Bab 9
Alea benar-benar kesal dengan Tristan. Dia seenaknya saja mengaku sebagai calon suami Alea di depan Ian.
Alea berjalan mendahului Tristan dan segera naik tangga, lalu memasuki kamarnya, kamar Tristan lebih tepatnya.
"Tony,.."
"Iya, tuan.."
"Cara meluluhkan hati seorang gadis yang sedang marah seperti apa?"
"Setahu saya, kita harus minta maaf terlebih dahulu, tuan. Lalu beri dia kejutan atau hadiah. Itu akan membuat hatinya luluh.."
Tristan mengangguk kecil,
"Terima kasih, Tony." Tristan langsung pergi menaiki tangga dan menyusul Alea.
Tony tercengang saat mendengar Tristan mengucapkan kata terima kasih dan menanyakan hal itu.
"Apa tuan sedang jatuh cinta?" Gumam Tony.
***
Tristan membuka perlahan knop pintu kamarnya. Mencari sosok gadis yang akhir-akhir ini membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Matanya tertuju pada Ale yang kini hanya memakai handuk dan sedang menunduk sibuk dengan ponselnya. Dia tak menyadari Tristan telah berada disana.
'gluk'
Tristan menelan ludahnya.
Alea berbalik badan..
"AAAAA, MESUM!!!" teriak Alea, dengan cepat Tristan mendekatinya dan membekap mulutnya.
Alea sangat ketakutan,
"Ssst, jangan bertindak seolah-olah aku ini orang jahat. Kau mengerti.." ucap Tristan menatap tajam pada Alea.
Gadis itu benar-benar ketakutan, Tristan tersadar saat buliran air mata jatuh di pipi Alea.
Tanpa ijin darinya, Tristan menarik Alea kedalam dekapannya.
"Demi Tuhan, Alea. Aku bukanlah orang jahat. Aku tidak akan melukaimu." Ucap Tristan selembut mungkin.
Alea hanya menangis sesenggukan.
"K-kau, membuatku takut.hiks.. hiks.." Alea terus terisak.
Tristan mengusap lembut punggung Alea yang tak ada kain sedikit pun.
Sontak, Alea langsung mendorong tubuh Tristan saat merasakan ada sesuatu yang menonjol di bagian tengahnya.
Tristan hanya mendesis,
'sial, kenapa harus bangun sekarang.', batin Tristan.
"Keluarlah, aku ingin tidur." Ucap Ale dengan suara parau.
"Ale, aku benar-benar minta maaf."
"Aku mohon, keluar. Atau aku akan pergi dari sini." Ucap Ale lirih.
Tristan pun mengangguk dan langsung keluar dari kamar itu.
"Aku sangat benci dengan ini, aku tak mau berada disini."
***
Tristan memasuki ruang kerjanya dengan langkah lesu.
Kenapa dia begitu bodoh? Dia melakukan kesalahan sehingga membuat gadis itu ketakutan.
Bagaimana jika dia pergi meninggalkannya?
Oh God, tak bisa terbayangkan bagaimana hancurnya Tristan.
Tristan pun tertidur di dalam ruang kerjanya.
Tak lama kemudian, Alea masuk kedalam ruang kerja Tristan.
Dia menatap laki-laki itu sejenak, dan menyelimutinya.
Tatapannya berpindah pada komputer dan data yang akan ia lihat, dan mencoba untuk melacak.
'tak'
'tak'
Suara ketikan keyboard komputer, terus berjalan. Alea sangat lihai dalam dunia perkomputeran dan hacker. Alea memiliki kecerdasan dan kemampuan yang tinggi dibanding kedua kakaknya.
Alea, mencoba untuk melacak dimana keberadaan orang telah mencuri data perusahaan milik Tristan.
Dan…
"KETEMU!!!" teriak Alea dan sontak membuat Tristan terbangun.
"Arghh" Tristan menggeram marah.
"Upss…!!" Alea sontak menutup mulutnya.
Tristan tersadar melihat keberadaan Alea disana.
"M-maaf, aku mengganggu tidurmu, tuan."
Alea terpekik saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh tangan kekar Tristan.
Tristan menarik dirinya mendekat, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Membuat mata Alea terbelalak lebar.
Tristan terus melumat bibirnya, tak memperdulikan Alea yang memukul pelan dadanya.
Ia tersadar saat Alea sudah kekurangan oksigen.
"Kau ingin membunuhku!!!" Desis Alea dengan tatapan ingin membunuh.
Tristan hanya menggaruk alisnya yang tidak gatal.
"Siapa suruh kau mengganggu tidurku."
"Siall!!! Kau mencuri ciuman pertamaku!!!"
Tristan hanya menahan senyum, dia bangga jika dia yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
"Kau, kenapa kau teriak?"
Alea, masih menatap sinis pada Tristan.
"Aku menemukan dimana letak tempat si pelaku pencurian data perusahaan mu."
Mata Tristan terbelalak lebar. Dia benar-benar sangat terkejut, jika Alea akan menemukan ini dengan cepat.
"Dimana?"
"Dia berada di kota ini, aku sudah menarik semua data yang telah dicurinya. Aku sudah mengunci segalanya secara permanen."
"Kau,.. kenapa kau bisa?"
"Sudahlah, aku malas berbicara denganmu. Aku ingin kau bertanggung jawab karena telah mencuri ciuman pertamaku." Cibir Alea.
"Baiklah, akan aku kembalikan ciuman pertama mu."
Tanpa ijin yang empunya, Tristan pun langsung melumat kembali bibir Alea. Ciuman kali ini terasa lebih lembut, membuat Alea sontak memejamkan matanya. Menikmati ciuman Tristan.
'Kenapa aku hanyut dalam ciuman, lelaki mesum ini. Sungguh, aku tidak ingin berhenti.' batin Alea.
Alea tersadar saat Tristan meremas bokong semoknya.
Alea dengan kuat mendorong tubuh Tristan hingga ciuman mereka terlepas.
"Hei, kenapa kau mencuri kesempatan untuk meraba bagian gitar spanyolku!!!"
Tristan terkekeh mendengar ucapan gadis itu.
"Kau benar-benar membuatku tergoda, babe. Jangan coba-coba lari dariku, bibirmu benar-benar manis. Semanis buah lemon."
"Kau sedang bergurau?"
"Maksudku, semanis madu, babe." Kata Tristan menyeringai.
"Aku sangat ngantuk, jangan kau ganggu aku."
'JeddddeeeRrrr'
Suara petir menggelegar. Sontak Alea mendekatkan diri pada Tristan.
"Kau takut?"
"I-itu, aku… aku tidak bisa mendengar suara yang lebih keras atau suara bentakan. A-aku menderita hiperakusis." Tristan terkejut mendengar penjelasan dari Alea.
"A-aku mohon, temani aku sampai aku tertidur."
"Kemari lah, babe." Tristan menarik lembut tangan Alea menuju kamar.
Lalu mereka pun merebahkan tubuhnya.
'JeddddeeeRrrr'
Lagi-lagi, suara petir menggelegar. Alea sontak mempererat pegangan di lengan Tristan.
Tristan menatap sejenak wajah Alea yang semakin memucat.
Lalu menariknya ke dalam dekapan.
"Tidurlah, aku akan menjagamu. Jangan takut, babe." Ucap Tristan selembut mungkin.
Alea benar-benar memeluk tubuh Tristan dengan erat. Tristan mengusap lembut pipi Alea, tak lama kemudian Alea pun tertidur di dalam pelukannya.
"Hiperakusis adalah kelainan pada Indra pendengaran. Dimana orang yang memiliki riwayat hiperakusis akan mengalami insomnia, sakit di bagian, telinga, gelisah, ketakutan dan semacamnya."
Alea merasa nyaman dan hangat di pelukan Tristan, hingga semakin lama Tristan pun ikut hanyut kedalam menyusul Alea.
***
'Ceklek'
Seseorang membuka knop pintu kamar mereka, senyumnya mengembang saat melihat pemandangan langka di pagi hari.
Sarah dengan cepat meminta Tony untuk memfoto momen langka tersebut. Tony pun menuruti permintaan nyonya besar.
Melihat Tristan yang terlihat tidur nyenyak dengan memeluk seorang gadis adalah impian Sarah, sebagai orang tuanya.
Ia benar-benar bangga jika Tristan dan Alea benar-benar akan menikah nantinya.
Jujur saja, Sarah sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Dia sangat kesepian jika Tristan tidak ada, dia pun selalu sibuk dengan dunianya.
"Tony, kau sudah memfoto mereka?"
"Sudah, nyonya. Saya memfoto mereka sebanyak mungkin."
"Bagus, Tony. Ini benar-benar momen langka yang harus diabadikan. Mereka sangat cocok kan, Tony?"
"Tentu, nyonya. Saya banyak melihat perubahan dengan tuan muda, saat dia bersama dengan nona Alea."
Senyum Sarah benar-benar mengembang, bahagia dengan keadaan ini.
"Aku yakin, mereka akan menikah nantinya. Tidak boleh gagal kali ini."
Bersambung...
