Bab 6 Takdir Yang Mendekat
Pagi di Kota A selalu datang lebih cepat dari yang Maulana Tahmid Elq inginkan. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai apartemennya memaksanya membuka mata, meski tubuhnya masih terasa berat. Namun bukan kelelahan fisik yang membuatnya terbangun dengan perasaan aneh pagi itu, melainkan bayangan yang kembali muncul begitu kesadarannya pulih sepenuhnya.
Alisa.
Nama itu berputar pelan di kepalanya, seperti gema lembut yang tak ingin pergi. Senyum sederhana di tepi danau, suara tenang yang tidak menuntut apa pun, dan cara gadis itu berbicara seolah dunia tidak perlu dipercepat—semuanya terasa kontras dengan hidup Mula yang selama ini diatur oleh target, angka, dan keputusan keras.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berdiri di depan jendela. Kota A mulai sibuk. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan cepat mengejar rutinitas mereka. Dunia tidak berhenti hanya karena satu pertemuan singkat di tepi danau. Mula tahu itu. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang terasa sedikit bergeser.
Ia menghela napas panjang.
"Ini konyol," gumamnya pelan.
Mula bukan pria yang mudah terpengaruh. Ia terbiasa mengendalikan perasaan, menempatkan logika di atas segalanya. Apa yang ia rasakan kemarin seharusnya tidak berarti apa-apa. Hanya percakapan ringan. Hanya kebetulan.
Namun, pikirannya tidak sepenuhnya setuju.
Di meja makan, Ahsa sudah menunggunya dengan tablet berisi agenda hari itu.
"Pagi, Tuan Muda," sapa Ahsa.
"Pagi," jawab Mula singkat.
Ahsa mulai menjelaskan jadwal rapat, kunjungan pabrik, dan pertemuan dengan investor lokal. Semua terdengar familiar. Semua bisa ia jalani dengan autopilot.
"Ada tambahan agenda sore," lanjut Ahsa. "Makan malam dengan keluarga salah satu mitra bisnis."
Mula berhenti menyuap makanannya. "Batalkan."
Ahsa mengangkat alis sedikit. "Ada alasan khusus, Tuan?"
Mula terdiam sejenak. Ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.
"Saya ingin waktu sendiri," katanya akhirnya.
Ahsa tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mencatat perubahan itu dalam diam, meski jelas merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Hari itu berjalan padat. Mula memimpin rapat dengan ketegasan yang membuat para manajer senior kembali merasakan tekanan lama—tekanan yang sehat, menurutnya. Ia turun langsung ke pabrik, memeriksa lini produksi, berbicara dengan kepala divisi tanpa basa-basi.
Namun di sela-sela kesibukan itu, pikirannya beberapa kali melayang.
Danau.
Sore datang lebih cepat dari dugaan. Ketika matahari mulai condong ke barat, Mula menyadari satu hal—ia kembali mengarahkan mobilnya ke tempat yang sama.
Kali ini, ia sadar sepenuhnya.
Danau itu masih setenang sebelumnya. Angin berembus pelan, dedaunan bergesekan lembut. Namun bangku kayu di tepi danau tampak kosong.
Entah mengapa, ada rasa kecewa kecil yang menyelinap ke dadanya.
Mula berdiri di sana cukup lama, menatap permukaan air yang memantulkan langit senja. Ia tidak duduk. Tidak berjalan pergi. Seolah menunggu sesuatu—atau seseorang—yang bahkan tidak ia harapkan secara sadar.
"Sepertinya kamu menyukai tempat ini juga."
Suara itu datang dari belakangnya.
Mula menoleh.
Alisa berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja longgar berwarna biru muda dan celana kain sederhana. Rambutnya kali ini dibiarkan tergerai, tertiup angin sore. Di tangannya, sebuah tas kanvas kecil.
"Aku pikir kamu tidak akan datang hari ini," lanjut Alisa dengan senyum tipis.
Mula terdiam sejenak sebelum menjawab. "Saya juga berpikir begitu."
Alisa tertawa kecil. Bukan tawa yang berisik, melainkan tawa singkat yang jujur.
"Berarti kita sama," katanya.
Mula akhirnya duduk di bangku kayu, memberi ruang di sampingnya. Alisa ikut duduk tanpa ragu.
Mereka kembali terdiam. Namun keheningan kali ini berbeda. Tidak canggung. Tidak menekan. Justru terasa… akrab.
"Kamu kelihatan lelah," ujar Alisa setelah beberapa saat.
Mula menoleh. "Begitukah?"
"Matamu," jawab Alisa lembut. "Kelihatan seperti orang yang jarang memberi dirinya sendiri waktu istirahat."
Kata-kata itu sederhana, namun menghantam sesuatu di dalam diri Mula.
"Mungkin," katanya pelan.
"Pekerjaan?" tanya Alisa.
Mula mengangguk. "Dan tanggung jawab."
"Keduanya sering datang berpasangan," ujar Alisa sambil tersenyum.
Percakapan mengalir perlahan. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil—tentang makanan favorit, tentang tempat sunyi di kota, tentang kebiasaan membaca Alisa dan kesibukan Mula yang ia ceritakan tanpa detail.
Mula menyadari sesuatu yang tidak biasa: ia tidak merasa perlu menyembunyikan dirinya, namun juga tidak terdorong untuk pamer. Ia hanya… menjadi dirinya sendiri.
"Kamu tidak banyak bicara," kata Alisa tiba-tiba.
"Itu keluhan atau pengamatan?" tanya Mula.
"Pengamatan," jawab Alisa cepat. "Dan bukan hal buruk."
Mula tersenyum tipis.
Langit semakin gelap. Lampu-lampu kecil di sekitar danau mulai menyala.
"Aku harus pulang," kata Alisa akhirnya.
Ada jeda singkat.
"Bolehkah…" Mula terdiam, jarang sekali ia ragu saat berbicara. "Bolehkah kita bertemu lagi?"
Alisa menatapnya sejenak. Tidak terkejut. Tidak terburu-buru.
"Kita sudah bertemu lagi," katanya ringan.
Mula terkekeh pelan.
"Maksudku," lanjutnya, "secara sengaja."
Alisa berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Boleh. Selama tidak dipaksakan."
"Tidak," jawab Mula mantap. "Saya tidak ingin memaksakan apa pun."
Itu bukan janji. Bukan rayuan.
Itu niat.
Mereka berpisah di persimpangan jalan dengan perasaan yang sama-sama belum diberi nama. Bukan cinta. Bukan harapan besar.
Namun jelas lebih dari sekadar kebetulan.
Malam itu, Mula kembali ke apartemennya dengan pikiran penuh, namun dadanya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia berdiri lama di balkon, menatap langit malam Kota A.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak memikirkan masa lalu dengan rasa marah.
Yang ada hanyalah rasa ingin tahu.
Dan tanpa ia sadari, takdir—yang selama ini ia anggap sebagai konsep kosong—perlahan mulai mendekat, menyusup ke celah-celah hidupnya yang retak, membawa kemungkinan baru yang belum berani ia sebutkan dengan kata apa pun.
