Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Dengan penuh banyak drama, akhirnya Tristan berhasil membawa Alea ikut bersamanya.

"Ehem, aku lapar sekali. Kau tidak berinisiatif untuk mengajakku makan dulu, tuan?"

Tristan menahan senyum, karena baru kali ini ada seorang gadis yang tidak membuat dirinya terlihat anggun, di hadapannya.

"Kau ingin makan, apa?"

"Apa saja, yang penting perut ku terisi makanan."

"Baiklah, kita makan di mansion saja."

"Ya, ya, terserah padamu. Aku benar-benar lapar sekarang."

Tak lama kemudian mereka telah sampai di mansion, dan hal itu membuat Alea tertegun dan terhipnotis akan kemewahan rumah itu.

"Astaga, rumah papaku saja mungkin seperlima dari rumahmu, tuan."

"Kau suka?"

"Suka kalau ini rumahku, tapi karena ini bukan rumahku, jadi aku tidak suka."

Tristan hanya terkekeh.

"Suatu saat ini akan menjadi rumahmu, babe.."

Alea melirik sinis pada Tristan yang masih terkekeh.

"Kau, bukannya kau sangat arogan dengan orang lain? Kenapa kau sangat ceria padaku?"

Tristan terdiam dengan pertanyaan Alea.

Dan setelah mereka masuk ke dalam mansion. Tony menatap wajah Alea.

"Tony, jaga pandanganmu!!!" Suara bariton Tristan membuat Tony menunduk takut.

"M-maaf, tuan. Saya pikir, nona ini tidak datang dengan anda."

"Dia datang bersamaku, dan perlakukan dia dengan baik."

"Baik, tuan."

"Ah, ya… tolong beritahu maid, untuk segera menyiapkan makan siang untuk kami berdua."

"Siap laksanakan, tuan."

Lalu Tony pun pergi menuju dapur.

"Apa semua orang kaya bersikap seenaknya begitu, dengan memerintahkan orang?"

"Mereka bekerja padaku, dan tidak semua orang dengan mudah mendapatkan posisi itu, nona."

"Lalu, apa ini keberuntungan untukku?"

"Ehm, menurutmu?"

"Bukan,"

Tristan melirik Alea,

"Kenapa bukan?"

"Karena ini bukan yang aku inginkan." Jawab Alea dengan senyuman manis.

Hal itu membuat Tristan terdiam, terhipnotis oleh senyuman manis Alea.

'sial, ingin rasanya aku mencecapi setiap inci bibirnya.' batin Tristan.

"Tuan, makan siang telah siap." Ucap Tony yang membuyarkan lamunan Tristan.

Tristan langsung menarik tangan Ale menuju meja makan.

"Woi, jangan main tarik aja dong, tuan."

"Panggil aku, Tristan."

"Tidak, tidak, kau adalah tuanku."

"Kau panggil aku Tristan atau aku akan menelanjangi mu disini?" Ancaman Tristan langsung mendapat pelototan mata Alea.

Tristan menahan tawanya.

"Baiklah, baiklah, Tristan!!!!" Alea menekankan nama Tristan.

Lalu mereka menyantap makanan dengan tenang.

Selang beberapa menit kemudian mereka telah selesai menyantap makan malam, dan Tristan mengajak Alea pergi ke kamar.

"Ini kamar untukmu." Tunjuk Tristan pada Alea.

"Kamar untukku?"

"Iya, kenapa? Apa kau ingin berbagi kamar denganku?"

"What???" Alea melotot lebar,

Sedangkan Tristan hanya terkekeh.

"Ternyata anda sangat mesum, tuan."

"Tubuhmu, sangat menggoda, Alea."

"Apa???"

"Ehem, tidak. Lupakan saja," ujar Tristan yang sedikit salah tingkah dan melonggarkan dasinya.

Alea hanya mendesis kesal.

"Jika ada yang kau butuhkan, kau bisa memberitahuku atau Tony. Dan untuk pakaianmu, aku sudah menyiapkan semuanya disini. Segala keperluanmu, ada di sana."

"Baik, tuan."

Alea terpekik kaget, saat tiba-tiba Tristan merengkuh pinggangnya.

"K-kenapa?" Alea gugup dan takut dengan hal itu.

"Panggil aku, Tristan. Atau aku akan menciummu, babe." Ucap Tristan berbisik sensual di telinga Alea, dan membuat dia memejamkan matanya.

"B-baik, Tristan."

"Good girl." Jawab Tristan lalu melepas rengkuhannya.

Lalu pergi meninggalkan Alea keluar.

'hahhhh'

Alea membuang napas lega,

"Ya Tuhan, kenapa dia sangat mengerikan. Dan juga jantungku, kenapa berdebar kencang begini."

Disisi lain, di kamar Tristan pun duduk dengan menutup wajahnya yang memerah.

"Sial, hampir saja aku menerkamnya. Aku tak bisa menahan diri. Ya Tuhan, dia sangat menggoda. Bahkan, libidoku naik. Arghhh… aku tersiksa sekali, dan aku harus bermain solo menggunakan sabun. Sial!!!"

Lalu Tristan menuju kamar mandi dan meraih sabun, dia pun bermain solo dengan membayangkan Alea dengan orak liarnya.

***

Saat tengah malam, Tristan perlahan membuka pintu kamar Alea.

Dia perlahan mendekat dan mendapati Alea sudah tertidur.

Tanpa sadar, Tristan tersenyum dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah manis Alea.

"Kau sangat menggodaku, babe. Aku ingin dirimu menjadi milikku. Aku benar-benar tak menyangka, jika Tuhan akan mendekatkan kita dengan cara ini."

Bukan Tristan jika dia tak berani mencium gadis itu, Tristan melumat bibir Alea hingga terdengar lenguhan singkat darinya.

Tristan tersadar, dan melepas ciuman itu. Dia takut, jika dia tak bisa menahan diri.

"Sial, aku kesulitan untuk menahan diri."

Lalu Tristan menaikkan selimutnya di tubuh Alea, dan berjalan meninggalkan Alea yang tertidur.

Tristan menghampiri Tony.

"Tony, kau sudah menyiapkan segala keperluan, yang dibutuhkan Alea?"

"Sudah, tuan. Semua itu sudah ada di ruang kerja anda."

"Bagus, tolong kau awasi terus dia. Dan jangan sampai dia kabur dari sini. Ingat, perlakukan dia dengan baik. Kau mengerti?"

"Saya mengerti, tuan." Jawab Tony sopan.

Tristan pun terdiam dengan meneguk wiski di gelasnya.

"Tuan, Alice menghubungiku jika nyonya mendadak demam."

Tristan membelalakkan matanya.

"Kenapa kau baru mengatakan hal itu!!!"

"M-maaf tuan, saya ingin mengatakan hal itu, namun tuan sangat sibuk. Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar anda, namun tidak ada jawaban."

'ah, sial. Aku baru ingat jika diriku tengah bermain solo tadi sore!!!' batin Tristan.

"Baiklah, tolong siapkan jet sekarang. Aku harus menemani nyonya besar."

"Baik, tuan. Segera saya siapkan…" ucap Tony dengan bergegas menuruti perintah tuannya.

Tak lama kemudian Tristan menggendong tubuh Alea yang masih tertidur ala bridal style dan membawanya naik ke dalam jet pribadinya.

Dia tersenyum menatap wajah manis Alea.

"Kau sangat cantik jika dilihat dari dekat. Aku benar-benar tertarik denganmu, ingin memiliki dirimu. Akan ku pastikan, kau menjadi milikku. Dan tak seorang pun boleh menyentuhmu."

Gadis itu sama sekali tak terusik, hingga 1 jam 30 menit berlalu, kini mereka telah sampai di Granada.

Tristan kembali membawa Alea dan membopong tubuhnya, lalu meletakkannya di ranjang miliknya.

Tristan mengecup lembut kening Alea, dan kemudian meninggalkannya tidur dengan pulas.

Tristan membuka perlahan knop pintu kamar Sarah.

Ia mendekat perlahan ke ranjang yang terdapat sang mama sedang terlelap.

Menyentuh lembut wajah sang mama, hingga sang empunya terusik.

"Tristan…" panggil lirih Sarah pada putranya.

"Mama, aku mengganggumu?"

Sarah hanya menggeleng kecil dan tersenyum.

"Kapan kau kembali?"

"Baru beberapa menit, aku sangat khawatir saat mengetahui jika mama mendadak demam. Apa yang sedang mama pikirkan?"

Sarah menghela napas sejenak, ia mencoba untuk bangun dan Tristan membantunya.

Ia bersandar di bahu ranjang.

"Kau tahu, apa yang mama inginkan."

Tristan mengenal napas berat.

"Ma, semua itu tidak mudah. Pernikahan itu bukanlah main-main, itu adalah hal sakral yang harus diperjuangkan sekali dalam hidup."

"Dan selagi mama mas,..."

"Aku tidak suka mama mengatakan hal itu, kenapa mama seolah-olah mengancamku dengan perkataan itu."

Wajah Tristan merah padam, dia benar-benar marah karena perkataan dan ancaman sang mama.

"Tristan, kau marah dengan mama?" tanya mama sendu.

Tristan mengusap wajahnya kasar. Lalu meraih kedua telapak tangan sang mama. Lalu mengecupnya lembut.

"Aku sangat menyayangimu, mama. Tolong, bersabarlah. Aku sedang berusaha untuk itu."

Sarah hanya menanggapi dengan senyuman untuk ucapan Tristan.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel