Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

####BAB 2 — “Istri yang Tidak Diinginkan”

Hari-hari pertama Nayla di rumah suaminya terasa seperti mimpi buruk yang tak ada ujungnya. Setiap pagi ia bangun lebih awal, menyiapkan sarapan, beres-beres rumah, bahkan ikut membantu di dapur meski ada pembantu.

Tapi semua itu tak berarti apa-apa.

Tak ada ucapan terima kasih. Tak ada senyum. Bahkan kadang sapaan pun tidak.

Dion selalu pergi pagi-pagi, tanpa menoleh sedikit pun. Bu Meta? Tak pernah kehilangan kesempatan untuk menyindir.

> “Jangan cuma bisa nempel di anak orang kaya, belajar jadi istri yang bener!”

Nayla menahan napas. Matanya panas, tapi ia tak mau menangis di depan mertua.

“Baik, Bu,” jawabnya pelan.

Hidupnya berubah drastis. Dari anak kampung biasa, kini ia tinggal di rumah mewah... tapi jiwanya makin terluka setiap hari.

---

Satu sore, Dion tiba-tiba mengajak Nayla ikut ke acara keluarga besar.

“Ganti baju. Pakai yang sopan dan kelihatan pantas. Jangan bikin malu.”

Nayla menatap Dion, bingung. “Acara apa?”

“Acara keluarga. Kamu harus ikut. Kita pasangan suami-istri, ingat?”

Nayla hanya mengangguk. Ia tahu ini hanya demi penampilan.

Malam itu, di acara keluarga besar, Nayla harus tersenyum. Menjabat tangan, menyapa, tertawa seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Dion pun berakting. Menggenggam tangan Nayla di depan orang-orang. Memanggilnya “Sayang” di hadapan tante dan sepupu.

Padahal tadi pagi, mereka bahkan tidak saling bicara.

> “Kamu pintar juga berpura-pura,” bisik Nayla pelan di sela acara.

Dion menoleh sebentar. “Itu bagian dari kontrak, kan?”

---

Acara itu tak semanis senyuman yang dipaksakan.

Banyak yang menyindir Nayla dengan halus.

> “Wah, Dion akhirnya menikah juga ya. Katanya istrinya cuma orang kampung?”

> “Tapi cantik juga sih, sayang... nggak sekelas Dion.”

Tawa-tawa itu menyayat hati Nayla. Ia cuma bisa meneguk air mineral sambil menahan diri agar tidak meledak.

Bu Meta makin memperkeruh suasana.

> “Iya, Nayla anak baik. Dia nurut kok... ya, meski latar belakangnya bukan siapa-siapa.”

Dion hanya diam. Tidak membela, tidak juga menghentikan omong kosong itu.

Nayla mulai sadar: di keluarga ini, ia bukan istri. Ia hanya pelengkap citra.

---

Setelah acara, Nayla masuk kamar lebih dulu. Dion menyusul sambil melepas jasnya.

> “Besok ada rapat pagi. Jangan ganggu gue.”

Ia lalu mengambil bantal dan tidur di sofa—lagi.

Nayla mendekat, memberanikan diri. “Dion... aku gak minta dicintai. Tapi bisa gak... setidaknya, aku dihargai?”

Dion menatapnya sebentar, wajahnya tetap datar.

> “Kita sepakat kan? Gue gak mau hubungan beneran. Jadi jangan harap lebih.”

Nayla menggigit bibir. Sakit hati itu makin dalam. Tapi ia terlalu lelah untuk membalas.

Ia hanya memalingkan wajah dan mencoba tidur. Tapi air mata tetap mengalir diam-diam.

---

Esoknya, Nayla mendapat pesan dari ibunya.

> “Nak, sabar ya... semua demi keluarga kita. Kalau kamu kuat, kita bisa bangkit.”

Nayla membalas singkat: “Iya, Bu.”

Tapi ia merasa getir.

Kenapa semua orang menyuruhnya sabar? Kenapa ia yang harus menanggung semua beban ini?

Bukankah pernikahan seharusnya tentang dua orang yang saling mendukung?

Ia menatap cermin. Wajahnya mulai tampak lelah. Senyum yang dulu cerah, kini makin redup.

> “Gue bukan boneka. Suatu saat, mereka harus tahu gue juga punya harga diri.”

---

Malam itu, Dion memintanya menyiapkan pakaian bisnis.

“Besok gue ada urusan penting. Siapkan semuanya, jangan salah.”

“Kenapa gak minta pembantu aja?” tanya Nayla, pelan tapi tegas.

Dion menatapnya. “Apa maksud kamu?”

“Aku bukan pembantu. Aku juga manusia, Dion. Jangan perlakukan aku seolah-olah aku cuma pesuruh.”

Untuk pertama kalinya, Nayla bicara dengan nada tegas. Wajah Dion sempat berubah, tapi hanya sesaat.

“Jadi kamu mulai melawan?” tanyanya dingin.

“Aku cuma minta diperlakukan layak. Itu aja.”

Dion tidak menjawab. Ia hanya mengambil jasnya sendiri dan pergi ke ruang tamu.

---

Hari-hari berikutnya makin sepi. Dion makin sering pulang larut. Bahkan kadang menginap di luar rumah.

Bu Meta pun tak banyak bicara. Tapi tatapan dinginnya tetap menusuk.

Nayla mulai belajar menyibukkan diri. Ia menulis diary, menonton drama, membaca buku. Tapi semua itu tak benar-benar menghapus rasa sepi.

> “Gue sendiri. Di rumah ini, di hidup ini.”

Ia menulis di buku hariannya:

> “Kalau hidup ini permainan, gue merasa cuma pion kecil. Tapi suatu saat, pion pun bisa mengubah arah permainan.”

Nayla mulai menyadari satu hal: Ia tak bisa terus jadi korban.

---

Suatu pagi, Dion bertanya saat sarapan.

> “Kamu gak mau kerja atau ngelakuin sesuatu selain ngabisin waktu?”

Nayla tersenyum tipis. “Aku mau kuliah lagi.”

Dion menatapnya. “Kuliah?”

“Iya. Aku mau punya hidup yang bisa aku banggakan. Tanpa harus tergantung sama kamu.”

Dion mengangkat alis. Tapi tidak protes.

“Lakukan sesukamu,” katanya datar.

Dan di situlah, tekad Nayla mulai tumbuh lebih kuat.

> Ia akan berdiri di atas kakinya sendiri. Meskipun pernikahan ini tidak berisi cinta, setidaknya ia bisa mencintai dirinya sendiri.

---

Malam itu, Nayla duduk sendirian di balkon lantai dua. Angin berembus pelan, tapi pikirannya ribut.

Di tangannya, ada foto kecil dari dompetnya. Foto masa kecil bersama ayahnya yang sudah tiada. Ayah yang dulu selalu memeluk dan bilang:

> “Kamu berharga, Nayla. Jangan biarkan siapa pun merendahkan kamu.”

Tapi sekarang? Ia merasa seperti tak berarti di mata siapa pun.

> “Aku rindu, Yah…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh ke foto itu. Ia memeluk lutut, menggigil bukan karena dingin, tapi karena kosong.

> “Kalau ayah masih ada… aku pasti nggak akan dikawinkan seperti ini.”

Nayla sadar, luka masa lalu ikut membentuk dirinya hari ini. Tapi ia tak ingin terus lemah. Ia ingin kuat. Demi dirinya sendiri.

---

Beberapa hari kemudian, Nayla bertemu seorang pria asing di ruang tamu.

“Kenalin, aku Rangga. Teman Dion sejak kuliah.”

Nayla menjabat tangannya, sopan. “Saya Nayla.”

Rangga memandang Nayla penuh rasa penasaran. “Kamu... istrinya Dion?”

“Iya.”

Tatapan Rangga sempat berubah. Seperti tak percaya. Tapi ia cepat mengalihkan.

“Saya sering dengar tentang Dion, tapi baru sekarang lihat dia bawa perempuan ke rumah. Dan... kamu cantik.”

Nayla hanya tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Dari cara Rangga bicara, Nayla bisa merasakan satu hal: ia lelaki yang hangat, berbeda dari Dion.

Dan untuk pertama kalinya, Nayla merasa dilihat sebagai manusia, bukan objek.

---

Pertemuan dengan Rangga membuat Nayla berpikir sepanjang malam.

Ia merasa bersalah karena jantungnya sempat berdebar saat pria itu menatapnya ramah. Ia bahkan merasa nyaman, meski hanya beberapa menit.

> “Ini salah. Aku sudah menikah,” bisiknya pada diri sendiri.

Tapi batinnya memprotes. Menikah? Dengan siapa? Dengan suami yang tak menganggapnya ada?

Ia menghempaskan tubuh ke kasur.

Di dunia yang begitu dingin ini, satu senyum hangat saja bisa membuat hati yang beku mulai mencair. Dan itu menakutkan... karena hatinya mulai goyah.

> “Aku harus kuat. Aku harus bisa menahan ini semua.”

Tapi kenyataan tak pernah sesederhana itu.

---

Keesokan harinya, Nayla menemukan sebuah undangan pesta di meja makan.

“Datanglah malam ini, bawa istri cantikmu,” tertulis di sana. Dari Rangga.

Dion melihatnya dan berujar, “Kamu mau ikut?”

Nayla menatapnya. “Kalau kamu gak keberatan, aku ikut.”

Dion mengangguk acuh. “Terserah.”

Nayla tak tahu, malam itu akan menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya.

Karena di balik senyum Rangga yang ramah, tersimpan sesuatu... entah itu pertolongan, atau petaka.

Dan Nayla, si istri yang tak diinginkan, akhirnya mulai diperhatikan oleh dunia luar—yang ternyata tak kalah rumit dari dunia dalam rumahnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel