Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Kejatuhan Sang Ratu

Juliet berdiri di depan cermin besar di ruang tamu apartemennya, memandangi pantulan dirinya dengan senyum puas yang telah ia latih selama bertahun-tahun. Gaun mahal berwarna krem membalut tubuhnya dengan sempurna, rambut panjangnya tersisir rapi, dan riasan wajahnya menutup setiap kelelahan yang sebenarnya mulai menggerogoti. Di tangannya, kunci mobil baru berlogo mewah berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Semua masih terlihat sempurna. Setidaknya, itulah yang ingin ia yakini.

Maulana menghilang sejak beberapa hari lalu. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Namun Juliet sama sekali tidak panik. Dalam pengalamannya, Mula selalu kembali. Pria itu mudah dilunakkan—dengan air mata, dengan rayuan, atau sekadar dengan sikap manja yang ia kuasai luar kepala. Ia telah mempelajari Mula dengan baik. Terlalu baik.

Juliet meneguk segelas anggur sambil tersenyum tipis. Dalam pikirannya, apa yang ia lakukan bukanlah pengkhianatan. Ia hanya mencari pilihan lain. Bukankah setiap wanita berhak memastikan masa depannya aman?

Siang itu, ia memutuskan pergi ke butik langganannya. Deretan etalase kaca memamerkan tas dan sepatu edisi terbatas yang selama ini menjadi simbol statusnya. Begitu melangkah masuk, ia menunggu sambutan hangat seperti biasa—namun yang ia dapatkan hanyalah senyum canggung dan tatapan saling berpandangan.

Ia mengabaikan kejanggalan itu. Dengan langkah percaya diri, Juliet memilih tas edisi terbaru, sepatu hak tinggi berkilau, dan beberapa aksesori mahal. Ia membawa semuanya ke kasir.

"Silakan kartunya, Nona," ujar kasir itu sopan.

Juliet menyerahkan kartu hitam kebanggaannya. Senyum percaya diri masih bertahan—hingga mesin pembayaran berbunyi dan layar menampilkan tulisan penolakan.

"Maaf, transaksi Anda tidak dapat diproses," ucap kasir ragu.

Juliet terkekeh kecil. "Coba lagi."

Percobaan kedua. Ketiga. Keempat.

Semua gagal.

Bisikan mulai terdengar. Tatapan pegawai butik berubah—tidak lagi kagum, melainkan menilai. Wajah Juliet memanas, dadanya sesak. Rasa malu menyergapnya seperti tamparan keras di ruang publik.

"Tidak mungkin," katanya tajam. "Coba kartu yang satu lagi."

Hasilnya tetap sama.

Tanpa berkata apa pun, Juliet meraih tasnya dan melangkah pergi dengan langkah cepat. Begitu berada di luar butik, tangannya gemetar saat menghubungi pihak bank.

Jawaban singkat dari petugas layanan membuat dunia Juliet runtuh seketika—seluruh akses keuangan atas namanya telah dibekukan oleh pemilik rekening utama.

Maulana Tahmid Elq.

Untuk pertama kalinya, Juliet merasakan ketakutan yang nyata. Ia mencoba menelepon Mula berkali-kali. Tidak diangkat. Ia menghubungi Ahsa. Nomor itu tidak lagi bisa ia jangkau.

Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk yang berjalan perlahan. Apartemen mewah yang dulu terasa seperti istana kini berubah menjadi ruang sunyi yang menekan. Tanpa uang, tanpa kendali, tanpa perlindungan.

Andi—pria yang selama ini ia banggakan—mulai menjauh. Awalnya sibuk, lalu dingin. Ketika Juliet akhirnya memohon bantuan, Andi hanya tertawa pahit.

"Aku kira kamu pintar," katanya sinis. "Ternyata kamu cuma hidup dari uang orang lain."

Kata-kata itu menghancurkan sisa harga diri Juliet.

Satu per satu barang bermerek dijual. Tas, sepatu, perhiasan—semuanya dilepas dengan harga yang menyakitkan. Setiap transaksi adalah pengakuan bahwa hidupnya selama ini berdiri di atas kebohongan.

Malam-malamnya diisi tangisan dan penyesalan. Namun air mata tidak mengembalikan apa pun.

Dalam keheningan yang pahit itu, Juliet akhirnya menyadari satu kebenaran—yang ia kehilangan bukan hanya Maulana, melainkan seluruh dunia yang selama ini ia bangun dari kepalsuan.

Dan kejatuhan itu sepenuhnya adalah miliknya sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel