Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8

Di dalam kamar, Alea bermondar-mandir tak ada hentinya. Dia menggigit ujung jarinya.

"Sial, aku terjebak disini."

Lalu suara pintu terbuka. Alea tahu, jika ini adalah langkah kaki Tristan.

"Jangan mendekat, atau aku akan membunuhmu." Ucap Alea dengan menatap tajam pada Tristan.

"Kenapa, babe? Apa ada yang salah."

"Ck, tentu saja ini salah. Aku ingin pulang, bukan disini. Memangnya ini dimana?"

"Tidak ada yang salah, babe. Ini di Granada."

"What?!!!"

"Tenanglah, babe. Percaya padaku. Ehm, apa kau ingin bertemu dengan kakakmu?"

"Kau akan mengantarku?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kau bertanya, jika kau tak ingin mengantarku."

Tristan menyeringai,

"Sepertinya, itu adalah sebuah code jika kau ingin selalu bersamaku."

"Astaga, diamlah!!! Aku benci situasi ini."

"Kau semakin sexy, jika marah-marah seperti ini."

"Dasar om-om mesum!!!"

Tristan hanya terkekeh dengan itu.

"Tony, akan mengantarmu nanti. Maaf aku tidak bisa, karena aku sangat sibuk."

"Baguslah, cepatlah kau keluar. Entah kenapa jika melihat wajahmu, aku ingin mencekik leherku."

"Ya, dan aku berharap jika kau mencekikku dengan pahamu." Goda Tristan menyeringai.

"Arghhh… kepala ku rasanya akan pecah. Keluarlah, om-om mesum!!!" Teriak Alea dengan mendorong Tristan keluar dari kamarnya.

"Huh, menyebalkan sekali laki-laki itu." Ujar Alea mendengus kesal.

"Tapi, entah kenapa.. semalam aku mimpi bercumbu dengannya. Aneh sekali, itu semua terasa nyata. Dibibirku, bahkan… sial, ada yang tak beres dengan otakku." Ujar Alea dengan memijat pelipisnya.

***

"Em…."

"Panggil saya Tony, nona.."

Alea mengangguk kecil.

"Tony, kau mau mengantarku ke alamat ini." Alea menunjukan alamat tempat tinggal kakaknya.

"Tentu, nona. Tuan Tristan sudah memberitahu saya."

"Terima kasih, Tony. Bisa kita pergi sekarang?"

"Tentu.."

Lalu Tony mengantarkan Alea untuk menemui sang kakak, yang sedang menimba ilmu di kota ini.

***

Tristan yang sedang berada di kantor dan fokus pada tumpukan berkas yang ada di meja, lalu menaikkan pandangan saat ada seseorang masuk kedalam ruang kerjanya tanpa permisi.

Tristan menatap sinis pada orang itu.

"Tidakkah kau punya sopan santun, untuk mengetuk pintu terlebih dahulu?"

"Kau tidak perlu seperti itu padaku, Tristan. Aku tahu, kau pasti sangat merindukanku. Begitu juga dengan diriku."

Tristan tersenyum miring.

"Aku tak peduli dengan itu. Kau hanya masa lalu yang telah aku robek dan tak mungkin bisa aku perbaiki lagi menjadi seperti dahulu, Belva."

"Terserah padamu, aku masih mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu, Tristan."

"Dimana kekasihmu itu? Bukannya kau sudah bahagia dengannya?"

"Tristan, aku hanya bahagia denganmu. Tolong, jangan ungkit semua itu."

"Sudahlah, aku tak ada waktu untuk membahas hal tak penting."

Belva menghela napas panjang.

"Aku mengundangmu untuk datang di acara pesta kembalinya diriku ke kota ini, Tristan. Kau jangan lupa datang," ujar Belva memberikan undangan dan mengecup lembut pipi Tristan sebelum dia pergi.

Tristan berdecak kesal, lalu dia berjalan ke wastafel, mengucurkan air dan segera membasuh pipinya yang dicium oleh

Belva.

"Menjijikan sekali, aku takut jika alergi anjingku kambuh. Aku harus membasuhnya dengan bersih." Ucap Tristan dengan terus menggosok wajahnya dengan sabun muka.

***

Ale memencet bel apartemen milik kakaknya, tak lama kemudian pintu apartemen itu terbuka.

Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat sang adik berada di hadapannya.

"Alea?"

Alea terkekeh dan langsung melompat kepelukan sang kakak.

"Astaga, apa kakak sedang bermimpi?"

Lalu Alea menggigit daun telinga sang kakak.

"Arghhh.. Alea, ini sakit." Pekik sang kakak.

Alea terkekeh.

"Jika itu sakit, jadi itu bukan mimpi kakak.."

"Hei, kau benar. Tapi, kenapa kau bisa ada disini? Kau datang dengan siapa? Kau bukannya harus sekolah?"

Alea mengecup bibir sang kakak, karena dia terlalu pusing dengan rentetan pertanyaan.

"Ale disini karena permintaan seseorang. Tapi, itu tidak penting. Yang penting, Ale disini bersamamu. Ale merindukanmu, kakak."

"Kak Ian juga sangat merindukanmu." Balas Ian dengan mengecup lembut kening sang adik.

"Jadi, coba kau ceritakan. Apa kau sudah memiliki kekasih disini kak?"

Ian terkekeh geli dengan pertanyaan sang adik.

"Kakak disini untuk mencari ilmu, sayang. Bukan untuk mencari kekasih."

"Ish, siapa tahu kakak mendapatkan jodoh disini.".Gerutu Alea.

"Tidak, tidak. Kakak belum mendapatkan pekerjaan tetap, jadi kakak tidak berani mengambil resiko itu."

"Kau memang berbeda dari Ansel, tapi kalian tetap menjadi lelaki lelaki kesayangan ku."

Lagi-lagi Ian terkekeh geli dengan ucapan adiknya.

"Jadi, sekarang kau katakan. Kenapa kau bisa berada di kota ini? Siapa yang membawamu kemari?"

"Entahlah, aku.. ehm, maksudku.. saat aku bangun dari tidurku, aku sudah berada di kota ini."

Ian memicingkan matanya menatap intens pada sang adik.

"Apa?" Tanya Alea polos.

"Kau sedang tidak berbohong atau mencoba kabur dari rumah kan?"

Alea terkekeh dengan pertanyaan kakaknya.

"Tidak, tidak, hon. Aku kesini karena permintaan Tristan."

"Tristan??" Ian mengulang ucapan sang adik.

"Iya, penguasa di negara ini.

"APAA?"

"Ish, bisakah kau tak berteriak di hadapanku?" Seru Alea dengan sinis.

"Em, maaf, maaf. Maksud kakak, kenapa kau bisa bersamanya?"

Alea menghela napas sejenak.

"Ada urusan kecil, kau tak perlu memikirkan hal itu. Aku benar-benar merindukanmu."

Ian terkekeh, karena ucapan sang adik tidak nyambung dengan pertanyaan darinya.

"Terserah kau saja. Kau harus berhati-hati karena orang itu sangat arogan." Ujar Ian memberi peringatan pada Alea.

"Cih, aku tidak takut. Dia selalu saja membuat kepalaku, pusing. Ijinkan aku tidur sejenak disini, kakak.",

"Tidurlah, kakak akan membuatkan spaghetti untukmu."

"Yeay, terima kasih, hon. Bangunkan aku jika sudah matang."

"Siap, hon."

***

Saat malam tiba, Alea sedang tiduran dengan paha Ian sebagai bantalan.

"Kakak, aku pikir tugas kuliah itu sangat mudah. Ternyata sangat rumit, mataku seperti akan meloncat keluar karena melihat betapa tebal buku-buku milikmu." Ucap Alea bergidik ngeri memandang tumpukan buku Ian yang sangat banyak dan juga tebal di meja.

Ian terkekeh pelan.

"Kau akan menyukainya jika kau mengambil jurusan yang kau inginkan. Seperti kakak mengambil jurusan sastra, ini sangat menyenangkan."

"Hm, kakak… buka pintunya, ada tamu untukmu."

"Menyingkirlah, kakak akan buka pintunya."

Lalu Ian membuka pintu dan terbelalak lebar saat melihat Tristan berada di depan pintu apartemennya.

'gluk'

Ian menelan ludahnya.

"T-tuan Tristan?"

Tristan hanya tersenyum ramah.

"Kakak siapa yang dat…", raut wajah Alea berganti kesal saat mendapati Tristan sedang berdiri dihadapannya.

"Aku kemari untuk menjemputmu, babe."

Mata ian terbelalak lebar saat mendengar panggilan sayang dari Tristan pada Alea.

"Berhenti memanggilku babe. Atau aku akan mencekik lehermu!!"

Ian melotot lebar mendengar umpatan Alea pada Tristan.

Tristan hanya terkekeh geli mendengar ancaman Alea.

"Adikmu sangat galak, Ian.

Lagi-lagi, Ian dibuat shock saat mendengar Tristan menyebut namanya. Pasalnya selama ini mereka tak pernah bertemu, dan tak pernah akrab.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel