

Dion mengangkat dagu. “Pakai yang sopan. Aku tidak ingin cerita ini menjadi konsumsi publik.”

Dan ia meninggalkannya begitu saja, membuat Nayla terdiam di antara kerumunan tamu yang menatap.

---

Setelah Dion pergi, Nayla berdiri terpaku beberapa detik. Suasana lobi kembali riuh, tapi hatinya terasa beku. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan menyusuri koridor hotel menuju lift VIP. Lorong panjang dengan karpet merah terasa menekan—seolah menuntunnya kembali ke “istana es” milik Dion.

Sesampai di depan suite 501, ia menarik napas lagi, lalu mengetuk pelan. Pintu terbuka oleh seorang asisten mendiang Ibu Dion yang menatapnya singkat, lalu menganggukkan kepala.

> “Silakan masuk, Nona,” ujar perempuan paruh baya itu dengan suara ramah.

Nayla melangkah masuk, disambut lampu hangat, furnitur mewah, dan kerabat Dion—para eksekutif dan keluarga besar yang berkumpul di ruang tamu suite. Sorotan mata mereka tertuju pada dirinya, membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

Dion berdiri di tengah keramaian, mengenakan setelan hitam rapi, wajahnya tampak tenang namun tegang. Saat mata mereka bertemu, ia mengangguk singkat, menandakan silakan.

Beberapa kerabat melontarkan senyum basa-basi:

“Oh, ini istri mas Dion, ya? Selamat datang.”

“Lucu juga, menantu baru kita. Cantik dan sederhana.”

Senyum mereka menusuk. Senyuman yang tak tulus, tapi dipaksakan demi menjaga citra keluarga.

Nayla membalas dengan anggukan halus, lalu berdiri di antara kursi empuk. Hening beberapa saat, hingga suara seorang paman memecah kebekuan:

“Dion, ayo perkenalkan istrimu pada semua.”

Dion maju, meraih tangan Nayla, lalu berkata dengan nada santun tapi dingin:

“Iris Alesha, istri saya.”

Paman sanggeram pelan, lalu menopang gelas anggurnya. “Senang bertemu, Iris.”

Momen itu… pahit. Di hadapan mata mereka, ia hanya satu nama—bukan orang, bukan wanita, melainkan “Istri Dion.”

---

Di sela-sela perkenalan, para kerabat mulai berbisik. Suara tertawa kecil mengiring. Kabar mengenai pernikahan kontrak mereka sudah tersebar.

> “Katanya mereka nikah demi hutang keluarga istri,” bisik seorang sepupu.

“Istri itu baru dua bulan kerja jadi guru SD, kok tiba-tiba muncul kaya?” gumam keponakan.

Nayla mendengarkan, hatinya mencelos. Ia menunduk, memegang erat tangan Dion yang perlahan goyah. Ia menahan air mata—tak mau menangis di hadapan mereka.

Sementara itu, Rangga muncul di pintu, menawarkan senyum hangat kepada Nayla. Melihat Rangga, hati Nayla sedikit lega. Ia tahu Rangga satu-satunya orang yang tulus peduli tanpa beban kepentingan keluarga.

Rangga menyapa lembut, “Kamu baik-baik saja?”

Nayla hanya mengangguk singkat. Tak perlu banyak kata.

Dion memandang keduanya, lalu membuka pembicaraan:

“Teman lama saya, Rangga. Dia yang memanggil Iris ke sini.”

Sedetik hening, lalu hangat Rangga mengembang: “Senang bertemu kalian semua.”

Bisikan kembali bergema di ruangan. Meskipun di atas kertas mereka pasangan resmi, realita menunjukkan Nayla cuma boneka untuk citra.

---

Acara hiburan pada malam itu mulai diputar—musik lembut, tari ringan, dan anggur mengalir bebas. Nayla merasa tertekan, setiap detik bagaikan jarum jam yang mengetuk luka lama.

Ia memutuskan pergi, mencari udara segar di balkon suite. Tanpa basa-basi, Rangga mengikutinya.

“Kenapa kamu keluar?” tanyanya pelan.

Nayla menoleh, menatap langit malam yang cerah. “Aku... butuh ruang.”

Mereka berdiri berdampingan menatap kota yang berkelip lampu. Angin malam menerpa, sedikit meredakan kegelisahan.

Rangga menepuk bahu Nayla perlahan. “Jangan dengar apa kata mereka. Kamu punya hak untuk hidup.”

Sejenak, hatinya terasa hangat. Namun, sesuatu memanggilnya kembali ke dalam: Dion pasti mencari.

“Rangga... aku harus kembali. Dia pasti nyari.”

“Biarkan aku antar,” ucap Rangga tegas.

Mereka menuruni tangga balkon secara diam-diam. Namun di tikungan lorong, sosok Dion muncul, menatap keduanya dengan mata mengecil karena cemburu.

> “Lagi apa kalian?” suara Dion dingin menghentak.

Nayla tersentak, Rangga terdiam.

“Hanya... udara segar,” jawab Nayla tegas namun gemetar.

---

Dion mendekat, bahunya menegang. Sorot matanya menatap Rangga seperti ular yang mengendus mangsa. Nayla merasakan ketegangan yang menular. Ia menggenggam tangan Dion, menahan diri agar tidak terjerat dalam perkelahian.

> “Jangan mengikutiku tanpa izin,” ujar Dion kepada Rangga.

Rangga menatap Dion, wajahnya tegas namun tidak ingin bertengkar. “Aku hanya menemani.”

Dion mundur selangkah, menyalakan napas dingin. “Biarkan dia pulang. Aku akan antar.” Dia menatap Nayla tajam.

“Kamu mau ikutku pulang?” tanyanya padanya, meski suara frasinya menusuk.

Nayla menunduk, menatap lantai. Hati kecilnya bergejolak: antara butuh Rangga sebagai sandaran dan trauma jika harus kembali ke ruang dingin Dion.

Akhirnya, dia menoleh ke Rangga. “Terima kasih... tapi aku akan ke atas dulu.”

Rangga menahan diri, melemparkan senyum penuh simpati. “Baik. Kalau butuh apa-apa, hubungi aku.”

Dion memalingkan wajah, lalu menoleh ke Nayla. “Ayo.”

Mereka menaiki tangga darurat, lalu lift; setiap detik suasana bagaikan dinamika perang emosi.

---

Setibanya di kamar suite, kesunyian langsung memeluk. Dion menutup pintu dengan keras. Suasana mendadak mencekam.

Nayla berdiri di tengah kamar, tubuhnya gemetar. Dion menutup rapat tirai, menciptakan gelap yang mencekam.

Tanpa kata, ia menatap Nayla dari ujung ranjang. “Jangan pernah lagi keluar tanpa izin.”

Nayla mengangkat dagu, mencoba menahan tangis. “Aku bernafas saja perlu izin? Aku bukan budakmu.”

Dion melangkah mendekat, tatapannya dingin. “Kalau kamu sulit mengerti, mungkin kita perlu mengingatkan.”

Satu ketukan di balkon. Rangga tampak di luar jendela, menatap dengan mata prihatin.

Dion menutup tirai secepat dia bisa.

> “Kamu pikir aku takut? Malam ini dia hanya ingin memastikan kamu aman,” ucap Rangga dari balik tirai—suara serak dan tegas.

Dion memandang, marah terpancar. “Keluar!”

Nayla menjerit pelan, hatinya hancur.

Rangga berbalik pergi, jantungnya berdegup. Dia tahu, malam ini mereka telah melewati ambang yang berbahaya—persahabatan, pernikahan, dan cinta yang belum lahir.

Di sudut kamar gelap, Nayla menutup mata, menahan tangis. Ia sadar: pernikahan tanpa hati kian memerangkap hatinya, dan malam ini menebar bayangan ancaman yang lebih dalam dari sekadar cemburu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel