Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Kembali Ke Akar

Pesawat pribadi Tahmid Group mendarat mulus di Bandara Kota A saat matahari baru saja naik sepenggal. Dari balik jendela, Maulana Tahmid Elq menatap daratan yang terasa asing sekaligus akrab. Inilah tempat di mana segalanya bermula—tanah yang menyimpan jejak perjuangan ayahnya membangun kerajaan bisnis dari nol.

Begitu menuruni tangga pesawat, udara hangat menyentuh wajahnya. Mula melangkah mantap, mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak ada sambutan meriah, tidak ada senyum berlebihan. Hanya kesunyian yang ia butuhkan.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," sambut para direksi senior.

Mula mengangguk singkat. "Mulai hari ini, saya ingin transparansi penuh. Tidak ada laporan yang ditahan."

Hari pertamanya sebagai Presiden Direktur Tahmid Group di Kota A langsung diisi rapat panjang. Satu per satu masalah perusahaan dibuka—penyimpangan dana, konflik internal, hingga kinerja yang sengaja ditutup-tutupi.

Mula mendengarkan tanpa memotong. Namun ketika ia berbicara, setiap kata memiliki bobot yang membuat ruangan hening.

"Tidak ada toleransi untuk pengkhianatan," ucapnya tegas. "Siapa pun yang bermain di belakang, akan saya keluarkan."

Audit menyeluruh dimulai. Pergantian manajemen dilakukan tanpa kompromi. Banyak yang terkejut—bahkan takut.

Hari-hari berikutnya, Mula menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Ia sengaja membuat tubuhnya lelah agar pikirannya tidak kembali ke London.

Suatu sore, Ahsa memaksanya keluar kantor.

Mereka menuju sebuah danau kecil di pinggiran kota. Tempat itu sunyi, sederhana, jauh dari dunia bisnis.

Di sana, Mula melihat seorang gadis duduk menatap air dengan ekspresi damai. Tidak ada riasan mencolok. Tidak ada kepalsuan. Hanya ketenangan.

Tatapan mereka bertemu sejenak. Gadis itu tersenyum sopan.

Entah mengapa, dada Mula terasa lebih ringan.

Ia belum tahu, pertemuan sederhana itu akan menjadi awal dari perjalanan baru—perjalanan untuk membangun kembali dirinya, bukan sebagai pria yang terluka, melainkan sebagai manusia yang belajar percaya pada takdir.

Pesawat pribadi Tahmid Group mendarat mulus di Bandara Kota A saat matahari baru saja naik sepenggal. Dari balik jendela, Maulana Tahmid Elq menatap daratan yang terasa asing sekaligus akrab. Inilah tempat asal segalanya—tanah di mana ayahnya membangun kerajaan bisnis dari nol.

Begitu turun dari pesawat, udara hangat menyentuh wajahnya. Mula melangkah mantap, mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak ada ekspresi berlebihan. Hanya ketenangan dingin yang terbentuk dari keputusan matang.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," sambut para direksi senior.

Mula mengangguk singkat. "Mulai hari ini, saya ingin transparansi penuh."

Hari pertamanya sebagai Presiden Direktur Tahmid Group di Kota A langsung diisi rapat panjang. Satu per satu masalah perusahaan dibuka—penyimpangan dana, konflik internal, ketidakefisienan produksi.

Mula mendengarkan tanpa memotong. Namun ketika ia berbicara, setiap kata memiliki bobot.

"Tidak ada toleransi untuk pengkhianatan," ujarnya tegas. "Ini perusahaan keluarga, bukan tempat bermain."

Keputusan-keputusan diambil cepat dan presisi. Audit menyeluruh. Pergantian manajemen. Restrukturisasi.

Hari-hari berikutnya Mula tenggelam dalam rutinitas kerja yang melelahkan. Ia sengaja mengisi waktunya hingga nyaris tidak tersisa ruang untuk mengingat masa lalu.

Suatu sore, Ahsa memaksanya keluar kantor.

Mereka menuju danau kecil di pinggiran kota. Tempat itu sunyi, sederhana, jauh dari dunia yang biasa Mula jalani.

Di sana, ia melihat seorang gadis duduk menatap air dengan ekspresi damai. Tidak ada riasan mencolok. Tidak ada kepalsuan.

Senyum singkat gadis itu—Alisa—meninggalkan kesan yang aneh namun menenangkan.

Untuk pertama kalinya sejak London, dada Mula terasa sedikit longgar.

Ia belum tahu, pertemuan sederhana itu akan menjadi awal dari perjalanan baru.

Di tempat inilah, Maulana Tahmid Elq mulai membangun kembali dirinya—bukan sebagai pria yang terluka, melainkan sebagai pemimpin yang belajar percaya pada takdir.

Pesawat pribadi Tahmid Group mendarat dengan mulus di landasan Bandara Kota A saat matahari baru saja naik sepenggal. Dari balik jendela, Maulana Tahmid Elq menatap garis horizon yang terasa asing sekaligus akrab. Inilah tempat semuanya bermula—tanah di mana ayahnya membangun bisnis dari nol, tanah yang selama ini hanya ia kenal melalui laporan dan cerita.

Begitu roda pesawat berhenti, Mula berdiri lebih dulu. Tidak ada senyum, tidak ada antusiasme berlebihan. Wajahnya tenang, dingin, seperti seseorang yang telah mengubur banyak hal dalam dirinya. Ahsa mengikuti di belakang, membawa map tebal berisi laporan perusahaan.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," ujar salah satu direktur senior yang telah menunggu di ruang VIP.

Mula mengangguk singkat. "Mulai hari ini, saya ingin semua laporan disampaikan langsung kepada saya. Tidak ada yang ditutup-tutupi."

Nada suaranya datar, namun mengandung ketegasan yang membuat siapa pun enggan membantah.

Perjalanan menuju kantor pusat Tahmid Group di Kota A memperlihatkan perubahan besar. Gedung-gedung lama berdiri berdampingan dengan bangunan modern. Di sinilah denyut kehidupan bisnis berputar, dan di sinilah Mula akan menata ulang hidupnya.

Rapat pertamanya sebagai Presiden Direktur berlangsung selama berjam-jam. Satu per satu kepala divisi memaparkan kondisi perusahaan. Ada masalah produksi, konflik internal, hingga kebocoran keuangan yang selama ini tertutup rapi.

Mula mendengarkan dengan saksama. Tidak sekali pun ia memotong pembicaraan. Namun ketika rapat usai, ia berdiri dan menyampaikan keputusan-keputusan tegas.

"Mulai minggu ini, audit internal dilakukan menyeluruh," katanya. "Siapa pun yang terlibat penyimpangan akan ditindak tanpa pandang jabatan."

Ruangan mendadak hening.

Para petinggi perusahaan menyadari satu hal: Presiden Direktur baru ini bukan sosok yang bisa dipermainkan.

Hari-hari Mula di Kota A dipenuhi kesibukan. Pagi hingga malam, ia tenggelam dalam pekerjaan. Ia sengaja membiarkan dirinya lelah—karena hanya dengan begitu pikirannya tidak sempat kembali pada masa lalu.

Namun suatu sore, Ahsa memaksanya berhenti sejenak.

"Tuan Muda perlu istirahat. Setidaknya berjalan sebentar," ujarnya.

Mula akhirnya mengalah. Mereka menuju sebuah danau kecil di pinggiran kota. Tempat itu sunyi, jauh dari hiruk pikuk bisnis. Angin berembus lembut, permukaan air memantulkan cahaya senja.

Di sanalah Mula melihat seorang gadis duduk di bangku kayu, menatap danau dengan tenang. Rambutnya tergerai sederhana, pakaiannya biasa saja. Tidak ada kesan berlebihan, tidak ada kepalsuan.

Gadis itu menoleh sejenak, dan mata mereka bertemu.

Senyum tipis terukir di wajah gadis itu—bukan senyum dibuat-buat, melainkan senyum yang lahir dari ketulusan.

Entah mengapa, dada Mula terasa sedikit longgar.

Ia segera mengalihkan pandangan, merasa aneh dengan reaksinya sendiri. Namun saat langkah mereka menjauh, pikirannya justru tertinggal di sana.

"Ahsa," ucap Mula pelan.

"Ya, Tuan?"

"Tempat ini… sering dikunjungi orang?"

Ahsa melirik ke arah danau. "Tidak banyak. Biasanya warga sekitar saja."

Mula mengangguk. Ia tidak tahu mengapa ia bertanya. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya sejak malam kelam di London, ada sesuatu yang membuatnya bernapas lebih ringan.

Malam itu, di apartemen barunya, Mula berdiri di balkon menatap kota. Keputusan untuk kembali ke akar terasa tepat. Di tempat inilah ia akan membangun ulang dirinya—bukan sebagai pria yang dikhianati, melainkan sebagai pemimpin yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan tanpa ia sadari, takdir telah mulai merajut benang-benang baru dalam hidupnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel