Bab 3
Laksmi, yang seolah baru tersadar dari keputusasaannya, mundur, mengatur napas. Dia mengeluarkan sebuah gulungan yang terbuat dari kulit tebal yang telah menguning, diikat dengan benang emas pudar. Itu terlihat begitu tua hingga hampir hancur saat dipegang.
“Baiklah. Anda mungkin hanya Resi Danu, seorang pria biasa yang kebetulan memiliki nama spiritual yang familiar,” ia berkata, nada suaranya kembali formal, meskipun gemetar. “Namun, saya punya petunjuk yang mungkin membuat Anda berubah pikiran.”
Ia membuka gulungan itu. Gulungan itu menampilkan peta topografi kuno yang sangat detail, memuat koordinat yang dilambangkan dengan rasi bintang purba. Tepat di tengah peta, ditandai sebuah lokasi—sebuah lembah yang hanya bisa dijangkau jika Anda memahami geometri mistis alam. Itu adalah peta yang mustahil dibuat oleh peradaban modern.
“Ini adalah peta menuju lokasi terakhir Pusaka Peneduh Jagat,” kata Laksmi, menunjuk salah satu ukiran kecil di sudut peta. “Ini juga menjadi bukti terikatnya Anda pada takdir kami. Perhatikan simbol ini, Resi.”
Jari telunjuk Laksmi menekan keras pada peta. Di sudut yang ia tunjuk, terdapat ukiran lambang dinasti Keraton—seekor naga yang melingkari mahkota—tepat di samping sebuah segel kuno berbentuk ukiran geometris yang sangat familiar.
Saya mencondongkan tubuh, tertarik pada segel itu. Saya sudah pernah melihat bentuknya. Berulang kali.
Di punggung saya.
Nyeri di bahu saya berdenyut kencang. Secara refleks, tanpa sadar akan apa yang saya lakukan, jari saya bergerak ke depan untuk menyentuh ukiran yang Laksmi tunjuk. Tepat di bawah jemari Laksmi.
Kulit tua dari gulungan peta itu begitu kering dan tipis, tetapi sentuhan gabungan jari kami memicu reaksi yang mengerikan.
ZHHEEW.
Gelombang energi yang terasa seperti dinginnya air es namun membakar syaraf mengalir dari peta, menembus jari kami berdua, dan menghantam dada saya.
Bersamaan dengan resonansi yang menggelegar itu, dari dalam bilik tempat saya menyimpan benda-benda pusaka—bilik yang biasanya sunyi dan terkunci oleh mantra peredam—terdengar suara logam yang jatuh. Kotak kayu cendana yang menahan Keris Sesa Dosa jatuh ke lantai, bilah keris itu terlepas dari sarungnya.
Keris Sesa Dosa itu memancarkan aura pengkhianatan yang paling pekat yang pernah saya rasakan.
Waktu seolah terdistorsi. Saya terhuyung ke belakang, bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena lonjakan spiritual yang dilepaskan peta kuno itu. Otak saya meledak oleh gambaran yang asing, yet nyata.
Penglihatan itu, penuh warna dan kejam, berlangsung sepersekian detik. Saya melihat sebuah balairung agung, diselimuti bayangan tebal, dengan takhta yang terbuat dari emas putih yang mencolok.
Dan di takhta itu, ada saya. Bukan Danu yang bersahaja dengan jubah katun lusuh. Ini adalah sosok yang lebih tinggi, lebih gagah, mengenakan mahkota yang memantulkan cahaya ratusan obor. Wajah itu… itu adalah wajah yang sempurna, tegas, tetapi dingin—wajah Raja Arya Sena.
Raja Arya Sena yang ada dalam penglihatan saya berdiri dari takhta. Dia berjalan menuju sosok lain yang sedang berlutut, wajahnya diselimuti kegelapan sehingga saya tidak bisa mengenalinya—seorang pria atau wanita, saya tidak yakin. Hanya tahu bahwa mereka adalah korban.
Dalam penglihatan itu, Arya Sena tersenyum, senyum yang menjanjikan kehancuran.
Di tangan Raja Arya Sena, tergenggam Keris Sesa Dosa yang sama persis dengan yang baru saja jatuh di bilik saya. Dengan gerakan lambat, penuh kemenangan dan ambisi yang memuakkan, Raja Arya Sena mengangkat keris itu, dan menusukkannya lurus ke punggung sosok yang berlutut itu. Tepat di lokasi yang sama, tepat di bilah bahu kiri—lokasi yang saat ini berdenyut kesakitan di punggung saya.
Penglihatan itu putus secepat kilat menyambar.
Saya jatuh dari kursi, menghantam lantai kayu. Nafas saya terpotong. Rasa logam dan darah memenuhi mulut saya. Bau cendana kini berpadu dengan bau debu, kekuasaan, dan pengkhianatan.
Putri Laksmi berteriak. Dia mencondongkan tubuh, menahan napas karena terkejut melihat gulungan peta yang masih terbuka dan keris yang tergeletak di tanah.
“Resi Danu! Apa yang terjadi? Apa yang Anda lihat? Jawab saya!”
Saya mencoba berbicara, tetapi suara saya tercekat. Yang saya lihat di mata batin adalah Raja Arya Sena yang berlumuran ambisi, dan sosok yang dikorbankan demi mahkota. Punggung saya terasa perih, dan di bawah kemeja saya, saya bisa merasakan ukiran aneh itu mulai terasa seperti terbelah.
Laksmi, yang ketakutan, mendekatiku, wajahnya pucat pasi. Ia meraih bahu saya untuk membantu saya bangkit, tetapi mata saya masih terpaku pada satu fakta brutal:
Saya adalah pembunuhnya.
Saya menggenggam tangannya, menstabilkan diri, mencoba menguasai rasa panik yang menjalar ke setiap serabut saraf saya.
“Tidak… bukan apa-apa,” kata saya, berhasil mengeluarkan kata-kata. “Hanya… pusing karena kelelahan.”
Saya menunjuk peta kuno yang masih terbentang, jari-jari kami yang menyentuh kertas tipis itu terasa dingin dan bergetar.
“Peta itu… energi Pusaka itu terlalu kuat, Putri. Jangan pernah sentuh benda ini lagi,” perintah saya, menyembunyikan kebenaran tentang penglihatan itu, kebenaran tentang Raja Arya Sena, dan tentang takhta yang dinodai darah.
Laksmi menarik tangannya kembali, tatapannya tidak lagi mengandung keputusasaan, melainkan kecurigaan. Dia tahu saya berbohong. Energi yang kami berdua rasakan terlalu kuat untuk disebut pusing biasa.
Ia melihat dari mata saya ke arah bilik, di mana Keris Sesa Dosa yang terlepas dari kotaknya kini tampak berdenyut dalam kegelapan. Ia menyadari korelasi yang mengerikan antara peta, artefak kuno, dan rasa sakit tiba-tiba saya.
Putri Laksmi mendekatiku sekali lagi. Matanya menatapku lurus, kini tanpa filter keputusasaan atau kelelahan, melainkan dengan penilaian yang kejam.
“Kelelahan, Anda bilang?” Laksmi mengangkat tangannya. Di sana, melingkar di jari manisnya, adalah cincin emas berpermata warisan Keraton yang ia kenakan. Itu adalah cincin yang dulunya menjadi lambang takhta yang dimiliki oleh Arya Sena. Ia membalik cincin itu. Cahaya sore Merapi menangkap ukiran rumit di sisi bawah cincin itu. Ukiran itu sama persis, tanpa cela, dengan segel yang ada di peta—dan segel yang kini saya rasakan panas membara di punggung saya.
Laksmi mendekatkan cincin itu ke wajah saya, memaksa saya melihat simbol yang tidak bisa saya sangkal.
“Resi Danu,” desisnya, suaranya sangat rendah hingga nyaris menjadi ancaman. “Katakan sejujurnya, mengapa Anda, yang hanya seorang resi sunyi di lereng Merapi, memiliki Segel Kerajaan purba di kulit Anda?”
Saya terdiam. Kepalan tangan saya gemetar. Penglihatan Arya Sena menusukkan keris masih begitu segar. Kerongkongan saya kering. Saya harus menolaknya. Saya harus mempertahankan benteng Danu.
Laksmi melihat goresan ketakutan yang pasti tercetak jelas di mata saya. Ia kembali ke peta, mengulurkan jari untuk menyentuh ukiran di sana lagi, kali ini disengaja, mencoba memancing resonansi lain.
“Jawab saya,” ia menuntut. “Anda melihat sesuatu, bukan? Katakan padaku, Resi. Apa hubungan Anda dengan kejatuhan dinasti dan mengapa saya harus mencari Pusaka Peneduh Jagat melalui seorang pria yang jelas-jelas mengenakan mahkota pembunuh dalam penglihatannya sendiri—”
BLAM.
Lengan saya menampar peta itu ke lantai. Gerakan refleks yang kejam, sebuah manifestasi fisik dari kepanikan jiwa yang terpojok. Laksmi tersentak mundur, terkejut oleh kekuatan tersembunyi yang saya tunjukkan.
Saya terengah, tubuh saya membungkuk karena nyeri di punggung. Itu bukan hanya nyeri fisik. Itu adalah karma yang menuntut bayarannya. Itu adalah Arya Sena yang mendidih di bawah lapisan tipis kedamaian saya.
“Ini bukan tentang tahta atau pusaka, Putri,” raung saya, suaraku menjadi serak dan asing di telinga saya sendiri, terdengar lebih tua dan lebih berkuasa dari Danu yang sederhana. “Ini tentang kutukan yang terikat padaku. Sebuah kutukan yang tak seorang pun, apalagi Anda, seorang pewaris yang putus asa, ingin terlibat di dalamnya.”
“Saya tidak putus asa. Saya hanya membutuhkan kunci untuk dinasti saya,” jawab Laksmi, menatap dingin pada saya yang masih membungkuk kesakitan. “Jika Anda adalah kuncinya, Anda tidak punya pilihan selain menghadapi masa lalu. Keraton sekarat karena kutukan yang Raja Arya Sena buat.”
Ia menunduk, mengambil peta yang tersentak ke lantai, melipatnya dengan hati-hati seolah itu adalah jembatan menuju keselamatan.
“Saya tidak percaya bahwa saya adalah kuncinya,” balas saya, merangkak bangkit, berusaha terlihat setenang mungkin. Saya harus mengusirnya, sekarang juga, sebelum ia memecahkan semua lapisan es di sekitar jantung saya.
“Tidak,” Laksmi menggeleng. Dia maju satu langkah terakhir, berdiri begitu dekat sehingga aroma rempah dan sutra miliknya membanjiri indra saya. Mata kami terkunci. Kali ini, ia melihat menembus kulit Danu dan langsung pada Raja di bawahnya.
“Saya tidak meminta Anda percaya,” katanya, nada suaranya lembut, tetapi ancamannya terasa lebih besar dari sebelumnya. “Saya meminta Anda melihat. Karena jika saya kembali ke Keraton tanpa solusi, kehancuran akan menyusul, dan saya akan memastikan semua orang tahu bahwa Resi Danu adalah pengkhianat terbesar dari yang terbesar—reinkarnasi dari Raja Arya Sena, sang pewaris terkutuk, yang memilih untuk kabur alih-alih membayar dosa masa lalu yang membuat dinasti kami sekarat.”
Ia menunggu reaksi saya. Sumpah, seluruh energi saya fokus untuk tidak meraih keris yang tergeletak di bilik, mengambilnya, dan menggunakannya untuk menenangkan kekacauan yang tiba-tiba melanda pondok saya.
Saya kalah. Kekalahan saya adalah fakta bahwa ia mengenali aura pengkhianatan yang saya coba kubur. Dia memenangkan pertempuran emosional pertama ini.
“Apa yang Anda inginkan?” tanya saya, suara saya hampir tidak terdengar.
