Bab 6
“Aku adalah Raja yang akan…”
Pundak saya runtuh. Kalimat itu terputus, ditenggelamkan oleh gelombang rasa sakit yang murni, menusuk dari luar ke dalam. Saya tersungkur ke lantai bilik kayu, menggenggam cincin Permaisuri itu seolah itu adalah benda hidup yang menggigit tulang saya.
Laksmi berteriak kecil saat melihat saya terjerembap. Dia mendekat, berlutut, wajahnya memucat di bawah cahaya redup obor.
“Danu! Lepaskan cincin itu!” serunya.
Saya tidak bisa. Cincin itu telah menempel di telapak tangan saya. Panasnya membakar, tetapi bukan panas api; ini adalah panas energi karma yang menyedot kesadaran Danu. Saya merasakan tubuh saya meronta, ingin memuntahkan rasa sakit, tetapi Arya Sena, roh yang haus, mengirimkan sinyal kemenangan yang membuat saya bergetar.
Saya memaksakan diri bangkit, berdiri di hadapan Laksmi, lalu dengan tangan gemetar, saya merobek jubah meditasi saya, memperlihatkan kulit punggung yang telanjang.
Laksmi menahan napasnya. Darah segar telah menodai kayu dan menyebar di serat kain jubah, berasal dari lokasi tepat di bawah tulang belikat saya.
“Lihat ini, Putri,” desis saya, mencondongkan punggung saya ke dekat obor. Luka itu—bukan goresan, bukan luka fisik biasa. Itu adalah ukiran kuno, menyerupai naga yang sedang melilit perisai, terbuat dari jaringan parut tebal yang sekarang menganga dan berdarah. Bekas luka ini telah bersama saya seumur hidup Danu, tetapi tidak pernah hidup, tidak pernah berdarah.
“Segel Pengkhianatan,” bisik Laksmi, suaranya dipenuhi ketakutan religius. Ia menyentuh pinggiran luka itu dengan ujung jarinya yang dingin. Sentuhan itu tidak membuat saya sakit; sentuhan itu membuat saya sadar.
“Apa maksudmu?” Saya menoleh sedikit, menghindari gerakan tajam agar Arya Sena tidak mendapatkan kesempatan untuk mengambil alih kesadaran saya.
“Dalam legenda Keraton kuno, para Raja dan Ratu bersumpah di hadapan Peneduh Jagat, Pusaka yang kita cari,” jelas Laksmi, matanya terfokus pada ukiran darah di punggung saya. “Sumpah itu adalah pengabdian mutlak pada Keraton, melampaui kepentingan pribadi. Siapa pun yang melanggar sumpah itu demi kekuasaan, atau bahkan cinta yang dilarang, akan ditandai. Tanda itu, yang mereka sebut Segel Pengkhianatan, adalah janji karma. Ia bersemayam di jiwa. Setiap kali jiwanya bereinkarnasi dan bersentuhan dengan peninggalan karma purba, ia akan berdenyut, mengingatkan Raja akan dosa aslinya.”
Saya berdiri tegak, memproses kebenaran mengerikan yang baru saja ia sampaikan. Selama ini, saya mengira saya adalah seorang resi yang hidup sunyi, bebas dari takdir. Saya pikir luka di punggung ini hanyalah kelainan kosmik. Sekarang saya tahu, itu adalah label dosa, cetakan yang diberikan alam semesta.
“Saya… saya mengkhianati sumpah,” ucap saya pelan. Suara Danu kini bergetar, dikalahkan.
Laksmi mengangkat dagunya, air mata bergenang di matanya yang indah, namun ia tidak menangis. Ia terlalu bangga untuk itu.
“Anda telah mengkhianati takhta,” Laksmi membenarkan. “Anda telah mengkhianati tugas suci Raja. Tetapi yang paling menghancurkan… adalah siapa yang Anda khianati. Cincin ini adalah peninggalan dari Permaisuri yang ditinggalkan Raja Arya Sena demi ambisi kekuasaan yang lain.”
Cincin itu di tangan saya terasa semakin berat, seberat nyawa yang saya pertaruhkan—atau hancurkan—seribu tahun lalu.
“Saya melihatnya dalam kilasan ingatan, Putri,” saya mengakui, nada suara saya berubah total dari penyangkalan ke penerimaan yang pahit. “Saat saya menyentuh peta Anda, saya melihat pengkhianatan itu. Arya Sena ingin memiliki semuanya. Takhta, wibawa, dan kekuasaan absolut. Dan satu-satunya cara mendapatkannya adalah… dengan menyingkirkan orang yang ia cintai. Saya meninggalkan wanita itu di malam takhta yang direbut. Ia tidak melawan. Ia hanya memandang saya dengan mata yang kosong. Ia mengutuk takhta saya.”
Sebuah kilasan muncul di benak saya: Wajah wanita itu, lembut, tetapi matanya penuh air mata, memandang saya, Raja Arya Sena, saat saya mengenakan jubah keemasan takhta. Sebuah tangan terangkat, menunjuk ke arah saya, seolah memberikan janji takdir yang kejam. Lalu, saya merasakan kilatan pedang yang dingin, dan bukan saya yang memegang pedang itu. Atau, apakah saya? Ingatan itu buram, kabur di batasnya, tetapi rasa bersalahnya terasa baru.
“Maka, Pusaka Peneduh Jagat…” Saya merenungkan, menyambungkan titik-titik horor itu. “Pusaka itu bukan hanya artefak yang melindungi Keraton. Pusaka itu adalah kunci dari karma yang mengikat saya.”
Laksmi mengangguk dengan serius. “Kami percaya Pusaka Peneduh Jagat adalah sumber kekuatan, yang digunakan Raja Arya Sena untuk menenangkan kegelisahan spiritualnya setelah pengkhianatan itu. Sebuah alat untuk membersihkan nama. Atau, lebih mungkin, untuk mengendalikan ingatan buruknya. Ia bukan artefak kebaikan, Resi. Ia adalah artefak yang lahir dari dosa.”
“Pusaka adalah mata uang pengkhianatan masa lalu,” gumam saya, memegang cincin itu lebih erat. Darah di punggung saya perlahan berhenti, menyisakan rasa dingin yang mematikan.
Laksmi bangkit dan menyilangkan tangannya, matanya kini dipenuhi keraguan yang mematikan. Ini adalah inti dari konflik eksternal kami.
“Bagaimana saya bisa mempercayai Anda?” tanyanya, nada suaranya tajam. “Jika Anda adalah Arya Sena, reinkarnasi pengkhianat terburuk dalam sejarah dinasti kami—sosok yang bersedia mengorbankan cinta sejatinya demi mahkota—mengapa Anda tidak akan mengkhianati Keraton saya lagi? Mengapa saya harus mempercayai seorang pria yang luka karmanya baru saja berdarah di depan mata saya?”
Kata-kata itu menampar saya, tetapi mereka benar. Saya adalah ancaman terbesar bagi Keraton yang berusaha saya selamatkan.
“Putri, Arya Sena lapar akan kekuasaan. Danu… Danu haus akan ketenangan,” saya mencoba menjelaskan, menekankan nama yang terakhir. “Arya Sena menginginkan pusaka itu untuk kekuatannya. Danu menginginkan pusaka itu untuk memutus siklus ini. Lihatlah saya! Saya hidup seribu tahun dalam keheningan Merapi, menyangkal keberadaan saya. Ini adalah penebusan saya, bukan keinginan saya.”
“Penebusan? Atau ketakutan?” Laksmi menyudutkan. “Anda takut jika Arya Sena mengambil alih, Anda akan dipaksa mengkhianati cinta sejati Anda untuk kali kedua atau ketiga. Siapa cinta sejati itu, Resi? Dan apakah saya termasuk dalam daftar pengkhianatan baru Anda?”
Saya merasakan desakan mendalam untuk menenangkannya, tetapi saya tidak punya jawaban. Bahkan saya tidak tahu siapa Permaisuri itu sekarang. Yang saya tahu, cinta sejati Raja Arya Sena pasti telah bereinkarnasi, mungkin memegang kunci dari Pusaka itu, atau mungkin, menjadi musuh yang akan menghancurkan kami semua.
“Saya adalah Danu, dan tugas Danu adalah membersihkan, memurnikan, dan menenangkan,” kata saya, memaksa mata saya agar terlihat seperti Resi yang tabah. “Kita terikat sekarang, Putri. Cincin ini, darah ini, Segel Pengkhianatan ini. Anda membutuhkan Arya Sena untuk memiliki kekuatan menemukan Pusaka, tetapi Anda membutuhkan Danu untuk mencegah Raja itu menggunakannya demi ambisi pribadinya. Saya harus mencari tahu bagaimana memisahkan keduanya sebelum Arya Sena menangkap kendali penuh.”
Laksmi menatap saya untuk waktu yang lama, menganalisis. Dia tidak melihat kebohongan, hanya kerentanan yang mengerikan. Pada akhirnya, insting pewarisnya mengambil alih.
“Baiklah,” katanya tegas. “Kita bersekutu. Tetapi jika saya melihat bahkan sekejap pun ambisi Sang Raja di mata Anda, saya akan menusuk Anda, Resi. Saya tidak peduli seberapa besar harapan yang dibawa oleh nama Arya Sena bagi dinasti kami.”
Saya mengangguk. Itu adil. Tugas untuk menyelamatkan Keraton akan jauh lebih sulit daripada menyingkirkan saya. Kami berdua tahu itu.
Satu jam kemudian, pagi mulai menyapa. Fajar pertama yang dingin. Saya telah membersihkan luka saya, memaksa diri untuk menyarungkan cincin Permaisuri di leher, menggantungnya sebagai kalung di bawah jubah baru yang menutupi Segel yang baru saja berdarah.
Laksmi telah mengemas peta, bekal, dan air. Kuda-kuda telah disiapkan.
Sebelum kami meninggalkan bilik, saya merasa saya harus mencoba yang terakhir kali. Saya butuh keheningan spiritual. Saya butuh untuk memastikan bahwa yang memegang tali kekang adalah Danu, bukan Raja yang lapar itu.
Saya mendekati gentong air yang kami gunakan untuk membasuh. Saya menciduk sedikit air dan memercikkannya ke wajah saya. Sensasi dingin menyengat, membuat saya kembali memusatkan pikiran pada esensi seorang Resi: air yang tenang, udara yang murni, api yang membimbing.
Saya menarik napas panjang. Danu, tenang. Danu, damai.
Saya mengangkat kepala saya, memandang ke dalam pantulan air di dalam gentong itu.
Awalnya, saya melihat Danu—mata yang letih, wajah yang kusam oleh pertarungan spiritual. Kelegaan kecil menyentuh dada saya.
Tetapi kemudian, hanya sekejap mata, riak di permukaan air itu berubah, seolah dicengkeram oleh angin internal. Air itu seolah menjadi cermin yang dalam.
Dan di pantulan itu, mata Danu tiba-tiba bersinar, tidak lagi lelah, tetapi dipenuhi kilatan yang kejam dan tak terpuaskan. Mulutnya yang biasanya tegang kini melengkung ke atas menjadi seringai lambat, sebuah senyum penuh nafsu kekuasaan. Bukan senyum Danu yang lembut. Itu adalah ekspresi dominasi. Wajah Sang Raja.
Arya Sena telah bangun.
Ia menunggu waktu untuk mengambil alih tubuh ini, mengumpulkan kekuatannya dari peninggalan karma yang baru saya kenakan di leher saya.
Jantung saya mencelos. Ini lebih dari sekadar penglihatan. Ini adalah kehadiran yang sadar.
Saya dengan cepat menjauh dari gentong itu, pantulan air kembali menjadi Danu yang gemetar. Saya menutup mata, mencengkeram jubah saya, dan berjuang mati-matian untuk mengusir rasa euforia dan keagungan yang ditawarkan oleh Sang Raja yang baru terbangun.
Saya merasakan tangan Laksmi di bahu saya. Dia pasti melihat ekspresi wajah saya yang berubah, transisi cepat dari Resi ke Raja.
Kami telah berjalan keluar, menuju batas padepokan yang kini terasa sangat tidak aman.
“Kita harus berangkat sekarang, Resi,” kata Laksmi, menatap wajah saya dengan ekspresi tegang.
Saya menarik napas yang dalam dan pahit. Saya memutar badan, dan mencoba untuk melihat Danu yang ada di mata saya, tetapi saya hanya merasakan getaran Sang Raja yang sedang menertawakan ketakutan saya.
Laksmi memandang lurus ke mata saya yang kacau. Sebuah kepastian yang dingin terpancar darinya.
“Siapa yang ada di matamu, Resi?” tanyanya, tepat sebelum kami melangkah keluar menuju takdir kami. “Danu yang menebus, atau Arya Sena yang. . . .
