Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Pagi ini, Alea melenguh panjang. Ia beberapakali memerjapkan matanya. Menatap sekeliling, lalu mengucek matanya lagi.

"Perasaan aku, semalam bukan di sini." Gumam Alea.

"Kau sudah bangun?"

Alea terlonjak kaget saat mendengar suara orang lain disana.

"Astaga, kau mengagetkanku, tuan."

Tristan menatap tajam pada Alea.

"M-maksudku, Tristan."

'gluk'

Alea meneguk ludahnya bersusah payah.

"Ada apa hm? Apa kau gugup?"

"T-tidak, ehm maksudku, i-iya.."

Tristan tertawa kecil karena menurutnya hal itu sangat lucu.

"Kenapa kau menertawakanku?" Alea mendengus kesal.

"Kau sangat cantik dan sexy, babe. Cepat mandi dan…"

'ceklekk'

Suara pintu kamar itu terbuka.

Sarah membelalakkan matanya lebar.

"Mama!!" Tristan spontan menyebutkan kata itu.

"Tristan, astaga.. ternyata, ya ampun.. mama tak habis pikir. Ya Tuhan, ahhh.." Sarah langsung bersemangat dan mendekati ranjang.

Alea hanya memicingkan kedua matanya.

Bingung, iya dia sangat bingung dengan sikap wanita paruh baya itu.

"Nyonya,.."

Alea terkejut saat tiba-tiba Sarah memeluk tubuhnya.

"Ya Tuhan, kau cantik sekali. Siapa namamu?"

"N-nama saya Alea, nyonya."

"Aduh, jangan panggil saya nyonya. Kau akan menjadi menantuku, jadi panggil aku mama." Ujar Sarah bersemangat.

"Hah?" Alea menolehkan kepalanya pada Tristan, namun Tristan dengan cepat membuang mukanya dari tatapan mematikan Alea.

"T-tunggu, saya bukan, calon menantu nyonya."

"Kalian sudah tidur satu kamar, jadi kalian harus menikah."

Alea membelalakkan matanya lebar.

"Astaga, nyo…"

"Mama, sayang. Panggil aku, mama."

Alea menghela napas, dia rasa dia akan kalah jika harus berdebat dengan wanita ini.

"Baiklah, mama." Alea menatap tajam pada Tristan.

'Astaga, dia seperti ingin membunuhku.' batin Tristan.

Tristan baru menyadari, jika sang mama benar-benar terlihat bugar sekarang.

"Ma, mama kan masih sakit. Kenapa mama banyak bergerak."

"Tidak, mama sudah sehat sekarang. Apa lagi ada calon menantu mama."

Alea hanya mendesis mendengar kata calon menantu.

"Ma,.."

"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini, kau pulang dengan membawa gadis, dan menyembunyikannya dari mama. Astaga, Tristan!!!"

Tristan hanya pasrah, saat ini. Dua wanita itu pasti akan kesal padanya.

Terlebih lagi, tatapan tajam dari Alea. Itu sangat mengerikan, tapi ada rasa bahagianya didalam hati. Secara langsung, sang mama mendukung niat baiknya ingin memiliki Alea sepenuhnya.

"Sayang, kenapa diam saja? Atau kau mau membuat dede bayi dengan anak mama?" Goda Sarah.

Lagi-lagi, Alea membelalakkan matanya mendengar ucapan Sarah.

Alea memijat pelipisnya, sedangkan Tristan.. dia hanya menahan senyum dengan kata itu.

"Ya sudah, kalian main pelan saja. Tristan, jangan sakiti calon menantu mama. Jaga baik-baik, mama akan pergi ke dapur untuk membuat makanan."

"Ma, dirumah ini banyak pelayan. Mama tidak perlu repot."

"Kau diamlah, Tristan. Mama hanya ingin membuat makanan spesial khusus untuk calon menantu, mama."

"Huh, terserah mama saja." Ujar Tristan dengan mendengus kesal.

"Sayang, mama ada dibawah. Nanti kau turun ya?" Ujar Sarah lembut pada Alea.

Alea menganggukkan kepalanya dengan polos, seolah-olah menyetujui dengan saran Sarah.

Setelah Sarah keluar…

'BRUKKK'

Tristan terlonjak kaget, saat tiba-tiba sebuah bantal melayang pada wajahnya.

"Kenapa kau diam saja? Katakan pada mamamu, jika aku hanya bekerja untuk membantumu."

"Aku tidak peduli, babe."

"Arghh!! Sial.."

Alea mengacak-acak rambutnya.

"Jangan menguras tenagamu untuk hal begini, babe. Bukankah kau akan bahagia jika menikah denganku?"

Alea melirik sinis pada Tristan. Namun Tristan hanya terkekeh melihat hal itu.

"Jika tahu akan seperti ini, aku akan menolak permintaan dirimu."

"Aku akan memaksamu, babe."

"Terserah dirimu. Aku sudah gerah ingin mandi." Ujar Alea lalu berjalan malas ke arah kamar mandi.

"Kau tak ingin mandi bersama denganku, babe?" Ucap Tristan menyeringai.

'Brakkk'

Alea menutup pintu kamar mandinya dengan kencang, Tristan hanya tertawa dengan hal itu.

"Alea, aku tak menyangka jika kau ternyata se menggemaskan begini." Ujar Tristan dengan mengulum senyumnya.

Di dalam kamar mandi, dibawah kucuran air.

Alea masih kesal dengan Tristan.

"Bisa-bisanya, dia diam saja. Ingin rasanya aku membunuh, dirinya."

"Tapi, tunggu dulu… ini dimana?"

***

Alea menggigit bibir bawahnya, dia benar-benar bingung, apakah dia harus keluar atau tidak.

"Oke, tenang Ale. Kita harus keluar.." Alea membuang napas sejenak, lalu membuka knop pintu.

Dia melangkahkan kakinya, kalau menuruni anak tangga.

"Selamat pagi, nona.." sapa Tony pada Alea.

Alea hanya menjawab dengan senyuman,

"Tuan muda dan nyonya besar sudah menunggu anda di meja makan, nona."

"Baik, terimakasih…" balas Alea ramah.

Lalu Alea melangkah pelan menuju meja makan.

"Tristan, mama sangat menyukai gadis itu. Dia sangat cantik."

"Ma, dia masih 18th."

"Astaga, Alea.." Sarah terkagum dengan penampilan Alea. Dia langsung menghampiri nya,

Begitupun dengan Tristan.. dia benar-benar terdiam saat melihat penampilan Alea. Alea yang memakai dress berwarna peach, dipadukan dengan kulitnya yang putih. Sangat cocok di tubuhnya.

"Wah, kau sangat cantik, sayang. Tidak salah, jika Tristan memilihmu untuk menjadi menantu mama."

Alea menghela napas sejenak.

Dia memaksakan diri untuk tersenyum.

"Ayo, sayang. Mama sudah masak Paella, spesial untuk menyambutmu."

"Astaga, nyonya.. aku merepotkanmu."

"Panggil, aku mama, sayang."

"Iya, mama. Alea telah membuat mama repot, dengan masak begini."

"Tidak apa, sayang. Kemari lah, kau duduk di depan Tristan."

Alea memejamkan matanya sejenak, lalu mengikuti perintah Sarah.

Tristan yang sejak tadi tak memindahkan pandangan nya pada Alea pun tersadar, saat Alea menginjak kakinya dibawah meja.

"Ssh," Tristan meringis kesakitan.

Lalu menaikkan pandangan pada Alea.

"Rasakan kau!!" Ejek Alea pelan.

'Sungguh, menarik. Dia gadis yang berbeda.' batin Tristan.

'Tidak anaknya, tidak mamanya, sama saja memiliki sifat memaksa.' batin Alea.

"Ale, kau harus mencoba ini. Mama yakin, kamu akan terhipnotis dengan masakan mama." Sarah sibuk menyendok kan Paella untuk Alea dan Tristan.

Alea hanya menatapnya dengan tatapan terpaksa.

"Ini, kau cobalah.." ujar Sarah dengan mendorong sepiring Paella pada Alea.

Lalu Alea dengan ragu, menyendok Paella dan menyuapkan ke dalam mulut.

Dia terbelalak lebar, saat merasakan betapa lezatnya makanan yang dibuat oleh wanita itu.

"Bagaimana rasanya, Ale?" tanya Sarah antusias.

"Ini, enak mama…" jawab Alea dengan senyuman.

Sarah pun tersenyum.

Begitupun dengan Tristan, jantungnya berdetak kencang saat melihat senyuman manis terukir di bibir Alea.

"Mama, nanti tolong ajari Ale membuat ini. Ini benar-benar enak." Puji Alea pada masakan Sarah.

"Tentu saja, sayang. Mama akan mengajarimu, karena ini adalah salah satu menu favorit Tristan. Kau memang harus belajar membuatnya, karena kau akan menikah dengannya."

'uhuk-uhuk' Alea tersedak dengan ucapan Sarah.

Dengan cepat Tristan menyodorkan segelas air putih.

"Aduh, sayang. Makannya pelan-pelan saja, maafkan mama, karena terlalu banyak bicara."

'Sial!!' batin Alea.

Alea benar-benar marah dengan Tristan.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel