Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Senyum Di Tepi Danau

Danau itu kembali menyambut Maulana Tahmid Elq pada sore berikutnya, seolah tahu bahwa keheningan di tempat itu adalah sesuatu yang kini ia butuhkan. Langit berwarna jingga keemasan, memantul lembut di permukaan air yang nyaris tak beriak. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering.

Mula berdiri beberapa langkah dari tepi danau, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Jasnya dilepas, menyisakan kemeja putih sederhana yang lengannya digulung rapi. Wajahnya tetap dingin, namun sorot matanya tidak lagi setajam biasanya. Ada kelelahan yang ia sembunyikan, kelelahan yang bukan berasal dari pekerjaan, melainkan dari pertarungan panjang dengan dirinya sendiri.

Ia sebenarnya tidak berniat kembali ke tempat ini. Namun kakinya seakan membawa tubuhnya ke sini tanpa ia sadari. Sejak pertemuan singkat kemarin, bayangan senyum seorang gadis asing terus muncul di sela-sela pikirannya—sebuah gangguan kecil yang terasa aneh, namun tidak sepenuhnya ingin ia singkirkan.

Dan benar saja.

Gadis itu ada di sana.

Ia duduk di bangku kayu yang sama, menghadap danau dengan posisi tubuh sedikit menyamping. Rambut hitamnya diikat sederhana, beberapa helai terlepas tertiup angin. Ia mengenakan dress polos berwarna pastel, tanpa aksesoris mencolok. Di pangkuannya, sebuah buku terbuka, meski tampaknya ia lebih sering memandangi air daripada membaca.

Mula berhenti melangkah.

Ada dorongan aneh dalam dadanya—bukan keinginan untuk mendekat, melainkan keinginan untuk tetap diam dan mengamati. Ia tidak ingin merusak ketenangan itu. Gadis ini… berbeda. Tidak seperti wanita-wanita yang biasa mengelilinginya di dunia bisnis atau sosialita.

Namun takdir kembali bergerak pelan.

Gadis itu menoleh, seolah merasakan keberadaan seseorang. Mata mereka kembali bertemu.

Sesaat hening.

Lalu gadis itu tersenyum.

Senyum yang sama seperti kemarin—tidak dibuat-buat, tidak penuh maksud tersembunyi. Senyum yang sederhana, hangat, dan entah mengapa terasa jujur.

Mula mengangguk singkat sebagai balasan, refleks seorang pria yang terbiasa menjaga jarak. Namun kali ini, ia tidak langsung pergi.

Ia melangkah mendekat.

"Sore," ucapnya singkat.

"Sore," jawab gadis itu lembut.

Suara itu tenang, tidak dibuat manja. Nada bicaranya mengalir alami.

Mula berdiri beberapa langkah dari bangku. Ia tidak langsung duduk. Ada jeda canggung yang jarang ia rasakan.

"Tempat ini… sepi," katanya akhirnya.

Gadis itu tersenyum kecil. "Itu sebabnya saya suka ke sini."

Jawaban yang sederhana, namun terasa tepat.

"Tidak banyak orang yang tahu danau ini," lanjut gadis itu. "Kebanyakan lebih suka tempat ramai."

Mula mengangguk. "Saya juga biasanya begitu."

"Biasanya?"

Pertanyaan itu meluncur ringan, tanpa niat mengorek. Namun justru itu yang membuat Mula terdiam sejenak.

"Akhir-akhir ini… saya lebih suka tempat seperti ini," jawabnya akhirnya.

Gadis itu menutup bukunya perlahan, lalu menaruhnya di samping. "Berarti kita sama."

Kalimat itu membuat Mula menoleh. Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat tipis—bukan senyum penuh, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak merasa terganggu.

"Nama saya Alisa," kata gadis itu memperkenalkan diri.

Mula terdiam sesaat sebelum menjawab. "Maulana."

"Maulana," ulang Alisa pelan, seolah mengecap nama itu. "Nama yang bagus."

Mula tidak terbiasa menerima pujian sederhana seperti itu. Biasanya, pujian selalu memiliki agenda. Kali ini tidak.

Ia akhirnya duduk di bangku yang sama, menjaga jarak yang sopan. Mereka kembali terdiam, membiarkan suara alam mengambil alih percakapan.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang justru terasa nyaman.

"Kamu sering ke sini?" tanya Mula.

"Kalau ada waktu," jawab Alisa. "Dan kalau kepala saya terlalu penuh."

"Pekerjaan?"

Alisa mengangguk. "Dan kehidupan."

Jawaban itu membuat Mula menatap danau lebih lama. Ia memahami perasaan itu lebih dari yang ingin ia akui.

"Kamu?" tanya Alisa balik.

Mula menarik napas pelan. "Saya… baru kembali ke kota ini."

"Oh."

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan. Dan justru itu yang membuat Mula merasa lega.

Mereka berbincang ringan—tentang cuaca, tentang danau, tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah menarik perhatian Mula. Namun kali ini, ia mendengarkan. Benar-benar mendengarkan.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Matahari perlahan turun, meninggalkan semburat merah di ufuk barat.

"Sudah hampir malam," ujar Alisa sambil berdiri.

Mula ikut bangkit. Ada perasaan aneh—seperti keengganan kecil yang muncul tiba-tiba.

"Saya biasanya pulang lewat jalan itu," kata Alisa menunjuk arah.

"Saya… lewat sini," jawab Mula, menunjuk arah berbeda.

Mereka saling menatap sejenak.

"Senang bertemu denganmu, Maulana," kata Alisa tulus.

"Saya juga," jawab Mula jujur.

Alisa tersenyum sekali lagi sebelum melangkah pergi.

Mula berdiri di tempatnya cukup lama, menatap punggung itu menjauh hingga menghilang.

Untuk pertama kalinya sejak London, ia merasakan sesuatu yang bukan kemarahan, bukan luka, bukan kehampaan.

Itu bukan cinta.

Belum.

Namun itu adalah ketenangan kecil—dan ia menyadari betapa berharganya perasaan itu.

Malam itu, Mula kembali ke apartemennya dengan pikiran yang lebih ringan. Ia berdiri di balkon, memandangi lampu kota yang mulai menyala.

"Ahsa," ucapnya saat asistennya mendekat.

"Ya, Tuan?"

"Danau di pinggiran kota itu…" Mula terdiam sejenak. "Tempat yang bagus."

Ahsa mengangguk, meski jelas terkejut dengan pernyataan itu.

Mula tidak menjelaskan lebih jauh.

Ia hanya tahu satu hal—di tengah reruntuhan hidupnya, sebuah senyum sederhana di tepi danau telah membuka celah kecil.

Dan dari celah itulah, perjalanan baru perlahan dimulai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel