Bab 2 Luka Yang Tak Terucap
Malam itu menjelma menjadi jurang gelap yang menelan seluruh kesadaran Maulana Tahmid Elq. Dentuman musik club malam yang biasanya terasa menggairahkan kini hanya menjadi kebisingan tanpa makna. Lampu-lampu warna-warni berpendar liar, memantulkan bayangan tubuh-tubuh asing yang tertawa, menari, dan tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Namun bagi Mula, dunia seakan berhenti berputar.
Ia duduk di sudut ruangan, memandangi gelas di tangannya. Cairan amber di dalamnya bergetar seiring dentuman bass, seolah ikut mencerminkan keguncangan di dadanya. Setiap tarikan napas terasa berat. Setiap detik berlalu membawa kembali satu adegan yang sama—Juliet, senyum manisnya, lalu tangan pria lain yang menggenggamnya tanpa ragu.
Gelas demi gelas diteguknya tanpa jeda. Alkohol mengalir panas di tenggorokan, membakar lambung, tetapi sama sekali tidak membakar kenangan. Justru sebaliknya, ingatan itu menjadi semakin tajam, semakin kejam. Ia teringat bagaimana selama ini ia menutup mata terhadap tanda-tanda kecil. Pesan yang terlambat dibalas. Alasan-alasan sepele. Permintaan hadiah yang semakin sering.
Semua terasa masuk akal kala itu. Karena cinta.
Kini, cinta itu berubah menjadi ironi paling menyakitkan.
Ahsa berdiri tak jauh darinya. Tatapan pria itu penuh kewaspadaan dan rasa bersalah yang tak terucap. Selama bertahun-tahun mendampingi Mula, ia telah melihat berbagai sisi tuan mudanya—ambisi, ketegasan, bahkan amarah terkontrol. Namun kehancuran seperti ini belum pernah ia saksikan.
"Tuan Muda," ujar Ahsa mendekat, suaranya nyaris tenggelam oleh musik. "Sudah cukup."
Mula menoleh perlahan. Mata gelap itu menatap Ahsa tanpa fokus, lalu tersenyum miring. Senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Cukup untuk apa?" tanyanya lirih. "Untuk merasa bodoh? Untuk merasa dimanfaatkan?"
Ahsa terdiam. Tidak ada jawaban yang tepat.
Mula kembali meneguk minumannya. Dalam benaknya, wajah ayahnya melintas. Tahmid Elq selalu mengajarkannya satu hal—jangan pernah membiarkan emosi menguasai keputusan. Namun malam itu, Mula tidak ingin menjadi pewaris, tidak ingin menjadi presiden direktur, tidak ingin menjadi apa pun selain pria yang hatinya dihancurkan.
Larut malam, langkah Mula mulai goyah. Ahsa segera membantunya berdiri dan membawa tuan mudanya keluar dari club. Udara dingin London menyambut, menusuk kulit, namun justru membuat kepala Mula sedikit lebih jernih.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Mobil melaju membelah kota yang gemerlap, sementara Mula bersandar di kursi belakang dengan mata terpejam. Namun bahkan dalam gelap, bayangan Juliet tetap hadir.
Sesampainya di rumah, Ahsa dengan hati-hati membantu Mula masuk ke kamar. Pria yang biasanya berdiri tegap itu kini tampak rapuh, seolah beban dunia runtuh sekaligus di pundaknya. Jas dilepas, sepatu diletakkan sembarangan.
Mula terjatuh di tepi tempat tidur. Napasnya berat, dadanya naik turun. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kelemahan itu.
"Maafkan saya, Tuan," bisik Ahsa pelan sebelum meninggalkan kamar.
Pagi datang tanpa belas kasihan. Cahaya matahari menembus tirai, memaksa Mula membuka mata. Kepalanya terasa seolah dipukul palu, tenggorokannya kering, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan sesak di dadanya.
Ia bangkit perlahan dan berdiri di depan cermin. Bayangan pria di hadapannya tampak asing. Mata yang biasanya tajam kini menyimpan kelelahan mendalam.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam. Mengingat setiap keputusan yang pernah ia ambil demi Juliet. Setiap kompromi. Setiap pengorbanan. Dan akhirnya, pengkhianatan.
Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan.
Yang ada hanyalah kejelasan.
Mula keluar dari kamar dan memanggil Ahsa. "Batalkan semua akses keuangan atas nama Juliet," katanya datar.
Ahsa menegang. "Semuanya, Tuan Muda?"
"Semuanya."
"Baik."
Mula menambahkan satu kalimat lagi, suaranya tetap tenang. "Mobil yang dia minta… tetap berikan."
Ahsa menatapnya heran.
"Bukan karena aku masih peduli," lanjut Mula. "Itu penutup. Setelah itu, tidak ada lagi."
Ahsa mengangguk pelan. Ia memahami makna keputusan itu.
Hari itu juga, Mula membatalkan seluruh agenda sosialnya. Ia menutup diri dari dunia luar. Hanya pekerjaan yang ia izinkan masuk ke ruang pikirannya.
Malam menjelang, Mula kembali berdiri di depan jendela apartemen. Kota London terbentang di bawahnya—indah, dingin, dan penuh kenangan yang kini terasa asing.
Dalam hatinya, sebuah keputusan besar telah bulat.
Ia akan pergi.
Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Ia tidak tahu ke mana takdir akan membawanya. Namun satu hal ia yakini—pria yang meninggalkan kota ini bukan lagi pria yang sama.
Luka itu tidak sembuh.
Ia hanya berubah menjadi kekuatan yang dingin.
