Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Tiba-tiba, ia melakukan sesuatu yang membuat saya tercekat. Ia meletakkan tangan kanannya di atas gulungan peta. Lalu, dengan gerakan perlahan, ia mengulurkan tangan kirinya, tanpa ragu, menuju tangan saya yang sedang mengepal di samping tubuh.

“Jika Anda menolak, buktikan itu,” tantangnya, suaranya dipenuhi tantangan yang hampir kekanak-kanakan, tetapi niatnya murni. “Jika ini hanya kelelahan, jika ini hanya residu energi yang mengganggu, mari kita sentuh bersama sekali lagi. Buktikan pada diri Anda sendiri bahwa Raja itu sudah mati.”

Bodoh! Jangan pernah bermain dengan pusaka yang sedang murka! seru saya dalam hati. Tetapi keangkuhan Resi Danu yang terdesak membuatnya bergerak. Saya ingin membuktikan bahwa benteng Danu tak tertembus, bahwa Arya Sena hanyalah mimpi buruk yang dangkal.

Saya mengulurkan tangan. Jari-jari kami bersentuhan—bukan lagi sentuhan ringan seperti sebelumnya, tetapi sentuhan yang disengaja, dengan tekanan penuh, menempel pada peta kuno itu.

Energi purba meledak, bukan dalam bentuk guntur yang menyakitkan, melainkan sebagai arus spiritual yang menembus tulang. Saya tidak jatuh kali ini, karena saya sudah siap. Namun, energi itu menyeret kami berdua ke dalam sumur kenangan yang dalam, sebuah resonansi spiritual bersama yang tidak dapat dibatalkan.

Penglihatan itu, meskipun jauh lebih singkat daripada yang saya alami sebelumnya, tertuju sepenuhnya pada Laksmi. Melalui mata batin, saya melihat apa yang ia lihat:

Ruangan itu adalah balairung takhta. Megah, tetapi sepi. Dan di sana, di atas takhta emas yang memantulkan cahaya merah tembaga dari sore yang sekarat, duduk sosok yang identik dengan Danu. Ia gagah, jubahnya bersulam benang emas. Di kepalanya, mahkota naga melingkar. Wajahnya dipenuhi oleh ambisi yang membara, tetapi juga… oleh pesona yang tak terbantahkan. Raja Arya Sena.

Penglihatan itu terputus. Laksmi menjerit kecil, suaranya tercekat di tenggorokan, dan ia segera menarik tangannya dari peta, menangkupkannya ke wajah. Matanya membelalak ketakutan, tetapi kali ini, ketakutannya didasarkan pada pengetahuan absolut.

“Anda… Anda memang dia,” bisik Laksmi. Kata-katanya bukan lagi tuduhan, melainkan sebuah konfirmasi yang menghancurkan.

“Apa yang kau lihat?” tanya saya, napas saya pendek. Meskipun saya tahu persis apa yang baru saja ia saksikan.

“Saya melihat takhta. Dan saya melihat wajah itu. Wajah Anda,” Laksmi mencondongkan tubuh ke depan, matanya liar. “Itu bukan kelelahan. Itu bukan residu. Itu adalah Anda, Raja Arya Sena! Bagaimana mungkin? Anda sudah mati! Anda sudah terkutuk!”

Kekalahan. Total. Seluruh hidup Danu yang dibangun di atas pasir penolakan kini tersapu oleh gelombang spiritual yang disebabkan oleh gulungan peta yang usang itu.

“Putri, tenang. Mungkin hanya—”

“Jangan coba berbohong padaku lagi, Resi!” serunya. “Penglihatan saya jelas. Ada wibawa. Ada kekuasaan. Ada darah dari ratusan pertempuran. Anda mencoba menyangkal identitas yang menyelamatkan dinasti kami ribuan tahun lalu. Anda lari! Mengapa? Apa yang Anda sembunyikan selain fakta bahwa Anda adalah reinkarnasi raja pengkhianat?”

Dada saya sakit, lebih sakit daripada nyeri fisik apa pun. Saya telah lari sejauh yang saya bisa, mencari perlindungan di dalam identitas Danu, Sang Resi. Tetapi di sinilah saya sekarang, terjebak di tengah pondok saya sendiri, berhadapan dengan pewaris takhta yang menuntut saya mengenakan mahkota pembunuh lagi.

“Saya menyangkalnya karena Danu tidak punya nafsu akan takhta!” Saya membentak, suara saya bergema di serambi kecil. “Arya Sena adalah roh yang kejam, dikendalikan oleh ambisi dan ketakutan. Jika dia mengambil alih, Keraton Anda tidak akan diselamatkan. Keraton Anda akan diperbudak. Dan saya, Danu, akan menghilang.”

Laksmi mendengarkan dengan saksama. Ketakutannya kini bergeser menjadi rasa ngeri yang diperhitungkan. Ia tidak takut pada saya, tetapi ia takut pada potensi Raja yang tidur di dalam diri saya.

“Maka tugas Anda, Resi, adalah mengendalikan Raja itu,” ujarnya dingin. “Dinasti saya membutuhkan Peneduh Jagat. Jika artefak itu terikat pada jiwa Anda, dan Anda menolak identitas yang memungkinkannya, Anda akan membiarkan seluruh negeri ini jatuh. Anda tidak hanya mengkhianati masa lalu, tetapi Anda juga mengkhianati masa depan!”

“Saya tidak bisa mengambil risiko itu,” balas saya, meraup peta itu, menggulungnya dengan gerakan kasar, menyegel energinya untuk sementara. “Arya Sena terlalu kuat. Penglihatan yang saya lihat—pengkhianatan dan penusukan itu—itu adalah gambaran jiwa yang sepenuhnya rusak. Jiwa yang haus akan pengkhianatan lagi. Jiwa yang sudah mulai tertawa di telinga saya.”

“Tawa yang parau itu,” bisik Laksmi, menelan ludah. “Saya juga mendengarnya di penglihatan singkat tadi. Saya tahu, Resi. Saya tahu saya berurusan dengan dua orang. Dan yang satu lebih menakutkan dari yang lain.”

Dialog kami terputus oleh suara Merapi yang mengirimkan angin dingin melalui celah-celah kayu. Saya merasa lelah, dikosongkan. Saya harus menarik diri. Saya harus menemukan kembali Danu yang hilang dalam diri saya.

“Malam telah tiba, Putri. Kita telah membahas cukup sejarah untuk satu hari,” ujar saya. “Saya memerlukan keheningan. Kita akan berangkat pagi-pagi sekali, ke lokasi yang ditunjukkan peta itu. Tetapi jangan berharap saya melakukan lebih dari yang Resi bisa lakukan.”

“Anda telah setuju,” kata Laksmi, kepastian di matanya seolah memadamkan api keraguan di mata saya. “Malam ini, tidurlah. Cobalah untuk menjadi Danu seutuhnya, Resi. Karena besok, saya memerlukan seorang pahlawan, bukan pengkhianat.”

*

Malam itu.

Setelah memastikan Putri Laksmi telah mendapatkan tempat peristirahatan di paviliun tamu kecil, saya kembali ke bilik pribadi saya, mencoba mencari kehangatan dalam jubah meditasi yang selalu terasa sunyi. Udara dingin pegunungan menyelimuti, tetapi yang membuat saya menggigil bukanlah hawa. Itu adalah kehadiran. Arya Sena.

Saya duduk di atas tikar, membakar cendana terbaik saya. Saya menarik napas, mencoba memusatkan energi. Biasanya, asap cendana akan membimbing saya ke keadaan nol, sebuah ruang spiritual tanpa suara, di mana saya dapat menyeimbangkan energi benda-benda pusaka yang saya tangani.

Tetapi malam ini, keheningan menolak untuk datang. Setiap kali saya mencoba menutup gerbang kesadaran, saya melihatnya—siluet Sang Raja di balik kelopak mata saya.

Kau kira kau bisa menolak takdirmu, Danu? Sebuah suara berbisik, begitu jelas di benak saya hingga saya mengira itu adalah suara Laksmi. Tapi ini lebih parau, lebih berwibawa, penuh ejekan.

Saya membuka mata, berkeringat meskipun suhu dingin. Saya kembali mencoba meditasi, menggenggam tasbih batu purba. Saya memvisualisasikan air jernih, aliran sungai, batu yang menenangkan. Energi Danu. Kerendahan hati.

Gagal.

Alih-alih air jernih, yang muncul adalah lautan api ambisi. Alih-alih batu yang tenang, saya melihat takhta yang terbuat dari emas murni. Saya merasakan mahkota yang berat di kepala saya, dan sebuah hasrat yang menjijikkan—hasrat untuk menguasai, untuk mengambil apa pun yang saya inginkan, bahkan jika itu berarti mengkhianati orang-orang terdekat.

Mengapa harus bersembunyi? Ketenangan ini palsu, Resi. Kehampaan ini membosankan. Kekuatan ada di sini, di bawah kulitmu. Kau adalah Raja. Suara Arya Sena kini bukan lagi bisikan. Itu adalah deklarasi di tengah ruangan.

Saya bangkit, frustrasi. Meditasi telah gagal total. Arya Sena tidak hanya membangunkan saya. Dia telah merebut ruang batin saya. Setiap denyut nadi kini membawa semangat Sang Raja.

Saya berjalan menuju jendela kecil. Malam itu begitu gelap, Merapi hanya tampak sebagai bayangan hitam raksasa di balik bintang-bintang yang berkilauan. Saya adalah Resi Danu, yang mencintai sunyi. Tetapi di pantulan kaca jendela yang hitam, saya tidak melihat mata yang sunyi.

Saya melihat mata yang berapi-api. Arya Sena.

Saya merasakan getaran lemah di luar bilik. Pintu kecil saya diketuk pelan. Itu pasti Laksmi.

Saya membuka pintu, wajah saya berusaha menampilkan kembali ketenangan Danu yang palsu.

Putri Laksmi berdiri di sana, diselimuti selendang tebal yang tidak cocok dengan gaun mewahnya. Wajahnya terlihat letih dan serius. Di tangannya, ia tidak membawa peta, melainkan kotak beludru hitam kecil yang usang.

“Anda tidak bisa tidur?” tanyanya pelan.

“Saya sedang mencoba menenangkan diri untuk misi besok. Rupanya, energi kuno itu menolak ditenangkan,” balas saya sinis.

Laksmi menghela napas. “Saya juga tidak bisa. Saya melihat bayangan Anda di takhta itu berulang kali, Resi. Itu… sangat nyata. Anda telah meyakinkan saya, Anda adalah Arya Sena yang kami cari.”

Dia mengangkat kotak beludru hitam itu. “Kami membutuhkan Pusaka Peneduh Jagat. Dan Pusaka itu terikat pada jejak pengkhianatan Anda di masa lalu. Saya membawa ini untuk membantu Anda mengingat, untuk membantu Anda mengambil kembali kendali, atau—Tuhan melarang—untuk membantu Arya Sena di dalam diri Anda memahami bahwa Keraton membutuhkan Pusaka, bukan penguasa baru.”

Dia membuka kotak itu. Di dalamnya, bertumpu di atas kain sutra usang, adalah cincin emas besar. Itu sama dengan yang ia tunjukkan sore tadi—lambang Segel Keraton—tetapi ini terlihat jauh lebih kuno, permata merah gelapnya tampak menyerap semua cahaya.

“Ini adalah warisan Keraton yang paling berharga, selain tahta itu sendiri,” Laksmi menjelaskan. “Cincin Permaisuri. Ini dulunya dikenakan oleh kekasih Raja Arya Sena yang dikorbankan. Orang yang terpaksa ditinggalkannya demi tahta. Atau mungkin orang yang ia tikam?” Ia bergidik. “Peninggalan ini memiliki koneksi terkuat pada ingatan masa lalu Sang Raja.”

Laksmi mengangkat cincin itu. Cahaya obor kecil di sudut bilik menangkap emas kusam itu. Ia mengulurkan tangannya, dan menawarkannya pada saya. Bukan dengan kehangatan, melainkan dengan urgensi yang hampir kejam.

“Kenakanlah, Resi. Jika Anda benar-benar hanya Danu, itu akan menjadi perhiasan yang berat dan dingin. Tetapi jika Anda adalah Raja Arya Sena yang terkutuk, benda ini akan menjadi kunci.”

Saya menatap cincin itu, dan di mata saya, muncul bayangan balairung lagi, tawa Sang Raja. Saya tidak mau. Danu tidak mau. Tetapi Arya Sena tertarik, terpaksa oleh dorongan naluriah untuk menyentuh peninggalan yang berhubungan dengan dosa terbesar dan kekuasaan tertinggi.

Jari-jari saya bergerak sendiri. Saya mengambil cincin Permaisuri itu dari tangan Laksmi. Emas itu dingin, tetapi seberat beban karma seribu tahun. Saat cincin itu menyentuh telapak tangan saya, sensasi mengerikan terjadi.

Gelombang panas menyambar. Rasanya seperti cairan logam panas disuntikkan ke dalam tulang saya.

Tubuh saya tertekuk. Cincin itu terasa menempel erat, seolah menyerap seluruh energi Danu dan memberikannya pada Raja yang tersembunyi. Saya terhuyung ke dinding.

“Danu! Apa yang terjadi?” Laksmi panik.

Saya hanya bisa menarik napas, rasa sakit di punggung saya kini mencapai klimaks. Bukan lagi denyutan, tetapi sensasi nyata dari kulit yang terbelah dan urat yang putus.

Saya menjatuhkan tasbih saya. Secara refleks, tangan saya meraih punggung. Saya merasakan kehangatan yang basah. Jubah meditasi saya, yang selama ini melambangkan kesunyian, kini ternoda oleh noda merah tua yang cepat menyebar.

Darah.

Segel Pengkhianatan di punggung saya—luka purba yang saya kira hanyalah bekas lahir—kini terbuka, menuntut korban. Cincin Permaisuri yang ada di tangan saya kini berkilat, seolah memberi energi pada luka yang mengering ini.

Laksmi, yang melihat darah membasahi jubah saya, menangkup mulutnya, mata besarnya penuh ketakutan.

“Ini… ini bukan bekas luka biasa,” bisik saya, suara saya nyaris tidak bisa dikenali. “Ini kutukan. Karma…”

Dan kemudian, saya mendengarnya. Suara yang lebih tua dari Danu, lebih dalam dari Arya Sena, sebuah gema primordial yang bergema langsung dari sumur karma itu sendiri, memadukan suara Arya Sena dan kehendak kutukan. Suara itu begitu dekat, seolah berasal dari tenggorokan saya sendiri:

“Karma menuntut bayarannya, Danu. Atau apakah aku harus mengambil alih?”

Saya melihat pantulan saya di mata Laksmi yang ngeri. Saya membuka mulut untuk menyangkal, untuk berteriak bahwa saya adalah Danu, tetapi kata-kata yang keluar dari bibir saya tidaklah tenang. Mereka adalah kata-kata milik Sang Raja yang lapar:

“Aku… aku…,” suara itu parau, penuh otoritas, dan haus kekuasaan. Saya tidak yakin apakah itu adalah janji penebusan, atau ancaman pengambilalihan. Saya berjuang melawan cengkeraman Raja yang menekan lidah saya. Saya ingin berteriak, ‘Saya Danu!’ tetapi Arya Sena terlalu dekat.

“Aku adalah Raja yang akan…”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel