Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

“Apa yang Anda inginkan?” tanya saya, suara saya hampir tidak terdengar

“Pusaka Peneduh Jagat. Benda itu ada di lokasi yang ditandai di peta ini,” katanya, menunjukkan lipatan kertas kulit di tangannya. “Anda akan ikut dengan saya ke sana. Anda akan menjadi perantara spiritual saya, dan kita akan menyelamatkan Keraton. Dengan atau tanpa kemauan Arya Sena di dalam diri Anda.”

Dia mundur selangkah, memberi saya ruang untuk berpikir, namun mata dinginnya tetap mengunci saya. Sore hari Merapi telah berubah menjadi gelap, seolah alam semesta menahan napas, menunggu keputusan yang telah saya tunda selama seribu tahun.

“Kita mulai besok pagi,” putus saya akhirnya. Danu telah menyerah pada urgensi Laksmi. Atau, Arya Sena tertarik pada takhta yang bisa diselamatkan.

Saya merasakan desakan darah dari Segel Pengkhianatan di punggung. Jantung saya berdetak cepat. Saya melangkah ke bilik dan meraih Keris Sesa Dosa. Saya menggenggamnya kuat, mencoba meredam energi jahatnya. Keris itu kini bergetar dengan gembira, seolah tahu ia akan segera kembali beraksi, dan sang Resi tidak punya kuasa untuk menahannya lagi.

Laksmi menatap Keris di tangan saya, dan kemudian menatap peta di tangannya. Dia tersenyum—senyum tipis yang bukan kegembiraan, melainkan ketakutan yang terkontrol.

Saat Keris Sesa Dosa itu bersentuhan dengan energi peta yang tersisa di udara, resonansi kedua meledak, jauh lebih cepat dan lebih mengerikan dari sebelumnya.

Laksmi, yang sedang memegang peta, dan saya, yang memegang keris, kembali berbagi visi, tetapi kali ini jauh lebih singkat, seperti kilasan kamera.

Saya melihat diri saya sendiri—Raja Arya Sena—berdiri di atas panggung tinggi. Balairung itu kini dipenuhi cahaya keemasan. Saya, Sang Raja, tidak lagi sendirian. Di sebelah saya, ada wajah lain—wanita yang berbeda, bukan sosok yang baru saja saya tikam dalam penglihatan sebelumnya. Ia adalah permaisuri baru. Saya memasangkan mahkota di kepalanya, tawa menggelegak di dada. Di tangannya, ia memegang sebuah artefak yang memancarkan cahaya biru menenangkan—itu pasti Pusaka Peneduh Jagat yang Laksmi cari. Saya mencium dahi wanita itu. Adegan itu harusnya damai, sebuah pengukuhan kekuasaan yang suci.

Tetapi pandangan itu tiba-tiba berubah, terdistorsi.

Kini saya melihat diri saya—Raja Arya Sena—melangkah menjauh dari mahkota yang baru saja saya pasangkan. Saya berbalik ke belakang, menatap langsung ke dalam penglihatan ini, dan mata Arya Sena berkilat gila. Kemudian, Arya Sena meraih Pusaka Peneduh Jagat yang ada di tangan permaisuri, dan saya menggunakan pusaka itu—bukan sebagai peredam chaos—tetapi sebagai pisau tajam yang menghancurkan semua kebahagiaan di wajah permaisuri itu.

Ini adalah pengkhianatan yang berlapis.

Dua dosa. Dua pengkhianatan, dan satu takhta yang dikuasai. Tubuh saya, Sang Raja, tertawa. Tawa yang parau dan haus darah.

Tawa itu seolah menyatu dengan suara parau yang kini saya dengar, bukan di telinga, melainkan dari kedalaman jiwa saya sendiri, bergema, mengumumkan kemenangan atas identitas Danu yang rapuh:

“Kami tidak akan menyelamatkan Keraton ini, Danu. Kami akan mengambilnya kembali. Dan kau akan menikmatinya.”

Saya tersentak, menjatuhkan Keris Sesa Dosa. Punggung saya berdenyut. Saya melihat pantulan saya sendiri di mata Laksmi—saya melihat ketakutan. Saya mencoba mencari wajah Resi Danu di sana, tetapi yang Laksmi lihat hanyalah bayangan pria yang memakai mahkota dan tertawa—seorang raja pengkhianat.

Laksmi menjatuhkan peta. Tangannya terangkat, menutupi mulutnya. Dia telah melihat sedikit dari mimpi buruk yang saya lihat. Sedikit dari Arya Sena.

“Apa itu tadi?” bisik Laksmi, mundur ke ambang pintu. Matanya dipenuhi kengerian yang bercampur keyakinan absolut. “Itu bukan sekadar penglihatan. Anda… Anda Raja Arya Sena! Dan kau…”

Saya menutup mata. Ketika saya membukanya lagi, wajah Arya Sena di dalam diri saya seolah menyeringai, bersemangat untuk memanipulasi takdir. Wajah Resi Danu hanya menjadi fasad tipis.

Laksmi, meskipun ngeri, berhasil merangkai pertanyaan yang tajam, menusuk tepat pada intinya:

“Jika kau adalah Arya Sena, Raja yang membunuh demi takhta itu, maka katakan padaku, siapa yang akan kau khianati lagi, Danu?”

Pertanyaan itu menusuk, bukan dengan kekuatan amarah, melainkan dengan ketajaman diagnosis yang kejam. Saya menarik napas dalam, berusaha menyembunyikan goresan teror yang telah dipatri oleh bayangan Raja Arya Sena di mata batin saya. Laksmi mundur sedikit, memberi saya ruang fisik, tetapi ia tetap mengunci saya dengan tatapan yang menuntut pengakuan.

Saya mengendalikan diri. Rasa logam di mulut saya memudar, digantikan oleh rasa pahit dari penolakan yang telah saya praktikkan selama ribuan tahun.

“Tidak ada pengkhianatan di sini, Putri,” jawab saya, berusaha agar suara saya terdengar stabil, dingin seperti es di puncak Merapi.

“Yang ada hanya residu spiritual yang berumur tua. Peta itu mengandung energi purba Keraton Anda, dan keris yang terjatuh di bilik adalah benda yang terkutuk. Resonansi itu, bersama dengan kelelahan saya, menciptakan distorsi.”

“Distorsi?” Laksmi mengangkat alisnya. “Distorsi yang membuat Anda melihat diri Anda sendiri mengenakan mahkota?

Distorsi yang membuat Keris Sesa Dosa milik Anda memancarkan aura kemenangan sesaat setelah Anda menjatuhkannya?”

Ia cerdas. Ia menyadari semuanya. Saya bisa merasakan peluh dingin membasahi punggung saya di lokasi Segel Pengkhianatan.

“Keris itu selalu bermasalah. Itu sebabnya ia ada di sini. Saya memurnikannya,” kilah saya, berjalan ke bilik dan meraih sarung kayu cendana yang jatuh. Saya menyarungkan Keris Sesa Dosa dengan paksa. Suara ‘klik’ logam itu terdengar terlalu keras dalam keheningan pondok kami.

“Jika Anda adalah seorang Resi yang mampu memurnikan benda terkutuk, mengapa Anda terhuyung hanya karena sebuah peta kuno?” Laksmi melangkah maju, kembali menunjuk gulungan peta yang kini tergeletak di meja di antara kami. “Jujurlah, Resi Danu. Ada sesuatu di peta ini, sesuatu di energi kuno ini, yang berusaha menghubungkan jiwa Anda dengan jiwa Arya Sena.”

Saya tidak punya waktu untuk berdebat lagi. Kebutuhan untuk menyangkal kini melebihi kebutuhan untuk bersikap tenang.

“Putri Laksmi,” desah saya, mencoba menyuntikkan kewibawaan spiritual ke dalam nada saya. “Saya hanya dapat membantu Anda jika Anda menerima saya sebagai Danu, Sang Resi. Bukan sebagai fantasi seorang Raja yang mungkin pernah saya tirani.”

Laksmi menggeleng. Dia tampak putus asa. Matanya memandang ke meja, kemudian kembali ke mata saya. Ia mengambil napas yang terputus-putus. Keinginan untuk menyelamatkan Keratonnya pasti lebih besar daripada ketakutan yang baru saja ia rasakan.

Tiba-tiba, ia melakukan sesuatu yang membuat saya tercekat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel